Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 62 - Surprise


__ADS_3

DI RUANG MAKAN



Mereka makan malam bersama dengan suasana hening. Setelah selesai makan malam bersama mereka pun mulai membuka obrolan kembali di ruang tamu. Rey duduk bersebelahan dengan Dion dan kedua orang tuanya. Sedangkan Karin duduk bersama kedua orang tua sepupunya. Risa sudah pamit ke kamar duluan karena sudah mengantuk, pmungkin karena dia sedang hamil jadi cepat lelah.


"Rey selamat ya atas kehamilan istri kamu," ucap Dion dengan menepuk bahu Rey dan merangkulnya sambil tersenyum manis.


"Makasih ion, gimana bro kamu suka gak sama sepupu iparku?" tanyanya berbisik.


"Aku bingung, belum tahu. Nanti aku ceritain di WhatsApp saja ya bro!" ucap Dion pelan di telinga Rey.


"Ok sip. Siap mendengarkan curhatanmu bro."


Papa Kevin pun menceritakan tentang kehidupan Karin.


"Karin ini adalah anak dari adik kandung saya Keynan Putra Alexander, Kedua orang tua saya tinggal di Korea, Ibu saya blasteran Indonesia-Korea dan kebetulan Mama Karin juga orang Korea. Jadi dari kecil Karin tinggal di Korea. Namun tenang saja, Karin bisa berbahasa Indonesia karena Papanya dulu sekolah di Indonesia dan sehari-hari kakek dan neneknya juga berbicara menggunakan bahasa Indonesia," ucap Kevin panjang lebar.


Lalu orang tua Dion pun juga menceritakan kehidupan Dion.


"Dion adalah anak kedua saya. Anak pertama saya meninggal waktu ia masih balita. Dion orangnya mandiri, sejak kecil saya sekolahkan di pondok pesantren sampai dengan ke jenjang SMP. SMA nya saya sekolahkan di sekolah internasional agar anak saya terdidik dengan baik dan kebetulan mereka sekelas lagi dengan nak Rey. Kalau untuk masalah perjodohan biarlah mereka yang memutuskan sendiri, karena mereka yang akan menjalaninya," ucap Papa Dion.


"Iya saya setuju, keluarga kita juga tidak memaksakan kehendak jika Dion harus menjadi menantu dari Keluarga Alexander."


"Baiklah, saya mau minta izin untuk berbicara empat mata sama Dion bolehkah?" ucap Karin.


"Berbicara empat mata itu sangatlah tidak baik, karena kalau sampai bertatapan mata itu sama saja zina mata. Alangkah baiknya kalau kita ditemani seseorang dalam berbicara, kalau hanya berdua saja yang ketiga adalah setan," ucap Dion.


"Tuh kan ngeselin, pikiran dia kemana-mana terlalu agamis banget. Cuma mau bicara berdua aja ribet. Aku tidak suka cowok yang seperti ini, nanti hidupku penuh dengan peraturan yang nantinya jadi tekanan batin. Aku tidak mau mati muda karena tersiksa." batin Karin.


"Baiklah, terserah kamu saja!" Karin pun sudah pasrah.


Mereka lalu ditemani Bi Ika di teras rumah untuk mengobrol.


"Apa kamu menerima perjodohan ini?" tanya Karin to the point.


"Saya tidak bisa menjawabnya sekarang. Kita jalani saja dulu sebagai teman, kalau memang skenario Allah mengatakan jika kita memang ditakdirkan untuk berjodoh kenapa tidak?"


"Cihh... jawaban macam apa itu? Tidak ada kepastian!" Karin pun langsung meninggalkan Dion yang masih terdiam di teras rumah.


Dion pun langsung mengejar Karin masuk ke dalam ruang tamu agar mereka tidak curiga.


"Kalau begitu kami pamit pulang. Terima kasih atas jamuan makan malamnya," ucap Mama Dion.


"Sama-sama Pak, terima kasih telah meluangkan waktunya untuk singgah di gubuk kami."


"Ah bapak ini terlalu merendah, padahal kehidupan Anda bahkan jauh di atas rata-rata. Bahkan rumah anda seperti istana," ucap Papa Dion.


