
Risa dan Lova pun sudah sampai di lokasi pemotretan. Risa pun melihat Luna satu lokasi pemotretan lagi dengannya.
Gaya Luna Hernandez saat pemotretan.
Luna pemotretannya kali ini untuk buku gaya fashion terbaru. Yang akan launching sebentar lagi.
"Hmm... Kenapa pelakor selalu cantik ya Lova?" tanyanya kepada Lova pelan.
"Ya namanya juga pelakor Risa. Rata-rata parasnya cantik dan suka merayu lelaki orang."
Akhirnya Lova dan Risa pun menuju ke tempat pemotretan mereka masing-masing. Gaya Risa Alexander saat pemotretan kali ini menjadi model salah satu brand terkenal yang akan mempromosikan perhiasan terbarunya. Gaya Lova Ayesha saat pemotretan kali ini untuk cover majalah fashion.
Lova dan Risa pun sudah selesai melakukan pemotretan. Mereka pun sudah berganti baju yang ia kenakan tadi. Risa pun sedang menunggu Rey yang sedang melakukan pemotretan. Gaya Reynaldi Wijaya saat pemotretan pun membuat Risa semakin terpesona.
"Gantengnya suamiku," batin Risa sambil tersenyum.
Lova pun sudah dijemput Dean. Meskipun Lova tadi bawa mobil, namun Dean tetap menjemputnya. Rey sudah selesai pemotretan dan menghampiri Risa.
"Yuk yang kita jalan."
"Ayo....."
Mereka pun lalu bergandengan. Risa pun menggelayut manja di lengan Rey dan menyenderkan kepalanya. Rey pun senang melihat ada perubahan dalam hubungannya. Sekarang Risa mulai manja dengannya. Rey pun tidak tahu bahwa Risa bertingkah laku seperti itu karena ada Luna saja. Ia mau membuat Luna cemburu dan tidak mendekati Rey lagi.
"Hai..." Luna pun juga sudah berganti bajunya dan melambaikan tangannya mengarah ke Rey dan Risa.
"Nih pelakor maunya apa sih? Selalu muncul disaat yang tidak tepat." batin Risa.
"Rey aku mau bicara sesuatu sama kamu. Ayo kita bicara sambil makan di cafe depan. Sebentar saja kamu mau kan?" ucapnya dengan mengatupkan kedua tangannya seraya memohon.
Luna pun sudah membawa test pack nya didalam tas yang akan diberikan kepada Rey agar ia percaya bahwa dia sedang hamil dan Luna mau Rey bertanggung jawab atas kejadian malam itu. Luna pun sudah merencanakan setelah mereka makan di cafe akan memperlihatkan test pack nya kepada Rey.
Rey pun lalu melihat ke arah Risa. Risa pun menatap dengan tatapan horor ke arah Rey, tahu istrinya tidak menyetujuinya akhirnya Rey pun tidak mau mengiyakan ajakan Luna. Rey takut kalau Risa ngambek lagi. Kalau Risa ngambek lagi mereka akan pisah ranjang, Rey pun tidak mau hal itu terjadi untuk kedua kalinya. Karena saat ngambek Risa lebih memilih untuk tidur di karpet bulu dibandingkan dengan Rey suaminya. Ia pun kesusahan kalau Risa sudah ngambek, kemarin saja ia meminta bantuan kepada Rendy temannya yang playboy untuk memberikan ide cara meluluhkan hati wanita.
__ADS_1
"Maaf kak Luna, aku tidak bisa!" Lalu Rey pun meninggalkan Luna yang masih terdiam mematung di tempatnya.
Risa pun senang Rey bisa bersikap tegas kepada Luna. Tidak seperti waktu itu Rey lebih memilih menanggapi Luna dibandingkan dirinya istrinya sendiri.
"Rey tidak biasanya menolak ajakanku. Pasti ini semua karena ada tunangannya. Awas saja ya kamu Risa sebentar lagi Rey akan menjadi suamiku. Aku akan merebutnya darimu lewat anak ini." batin Luna sambil mengelus perutnya.
Luna pun tahunya Rey bertunangan dengan Risa karena perjodohan dari orang tuanya. Luna tidak tahu kalau Rey dan Risa sebenarnya sudah menikah, karena Papi Aldi sengaja tidak mengundang Keluarga Hernandez. Luna pun tahunya mereka hanya dijodohkan secara terpaksa dan tidak saling mencintai. Hanya karena Luna yang berusaha mendekati Rey, Risa pun berakting seperti seolah-olah menyukai Rey. Itulah yang ada dipikiran Luna saat ini.
