
Please berikan jempol π kalian terlebih dahulu sebelum membaca karena jempolnya semakin menghilang akhir-akhir ini π
Siang hari Reva mendapatkan sebuket bunga mawar merah. Ada karyawan florist yang mengirimkannya ke rumah. Reva tersenyum suaminya itu mengirimkan buket bunga mawar yang besar. Reva lalu pergi naik ke kamarnya.
"Suamiku tahu saja kalau aku suka bunga. Akhirnya Papa kalian bisa romantis juga nak," ucap Reva lirih sambil mencium aroma bunga tersebut.
"Coba kita lihat Papa kalian bilang apa nak. Mama penasaran dan ingin membacanya."
Ekspektasi Reva adalah suaminya itu akan mengucapkan kata-kata yang romantis karena nanti malam ulang tahunnya dan sekaligus perayaan 1 tahun pernikahannya.
Namun Reva terkejut saat melihat pesan yang ada dalam buket tersebut. Matanya membulat sempurna, hatinya terasa nyeri saat bukan namanya yang ada dalam isi pesan tersebut.
"Semoga cepat sembuh Livia. Jangan lupa minum obatnya biar besok bisa masuk lagi di kantor. Seharian ini ruanganku sepi tanpamu."
Reva langsung menjatuhkan bunga mawar merah tersebut. Air matanya tak kuasa lagi untuk menetes. Beberapa jam berkutat di dapur membuat 2 macam kue untuk acara nanti malam sepertinya sia-sia. Ternyata suaminya itu memikirkan wanita lain.
"Rio, kamu tega!" Reva meninju cermin yang ada di meja riasnya.
"CRANG ....!" Terdengar suara cermin yang pecah.
Bibi yang ada di dapur segera mematikan kompornya dan segera menuju ke kamar majikannya.
"Astagfirullah Nyonya ..."
Perlahan Bibi mendekati majikannya. Melihat tangan Reva yang berlumuran darah.
"Nyonya tangannya terluka."
"Luka ini tidak ada apa-apanya Bi jika dibandingkan dengan rasa sakit hatiku."
"Nyonya sebentar ya saya ambil obat P3K dulu."
Bibi dengan segera menuju ke dapur lagi. Karena disamping kulkas ada kotak P3K.
"Kasihan Nyonya, saat sedang hamil Tuan tega menduakannya," ucapnya yang tak habis pikir Rio bisa berselingkuh dengan wanita lain.
Bibi saat mencuci pakaian Rio ada bekas noda lipstick di kemejanya. Tapi Bibi hanya diam saja tidak memberitahu ke Reva karena takut majikannya itu akan kepikiran dan nantinya akan berpengaruh dengan kandungannya.
Bibi lalu kembali ke kamar majikannya. Bibi membersihkan luka pada tangan Reva, setelah itu baru mengobati lukanya.
"Sudah selesai."
__ADS_1
"Makasih Bi."
"Maaf bukannya saya ingin ikut campur tapi sebenarnya ada masalah apa Nyonya?"
"Itu buket bunga aku kira untuk aku. Tapi ternyata untuk wanita lain."
Bibi lalu melihat kertas yang berisi secarik pesan tersebut. Bibi tidak habis pikir kalau majikannya itu sudah berselingkuh dengan wanita lain dan salah mengirimkan buket bunga tersebut. Bibi sekarang tahu apa yang dirasakan Reva. Sebagai seorang istri dan sedang hamil, perasaannya menjadi sensitif dan mudah menangis.
"Nyonya ..."
"Suamiku berselingkuh dibelakangku Bi. Mungkin karena aku sudah tidak cantik lagi. Apalagi sekarang tubuhku gendut seperti ini. Aku jadi seperti badut saja. Tubuhku yang besar dan perutku yang membuncit."
"Nyonya sangat cantik meskipun tubuh Nyonya kelihatan lebih berisi. Ibu hamil memang seperti itu Nyonya, sudah sewajarnya naik berat badannya karena sedang mengandung."
"Aku harus bagaimana Bibi? Apa aku harus mundur dari pernikahan ini. Aku juga punya perasaan, sebagai wanita aku juga tidak kuat jika terus-terusan seperti ini."
"Nyonya tidak boleh lemah. Nyonya harus berantas bibit-bibit pelakor selingkuhan Tuan. Wanita seperti itu harus diberi pelajaran. Bibi akan selalu mendukung Nyonya."
"Eh? Haruskah aku seperti itu?"
"Harus Nyonya, ini demi keutuhan rumah tangga Nyonya Reva juga. Apalagi sebentar lagi si kembar akan lahir. Mereka membutuhkan kasih sayang dari Papanya."
"Hmm, ide Bibi ada benarnya juga. Besok aku akan ke kantor suamiku. Wanita itu harus aku beri pelajaran."
