
Hari ini adalah hari terakhir Revano tinggal di apartment milik Kezia. Revano sudah pulang dari kuliahnya. Saat sudah sampai di apartemennya agar tidak curiga Revano belum memasukkan bajunya ke koper. Revano akan menunggu besok pagi saja untuk memasukkan baju-bajunya ke dalam koper saat Kezia masih tertidur. Revano melihat sekitar kamarnya dan lalu tersenyum tipis. Kenangan indah dan pahit bersama istrinya di awali di kamar ini.
"Aku akan melupakan semuanya kenangan tentang kita. Sesuai dengan keinginan kamu, aku akan pergi dari kehidupan kamu untuk selama-lamanya."
Revano sudah menandatangani surat gugatan cerainya itu. Revano lalu menulis sebuah surat yang nantinya akan ditaruh di sebelah surat gugatan cerainya beserta kartu ATM selama dirinya bekerja sebagai model dan driver ojol.
Waktu berjalan begitu cepat berlalu, sekarang sudah malam. Revano akan memasak untuk terakhir kalinya sebelum dirinya pergi.
"Bi, biar saya saja yang memasak makan malam hari ini. Bibi pulang saja, saya lihat Bibi sudah capek."
"Tapi Den....."
"Sudah Bibi tidak apa-apa. Saya akan memasak makanan kesukaan istri saya."
"Iya, memasak makanan kesukaan istriku untuk terakhir kalinya." Batin Revano.
"Baik Den, kalau begitu Bibi pamit pulang."
"Sebentar Bi," ucap Revano sambil mengambil amplop dari kantong sakunya.
Uang itu adalah uang dari kartu ATM yang Daddy Rey jatah setiap bulannya.
"Ini buat Bibi," ucapnya dengan lirih.
"Tapi Den......" Memelankan suaranya.
"Sudah Bi, terima saja. Ini rezeki Bibi untuk membawa berobat suami Bibi ke rumah sakit."
"Terima kasih banyak Den."
"Sama-sama." Sambil tersenyum.
Bibi lalu pulang ke rumahnya. Revano langsung memasak makanan kesukaan istrinya. Setidaknya dirinya akan berusaha untuk menjadi suami yang terbaik untuk istrinya sebelum ia pergi.
"Masak apa kamu?" Tanyanya dengan ketus.
"Sini sayang, aku masak makanan kesukaan kamu," ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Benarkah?" Matanya langsung berbinar-binar.
__ADS_1
"Iya......." Jawabnya singkat.
Kezia lalu mendekati Revano yang sedang masak. Jika Revano yang masak maka makanannya selalu enak.
"Ini coba kamu cicipin bumbunya sudah pas atau kurang apa." Sambil mengambil kuah dan menyodorkan sendok ke mulut Kezia.
"Tambah garam sedikit lagi."
"Baiklah..." Revano lalu menambahkan sedikit garam dimasakannya.
"Sekarang gimana apakah sudah pas?" Sambil menyodorkan kembali sendok yang berisi kuah tersebut.
"Sudah pas dan enak."
Revano tersenyum bahagia, setidaknya dirinya bisa membuat istrinya tersenyum meskipun hanya memasak makanan kesukaannya. Memang tadi dirinya sengaja menaruh garam sedikit di masakannya agar bisa menyuapi istrinya. Meskipun hanya untuk mencicipi kuahnya. Sekarang masakan Revano sudah matang. Aroma masakannya sangat harum.
"Ayo sayang kita makan bersama." Ajaknya ke meja makan.
"Iya ayo, aku juga sudah lapar sekali."
Kezia lalu memakan masakan suaminya.
"Enak sekali masakan sop iga buatan kamu."
"Ngapain aku jauh-jauh kesana kalau ada kamu di sini."
"Sebentar lagi aku akan pergi Kezia. Jika kamu ingin memakannya kamu bisa pergi ke restoran yang ada di hotel milik Daddy Rey. Kamu bisa makan sepuasnya di sana. Sebenarnya aku tidak ingin pergi dari kehidupan kamu. Tapi kamu masih saja tidak mau berubah dan menghargai aku sebagai suami kamu. Aku sudah tidak kuat lagi dengan kehidupan rumah tangga ini. Cepat atau lambat kamu juga akan menceraikan aku. Kamu ingin aku segera pergi dari kehidupan kamu. Mulai besok pagi hidup kamu tidak akan terusik lagi. Karena aku akan pergi sejauh mungkin sesuai dengan keinginan kamu." Batin Revano.