"Bapak bisa saja, jangan terlalu bicara berlebihan," ucap Papa Kevin sambil tersenyum.


Mereka sudah pulang, di ruang tamu tinggal 4 orang, Papa Kevin, Mama Angel, Rey dan Karin.


"Sayang kamu gimana akhirnya tadi bicara sama Dion? Kalian siap untuk dijodohkan?" ucap Mama Angel.


"Kita sepakat berteman dulu saja Ma," ucap Karin


"Karin izin ke kamar duluan ya," ucapnya kembali.

__ADS_1


Semua yang di ruang tamu pun langsung bubar. Mereka menuju ke kamarnya masing-masing.


...*****...


DI KAMAR KARIN



"Aku gak mau dijodohkan dengan Dion, belum apa-apa sifatnya aja begitu dingin." sambil merebahkan dirinya di ranjang queen size.


"Ting..." suara pesan WhatsApp masuk dengan nomor tak dikenal.


📥 081356xxxxxx : "Assalamualaikum. Simpan nomorku, kalau mau bicara apa-apa tentang perjodohan lewat WhatsApp saja."


Karin yang membaca pesan WhatsApp tersebut pun tahu pesan itu dari siapa. Siapa lagi kalau bukan dari Dion, si cowok nyebelin yang bersifat kaku dan dingin yang pernah Karin temui. Karin tidak membalas pesan WhatsApp tersebut ia lebih memilih untuk tidur.


...*****...


DI KAMAR RISA



Rey berjalan menuju ranjangnya. Rey melihat istrinya sudah tertidur pulas dengan memeluk boneka brown. Rey merebahkan dirinya di backboard. Ia sedang menunggu Dion untuk curhat. Beberapa menit kemudian terdengar suara pesan WhatsApp masuk.


"Ting..."


📥 Dion : "Assalamualaikum Rey, aku tidak mau dijodohkan dengan sepupu iparmu. Sifatnya jauh berbeda dengan istrimu. Dia bicaranya ketus dan orangnya nyebelin. Aku tidak suka."


📤 Rey : "Wa'alaikum Salam, dicoba dulu bro berteman dengannya. Mungkin kamu akan tahu sifat aslinya kalau sudah berteman dengannya."


📥 Dion : "Sepertinya aku tidak sanggup menerima perjodohan ini. Aku menyukai gadis lain saat aku bertemu dengannya pertama kali di pesta pernikahanmu. Maaf kalau dengan terpaksa aku harus menolak perjodohan ini."


📥 Dion : "Wa'alaikum Salam Rey. Selamat malam."


"Dion menyukai gadis lain ternyata. Gimana aku bicara sama kakek dan nenek kalau begini."


Rey pun lalu menarik selimutnya sampai ke perutnya. Ia mengecup kening istrinya lalu tertidur. Nanti malam setelah sholat isya Rey dan Risa memutuskan untuk pulang ke rumah Rey.


...*****...


Mang Ujang sopir pribadi Rey dari masih kecil sudah menjemputnya di halaman rumah.


"Papa, Mama, Risa pamit dulu ya ke rumah Rey," ucapnya sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan lalu memeluknya.


"Iya sayang hati-hati, kamu jangan capek-capek ya, ingat sekarang kamu sedang hamil," ucap Mama Angel sambil membelai rambut panjang anaknya.


"Iya Ma," ucapnya singkat.


"Nak Rey titip anak Papa ya? Turutin semua apa yang Risa mau. Orang hamil moodnya suka berubah-ubah."


"Iya Pa, Rey akan jaga Risa dengan baik."


"Sayang kamu jagain keponakan aku ya, kamu harus banyak makan buah dan sayuran agar selalu sehat ibu dan bayinya," ucap Karin.


"Makasih say. Kamu kalau kangen aku bisa main ke rumah Rey."


Karin pun memberikan kode tangan kanannya membentuk huruf ok. Mereka lalu pergi meninggalkan rumah orang tua Risa.

__ADS_1


...*****...


Rey dan Risa sudah sampai rumah dan mereka sedang berada di ruang keluarga.


