
Laki-laki yang membuntuti mobil Ricko tadi adalah sahabatnya sendiri. Kini Reno merasa tidak rela saat Ricko tadi mengecup punggung tangan Sandra dengan mesra. Melihat ekspresi Sandra yang sepertinya bahagia bersama dengan Ricko. Reno belum sadar kalau dirinya sedang terbakar api cemburu. Ia hanya tidak suka jika kedua sahabatnya berdekatan dengan laki-laki lain untuk saat ini. Terlebih Sandra sahabat yang paling berarti dalam hidupnya. Reno lalu berjalan mendekat untuk menemui Sandra dan Ricko.
"Sandra....."
Sandra terkejut saat Reno tahu dimana dia berada dan sedang bersama dengan Ricko.
"Reno......."
"Kamu membuntuti kita ya?" Ricko kini dengan tatapannya yang tajam.
"Iya, kenapa emangnya? Apa kamu tidak suka?" tanya Reno.
"Reno, kamu sudah bertunangan dengan Kezia. Untuk apa kami mencampuri urusan kita?" ucap Sandra.
"Sandra, kenapa kamu berbicara seperti itu? Kita kan sahabat."
"Reno, kamu seharusnya fokus dengan tunangan kamu dan tidak usah mencampuri urusan kita," ucap Ricko.
"Baiklah, sebelum aku pergi bolehkah aku bicara empat mata dulu sama Sandra?"
Sandra dan Ricko saling memandang dan lalu Ricko mengangguk pelan.
"Oke, aku tinggal sebentar ya Ricko."
"Hmm... Iya Sandra." Sambil tersenyum.
Ricko tidak masalah jika Sandra berdua dengan Reno karena mereka sudah bersahabat sejak kecil. Ricko tidak tahu bahwa Sandra sebelumnya pernah suka dengan Reno. Kini Reno menggandeng Sandra untuk berjalan menjauh dari Ricko.
"Reno, kenapa sih kamu membuntuti aku dan Ricko?"
"Sandra, apakah kamu memiliki perasaan dengan Ricko?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Reno, tatapannya sendu.
"Sebenarnya aku masih mencintaimu Reno. Tapi aku sadar akan posisiku. Lebih baik kita bersahabat saja karena sekarang ada Kezia yang sudah menjadi tunangan kamu. Perlahan-lahan aku akan membuka hatiku untuk Ricko dan mulai melupakan perasaanku padamu." Batin Sandra.
"Sandra, mengapa kamu diam saja?" tanyanya lagi.
"Aku... Aku sedang berusaha untuk membuka hatiku untuk Ricko Reno."
"Sandra, kamu seharusnya lihat dulu orangnya. Ricko itu baik atau tidaknya kan kita tidak tahu."
__ADS_1
"Ricko selama ini baik kepadaku kok Reno."
"Sandra, kita masih bisa sahabatan kan? Kamu tidak marah sama aku kan gara-gara malam itu aku dan Kezia bertunangan?"
Sandra hanya terdiam saja. Tidak ada satu katapun keluar dari mulutnya.
"Sandra, kamu masih marah ya sama aku dan Kezia? Aku minta maaf ya Sandra. Malam itu aku tidak bisa menolak acara pertunangan dadakan di acara ulang tahun pernikahan kedua orang tuaku. Aku tidak ingin membuat kedua orang tuaku marah dan menanggung malu," ucapnya menunduk.
"Reno, kita masih bisa sahabatan seperti dulu kok kalau kamu mau."
Senyum sumringah terpancar dari wajah Reno yang tadi hanya menundukkan pandangannya. Reno bahagia meskipun mereka kini hanya sebatas bersahabat.
"Terima kasih Sandra," ucapnya dan lalu tiba-tiba memeluk Sandra.
Sandra mendengar jantung Reno berdegup dengan kencang. Karena Reno memeluknya terlalu erat. Saat ini jantung Sandra juga tak kalah berdegup dengan kencang. Sandra juga tidak bisa mengatur detak jantungnya saat berdekatan dengan Reno.
"Aneh rasanya, hanya berdekatan dengan Reno saja jantungku rasanya ingin copot. Kalau sama Ricko aku tidak merasakan jantungku berdetak dengan kencang seperti saat ini." Batin Sandra.
Sandra terkejut saat Reno tiba-tiba memeluknya. Ini pertama kalinya Sandra di peluk laki-laki selain Papi dan Kakeknya. Ricko pernah akan memeluk Sandra dari belakang tapi terhalang tasnya karena waktu itu Sandra sedang berlari menjauhi Ricko. Jadi tidak seperti Reno saat ini yang memeluk Sandra seperti layaknya seorang kekasih. Reno menghirup aroma rambut Sandra yang wangi. Ini pertama kalinya Reno memeluk perempuan selain Mommy Risa dan Omanya.
