Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Keluarga Yang Sempurna..


__ADS_3

Please berikan jempol 👍 kalian terlebih dahulu untuk mendukung karya author yang Gratis tidak berbayar dan harus buka perbab pakai koin.



Beberapa bulan kemudian. Sekarang Reza sudah bisa duduk dengan benar. Balita itu pipinya sekarang menjadi gembul dan wajahnya yang imut membuat orang yang melihatnya ingin mencubit Reza. Kezia dan Revano semakin gemas dengan putranya itu. Kezia tadi sedang ke dapur membuatkan kopi untuk suaminya. Sedangkan Revano tadi sedang bermain bersama dengan Reza.


Tiba-tiba saja ia merasakan perutnya sakit maka dari itu Revano meninggalkan anaknya sendiri di kamar karena Kakaknya Reva sedang bermain dengan Rendra di kamar sebelah.



Kezia celingak-celinguk mencari suaminya.


"Sayang, ini kopinya."


Kezia melihat suaminya tidak menemani anaknya bermain dan untung saja Reza tidak menangis karena sedang sibuk dengan mainannya. Kezia lalu meletakkan kopi di atas meja dan lalu mendekati putranya. Terdengar suara gemericik air di kamar mandi, Revano sekalian mandi. Kezia menggerutu dalam hati karena suaminya ceroboh meninggalkannya anaknya sendiri dalam keadaan kamar terbuka.


"Revano keterlaluan, meninggalkan anak sendirian. Kalau Reza tidak diawasi bisa bahaya. Untung saja Reza asyik dengan mainannya dan tidak berjalan ke mana-mana."


Tadi Kezia melihat pintu kamarnya terbuka dan Kezia sangat takut jika anaknya berjalan ke arah tangga. Kezia mengusap kepala anaknya dan duduk. disampingnya.


"Wah, anak Mama sedang mainan ya nak? Ayo sama Mama saja ya sayang mainnya."


Reza belum bisa berbicara dengan lancar dan kalau Reva hanya sekedar menyebut Mama, Papa saja sudah bisa tapi itupun masih terbata-bata. Kezia kemudian memangku dan bermain bersama Reza.


"Untung saja Reza tidak seperti Reva yang selalu menangis saat bersamaku. Kamu memang anak Mama yang pintar nak," ucap Kezia sambil mengecup pipi gembul Reza.


Reza hanya tertawa kecil dan melihat Mamanya.


"Gemesnya anak Mama."


Kezia juga mencubit pipi Reza yang terlihat menggemaskan itu. Benar-benar Reza mirip dengan Revano saat masih kecil.


"Meskipun kamu lebih mirip dengan Papamu. Tapi Mama sangat sayang sama kamu nak," ucapnya kembali.


Kezia bersyukur salah satu anaknya tidak menangis saat didekatnya. Seperti Reza yang terdiam saat bersama sang Mama.


"Jadilah laki-laki yang menjadi kebanggaan Mama dan Papa saat besar nanti ya nak," ucap Kezia mengusap kepala anaknya.


Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Terlihat suami kecilnya itu yang masih basah rambutnya.


"Revano, kamu biarkan Reza sendirian di kamar. Apa kamu tidak takut kalau nanti anak kita terjatuh?"


"Maaf sayang, tadi perutku sakit dan aku sekalian mandi. Sayang, jangan marah-marah. Sekali lagi maaf ya sayang?"

__ADS_1


"Hmm iya, lain kali jangan seperti itu ya Revano?"


Revano hanya mengangguk pelan dan menuju walk in closet. Kezia tadi sudah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Kezia merasa bersalah telah memarahi suaminya dan akan segera meminta maaf kepada Revano. Sekarang Revano sudah keluar dari walk in closet dan lalu mendekati anak dan istrinya. Kezia lalu menggenggam tangan Revano.


"Maaf ya sayang, aku tadi terbawa emosi dan marahin kamu. Tapi sejujurnya aku tidak ada niatan untuk memarahi kamu. Hanya saja aku khawatir jika Reza berjalan ke arah tangga."


"Iya sayang, harusnya aku yang meminta maaf sama kamu karena aku lalai menjaga Reza saat kamu sedang ke dapur."


Kezia lalu beranjak dari tempat duduknya dan mengambil kopi yang tadi sudah dia buat.


"Oh iya ini kopinya sayang."


