
Maaf baru update dan author percepat alurnya. Semoga kalian suka dengan ceritanya 🤗
Please berikan jempol 👍 kalian terlebih dahulu untuk mendukung karya author yang Gratis tidak berbayar dan harus buka perbab pakai koin 🙂
Di suatu rumah terlihat seorang wanita yang sedang duduk di tepi ranjangnya dengan menangis sesenggukan. Dia masih bersedih dan meratapi kepergian anaknya beberapa bulan yang lalu. Wanita itu keguguran saat kandungannya sudah berjalan 6 bulan. Pria itu lalu memeluk istrinya yang masih sedih meratapi kepergian anaknya. Sedangkan sang wanitanya menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
"Sayang, sudahlah... Kamu tidak usah bersedih lagi, anak kita sudah bahagia di surga."
"Tapi aku sekarang akan sulit untuk hamil lagi Vino," ucap Viona sambil menghapus air matanya.
"Kita masih punya Rio sayang, satu-satunya anak kita."
"Tapi kan, aku ingin memberikan kamu anak dari hasil pernikahan kita," ucapnya lirih.
Vino lalu mengingat saat dulu Revano yang menjadi suaminya Viona. Tapi sebelum Rio lahir Viona meminta cerai dari Revano karena mereka hanya menikah secara agama saja atas kesalahpahaman di masa lalu. Viona tidak mau di cap sebagai perusak rumah tangga orang. Saat itu istri dari Revano yaitu Kezia juga tengah mengandung anak pertama mereka.
"Rio akan memang tetap akan menjadi anakku sayang karena aku memang ayah kandungnya. Meskipun ia lahir dulu saat aku belum menikahi kamu."
"Tapi rasanya akan sangat berbeda sekali Vino," ucap Viona mendongakkan kepalanya dan menatap wajah suaminya.
"Aku mengerti sayang. Aku akan membawa kamu untuk berobat keluar negeri suatu saat nanti dan kamu harus jaga kesehatan kamu dulu."
"Sayang jangan bersedih lagi ya, kamu harus ikhlas kepergian anak kita," ucapnya kembali.
"Iya sayang..."
Akhirnya Vino lega setelah istrinya mengiyakan perkataannya. Terlihat anaknya tengah mengerjapkan matanya dan dengan segera Viona berlari ke kamar mandi untuk mencuci mukanya agar tidak terlihat menangis. Karena jika ibunya menangis Rio juga ikut menangis. Entah kenapa padahal Rio masih kecil tapi sudah tahu apa kesedihan yang Mamanya rasakan.
"Wah anak gantengnya Papa sudah bangun," ucap Vino.
Vino mengusap kepala anaknya dengan kasih sayang. Sedangkan Viona masih terdiam di kamar mandi dan belum akan keluar jika matanya masih terlihat agak sembab.
...*****...
Beberapa tahun kemudian.
Revalina tumbuh menjadi seorang gadis cantik, wajah imutnya masih terlihat sampai dewasa. Banyak laki-laki yang menyukai dirinya di kampus tapi Reva enggan untuk menanggapi mereka karena menurutnya hanya membuang-buang waktu saja. Reva memiliki kisah cinta monyet dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah sahabat kecilnya. Mereka dulu sering main bersama dan entah Reva menjadi sedih saat sahabat kecilnya itu pindah rumah. Reva masih menyimpan boneka dari sahabat kecilnya dulu.
"Kamu sekarang tinggal di mana sahabatku? Aku sangat merindukan kamu," ucap Reva lirih sambil mengambil boneka dalam box..
Reva sengaja menyimpan boneka yang sahabatnya berikan dalam boneka box agar tetap awet dan tidak terkena debu. Jika Reva tengah rindu dengan sahabatnya maka dia akan memeluk bonekanya. Sahabat kecilnya itu tak juga memberikannya boneka tapi juga sebuah kalung yang dia pakai sampai sekarang.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain ada seorang laki-laki yang masih menyimpan jepit rambut berbentuk hati. Jepit rambut khas anak-anak yang sahabat kecilnya dulu berikan saat mereka terakhir kali bertemu. Tak hanya jepit rambut saja tapi itu mendapatkan foto sahabat kecilnya. Laki-laki itu tersenyum saat melihat bingkai foto yang ada dalam kamarnya. Foto itu diambil waktu mereka akan bermain bersama.
"Aku berharap suatu saat nanti aku akan bertemu kamu lagi gadis manisku," ucap laki-laki itu tersenyum tipis.
Laki-laki itu lalu kembali menyimpan jepit rambut milik sahabatnya dalam sebuah kotak kecil perhiasan. Karena sangat berarti dari sahabatnya maka laki-laki itu menyimpan kenang-kenangan itu dalam kotak kecil.
