
Please berikan jempol 👍 kalian terlebih dahulu sebelum membaca 🤗
Reva meninggalkan rumah yang dulu selalu penuh dengan canda dan tawanya. Tapi sekarang sudah tidak kuat lagi karena yang ada hanya kesedihan dan derai air mata. Reva naik taksi menuju ke rumah orangtuanya.
Reva datang dan menekan bel pintu rumahnya. Karena Bibi sedang menyapu taman belakang lalu Revano yang akan membukakan pintu.
"Pagi-pagi begini siapa yang bertamu ya?"
"Biar aku saja sayang."
"Sudah kamu duduk saja temani Reza dan semuanya makan sayang."
"Baiklah," jawab Kezia pasrah.
Revano lalu bergegas menuju ke ruang tamu. Revano terkejut saat anak sulungnya datang dengan matanya yang sembab.
"Papa ....."
"Nak, kamu kenapa menangis?" tanya Revano sambil menghapus air mata putri kesayangannya.
Belum menjawab pertanyaan dari sang Papa kemudian Reva sudah pingsan. Untung saja Revano segera menangkap anaknya agar tidak terjatuh di lantai.
"Ma-Mama.....," teriak Revano sambil berjalan menggendong putrinya.
Dengan segera Kezia beranjak dari tempat duduknya dan menyusul sang suami.
"Reva...," ucap Kezia terkejut yang melihat putrinya pingsan.
"Kenapa Reva bisa pingsan Pa?"
"Tidak tahu Mama," ucap Revano sambil membaringkan tubuh Reva ke sofa ruang keluarga.
"Reza, ambil minyak angin nak," teriak Kezia.
Reza langsung berlari mengambil minyak angin dan menuju ke ruang keluarga. Kezia segera mengambil minyak angin dari tangan putranya dan mengoleskan ke bagian hidung dan pelipis Reva.
"Kak Reva... Kak Reva kenapa ini Pa?"
"Tidak tahu nak. Kakak kamu tiba-tiba pingsan."
Revano mengambil air putih di ruang makan yang tadi masih utuh belum terminum.
"Ada apa nak?" tanya Mommy Risa.
"Reva pingsan Mommy."
Revano segera menuju ke ruang keluarga. Reyhan, Mommy Risa dan Daddy Rey berjalan menuju ruang keluarga. Sedangkan Reno, Sandra dan Rendra sudah pindah ke rumah baru mereka sebulan yang lalu.
Tak lama kemudian Reva mulai sadar saat sudah diolesi minyak angin.
__ADS_1
"Alhamdulillah kamu sadar juga cucuku," ucap Risa.
"Minum dulu sayang," ucap Kezia.
"Kenapa kamu sendirian kemari nak? Baru saja kita nanti sehabis sarapan akan ke rumah kalian untuk merayakan ulang tahun kamu," ucap Revano.
"Papa," ucap Reva yang tak kuasa menahan air matanya.
"Ada apa nak? Cerita sama Papa."
Reva tiba-tiba memeluk Revano. Kalau sudah seperti ini yang dibutuhkan Reva hanya Revano. Reva sejak kecil lebih dekat dengan sang Papa.
"Pa, aku ingin ke kamar."
"Iya nak, ayo Papa antar."
Revano bingung kenapa putrinya datang pagi-pagi. Semuanya kembali ke ruang makan untuk menyelesaikan sarapannya. Sedangkan Revano mengantar sang putrinya ke kamar.
"Nak, apa kamu ada masalah dengan Rio?" tanya Revano setelah selesai menutup pintu kamar.
"Pa, Rio selingkuh."
"Apa?" tanya Revano membolakan matanya.
Reva mengangguk pelan dan lalu menangis. Revano kemudian memeluk sang putri kesayangannya. Menenangkan agar hati anaknya agar lebih tenang. Karena ibu hamil tidak boleh terlalu banyak pikiran.
"Kurang ajar berani-beraninya Rio melukai hati putri kesayanganku!" ucap Revano sambil membelai rambut Reva perlahan.
"Bagaimana ceritanya nak suami kamu itu bisa selingkuh?" tanyanya sambil melonggarkan pelukannya.
Reva juga bercerita kalau memergoki suaminya itu berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri di kantor. Dulu Reva tidak curiga saat suaminya itu bahkan Rio melarangnya untuk ke kantor.
Tadinya Reva masih berpikiran positif apakah suaminya itu malu punya istri yang bertubuh gendut saat ini. Namun pikirannya salah dan suaminya itu punya wanita idaman lain. Reva berusaha untuk pura-pura tidak tahu masalah suaminya yang selingkuh.
Reva juga bercerita bahwa kemarin dapat buket bunga mawar tapi harusnya yang menerima wanita selingkuhan suaminya. Reva menangis menceritakan keadaan rumah tangganya.
