Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 61 - Perjodohan Karin


__ADS_3

Risa dan Rey pun tidur kembali setelah Sholat Subuh berjamaah. Sinar matahari mulai masuk ke kamar mereka yang menjadikan silau seisi ruang kamar.


"Hoammm..." Risa pun menguap dan mengerjapkan matanya.


Risa pun terbangun dengan masih muka bantalnya. Ia melihat Rey masih tertidur pulas disampingnya.


"Bonekanya sangat empuk sekali, tidurku jadi terasa nyenyak semalam," ucapnya pelan yang masih memeluk bonekanya.


Kejadian waktu di Korea yang membuatnya masih terbayang-bayang akan malam itu bersama Rey. Risa sekarang memakai pakaian tidurnya yang lebih tertutup.


"Morning kiss," ucap Risa sambil mengecup pipi Rey.


"Sayang kamu udah bangun?" sambil membuka matanya.


"Iya udah, barusan saja."


Mereka langsung mandi dan turun ke bawah untuk sarapan. Kali ini yang memasak untuk sarapan adalah Bi Ika. Bibi masak nasi goreng hari ini dan ada roti juga di meja, jadi misalkan ada yang gak suka nasi goreng bisa sarapan roti tawar dan berbagai rasa selai yang sudah tersedia di meja makan. Risa lalu mengambil roti tawar, blue band dan selai kacang. Seketika ia memasukkan roti selai kacangnya ke mulutnya perutnya pun menolak untuk di isi.


"Hoekk.." Risa menutup mulutnya dan berlari ke wastafel.


"Hoekk... Hoekkk..." Risa memuntahkan isi perutnya.


Rey pun ikut menyusul istrinya. Memijat tengkuknya. Rey sangat telaten membersihkan mulut bekas muntahannya tanpa merasa risih.


"Sayang kamu mau makan apa? Aku beliin ya?"


Risa menggeleng pelan.


"Kamu harus makan sayang, meskipun nanti kamu muntah kembali. Yang terpenting perut kamu jangan sampai kosong," ucapnya merayu istrinya agar mau makan.


"Aku mau makan nasi goreng buatan kamu kaya waktu itu di Korea."


"Wah anak Daddy pengen mencoba masakan Daddy ya?" ucapnya sambil bicara di depan perut Risa.


"Iya Daddy," ucap Risa menirukan suara anak kecil.


"Baiklah sayang tunggu sebentar ya sayang, kamu duduk dulu." sambil mengecup perut Risa sebentar lalu menggandeng Risa dan mendudukkannya di kursi makan bersama orang tuanya Risa dan Karin.


Rey dengan cekatan mencincang sosis, bawang merah dan kubis. Tak lupa ia menghaluskan cabai dan bawang putih di cobek. Rey bergerak dengan cepat agar istrinya tidak kelaparan apalagi dia sedang mengandung anaknya.


Nasi goreng spesial untuk istri tercintanya pun sudah matang. Ia lalu menaruhnya di piring dan langsung akan memberikannya kepada istrinya.


"Sayang nasi gorengnya sudah jadi nih," ucapnya tersenyum sambil meletakkan nasi goreng di depannya.


"Risa pun langsung meniup nasi goreng buatan suaminya."


"Gimana sayang rasanya? Sama atau tidak?"


"Ini jauh lebih enak dibanding pas kamu masak waktu di Korea," ucapnya sambil memberikan jempol ke arah Rey.


"Ehm benarkah? Padahal takaran bumbunya sama. Apa mungkin karena aku menghaluskan bumbunya pakai cobek ya? Kalau di Korea kemarin kan hanya pakai blender."


"Memang begitu nak Rey, masakan akan jauh lebih enak kalau kita menghaluskan bumbunya dengan cobek."


Rey pun manggut-manggut mendengar perkataan Mama mertuanya. Rey tersenyum melihat tingkah laku istrinya yang makan dengan lahap.

__ADS_1


"Pelan-pelan sayang makannya," ucap Rey.


"Di tiup dulu nak," ucap Papa Kevin.


Risa hanya menjawab anggukan karena ia tidak sabar memakan nasi gorengnya.


"Lahapnya anak Mama makannya."


"Risa memang lagi ingin makan nasi goreng buatan Rey Ma," ucapnya sambil tersenyum.


"Oh, anak Mama lagi ngidam ini ceritanya?"


Risa pun sedang makan nasi gorengnya dan Rey yang menjawab.


"Iya Ma, Risa lagi ngidam makan nasi goreng. Baby nya pengen merasakan masakan Daddy-nya."


"Kamu harus selalu ada disampingnya nak Rey. Ibu hamil itu sewaktu-waktu ngidamnya. Jadi teringat waktu dulu Papa cari batagor malam-malam saat Mama Angel ngidam, padahal saat itu restorannya 10 menit lagi akan tutup."


"Oh begitu Pa. Iya Pa, siap."


"Nak Rey tolong hubungi teman kamu Dion, kita undang keluarganya untuk makan malam ya?" ucap Papa Kevin.


