
Pukul satu pagi dini hari Kezia baru pulang. Kezia tadi menghadiri acara ulang tahun temannya dengan diakhiri minum wine karena penasaran akhirnya Kezia meminumnya. Teman perempuannya yang bernama Febby yang mengantarnya pulang. Temannya mengantarkan Kezia sampai ke depan pintu kamar apartemennya. Kezia lalu membuka pintunya dengan sidik jari. Pintu apartment bisa dibuka dengan sidik jari maupun kartu akses.
Kezia berjalan agak sedikit sempoyongan karena habis minum wine. Kezia melihat ada seorang laki-laki yang tengah tidur di sofa. Kezia menatap wajah laki-laki itu berkali-kali.
"Reno...... Ah, tidak mungkin masa Reno ada di apartment milikku?" Batin Kezia.
Kezia menatap kembali wajah laki-laki itu beberapa kali. Dirinya yakin bahwa itu adalah Reno. Padahal sebenarnya itu adalah Revano yang dari tadi menunggu istrinya pulang dan sampai ketiduran di sofa. Karena Kezia sedikit mabuk saja jadi mengira Revano adalah Reno. Kezia lalu mendekatkan dirinya ke Revano.
"Sayang........"
Kezia masih mengira Revano adalah Reno. Jadi dirinya memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Sayang........." Sambil memegang kedua pipi Revano.
Revano merasa terusik tidurnya dan mulai mengerjapkan matanya.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Tanya Revano dan lalu melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul satu.
"Iya aku pulang. Aku habis dari acara ulang tahun temanku."
"Sayang aku merindukanmu." Kezia lalu mengecup bibir suaminya.
Revano mematung saat Kezia pertama kali berperilaku seperti ini.
"Kamu sedang mabuk. Kenapa kamu menjadi seperti ini Kezia?" ucap Revano kesal Kezia meminum minuman terlarang itu.
"Sayang aku mencintaimu. Kamu jangan cerewet. Aku begini juga karena kamu." Kezia masih mengira Revano adalah Reno.
"Tumben sekali dia memanggilku dengan panggilan sayang. Aku bahagia kamu sudah mencintaiku. Tapi sikap kamu masih saja galak meskipun sedang dalam keadaan mabuk seperti ini." Batin Revano.
"Aku antar kamu ke kamar. Sepertinya kamu harus segera istirahat," ucap Revano lalu menggendong istrinya.
Kezia bahagia, dalam pikirannya Reno yang menggendongnya ke kamar. Dengan telaten Revano membaringkan istrinya di tempat tidur dan menyelimutinya. Revano kemudian membersihkan wajah istrinya dengan tisu basah. Saat seperti ini Kezia tidak bisa melakukannya sendiri jadi Revano harus membantunya membersihkan sisa-sisa make-up yang menempel di wajahnya.
Saat Revano mau beranjak dari tempat duduknya. Kezia menarik tangan Revano hingga tubuhnya terhuyung dan sekarang sudah berada di atasnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Gertak Revano berusaha untuk menjauhkan dirinya dari Kezia.
"Sayang, aku mencintaimu. Aku menginginkan kamu."
Revano membulatkan matanya dengan sempurna saat Kezia meminta dirinya.
"Hentikan! Kamu masih terpengaruh minuman terlarang itu. Lepaskan aku!" Perintahnya dengan sedikit berteriak.
"Aku tidak akan melepaskan kamu sayang."
"Baiklah kalau itu maumu, akan aku lakukan. Ku harap setelah ini kamu tidak akan menyesalinya."
__ADS_1
"Untuk apa aku menyesal, justru aku akan sangat bahagia bisa memiliki kamu," ucapnya dengan senyuman tipis.
Kezia masih mengira Revano adalah Reno. Jadi Kezia ingin Reno menjadi miliknya. Dengan cepat Revano lalu membaca doa. Dirinya menuruti kemauan istrinya malam ini.
...*****...
Setelah sholat subuh Revano kembali lagi merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Revano tidak menyangka istrinya bersikap seperti itu tadi malam. Tapi Revano bahagia saat istrinya bilang mencintainya. Revano lalu mengecup kening Kezia dan lalu kembali tidur sambil memeluk istrinya.
Suara burung berkicauan pun mengusik sampai telinga Kezia. Sayup-sayup dirinya mulai mengerjapkan matanya. Kezia matanya terbelalak saat melihat Revano memeluk dirinya.
"Revano................" Teriaknya dengan keras.
"Sayang, kanapa sih kamu kok pagi-pagi sekali sudah berteriak." Menarik tangannya yang tadi memeluk Kezia.
"Kamu kenapa melakukan hal itu lagi kepadaku?"
"Sayang, apa kamu lupa? Semalam kamu yang meminta kepadaku untuk melakukannya. Padahal aku menolak karena kamu masih terpengaruh dengan minuman terlarang itu. Namun kamu tetap memaksaku dan lalu kita melakukannya."