Yang membuat Revano geram saat putrinya sudah susah payah membuat dua kue namun Rio itu pulang larut malam dan dalam keadaan mabuk.
Pagi harinya Reva melihat hp suaminya dan semalam ternyata suaminya itu pergi ke rumah sekretarisnya dan merawatnya hingga sembuh.
Reva bercerita dengan Papanya dan tidak kuat jika harus sakit hati seperti ini. Revano mengepalkan tangannya saat mendengar cerita dari anaknya. Ternyata Rio menduakan putri kesayangannya.
"Nak, berat sekali masalah dalam rumah tangga kamu. Yang sabar ya sayang. Kamu pasti bisa melewati ujian rumah tangga kamu."
Reva mengangguk pelan dan seketika merasakan perutnya teramat sakit.
"Arghhh Pa... Perutku sakit sekali rasanya," ucap Reva sambil memegang perut buncitnya.
"Sayang, kamu jangan terlalu memikirkan sesuatu yang berat-berat nak. Ingat saat ini kamu sedang mengandung. Papa hanya takut jika berdampak buruk pada kehamilan kamu jika kamu terlalu banyak pikiran."
"Iya Papa, Reva akan berusaha untuk tidak memikirkan Rio dan fokus dengan kehamilanku."
__ADS_1
Reva lalu berusaha untuk meredakan sakit pada perutnya dengan cara mengusap perutnya perlahan, biasanya jika seperti ini sakitnya akan reda.
"Apa masih sakit nak? Kalau masih sakit Papa antar kamu ke rumah sakit sekarang juga ya," ucap Revano khawatir.
"Mungkin karena aku membicarakan Rio Papa, jadi anak-anak tidak terima jika Mamanya disakiti."
Revano lalu mendekatkan wajahnya pada perut putrinya yang sedang mengandung dua cucunya itu. Meskipun Reva baru hamil 7 bulan namun sudah seperti hamil 9 bulan saja karena perutnya yang terlihat membesar.
"Cucuku, kalian harus bisa menghibur Mama Reva ya sayang. Jangan mengagetkan Mama Reva dengan tendangan kalian yang terlalu kencang," ucap Revano sembari mengusap perut putrinya.
Revano matanya berbinar-binar saat merasakan cucu-cucunya meresponnya dengan tendangan kecilnya.
"Nak, mereka merespon ucapan Papa."
"Iya Pa. Kedua putriku sepertinya bahagia saat Papa menyapanya."
"Sehat-sehat ya cucuku. Sampai bertemu 2 bulan lagi sayang," ucap Revano yang lalu mengecup perut Reva dua kali, seperti memberikan kasih sayang dengan cucu-cucunya.
Reva bahagia meskipun suaminya tidak perhatian dengannya dan masih ada Papanya yang menyayanginya.
Papanya itu tadi seperti Rio perhatiannya namun beberapa bulan yang lalu saat kandungan Reva masih berjalan 5 bulan. Jika dikatakan Reva rindu atau tidak diperlakukan seperti itu maka jawabannya sangatlah rindu. Karena ibu hamil juga ingin diperhatikan oleh suaminya setiap saat.
"Papa, apa aku sudah tidak cantik lagi? Sehingga suamiku tega menduakan aku."
"Jangan pernah berbicara seperti itu nak. Putri Papa ini sangat cantik. Kamu sekilas mirip dengan Mama Kezia. Meskipun wajah kamu lebih banyak miripnya sama Papa," ucap Revano sambil memegang kedua pipi anaknya dan mencubitnya karena gemas.
Putrinya itu sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
"Hanya Papa yang bilang aku cantik padahal tubuhku segendut ini. Papa memang bisa membuat aku merasa tenang. Maka dari itu aku nyaman kalau curhat sama Papa," ucap Reva tersenyum tipis.
"Reva sayang Papa," ucapnya kembali dan sambil memeluk Revano.
"Papa juga menyayangi kamu nak."
Revano lalu melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang putri kesayangannya.
"Sayang, kamu maunya gimana sekarang nak?"
"Aku hanya ingin menghindar dari suamiku saja. Papa tolong, aku tidak mau bertemu dengan Rio sampai batas waktu yang tidak bisa aku tentukan."
"Iya nak. Papa akan bantu kamu."
"Makasih Papa."
Reva terisak saat ini. Revano berusaha untuk menghibur putrinya dengan kata-katanya. Revano tahu saat ini anaknya itu sedang sedih bercampur dengan sakit hati yang mendalam.
Dukung author dengan memberikan vote gratis (tanpa mengurangi poin)
Vote hanya muncul setiap seminggu sekali.
__ADS_1
Readers kesayangan sambil menunggu cerita selanjutnya jangan lupa tinggalkan jejak kalian biar author semakin semangat bikin ceritanya🤗