DI RUANG KELUARGA



"Alhamdulillah anak dan menantu Mami sudah pulang. Gimana honeymoon kalian apakah menyenangkan selama di Korea?" tanya Mami Ana.


"Seru banget Mi, kita sering jalan-jalan dan kulineran di Korea Selatan," ucap Rey.


Mami Ana tidak menanyakannya oleh-oleh yang ia pesan dan harus ada. Saat itu Risa tidak menjawab pesan WhatsApp nya. Mami Ana mengerti alasan Risa tidak membalas pesan WhatsApp nya Mami Ana berpikir bahwa Risa belum hamil jadi ia lebih baik tidak membalas pesan WhatsApp nya. Mami Ana pun jadi sungkan dengan menantunya, yang terus mendesaknya dengan pertanyaan kapan hamil.


FLASHBACK ON


"Ting..." ponsel Risa pun berbunyi.


📥 Mami Ana : "Sayang, besok ulang tahun Rey yang ke 19 tahun. Kamu siapkan kado yang spesial ya buat anak mami nanti malam. Kalian sudah 3 minggu di Korea Selatan dan 3 hari lagi pulang ke Indonesia. Coba pagi ini kamu tes dengan test pack apakah kamu sudah hamil atau belum. Mami berharap hasil tesnya dua garis sayang. Misalkan kamu belum hamil, nanti malam sebagai kado ulang tahun untuk Rey kamu buatkan mami cucu ya sayang, jadi kamu gak perlu repot-repot beli kado spesial untuk Rey 😊.


Risa mengeryitkan dahinya membaca pesan WhatsApp dari mami mertuanya.


"Kado ulang tahun macam apa ini? Selalu ada-ada saja permintaan mami mertua." batin Risa sambil menepuk jidatnya.


FLASHBACK OFF


Rey membuka kopernya memberikan oleh-oleh kepada orang tuanya. Berbagai makanan ringan dan miniatur Korea ia beli. Mami Ana pun nampak kecewa karena pesanannya belum ada. Papi Aldi yang melihat raut wajah istrinya pun lalu merangkul dan memegang bahunya.


"Satu lagi oleh-oleh pesananan Mami yang belum terlihat," ucap Rey dengan senyuman.


"Mana sayang? Bukankah kamu sudah mengeluarkan semua isi kopermu?" Mami Ana pun bingung mendengar ucapan anaknya.


Rey lalu berjongkok tepat di depan perut Risa. Rey mengelus perut Risa pelan dan menciumnya.


"Surprise..... Pesanan Mami sudah ada, Risa sedang hamil anakku Mi," ucapnya yang masih mengelus perut istrinya.


Sedangkan Risa wajahnya tersenyum mengarah ke kedua mertuanya. Mami Ana pun matanya sudah berkaca-kaca ia langsung memeluk suaminya.


"Papi, kita akan segera punya cucu Pi." Mami Ana senang sekali mendengar menantunya sedang hamil.


"Iya Mi," ucapnya pelan.


Papi Aldi meneteskan air mata bahagianya. Mami Ana lalu melepaskan pelukannya dan menghampiri menantu kesayangannya.


"Sayang terima kasih kamu sudah memberikan oleh-oleh spesial ke Mami. Kamu jaga cucu Mami baik-baik ya sayang," ucapnya sambil mengelus perut menantunya sebentar.


"Sama-sama Mi. Risa akan jaga cucu Mami dengan segala kemampuannya yang Risa punya," ucapnya sambil tersenyum dan mengelus perutnya yang masih rata.


"Oh iya, siang ini kita cek ke dokter kandungan ya sayang, biar kita tahu usia kandungan kamu sudah berapa minggu."


"Iya Mi, Risa mau."


"Ya sudah Mami akan menghubungi dokter Yudha. Nanti siang kita ke rumah sakit. Sekarang kamu istirahat dulu ya sayang," ucapnya dengan lembut.


"Baik Mi."


"Rey kamu bawa istri kamu istirahat di kamar ya nak. Ibu hamil tidak boleh capek-capek." Papi Aldi pun memberikan kode agar anaknya ke kamar.

__ADS_1


"Iya Pi."


Rey lalu membawa Risa menuju kamarnya.


__ADS_2