
Kezia lalu memberanikan diri untuk mendekati Viona. Tatapannya tajam mengarah ke Viona.
"Revano waktu itu hanya dijebak dan ini entah anak siapa yang sedang kamu kandung dan kamu mengakuinya sebagai anak dari suamiku," ucap Kezia kembali sambil memegang perut Viona sejenak.
Viona hanya bisa menangis saat Kezia berbicara seperti itu. Akhirnya Revano membuka suara.
"Viona kamu jangan menangis seperti ini. Kita lagi berada di tempat umum."
Kezia membolakan matanya saat Revano bahkan memperhatikan Viona yang tengah menangis. Viona bahagia Revano masih memperhatikannya dengan segera Viona langsung menghapus air matanya.
"Jadi kamu lebih membela dia daripada aku?" Kezia menatap tajam suaminya.
"Bukan seperti itu maksudku sayang."
"Lalu apa maksudmu? Katakanlah!" Kezia semakin menekan suaminya untuk berbicara.
"Kita sedang berada di tempat umum sayang. Tidak baik kita mengundang keributan. Lihatlah orang-orang pada melihat ke arah kita," ucap Revano.
"Biarkan saja. Biar semua orang tahu bahwa ada pelakor yang berusaha merebut kamu dariku."
Kata pelakor membuat hati Viona sakit. Padahal Viona tidak merasa dirinya seperti itu. Kezia melihat Revano sepertinya kasihan dengan Viona. Kezia akan membuat pilihan untuk Revano.
"Kamu kenapa tidak mau berbicara?" Kezia menatap tajam suaminya.
"Sayang, sudah jangan seperti ini. Malu dilihatin banyak orang," ucap Revano.
"Sekarang kamu harus bisa menentukan pilihan. Kamu pilih dia atau aku?" tanya Kezia.
"Revano....." Viona berkata lirih dengan nada memelas berharap Revano akan memilihnya.
"Revano jika kamu memilih aku maka aku akan melupakan Vino dan belajar mencintai kamu. Aku berjanji akan membahagiakan kamu selamanya." Batin Viona.
"Awas saja sampai Revano memilih pelakor ini. Aku tidak akan membiarkan Revano bertemu dengan Reva selamanya. Aku akan membawa Reva pergi keluar negeri jika Revano berani memilih Viona daripada aku." Batin Kezia.
__ADS_1
"Jadi siapa yang kamu pilih?" tanya Kezia.
"Revano......"
Viona berkata lirih dan masih mengharapkan Revano memilihnya meskipun hal itu mustahil baginya. Namun tidak ada salahnya berusaha untuk mencoba dan siapa tahu Revano berubah pikiran. Yang ada dipikiran Viona saat ini.
"Aku memilih kamu Kezia dan maaf Viona kamu memang istriku tapi anak yang masih dalam kandungan kamu itu bukanlah anakku," ucap Revano.
Seketika air mata Viona menetes membasahi pipinya. Bagaimana bisa seorang suami tidak mengakui anak yang sedang dikandungnya adalah anaknya.
"Tapi Revano apa kamu lupa kita pernah tidur bersama."
"Viona kita hanya dijebak entah oleh siapa aku juga tidak tahu. Viona akan aku buktikan bahwa memang bayi yang sedang kamu kandung bukan anakku. Setelah dia lahir kita akan tes DNA bayi itu."
"Jika tes DNA keluar dan ini adalah anakmu. Apa yang akan kamu lakukan?"
"Tidak mungkin kalau bayi yang sedang kamu kandung itu adalah anakku. Karena aku sudah bilang dari awal, aku tidak melakukan apapun dan kita hanya dijebak. Waktu itu aku menikahi kamu hanya untuk menyelamatkan kamu dari rasa malu. Aku hanya membantumu agar anak yang kamu kandung tidak dibilang anak haram."
Kata anak haram membuat Viona semakin terisak dalam tangisannya. Apalagi Revano hanya bilang menikahinya karena membantu dan menyelamatkannya saja dari rasa malu. Mereka tidak tahu dari tadi ada sepasang mata yang mengawasinya.
"Tidak, aku tidak memiliki perasaan sedikitpun sama kamu dan aku hanya mencintai Kezia. Dia adalah cinta pertama dan terakhirku. Selamanya cintaku hanya untuknya."
