
Akhirnya Risa memenangkan balapannya kali ini. Risa dan Evan tadi bekerja sama agar Risa yang menang. Evan tak tega jika balapan dengan Risa dengan kondisinya yang sedang hamil, Tadi Evan berpikir bahwa jika dirinya melawan yang lainnya pasti akan menang. Tapi ini lawannya adalah Risa lagi hamil pula. Akhirnya tadi mereka menyusun strategi dengan melajukan motornya dengan kencang saat di garis start dan di garis finish saja. Evan tidak ingin Risa kenapa-kenapa dengan kandungannya. Lagian Evan juga membantu Risa agar dapat motor sport dari Jerry. Evan harus mengalah agar Risa yang menang balapan kali ini.
"Hebat kamu Risa. Lagi hamil besar bisa mengalahkan Evan. Minta alamat rumah kamu besok sore aku pastikan motornya sudah ada di rumah kamu," ucap Jerry senang saat Risa yang menang balapan dan artinya ketua club motornya yang baru adalah Risa.
"Besok, kamu harus bilang kepada orang yang mengantar motor sportnya kalau motornya hasil dari memenangkan balapan."
"Itu gampang Risa, bisa diatur," ucap Jerry dengan senyuman.
Risa lalu memberikan alamat rumahnya. Risa memberikan alamat rumah Rey. Risa ingin tahu bahwa gimana reaksi suaminya saat ada motor datang secara tiba-tiba gratis dari hasil balapan istrinya.
"Akhirnya ketua club motor kita yang baru adalah wanita. Selama ini belum pernah kan ketua kita seorang wanita lagi hamil pula," ucap Martin.
"Wah gak nyangka kamu bisa dikalahkan Risa bro!" Bian menepuk pundak Evan dan Evan hanya tersenyum kecut.
"Risa kamu memang bumil bar-bar," ucap Vivi yang tidak menyangka Risa yang memenangkan balapannya.
...*****...
Evan dan Risa kembali ke rumahnya.
"Evan makasih ya kamu sudah membantuku memenangkan balapan kali ini."
"Iya sama-sama Risa."
"Apa? Risa kamu ikut balapan?" Tanya Luna yang tiba-tiba datang menghampirinya.
"Hehehe iya Luna, aku habis ikut balapan motor dan aku menang. Lumayan kan bisa dapat motor sport keluaran terbaru."
"Astaga Risa kamu tidak takut dengan kondisi kamu yang lagi hamil?"
"Untuk apa takut Luna? Bahkan bayiku yang menginginkan naik motor sport sejak kehamilanku masih muda. Aku baru berani naik motor sekarang karena bayiku kuat."
"Kamu ini benar kata Evan tadi. Dasar bumil bar-bar."
"Hehehe aku juga tidak tahu Luna rasanya senang saja naik motor sport saat hamil."
"Ngidam kamu memang benar-benar aneh Risa," ucap Evan sambil geleng-geleng kepala.
"Sudahlah ini sudah malam sebaiknya kamu istirahat Risa. Ibu hamil tidak boleh tidur terlalu malam."
"Siap nyonya pratama," ucap Risa.
Luna lalu tersenyum. Luna dan Evan lalu menuju ke kamarnya. Sedangkan Risa menuju ke kamar tamu. Risa membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit rumah Evan.
"Rey lagi apa ya? Biasanya malam gini Rey selalu memperhatikan Baby R dan mengelusnya," ucap Risa sambil mengelus perutnya yang sudah membesar.
"Ah Rey gak peduli ini sama aku dan bayiku. Kemarin saja cuek dan sibuk dengan kucingnya. Lebih baik aku tidur."
Risa lalu berusaha untuk tidur dan tidak memikirkan Rey. Tak lama kemudian Risa terlelap dalam mimpinya.
__ADS_1
...*****...
Di kamar Rey bingung, sampai malam ini istrinya tak kunjung pulang. Rey sudah mencarinya kemana-mana namun hasilnya nihil. Rey tidak dapat menemukan istrinya. Bahkan hpnya tidak aktif dari pagi tadi. Risa memang sengaja tidak mengaktifkan hpnya agar Rey, keluarganya dan sahabatnya tidak dapat menghubunginya.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Tapi kumohon kamu pulanglah," ucap Rey dengan lirih.
Rey menangisi kepergian Risa dari rumahnya. Bahkan Rey hari ini tidak masuk kantor hanya untuk mencari Risa kesana dan kemari. Rey baru makan sehari sekali tadi di siang hari. Rey juga pergi ke rumah sahabat-sahabatnya Risa. Hingga semalam Rey ke rumah Evan. Kebetulan Evan dan Risa sedang kumpul dengan club motornya. Jadi Rey tidak menemukan Risa di rumah Evan. Rey tidak tahu bahwa istrinya sedang ikut balapan. Sebenarnya Luna kasihan terhadap Rey. Namun Luna sudah berjanji akan merahasiakan keberadaan Risa. Rey akan mencari Risa besok di pagi hari. Rey menyesali perbuatannya mengabaikan anak dan istrinya. Sekarang kucingnya yang bernama Chiko itu Rey berikan kepada Bi Ijah. Rey sudah tidak ingin merawat kucing itu. Risa pergi dari rumahnya karena Rey terlalu sibuk dengan kucingnya.Karena hal itu Rey memberikan kucing itu ke asisten rumah tangganya Bi Ijah.
...*****...