Karin pun tersedak mendengar nama Dion, lalu meminum air putih hingga setengah gelas.


"Baik Pa, nanti Rey hubungin Dion."


"Apa tidak terlalu kecepetan Pa kok undang keluarganya Dion untuk makan malam?" tanya Karin kepada Papa Kevin.


"Tidak, nak. Kakek dan nenek menginginkan kalian saling mengenal terlebih dahulu."


Karin pun hanya diam seribu bahasa. Kalau sudah perintah kakek dan neneknya iya tidak berani membantahnya.


Malam pun telah tiba terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah.


DI RUANG TAMU


"Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang," ucap Papa Kevin.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum Salam. Silahkan duduk," ucap Papa Kevin.


"Anak kami tadi di telfon oleh nak Rey, katanya diundang untuk makan malam bersama. Kalau boleh tahu dalam rangka apa ya Pak?" tanya Mama Dion.


"Begini Bu, Kemarin anak saya dan menantu saya Rey sedang bulan madu ke Korea. Menantu saya menjadi imam sholat di rumah adik saya, orang tua saya terkagum dengan Rey. Ayah dan Ibu saya bilang kalau ada teman Rey yang taat beragama ingin menjodohkan dengan keponakan saya Karin. Nah Rey lah yang merekomendasikan nak Dion kepada orang tua saya," ucap Papa Kevin dengan menjelaskan panjang lebar.


Orang tua Dion pun saling memandang.


"Sebentar saya panggilkan Karin terlebih dahulu," ucap Mama Angel.


Mama Angel pun ke kamar Karin.


"Sayang, Dion beserta orang tuanya sudah datang."


"Hah? Karin gak mau ketemu sama mereka Ma."

__ADS_1


"Kalian kenalan dulu saja nak, gak langsung dijodohkan kok, tenang saja!" ucapnya dengan senyuman.


Karin dan Mama Angel lalu berjalan menuju ruang tamu.


"Nah ini yang saya maksud Karina Alexander. Keponakan saya yang sudah saya anggap seperti anak kedua saya," ucap Mama Angel.


"Nak ayo salim," ucap Papa Kevin dengan lembut.


Karin pun lalu menyalami dan mengecup punggung tangan kedua orang tua Dion. Saat akan bersalaman dengan Dion, Dion pun menangkupkan kedua tangannya 🙏.


"Maaf, bukan muhrim," ucapnya pelan.


Karin pun menatap dengan tatapan tak suka.


"Nah yang begini nih kalau jadi suami ngeri, kayaknya bakal banyak peraturannya." batin Karin.


Papa Kevin dan Mama Angel pun saling menatap. Seolah berbicara kayaknya memang nak Dion orang yang tepat menjadi menantu Keynan adiknya. Karin pun langsung duduk disamping Mama Angel.


"Om, Tante ngomong-ngomong Rey mana kok dari tadi belum terlihat?" tanya Dion yang mencari-cari Rey.


"Oh Rey sedang membuatkan salad buah untuk istrinya yang lagi ngidam nak," ucap Papa Kevin.


"Alhamdulillah, Rey mau punya momongan."


"Bagaimana nak Dion apa mau menerima perjodohan ini? dan Karin kamu maukah dijodohkan dengan nak Dion?" tanya Papa Kevin.


Dion yang lagi makan biskuit pun tersedak.


"Uhukk.. Uhukk..."


Mamanya langsung menyodorkan minumannya.


"Saya belum bisa menjawabnya sekarang Om. Karena saya saja baru bertemu Karin hari ini."


"Bagaimana denganmu Karin?"


"Saya belum siap untuk dijodohkan karena saya masih SMA. Kita lebih baik saling mengenal terlebih dahulu, menjadi teman misalnya sebelum membicarakan ke tahap yang lebih lanjut," ucap Karin mengeluarkan unek-uneknya.


"Saya setuju dengan Karin, saya juga baru mau masuk kuliah," ucap Dion.


"Baiklah kalau begitu, kalian saling bertukar nomor telepon terlebih dahulu saja."


Karin dan Dion pun mau tak mau menyerahkan hp nya untuk saling bertukar nomor.


"Kalau begitu mari kita ke ruang makan untuk makan malam bersama," ucap Mama Angel.


Mereka semua lalu ke ruang makan. Sedangkan di dapur Rey sedang asyik menyuapi Risa makan salad buahnya.


"Gimana sayang rasanya segar?"


"Iya enak sayang rasanya manis dan asam. Maaf ya kalau aku merepotkanmu karena ngidamku."


"Eh, jangan bilang begitu dong yang. Orang ngidam mah wajar. Harus dituruti kemauannya dan ini juga karena kemauan baby kita ya kan nak?" sambil mengusap perut Risa dan mengecupnya.


"Nak, ayo kita ke ruang makan. Semuanya udah pada nunggu," ucap Mama Angel yang menyusul anaknya ke dapur.

__ADS_1


"Baik Ma," ucapnya bersamaan.


Rey pun lalu berjalan dan menggandeng tangan Risa.


__ADS_2