Revano lalu meraih secangkir kopi buatan istri tercintanya.


"Makasih istriku."


"Sama-sama suamiku," ucap Kezia tersenyum.


Tak lama kemudian Reno masuk membawa Reva.


"Adikku, Reva mencari kamu nih."


"Papa......."


"Sini sayang, anak Papa kangen ya sama Papa?" ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya.


Reva sudah bisa mengerti dan hanya mengangguk pelan. Balita itu juga sudah bisa berbicara meskipun kadang masih belum bisa terlalu lancar. Reva berjalan mendekati Papanya dan langsung meminta gendong ala koala. Anaknya itu suka sekali digendong seperti itu. Wajar saja Reva lebih dekat dengan Revano daripada dengan Kezia, ibu kandungnya sendiri.


Reno melihat adiknya dan sahabat sekaligus adik iparnya itu masing-masing bersama dengan anak-anaknya.


"Kalian keluarga yang sempurna. Sudah ada anak laki-laki dan perempuan. Aku harap kalian bisa terus langgeng sampai maut memisahkan," ucap Reno tersenyum senang melihat rumah tangga adiknya yang harmonis.


"Aamiin....." Revano dan Kezia mengaminkan doa Reno.


"Kakak apa tidak mau tambah anak? Rendra sudah besar loh dan seharusnya kamu memberikannya adik," goda Revano.


"Fyuh, Sandra gak mau punya anak lagi," jawab Reno pasrah.


"Bujuk terus dong Kak. Apa Kakak tidak mau ingin punya anak secantik Reva?"


"Mau sih, lagian Reva memang menggemaskan sekali adikku."


"Nah, makanya tambah anak dong Kak. Masa kalah sama aku yang sudah punya dua anak dan bahkan mau tiga," ucapnya terkekeh.

__ADS_1


Reno membolakan matanya saat adiknya berbicara seperti itu.


"Apa Kezia hamil lagi saat ini?"


"Aku lagi berusaha untuk membuat Kezia hamil Kak. Akan segera launching anak ketiga," jawab Revano dengan santainya.


"Tidak Reno. Revano hanya mengerjai kamu saja. Aku tidak ingin hamil lagi kok dan cukup dua anak saja."


"Kakak, kapan akan memberikan Rendra adik? Nanti keburu keduluan aku lagi loh ini?"


Kezia tahu suaminya sedang menggoda Kakaknya agar Rendra segera punya adik.


"Jangan ikut campur rumah tangga orang Revano. Biarkan mereka saja yang menentukan mau punya satu atau dua anak."


"Aku hanya memberikan saran saja sayang. Lagian sepertinya Kak Reno ingin punya anak perempuan. Melihat Reva anak kita yang cantiknya seperti kamu dan siapa yang tidak ingin punya anak seperti Reva? Meskipun wajah Reva yang terbilang imut seperti aku sih," ucapnya tertawa terbahak-bahak.


"Aku akan membujuk Sandra lagi. Ya sudah aku tinggal dulu ke kamar," ucap Reno yang lalu pergi dari kamar adiknya.


"Kamu keterlaluan, bilang mau punya anak ketiga segala!"


"Kamu gak usah KB saja sayang. Kalau jadi lagi kan gak apa-apa, aku masih sanggup kok untuk membiayai sekolahnya sampai ke perguruan tinggi."


"Tidak mau ya Revano! Cukup dua anak saja. Kamu bisa ngertiin aku gak sih?"


"Sayang, aku cuma," perkataan Revano tidak diteruskan karena Kezia sudah berkata lagi.


"Aku yang hamil dan melahirkan mereka dengan bertaruh dengan nyawaku sendiri. Jadi kamu jangan memintaku untuk hamil lagi. Tolong mengertilah..."


"Hmn iya sayang iya... Dua anak cukup kok."


"Awas saja kalau kamu memintaku untuk hamil lagi. Masih ingat kan dengan ancaman aku waktu itu?"


"Masih ingat sayang. Aku berjanji tidak akan meminta anak lagi sama kamu."


"Hmm baguslah..."


Revano jadi takut beneran sama ancaman Kezia waktu itu.


Jangan lupa tinggalkan like 👍


Berikan dukungan kepada author dengan meninggalkan komentar, vote dan gift agar author lebih semangat berkarya 🤗


__ADS_1


__ADS_2