Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Pendarahan


__ADS_3

Kezia melajukan mobilnya dengan kencang agar segera sampai ke apartemennya. Setelah sampai di apartemennya Kezia buru-buru memberikan buah nanas itu kepada Bibi. Asisten rumah tangganya itu tidak tahu bahwa Kezia tengah mengandung karena Bibi hanya menjalankan tugasnya untuk membuatkan makanan, mencuci baju, mencuci piring dan bersih-bersih apartemennya. Jadi tidak terlalu memperhatikan Kezia.


"Bi... Bibi......" Teriaknya.


"Iya Non, ada apa?" Bibi datang tergopoh-gopoh.


"Buatkan jus nanas ya."


"Tumben Non. Biasanya jus mangga kalau tidak jus strawberry."


"Sudah jangan kebanyakan bertanya Bi. Cepat, buatkan saja jusnya."


"Siap Non."


Bibi lalu ke dapur dan membuatkan jus nanas pesanan majikannya. Kezia tersenyum saat Bibi sudah pergi ke dapur dan membuatkannya jus nanas. Kezia mengelus perutnya pelan.


"Seandainya saja kamu anaknya Reno. Pasti tidak akan aku singkirkan." Batin Kezia.


Beberapa saat kemudian Bibi datang membawa satu gelas jus nanas tersebut.


"Makasih Bibi. Pasti ini sangat segar."


"Iya Non. Kalau begitu Bibi ke dapur terlebih dahulu mau cuci piring."


"Iya. Ya sudah sana. Jangan mengganggu saya." Jawabnya ketus.


"Non Kezia kok tumben marah-marah sama aku. Biasanya marahnya gak sampai seperti ini." Batin Bibi.


Bibi lalu pergi ke dapur. Kezia tersenyum menatap jus nanas tersebut dan lalu mengambil gelasnya.


"Meskipun kamu anakku. Tapi aku tidak menginginkan dirimu. Selamat tinggal sayang," ucapnya sambil mengelus perutnya pelan.


"Glek..... Glek..... Glek......"


Kezia meneguk jus nanas tersebut sampai sepertiga gelasnya.


"Hoekk........" Kezia menutup mulutnya.


Kezia mual dengan aroma dan bau dari jus nanas tersebut. Kezia lalu menuju ke wastafel kamar mandi.


Mendengar majikannya muntah-muntah Bibi segera mendatangi Kezia di kamarnya. Bibi sekilas melihat gelas yang berisi jus nanas tersebut sudah berkurang sepertiga gelas.


Kezia sudah selesai muntahan dan lalu membersihkan mulutnya.


"Kamu kenapa menyusahkanku sih! Aku benci sama anak ini! Aku juga benci sama kamu, Revano Putra Wijaya!" Kezia memukul perutnya beberapa kali, emosinya kini sudah meluap-luap.


"Aku tidak menginginkan dirimu ada di perutku. Cepat keluarlah anak yang tidak aku inginkan!" ucapnya kembali dan terus memukul perutnya.


Bibi terkejut saat mendengar majikannya berbicara seperti itu dan ternyata kini Kezia tengah mengandung anak dari suaminya.


"Astagfirullah Non nyebut... Ingat sama Allah Non. Bayi Non tidak bersalah. Dia berhak hidup Non. Bayi Non juga masih punya Papanya."

__ADS_1


"Bibi diam! Aku tidak perlu ceramah Bibi."


"Non, saya hanya mengingatkan. Saya juga pernah keguguran Non dan saya tidak bisa memiliki anak lagi sampai usia saya setua ini. Non yang dikaruniai anak dari Allah harusnya bersyukur. Anak itu adalah anugerah dari Allah. Masih banyak di luaran sana orang yang ingin punya anak. Bahkan mereka ada yang menunggu kehadiran sang buah hatinya sampai beberapa tahun. Ada tetangga saya yang sudah menikah 11 tahun dan baru dikaruniai anak. Non, jangan berbuat seperti itu lagi ya Non. Kasihan bayi yang ada di dalam perut Non. Lagian bahaya Non melakukan hal seperti ini. Tidak hanya anak yang ada dalam perut Non tapi nyawa Non juga menjadi taruhannya."


"Bibi, mau merawat anak Non. Jika Non tidak mau untuk membesarkan bayinya. Alangkah senangnya saya jika Non mau memberikan anak itu kepada saya. Karena semenjak saya keguguran waktu itu. Bibi sudah tidak bisa hamil lagi Non. Bibi sangat ingin punya anak tapi sudah tidak bisa," ucap Bibi kembali dan air matanya kini sudah berlinang membasahi pipinya. Bibi masih teringat dengan anaknya dulu yang keguguran.


Kezia berjalan mendekati asisten rumah tangganya.


"Bibi... Maafkan Kezia. Karena aku tadi tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan. Terima kasih ya Bibi sudah membukakan pintu hatiku."


Kezia langsung memeluk asisten rumah tangganya itu. Bibi bahagia akhirnya berhasil merubah pikiran majikannya dan mau menerima anaknya. Kezia lalu melepaskannya pelukannya.


"Sekali lagi terima kasih ya Bibi. Aku akan memberikan Bibi bonus bulan ini sebagai rasa bersyukur karena saat ini aku sedang mengandung dan akan segera memiliki anak." Sambil memegang bahu asisten rumah tangganya.


"Alhamdulillah. Terima kasih banyak Non. Seharusnya tidak perlu seperti itu. Saya bahagia karena Non Kezia mau menerima anak Non."