Kezia sedikit lega saat Revano berbicara seperti itu.
"Aku semakin menyayangi dan mencintaimu Revano." Batin Kezia merasa bahagia.
Viona lalu mendekati Kezia. Harapan satu-satunya adalah belas kasihan dari Kezia.
"Tolong hargai aku Kezia. Aku juga istrinya. Kezia, tolong biarkan Revano bersamaku meskipun hanya seminggu sekali. Aku juga butuh perhatian dan kasih sayangnya," ucap Viona sambil menangis dihadapan Kezia meminta belas kasihan.
"Hapuslah air mata buayamu itu dan aku tidak akan pernah mengizinkan suamiku bersamamu. Tidak akan pernah dan jangan pernah bermimpi aku akan mewujudkan permintaan kamu."
Sebenarnya Revano juga kasihan terhadap Viona. Lalu Viona menatap wajah Revano.
__ADS_1
"Revano aku juga istrimu. Aku juga butuh kasih sayang darimu. Apalagi sekarang aku sedang hamil dan bagaimanapun juga aku masih menjadi istrimu dan anak ini akan menjadi anakmu juga. Kita akan membesarkannya bersama-sama," ucap Viona sambil mengusap perutnya.
Menurut Revano jika kasihan terhadap Viona maka seperti menghancurkan rumah tangganya sendiri yang sudah Revano bangun dengan susah payah selama ini dan sampai Kezia mencintainya.
"Maaf Viona aku tidak bisa. Setelah anakmu lahir dan tes DNA keluar maka kita akan segera bercerai."
Viona merosot dan duduk di lantai mall saat mendengar perkataan Revano yang akan menceraikannya. Viona berpikir bagaimana dengan nasib anaknya setelah lahir nanti yang akan tumbuh tanpa seorang ayah.
"Revano, aku tidak ingin bercerai darimu. Aku mohon jangan ceraikan aku."
Revano hanya diam saja. Kezia sudah ingin menyudahi drama Viona.
"Sayang, ayo kita pergi dari sini."
"Tapi sayang kita belum makan bersama dan aku sudah lapar," ucap Revano yang tetap ingin makan bersama Kezia di mall.
"Aku sudah gak mood lagi makan di mall. Kita makan di rumah saja."
"Baiklah sayang lagian makan di rumah jauh lebih sehat." Kezia dan Revano lalu pergi meninggalkan Viona.
Viona menatap kepergian suaminya bersama istri pertamanya. Saat Viona akan berdiri seketika ada laki-laki yang mengulurkan tangannya. Tanpa melihat siapa orangnya Viona menerima uluran tangan tersebut dan berdiri. Viona membolakan matanya saat melihat siapa orang yang ada dihadapannya yang tak lain adalah mantan kekasihnya. Vino lalu menggandeng tangan Viona dan menyeretnya ke tempat yang lebih sepi dan jauh dari kerumunan orang.
"Vino apa-apaan kamu membawaku kesini?"
"Setelah kamu bercerai dari suamimu aku akan menikahi kamu dan kita akan membesarkan anak itu bersama-sama."
Viona terkejut saat Vino berbicara seperti itu. Menikah dengan Vino adalah impiannya tapi itu dulu saat Viona masih menjadi kekasihnya. Namun rasa sakit hatinya kepada Vino belum hilang sampai saat ini karena Vino pernah mengatakan bahwa dirinya wanita murahan yang saat itu tiba-tiba ada Revano di apartemennya.
"Ah, tidak perlu! Aku bisa membesarkan anakku sendiri," jawab Viona dan lalu mengambil beberapa kantong belanjaan dan paper bag yang berada di lantai karena Vino tadi meminta paksa dan meletakkannya di lantai.
"Viona kamu jangan egois. Anakmu butuh seorang ayah. Aku akan menjadi ayah dari anakmu," ucap Vino sambil memegang perut Viona.
Dengan segera Viona menepis tangan Vino yang tadi memegang perutnya.
__ADS_1
"Jangan mencampuri urusan rumah tanggaku. Kamu hanya masa laluku."
Kata masa lalu membuat hati Vino sakit. Padahal mereka dulu bahkan saling mencintai dan ingin hidup bahagia bersama.