"Tidak mungkin! Kamu pasti berbohong," ucapnya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Lagian apa salahnya sih? Kita kan sudah menikah."
"Sayang, bukankah di apartment ini kamu pasang CCTV? Kamu bisa melihat dari rekaman CCTV itu di hp kamu."
Kezia tidak mendengarkan ocehan suaminya.
"Ya sudah aku ke dapur dulu," ucapnya sambil mengusap rambut istrinya dan mengecup pipinya dengan cepat.
Revano terkekeh dan lalu pergi ke dapur.
"Aku harap kamu bisa berubah mencintaiku sayang." Gumamnya sambil membuat teh hangat.
Bibi bekerja dari siang hari sampai malam hari. Setelah memasak makan malam dan cuci piring. Biasanya Bibi langsung pulang. Jika pagi hari selalu Revano yang menyiapkan sarapannya. Kadang Kezia yang membuatkan minuman hangat di pagi hari. Semenjak Papa Kenzo dan Mama Sonya datang ke apartemennya Kezia sedikit berubah menjadi lebih baik dengan Revano. Melihat istrinya berubah selama sebulan ini Revano bahagia.
Di dalam kamar mandi Kezia menggerutu.
"Kenapa, yang bersamaku Revano? Bukankah harusnya Reno, karena semalam aku yang bersamanya?"
"Ah iya, aku sampai lupa Reno kan semalam pesta resepsi pernikahannya jadi tidak mungkin ada di apartment ini," ucapnya kembali.
Kezia lalu mempercepat mandinya dan akan berbicara dengan Revano. Kezia kini sudah selesai mandi dan berpakaian rapi.
"Sayang, aku bawakan kamu teh hangat. Ini kamu minum dulu."
Kezia tidak menjawab apapun dan lalu meminumnya. Karena tadi habis mandi jadi badannya sedikit lebih enakan setelah minum teh hangat buatan suaminya.
"Aku akan membuat sarapan untuk kita."
__ADS_1
"Hmm........." Kezia hanya menjawab dengan deheman saja.
Revano lalu berjalan ke arah dapur dan membuat nasi goreng. Setelah nasi gorengnya jadi, Revano mengambil dua piring beserta sendoknya.
"Kita harus bicara setelah sarapan."
"Hmm iya sayang..."
Mereka lalu makan bersama.
"Apa yang ingin kami bicarakan?"
"Semalam aku kira kamu Reno."
"Keterlaluan sekali... Bisa-bisanya kamu mengira suamimu sendiri adalah Reno."
"Revano... Aku sudah muak dengan pernikahan ini. Kita menikah karena terpaksa karena tidak mau membikin keluarga kita berdua malu dan Daddy Rey tidak terkena serangan jantungnya."
"Apa tidak ada sedikitpun namaku di dalam hatimu? Semalam kamu bilang mencintaiku Kezia?"
"Tidak! Aku hanya mencintai Kakakmu."
"Terus apa yang kamu inginkan?"
"Aku sudah muak dengan semua ini. Aku harap kamu bisa pergi dari hidupku. Semenjak menikah denganmu hidupku terasa kacau. Lagian suami macam apa kamu ini? Tidak memberikan aku uang selama kita menikah?"
"Kamu di sini sebentar. Aku ada sesuatu untukmu."
Revano tidak terima dibilang seperti itu. Dengan segera Revano mengambil dompetnya dan mengambil satu ATM miliknya.
"Meskipun aku masih kuliah. Tapi aku tidak lupa untuk menafkahi istriku. Ini ATM isinya hasil kerja kerasku selama 3 bulan ini. Ini kartu untukmu, sengaja aku kumpulkan terlebih dahulu uangnya. Bukankah kamu suka dengan kemewahan kan?"
"Password-nya tanggal pernikahan kita," ucapnya kembali sambil menyerahkan ATM miliknya.
"Kamu bekerja sebagai apa?" Tanyanya penasaran.
"Apapun pekerjaan yang aku lakukan kamu tidak perlu tahu. Ini uang halal dari hasil keringatku selama ini."
"Aku tidak mau menerimanya. Paling isinya cuma seberapa." Sambil pergi meninggalkan Revano.
"Hmm...... Sabar......." Sambil memungut ATM yang tadi Kezia lemparkan.
"Ternyata selama ini dia tidak bisa berubah juga. Aku juga tidak akan kuat jika terus seperti ini." Lirihnya.
Kezia masih kesal dengan Revano. Karena semalam mereka melakukannya lagi. Itu juga kesalahan Kezia yang mengira Revano adalah Reno.
Jangan lupa tinggalkan like 👍 rate 5 🌟 and gift biar author tambah semangat 🆙
__ADS_1
tambahkan ke favorit biar saat 🆙 ada pemberitahuannya 🙂
Terima kasih 💙