"Jadi Non Kezia mau membesarkan anak Non kan?" Tanyanya kembali memastikan. Karena majikannya itu kadang sifatnya berubah-ubah.


Kezia mengangguk pelan dan lalu tersenyum.


"Iya, aku mau Bi. Aku akan membesarkan anakku dengan baik dan sampai dia lahir. Meskipun aku masih membenci Papanya sampai sekarang. Tapi anakku berhak untuk hidup." Sambil mengusap-usap perutnya perlahan dan menyesal akan tindakannya tadi.


"Saya yakin Non pasti lama kelamaan tidak akan membenci Den Revano. Bagaimanapun juga Den Revano itu ayah dari bayi yang sedang Non Kezia kandung."


Kezia hanya tersenyum kecut saat mendengar Bibi berbicara seperti itu. Kezia masih kesal Revano pergi tapi tidak memberitahu pergi kemana. Tak lama kemudian perutnya terasa sakit yang luar biasa.


"Arghhh..... Bibi... Perutku sakit sekali." Kezia berteriak sambil memegang perutnya dan sampai meringis karena merasakan kesakitan.


Kezia masih terus merintih dan kesakitan Bibi terkejut saat melihat darah segar mengalir dari kaki Kezia.


"Ini pasti akibat Non yang tadi minum jus nanas tadi. Saya takut bayi Non kenapa-kenapa," ucapnya kembali.


Kezia membolakan matanya dan menyesal telah menjadi meminum jus nanas tersebut. Sekarang pikirannya sudah terbuka saat Bibi tadi menceramahi dirinya. Kezia sekarang mau untuk membesarkan anaknya sampai lahir.


"Bibi tolong bawa aku ke rumah sakit. Pesan taksi online sekarang juga. Aku tidak mau kehilangan anakku Bibi." Kezia masih memegang perutnya dengan tangan kiri dan tangan kanannya menyerahkan hpnya biar Bibi memesan taksi online.


"Nak, bertahan. Tolong sayangnya Mama maafkan Mama dan kamu harus kuat ya. Mama mohon kamu bertahan ya nak." Lirihnya sambil memegang perutnya.


Saat akan memesan taksi online ada panggilan masuk dari Sonya. Saat ini Sonya dan Kenzo sedang berada di perjalanan dan akan ke apartemennya Kezia. Sonya dari tadi merasakan hal yang tidak enak dan khawatir jika terjadi sesuatu dengan anaknya jadi mengajak suaminya untuk menemaninya ke apartemennya Kezia.


"Hallo......" Bibi mengangkat teleponnya.


"Bi..... Kok Bibi yang mengangkat teleponnya. Kezia mana?" Tanya Sonya.


"Bibi ayo cepat kita ke rumah sakit. Arghhh anakku bertahanlah... Auwww... Perutku sakit sekali......" Sambil memegang perutnya dan berharap anaknya tidak apa-apa.


"Bibi apa yang terjadi?" Sonya khawatir dengan anaknya.


"Non Kezia mengalami pendarahan Nyonya."


"Apa??" Sonya terkejut.

__ADS_1


"Sudah dulu ya Nyonya saya ingin memesan taksi online. Kasihan Non Kezia sudah merasakan kesakitan."


"Saya sudah dekat. Tidak perlu memesan taksi online."


"Baik Nyonya..."


Sonya lalu mematikan teleponnya.


"Papa, ayo ngebut anak kita sedang pendarahan."


"Astaga Mama. Kenapa anak itu tidak memberitahu kepada kita kalau dirinya sedang hamil."


"Tidak tahu Papa. Ayo cepatlah, cucu kita dalam bahaya sekarang."


"Ini Papa sudah ngebut Mama. Ini juga hampir sampai."


Tak lama kemudian mereka sampai di apartment. Sonya khawatir dengan anaknya dan juga calon cucunya. Mereka berlari dari parkiran sampai ke depan lift. Sonya dan Kenzo sekarang sudah sampai di apartment Kezia.


"Astaga nak..." Kenzo melihat anaknya yang sudah terduduk di lantai dan sambil memegang perutnya.


"Papa........"


Kenzo lalu mendekati anaknya.


"Sayang bertahan nak. Mama tahu kamu anak yang kuat. Pasti anak kamu juga akan selamat."


Kezia merasakan perutnya semakin sakit saat ini.


"Maafkan tindakan Mama tadi yang tidak berpikir panjang sayang. Mama berjanji akan menyayangi kamu jika kamu mau bertahan untuk tetap ada dalam perut Mama nak." Batin Kezia sambil memegang perutnya dan berharap anaknya bisa bertahan.


Setelah Bibinya ceramah tadi Kezia langsung terbuka pikirannya. Kezia lalu menerima anaknya dan mau membesarkannya.


"Mama perutku sakit sekali. Arghhh......." Kezia berteriak dan lalu pingsan.


"Sayang bertahanlah nak." Kenzo lalu menggendong Kezia.


Mereka kini sudah ada di dalam mobil. Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di rumah sakit.


"Dokter, tolong selamatkan anak saya dan cucu saya."


"Baik, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya."


Dokter lalu masuk ke dalam ruangan tersebut dan menangani Kezia. Sonya dan Kenzo berharap bahwa Kezia dan cucunya bisa diselamatkan.


Jangan lupa tinggalkan like 👍 rate 5 🌟 and biar author tambah semangat 🆙


tambahkan ke favorit biar saat 🆙 ada pemberitahuannya 🙂


Jangan lupa berikan hadiah dan vote. Terima kasih ❤️


__ADS_1


Karya author masuk ke karya rekomendasi ❤️



__ADS_2