"Makasih ya Bi atas idenya."
"Sama-sama Nyonya. Kalau begitu Bibi ambil sapu dulu. Pecahan kacanya harus segera dibersihkan."
Bibi sekarang sedang membersihkan pecahan kaca tersebut.
"Bi, apa aku harus memberitahukan ini kepada orangtuaku?"
"Sepertinya perlu Nyonya. Tuan dan Nyonya Besar harus tahu. Apalagi Tuan Vino dan Nyonya Viona, mereka harus tahu kelakuan anaknya seperti apa."
"Hmm, tapi sepertinya aku akan membicarakan ini dengan Papaku dulu."
"Iya terserah Nyonya. Bibi hanya bisa mendoakan semoga segera selesai masalahnya. Bibi juga sedih jika Nyonya diduakan oleh Tuan."
"Makasih ya Bi sudah simpati dengan kehidupanku."
"Iya Nyonya. Saya juga punya anak perempuan. Makanya saya juga tidak rela jika Tuan berperilaku seperti itu dengan Nyonya."
Reva bahagia, asisten rumah tangganya itu baik kepadanya.
__ADS_1
"Bolehkah aku memanggil Bibi dengan sebutan ibu?"
"Eh? Apa tidak terlalu berlebihan Nyonya. Secara Nyonya majikan saya."
"Bibi sangat baik. Kita jangan terlalu formal. Bibi bisa memanggil aku Reva saja."
"Baiklah nak Reva. Tapi kalau ada Tuan saya akan tetap memanggil nak Reva dengan sebutan Nyonya."
"Iya, terserah Bibi saja."
Bibi lalu keluar setelah membersihkan pecahan kaca tersebut. Sedangkan sebuket bunga mawar itu Reva sengaja letakkan di atas meja riasnya agar suaminya itu bisa melihat kalau tadi salah mengirim alamat tujuannya dan jatuhlah ke istrinya.
Malam telah tiba, Reva menunggu suaminya datang. Masalah buket bunga mawar merah tadi Reva sudah melupakannya. Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Reva membawa 2 kue ke ruang keluarga sambil menunggu suaminya pulang.
"Kita tunggu Papa pulang ya nak. Nanti kita makan bareng-bareng kuenya sama Papa."
"Kenapa Rio belum pulang juga? Apa dia akan pulang tepat jam 12 malam saat ulang tahunku?" ucapnya lirih.
Reva masih berpikiran positif terhadap suaminya. Karena suaminya tak kunjung datang lalu Reva merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Bibi merasa kasihan dengan majikannya itu yang masih setia menunggu suaminya padahal Rio itu telah menyakiti hatinya. Mungkin jika Bibi yang berada pada posisi Reva sudah tidak kuat untuk menghadapi cobaan rumah tangga seberat ini.
Jam menunjukkan pukul dua belas malam lebih delapan menit. Suaminya itu tak kunjung datang juga. Reva lalu meraih korek dan menyalakan lilin pada kue ulang tahunnya.
"Happy birthday to me," ucap Reva yang lalu meniup lilin tersebut.
Tak terasa air matanya menetes. Dengan segera Reva mengusap air matanya. Ulang tahun kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang selalu dia rayakan bersama keluarganya. Bahkan Rio datang ke rumahnya untuk memberikan surprise dan hadiah tepat jam dua belas malam. Ulang tahun tahun lalu mereka menikah dan menjadi malam terindah yang mereka lalui bersama. Berbeda dengan ulang tahunnya kali ini hanya Reva sendirian yang meniup lilinnya.
"Aku tak boleh bersedih. Ini adalah hari ulang tahunku. Seharusnya aku bisa bahagia. Iya, aku harus bahagia," ucap Reva berusaha tegar menghadapi kenyataan.
Saat ulang tahunnya dia merayakan sendiri. Reva masih mengharapkan merayakan anniversary pernikahannya bersama dengan suaminya.
"Rio mungkin masih di jalan. Sebaiknya aku menunggunya sampai pulang dan merayakan anniversary yang ke 1 dengannya."
Reva akhirnya ketiduran di sofa karena terlalu lama menunggu suaminya pulang. Bibi lalu menyelimuti majikannya. Dia tak tega membangunkan Reva dan menyuruhnya pindah ke kamar. Bibi jadi merasa kasihan dengan kehidupan Reva.
Author akhir-akhir ini sibuk RL. Insya'allah akan segera feedback ke karya author" yang kece π€
Dukung author dengan memberikan vote gratis (tanpa mengurangi poin)
Vote hanya muncul setiap hari Senin atau seminggu sekali.
Readers kesayangan sambil menunggu cerita selanjutnya jangan lupa tinggalkan jejak kalian biar author semakin semangat bikin ceritanyaππ€
__ADS_1