FLASHBACK ON
Dua anak kecil tengah berada di sebuah halaman rumah.
"Kamu akan pindah rumah?"
"Iya, sekeluarga akan pindah ke rumah Nenek."
"Apa kamu akan melupakan aku?" tanya gadis kecil itu dengan tatapan sendu.
"Tidak akan, ini aku ada sesuatu untuk kamu," ucap laki-laki itu dan lalu memberikan boneka.
"Dan ada satu lagi ini aku dan dibantu Mama yang pilihkan langsung buat kamu sahabatku," ucapnya kembali.
"Bagus sekali dan aku suka," ucap gadis kecil itu lalu memberikan senyuman manisnya setelah mendapatkan boneka dan sebuah kalung yang masih dalam kotak beludru berwarna biru tersebut.
"Aku juga ada sesuatu untukmu," ucapnya sambil melepaskan salah satu jepitan rambut miliknya.
"Ini satu aku berikan untukmu, ingatlah aku selalu."
"Pasti, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi dan aku akan mengingat kamu saat kamu memakai kalung pemberian dariku."
FLASHBACK OFF
Reva harus berangkat kuliah hari ini. Dia ada kelas di jam kedua. Sedangkan adiknya masih menempuh pendidikan di bangku SMA.
"Papa, Mama, Reva berangkat dulu ya?" ucapnya sambil mengecup pipi Papanya dan kemudian Mamanya.
"Hati-hati ya sayangnya Mama."
"Anak Papa sudah menjadi gadis yang cantik jelita. Pasti di kampus banyak yang suka denganmu. Kenalkan salah satu teman kamu sama Papa nak. Dulu Papa juga menikah dengan Mama kamu saat masih kuliah," ucap Revano terkekeh.
"Papa jangan menggodaku," ucap Reva mendengus kesal.
"Apa kamu masih menunggu sahabat kecilmu itu nak? Dengarkan Papa, sahabat kecilmu itu sudah pergi jauh dan tidak ada kabarnya sampai sekarang."
__ADS_1
"Tau ah! Reva mau berangkat ke kampus dulu," ucap Reva nyelonong keluar dari rumahnya.
"Huh dasar anak itu menyebalkan sekali."
"Kamu bilang anakku menyebalkan?" ucap Kezia menatap tajam suaminya.
Revano merutuki dirinya sendiri saat bicaranya tengah keceplosan. Kalau Kezia sampai marah nanti Revano disuruh tidur di kamar tamu.
"Eh, tidak sayang. Kamu jangan salah paham dulu. Anak pertama kita itu hanya saja tidak seperti Reza yang selalu kalau mau pergi mengucapkan kata salam."
"Kebiasaan Reva selalu saja main nyelonong saja kan saat kita sedang bicara dengannya?"
"Hmm," Kezia hanya menjawab dengan deheman saja karena memang benar anak pertamanya itu memang sifatnya seperti itu dan sangat jarang mengucapkan salam.
"Kamu tidak marah kan sama aku sayang?"
"Tidak, apa kamu berharap aku marah?" tanya Kezia ketus.
"Aduh salah lagi aku dalam bicara. Huh, kenapa aku bisa lupa kalau saat ini Kezia sedang kedatangan tamu bulanannya. Jadi galak banget deh dan bahkan melebihi Mommy Risa galaknya." Batin Revano.
"Tidak sayang. Aku hanya takut jika kamu marah saja sayangku," ucapnya dengan nada lembut.
"Aku hanya kesal sama kamu!"
Revano akhirnya lega saat istrinya hanya kesal dengannya saja dan tidak marah. Bisa panjang urusannya kalau Kezia sampai marah sama Revano.
...*****...
Reva sudah sampai di kampusnya. Ia tengah bersantai berjalan menuju koridor kampusnya. Namun seketika ada seorang laki-laki yang menabraknya sehingga buku-bukunya jatuh.
"Maaf, saya tidak sengaja dan saya sedang terburu-buru," ucap pria itu kemudian pergi meninggalkan Reva.
Reva kesal pria yang menabraknya tidak membantunya untuk memungut buku-buku yang berjatuhan dan malah pergi meninggalkan dirinya.
"Dasar laki-laki menyebalkan!" ucap Reva sambil memungut bukunya satu persatu.
Reva sepertinya baru kali ini melihat laki-laki itu ada di kampusnya.
Hari Senin saatnya berikan vote untuk karya author. (Vote gratis tidak mengurangi poin kalian)
Yuk berikan dukungan kalian agar author semangat berkarya 🤗 Makasih ❤️
__ADS_1