Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 72 - Akhirnya Memilih Untuk Berdamai


__ADS_3

Setelah berpamitan pulang Rey akan mengantarkan Luna ke rumahnya. Selama di perjalanan Luna berbincang-bincang dengan Rey.


"Kak Luna persiapkan dirimu, sebentar lagi kamu akan menikah dengan Evan."


"Terima kasih Rey atas bantuannya. Kalau kamu tidak bantuin aku, mungkin aku akan membesarkan anakku sendiri," ucapnya menunduk sambil mengelus perutnya.


"Sama-sama Kak Luna. Kakak jangan bicara seperti itu, Evan sudah mau menikahi Kakak."


"Rey, maafkan Kakak ya. Kakak telah membuat Risa masuk Rumah Sakit dan sampai pendarahan dan kritis. Sekarang bagaimana keadaan Risa Rey?"


"Alhamdulillah istriku sekarang sudah jauh lebih baik kondisinya Kak. Risa sudah melewati masa kritisnya. Risa sudah sadar namun kandungan sekarang lemah."


"Rey, bolehkah aku menjenguk Risa?"


"Boleh Kak, ini aku juga mau ke Rumah Sakit lagi."


"Aku ikut ya Rey. Aku mau minta maaf sama Risa."


"Iya Kak."


Beberapa puluh menit kemudian mereka sudah sampai di parkiran Rumah Sakit. Rey berjalan mendului Luna. Sedangkan Luna berjalan pelan-pelan sambil memegang perutnya buncitnya. Luna deg-degan saat mau bertemu dengan Risa dan keluarganya. Luna takut kalau Risa tidak akan memaafkannya.


"Assalamualaikum sayang. Ada yang ingin bertemu denganmu," ucapnya sambil mengecup keningnya lalu membelai rambut panjang istrinya.


"Siapa sayang?" Risa menatap wajah suaminya, ia penasaran dengan orang yang ingin bertemu dengannya.


"Risa, aku ingin meminta maaf sama kamu," ucap Luna saat masuk dan masih memegang perutnya, wajahnya masih menunduk takut menatap wajah Risa.


"Iya, aku sudah memaafkan kamu Luna."


Luna tak percaya bahwa Risa sebegitu mudahnya untuk memaafkannya.


"Benarkah Risa?" ucapnya sambil mendekatinya.


"Iya aku sudah memaafkanmu," ucapnya dengan tersenyum.


"Terima kasih Risa," ucapnya sambil memeluk Risa, matanya sudah berkaca-kaca.


"Aku tidak menyangka kamu akan memaafkanku. Maafkan aku yang sudah begitu jahat kepadamu."


"Sudah jangan mengungkit masa lalu. Gimana kamu sama Evan? Apa kalian akan menikah?" tanyanya penasaran.


"Iya aku akan menikah dengannya seminggu lagi. Kamu datang ya ke pernikahanku?" tanyanya.

__ADS_1


Risa memandang wajah Rey. Rey memberikan kode anggukan.


"Iya, aku akan datang bersama dengan Rey."


"Kandungan kamu sudah berapa bulan Risa?" ucapnya yang melihat perut Risa sudah sedikit terlihat.


"Baru 13 minggu. Kalau kamu?"


"Oh baru 3 bulan ya.. Kalau kandunganku sudah memasuki usia 21 minggu. Bayiku sudah mulai menendang-nendang Risa," ucapnya dengan tersenyum.


"Benarkah? Apa aku boleh menyentuh perutmu? Aku penasaran dengan kehamilan yang sudah memasuki usia 5 bulan," ucapnya dengan senyuman.


"Boleh saja," ucapnya dengan anggukan lalu melepaskan tangannya dari perutnya.


Risa lalu menyentuh perut Luna. Risa kaget saat perut Luna bergerak-gerak. Ada rasa sensasi baru yang Risa rasakan saat menyentuh perut Luna. Mungkin sebentar lagi Risa akan merasakan hal yang sama juga dengan apa yang Luna rasakan.


"Bayi kamu aktif banget nendangnya Luna," ucap Risa lalu melepaskan tangannya.


"Iya, apalagi saat tadi di elus-elus oleh Papanya. Aku merasa senang saat Evan mau menyentuh perutku. Sudah lama aku ngidam atau entah bayiku yang ingin disentuh oleh Evan," ucapnya dengan senyuman.


"Kamu sering mengalami ngidam?" tanya Risa.