Luna pun langsung melajukan mobilnya ke rumahnya. Ia sangat lelah dengan kegiatan pemotretan hari ini. Entah semenjak hamil ia sering sekali merasa kelelahan. Luna pun masuk ke dalam rumahnya. Terlihat ada makanan di atas meja makan dan ada sepucuk surat.
"Luna, aku tadi masak. Aku tadi sangat ingin memakan makanan ini. Lalu aku membuatnya dua porsi. Ini yang satu porsi untukmu. Dimakan ya, semoga kamu suka. (Evan)."
Perhatian kecil yang diberikan Evan pun membuat Luna senang. Luna pun langsung memakan makanan yang dimasak Evan. Bibi pun yang melihatnya pun tersenyum senang Nona mudanya mau memakan masakan dari ayah dari bayi yang dikandungnya. Nona mudanya sudah tidak membencinya.
...*****...
Lova dan Dean pun sudah sampai di apartment. Lova dan Dean sedang menonton TV mereka sedang duduk di sofa.
"Beb, tadi aku sebelum pemotretan sama Risa aku sebenarnya sudah makan. Tetapi entah kenapa aku merasa lapar lagi saat ini," ucapnya sambil menatap Dean.
"Anak Papa laper ya? Anakku sehat-sehat ya di dalam perut Mama. Papa akan selalu ada untukmu."
Dean pun masih mengusap-usap perut Lova. Lova pun hanya terkekeh. Dean begitu perhatian kepadanya dan juga calon anaknya.
"Beb, nanti kalau aku gendut bagaimana? Katanya orang hamil akan gendut," ucapnya sambil cemberut.
"Mau gendut atau tidak pun aku akan tetap mencintaimu beb." Tangannya masih bergerak mengelus perut Lova. Sekarang hal yang menjadi favorit Dean saat bertemu kekasihnya itu adalah perutnya.
"Beb, aku lapar. Ayo kita keluar aku sedang ingin makan salad di restoran favorit kita. Anak kita sedang ingin makan salad!"
"Ayo beb, apa sih yang enggak buat kamu apalagi anak kita juga menginginkannya."
"Eh bentar aku mau ganti baju dulu. Masa dari tadi aku pakai ini?" ucapnya beranjak dari sofa.
__ADS_1
"Ga usah ganti beb. Kamu tetap cantik pakai apa aja."
"Ah gak mau. Tunggu sebentar aku akan ganti baju terlebih dahulu," ucapnya sambil meninggalkan Dean di ruang TV.
Dean pun hanya pasrah. Ia membenarkan yang baca artikel dari internet itu kalau wanita yang sedang hamil memang banyak maunya.
Mereka pun sudah sampai di restoran.
"Beb beneran kamu hanya pesan salad saja? Gak mau yang lain?"
"Aku pesan salad saja beb. Sama yogurt."
Dean pun sudah memesan makannya. Setelah beberapa menit makanan sudah siap di mejanya. Lova pun senang melihat saladnya.
"Wahhh... Kelihatannya segar banget. Kamu mau gak beb ini banyak banget loh."
"Iya sengaja aku pesannya yang Large biar kamu dan anakku sehat," ucapnya sambil tersenyum.
"Makasih ya beb."
"Makasih untuk apa?" Dean pun bingung.
"Makasih karena kamu perhatian sama aku dan calon anak kita. Kamu mau menuruti saat aku sedang ngidam."
"Kamu jangan bilang begitu. Sudah sewajarnya aku bersikap seperti ini. Karena sebentar lagi aku akan menjadi suamimu sekaligus menjadi Papa buat anak kita," ucapnya sambil tersenyum.
"Aku terharu beb," Lova pun meneteskan air mata bahagia.
Dean pun langsung menghapus air matanya dengan tangannya.
"Sudah jangan nangis beb. Kasihan anak kita nanti juga ikutan sedih. Yuk lanjutkan makannya katanya tadi kamu sudah lapar."
"Ah iya beb."
__ADS_1
Lova pun lalu menyantap saladnya hingga sampai habis. Dean pun tersenyum senang melihat Lova begitu lahap menyantap makanannya.
"Aku hanya mencintaimu. Aku ingin kebahagiaan ini sampai kita tua nanti. Aku berharap tidak ada yang bisa memisahkan kita." batin Dean.