Kezia makan dengan lahapnya. Revano bahagia setidaknya dirinya bisa membuat istrinya bahagia sebelum dirinya pergi ke Korea. Sekarang sudah waktunya tidur. Kezia sudah tidur duluan, Revano naik ke tempat tidurnya. Revano mengamati wajah cantik istrinya yang sebentar lagi tidak akan menjadi istrinya.
"Sayang aku sangat mencintaimu, tidurlah yang nyenyak," ucapnya sambil mengecup kening Kezia kemudian pipi kirinya.
Revano lalu berbaring di sampingnya. Revano membacakan doa tidur dan lalu memeluk istrinya.
"Ini merupakan pelukan terakhirku sebelum aku pergi besok pagi." Batin Revano.
Kezia sebenarnya belum tidur dan mendengarkan semua perkataan Revano. Kezia membiarkan Revano malam ini memeluknya. Entah kenapa Kezia tidak menolak pelukan suaminya malam ini. Justru Kezia merasa mulai nyaman dipeluk Revano. Tak lama kemudian Kezia menyusul Revano ke alam mimpinya.
Sekarang sudah jam tiga pagi Revano bangun dan masih memeluk istrinya. Revano memandangi wajah cantik istrinya yang akan selalu dirinya rindukan saat pergi ke Korea. Tak lupa Revano mengambil foto wajah istrinya yang masih tidur. Setelah itu Revano melaksanakan sholat tahajud. Dirinya selalu sholat tahajud jika tidak kebablasan ketiduran. Setelah selesai sholatnya Revano mengemasi semua pakaiannya dan dirinya masukkan ke dalam koper. Revano lalu mengambil surat dari dalam tasnya. Surat gugatan cerai dan surat untuk istrinya. Revano meletakkan kedua surat tersebut di atas meja rias Kezia. Tak lupa Revano juga meletakkan kartu ATM dari hasil dirinya bekerja selama kurang lebih tiga bulanan ini di atas dua surat tersebut.
__ADS_1
"Semoga kamu bahagia setelah ini. Selama ini kamu sudah tersiksa hidup denganku. Aku harap kamu bisa menemukan laki-laki yang lebih baik dariku. Selamat tinggal sayang, semoga kamu bahagia bersama orang lain. Karena kebahagiaan kamu tidak bersamaku." Batin Revano sambil mengecup kening Kezia untuk terakhir kalinya sebelum dirinya pergi.
Revano lalu membawa kopernya dan memakai tas punggungnya. Revano sudah keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamar.
"Aku akan merindukan apartment ini. Tapi aku tidak bisa kesini lagi setelah ini," ucapnya lirih sambil melihat semua sudut apartment dan tidak sadar matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Revano lalu berjalan dan menarik kopernya keluar dari apartment. Sahabatnya sudah menjemputnya dan menunggunya di bawah. Revano langsung melangkahkan kakinya pergi dari apartment. Revano berjalan dengan cepat dan lalu masuk ke dalam mobil sahabatnya.
"Bro, apa kamu sudah siap?"
"Sudah......."
"Apa kamu tidak akan berubah pikiran untuk tidak jadi pergi ke Korea?"
"Tidak ada alasanku untuk tidak pergi. Istriku saja bahkan tidak menginginkan diriku." Sambil menghela napas panjang.
Revano masih ingat Kezia bilang untuk meminta Revano pergi dari kehidupannya jika perlu untuk selama-lamanya. Kezia bilang seperti itu sudah dua kali di apartemennya dan di toko butiknya. Revano malu hal pribadi tersebut sampai terdengar di telinga karyawannya.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke Bandara sekarang juga."
Sahabatnya juga merasa kasihan dengan Revano. Dirinya juga setuju dengan keputusan Revano untuk pergi ke Korea. Setelah hampir satu jam perjalanan akhirnya Revano sudah sampai di Bandara.
"Jangan lupa kalau sudah sampai di Korea hubungi aku ya bro."
"Siap. Aku masuk dulu ya bro."
"Iya........." Sambil melambaikan tangannya.
Revano sekarang sudah berada di dalam pesawat.
"Selamat tinggal Kezia. Selamat tinggal semuanya. Aku pasti akan merindukan saat-saat aku berada di Indonesia." Lirihnya sambil menatap jendela pesawat.
...****************...
Author matanya sampai berkaca-kaca saat mengetik naskah part ini 😌
Jangan lupa tinggalkan like 👍 rate 5 🌟 and biar author tambah semangat 🆙
tambahkan ke favorit biar saat 🆙 ada pemberitahuannya 🙂
__ADS_1
Jangan lupa berikan hadiah dan vote. Terima kasih ❤️