"Iya, aku pernah ngidam nasi goreng masakan Evan di pagi hari dan Evan membuatkannya untukku. Pernah juga saat aku pulang dari pemotretan ada makanan di atas meja makan yang udah Evan masak, katanya dia ngidam makanan itu dan membuatnya 2 porsi."


"Iya, kan hubungan anak dan ayahnya saling terikat. Jadi tidak menutup kemungkinan sang ayah juga merasakan hal yang sama."


"Masa sih?" Risa belum begitu percaya.


"Iya memang benar Risa. Evan pernah cerita malam-malam ia kesusahan mencari martabak manis akhirnya ia beli 2 porsi dan langsung menghabiskannya. Apa Rey belum pernah ngidam sama sekali?" tanyanya heran.


"Sayang, apa kamu pernah ngidam? Eh maksudnya ingin memakan sesuatu dan itu harus ada?"


"Aku baru ingat sayang. Saat aku di kantor aku makan seblak pas jam makan siang. Aku menyuruh OB untuk membelikannya."


"Tuh kan benar kataku Risa."


"Ah iya, aku sekarang percaya."


Rey merasa terheran-heran saat kedua bumil yang kemarin saling tampar-menampar dikantornya sekarang bisa akrab, saling berbagi cerita mengenai kehamilannya. Akhirnya Luna dan Risa memilih untuk berdamai.


"Kalian ini sangat lucu sekali. Kemarin seperti Tom and Jerry. Sekarang seperti Upin dan Ipin hahahaha," ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak.


Rey masih teringat saat kejadian kemarin di kantornya mereka saling tampar menampar. Risa menatap tajam ke arah Rey saat Rey bilang seperti itu. Mengerti tatapan istrinya horor, Rey lalu menyudahi tawanya.

__ADS_1


"Kamu jaga kandungan kamu, sering-sering minum obat penguat kandungan agar kandungan kamu kuat. Waktu bulan-bulan awal kandunganku juga lemah tapi aku sering meminum obat penguat kandungannya dari dokter."


"Iya, terima kasih."


"Yaudah kalau begitu aku pulang dulu ya Risa. Rey aku pamit pulang."


"Luna, biar Rey yang mengantarkan kamu pulang ya?" ucap Risa.


"Tidak perlu Risa. Tadi Rey sudah banyak membantuku. Biar aku pulang sendiri naik taksi. Wassalamu'alaikum," ucapnya sambil tersenyum lalu akan berjalan keluar kamar Risa.


"Wa'alaikum Salam." ucap Rey dan Risa bersamaan.


Saat akan keluar kamar Risa tiba-tiba Mami Ana datang.


"Untuk apalagi kamu kesini? Kamu belum puas telah membikin menantu saya kemarin kritis dan hampir saja kehilangan bayinya?" ucapnya dengan emosi.


"Saya kesini hanya untuk menjenguk Risa Tante."


"Cukup Mi. Benar yang Karin katakan bahwa ia memang menjengukku."


"Sayang, kamu jangan percaya begitu saja dengan perempuan licik ini," ucapnya sambil menunjuk Luna.


"Tidak Mi. Karin sudah berubah, dia baru saja meminta maaf kepadaku."


"Sayang aku khawatir kalau suatu saat Luna ingin merebut Rey darimu."


"Itu tidak akan pernah terjadi Mi. Karena sebentar lagi Luna akan menikah dengan temanku yang namanya Evan. Ayah dari bayi yang sedang Luna kandung. Jadi apa yang harus aku khawatirkan Mi?"


"Kamu memang menantu idaman sayang. Hatimu selembut sutra yang mampu memaafkan orang yang bahkan hampir saja membuatmu kehilangan bayimu."


"Bukankah sesama manusia harus saling memaafkan Mi. Allah saja maha mengampuni hamba-nya yang bersalah. Mengapa kita tidak?"


"Sungguh mulia hati kamu nak. Mami bangga punya menantu sepertimu," ucapnya sambil mengelus pucuk rambut Risa.


Risa tersenyum dengan Mami mertuanya.


"Kalau begitu saya pamit pulang," ucapnya lalu berjalan keluar kamar rawat Risa.


Luna lega sekarang Mami Ana sudah tidak marah lagi dengannya.


"Akhirnya Mama lega bisa berhubungan baik lagi dengan Keluarga Wijaya. Ini semua berkat kamu nak yang menyatukan Mama dan Papa yang sebentar lagi akan segera menikah," ucapnya sambil berjalan dan memegang perutnya.


Luna menaiki taksi. Sekitar setengah jam dia sampai di halaman rumahnya. Luna masuk ke rumahnya, Papanya belum datang dari kantor.

__ADS_1


__ADS_2