Malam hari pukul 23:19 wib Luna lapar dia kali ini ke dapur sendirian. Luna yang melihat Evan yang sepertinya kelelahan itu pun tidak tega untuk membangunkannya. Akhirnya Luna memilih ke dapur sendirian. Setelah masak dan makan makanannya Luna haus. Dia mengambil minumannya ke dapur lagi.
Saat sudah minum, Luna saat akan meletakkan gelasnya Luna merasakan perutnya yang sakit sekali.
"Auwww....... Arghhh........." Luna merasakan kesakitan.
Gelas yang masih digenggamannya pecah jatuh ke lantai. Risa yang mendengar bunyi gelas jatuh pun segera menghampiri asal suara tersebut. Risa melihat Luna yang sudah terduduk di dapur dengan terus memegang perutnya dan sambil berteriak kesakitan.
"Astaga Luna, kamu mau melahirkan. Air ketuban kamu sudah pecah. Evan mana sih istrinya mau melahirkan malah ngilang." Gerutu Risa saat melihat Luna yang sedang kesakitan.
"Risa tolong panggilkan Evan di kamarnya."
"Auwww..... Ashhhhh....... Sakit banget Risa."
"Baiklah aku panggilkan Evan sekarang."
"Evan bangun....." Risa berteriak namun Evan tidak kunjung bangun.
Risa lalu mendekati Evan dan menggoyangkan tubuhnya agar bangun.
"Evan, Luna akan melahirkan. Bangun! Istrimu butuh di antar ke rumah sakit sekarang!!" Risa berteriak di telinga Evan dan Evan terkejut lalu membuka matanya.
"Risa....."
"Ayo jangan bengong saja. Di dapur istrimu sedang kesakitan akan melahirkan anakmu."
"Astaga. Aku lalai menjaganya. Biasanya dia lapar saat malam."
Evan dan Risa lalu berjalan menemui Luna yang masih di dapur.
"Sayang..............." Evan terbengong melihat Luna dengan air ketuban yang sudah pecah mengalir di kakinya.
"Sayang perutku rasanya sakit sekali." Luna masih memegang perutnya.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang."
Evan lalu menggendong Luna. Risa kali ini yang menyetir mobilnya karena Evan di belakang menemani Luna yang sedang kesakitan.
"Evan, ini sungguh sakit sekali hiks.... hiks..... hiks......" Luna menangis karena merasakan kesakitan beberapa kali anaknya menendang-nendang di dalam perutnya ditambah rasa mulesnya yang tak kunjung reda.
__ADS_1
"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit."
Setelah sampai di rumah sakit Evan menemani Luna untuk melahirkan. Setengah jam kemudian terdengar suara tangisan bayi perempuan.
"Oek... Oek..... Oek........"
Risa yang mendengar suara tangisan bayi Luna pun lega. Akhirnya Luna sudah melahirkan bayinya. Di dalam saat bayinya sudah dibersihkan lalu diberikan ke Evan untuk di adzanin.
"Bayinya mau diberi nama siapa Pak?" Tanya sang suster.
"Elena Putri Pratama."
"Wah nama yang bagus Pak. Seperti putri bapak yang cantik."
"Terima kasih sus."
Evan lalu memberikan bayinya kepada suster untuk di taruh di box bayi. Setelah Luna di operasi untuk dijahit. Luna sekarang sudah berada dalam ruang rawatnya.
"Bu, waktunya untuk ibu mengasih asi eksklusif pertama untuk putri ibu."
Suster lalu memberikan bayinya kepada Luna. Luna menerimanya dengan hati-hati.
"Terima kasih sus."
"Sama-sama Bu."
Luna lalu memberikan asinya untuk anak perempuannya.
"Dia cantik banget seperti kamu Luna."
"Hehehe iya Risa. Aku tidak menyangka dia akan sepertiku. Padahal selama aku hamil dia selalu membela Papanya saat masih di dalam kandungan."
"Ah benarkah? Kok kamu bisa tahu kalau dia membela Papanya?"
"Sesudah aku memarahi Evan melalui telepon. Bayiku menendang-nendang dengan keras diperutku sepertinya dia tidak terima kalau Papanya aku marahin."
"Pernah waktu itu perutku terasa kram. Aku menyebut nama Evan dalam hati sambil mengusap-usap perutku dan tak lama rasa kramnya tiba-tiba menghilang dengan sendirinya," ucap Luna kembali.
Luna membelai wajah anaknya dengan lembut. Melihat putrinya yang sangat sehat. Luna ingat tadi beberapa jam yang lalu telah melahirkannya.
"Hahaha Elena lucu ya bisa begitu waktu masih di dalam kandungan."
"Iya Risa, aku juga tidak menyangka bisa seperti itu."
Evan datang ke ruangan Luna. Evan baru saja membayar biaya administrasi. Evan melihat keakraban Risa dan istrinya pun tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah istriku telah melahirkan putriku. Terima kasih Ya Allah engkau telah memberikan kebahagiaan bagi keluarga kami." Batin Evan.
Evan melihat Luna dengan kasih sayang sedang menyusui anaknya. Aura keibuan Luna terpancar saat Luna membelai wajah anaknya dengan lembut. Sesekali mengusap kepalanya. Evan sangat bahagia kini keluarga kecilnya telah lengkap dengan lahirnya malaikat kecilnya. Tak lupa Evan menghubungi Papa Ferdinan dan Papa Alvin mertuanya. Papa Alvin besok pagi akan ke rumah sakit. Sedangkan Papa Ferdinan langsung memesan tiket pesawat ke Jakarta dan baru akan berangkat besok pagi.
__ADS_1