"Kenapa rasanya nyaman sekali saat berpelukan dengan Sandra. Rasanya nyamannya sama seperti saat aku berpelukan dengan Mommy Risa. Perasaan apa ini dan kenapa bisa sama?" Batin Reno.
"Reno, kamu peluk aku terlalu kencang dan bikin aku sesak napas."
"Kamu ini jangan asal main peluk saja. Kamu itu bukan siapa-siapa aku!"
Perkataan Sandra membuat dada Reno tiba-tiba terasa sesak dan ada rasa sakit hati setelah Sandra berbicara seperti itu.
"Maaf..... Aku baru kali ini memeluk seorang gadis. Kamu gadis pertama kali yang aku peluk. Sekali lagi maafin aku ya Sandra."
"Jadi mereka belum pernah berpelukan meskipun sudah bertunangan." Batin Sandra.
"Iya tidak apa-apa. Ayo kita sudah terlalu lama meninggalkan Ricko."
"Kamu saja yang kembali menemui Ricko dan aku akan pulang."
"Ya, hati-hati ya Reno."
"Iya Sandra," ucapnya tersenyum lalu pergi meninggalkan danau itu.
__ADS_1
Kini Sandra berjalan menemui Ricko lagi. Ricko tidak bertanya kepada Sandra tentang apa saja yang mereka bicarakan. Karena itu hak mereka, kecuali jika Sandra akan bercerita mengenai yang apa dibicarakan barusan. Ricko sifatnya tidak cemburuan.
"Kenapa aku sepertinya tidak rela ya jika Sandra berdekatan dengan Ricko dan kenapa tadi jantungku berdegup dengan kencang saat aku memeluknya. Rasanya nyaman sekali saat dekat dengan Sandra. Aku akan coba memeluk Kezia, rasa nyamannya akan sama atau tidak saat aku memeluk Sandra." Batin Reno.
Kini Reno melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.
...*****...
Di rumah kini Revano sedang cemberut karena kedatangan Miss Bawel. Revano menyebut Kezia dengan Miss Bawel karena Kezia sangat cerewet.
"Revano, Kakak kamu kemana sih kok belum pulang juga?"
"Gak tahu! Kakak kan tunangannya. Harusnya kan Kakak yang lebih tahu dimana Kak Reno berada."
"Atau jangan-jangan..." Revano kini menggantung ucapannya.
"Jangan-jangan apa?" Kezia kini semakin penasaran.
"Jangan-jangan Kak Reno sengaja menghindari Kak Kezia. Kak Reno sepertinya tidak mencintai Kak Kezia. Syukurlah jadinya aku tidak akan punya Kakak ipar seperti Kak Kezia."
"Apa katamu?" Kini Kezia melemparkan bantal lagi ke wajah Revano.
"Kakak.... Stop......" Kezia berhenti setelah melemparkan dua buah bantal yang ada di sofa.
"Kalau Kakak sikapnya masih galak seperti ini. Kak Reno semakin takut sama Kakak."
"Revano......" Kini Kezia berdiri dan berjalan mendekati Revano.
Kezia menjewer telinga Revano sampai memerah.
"Ampun Kak Kezia... Kakak jangan siksa aku hiks.. hiks..." Kini Revano menangis kedua tangannya untuk menutupi mukanya.
"Aduh Revano menangis segala lagi. Duh, gimana ini kalau sampai Tante Risa tahu aku yang membuat anaknya yang manja ini menangis. Pasti Tante Risa akan memarahiku. Aku harus menenangkannya." Batin Kezia.
Dengan perlahan Kezia langsung memeluk Revano. Jantung Revano berdegup dengan kencang saat Kezia memeluknya. Ini pertama kalinya Kezia memeluk laki-laki selain keluarganya. Dengan Reno yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil pun belum pernah berpelukan. Begitu juga dengan Revano. Kezia gadis pertama kali yang memeluknya.
"Sudah, kamu jangan menangis lagi ya. Maafkan Kak Kezia ya," ucapnya dengan tulus.
"Iya Kak Kezia. Revano sudah memaafkan Kak Kezia." Lirihnya.
__ADS_1
Risa sedang membawa kue brownies buatannya dalam sebuah piring. Saat akan membawa ke ruang tamu, Risa melihat anaknya dipeluk Kezia pun lalu tersenyum senang saat melihat mereka tidak berantem lagi.
"Sepertinya Revano sudah mau menerima Kezia sebagai calon Kakak ipar. Kini mereka sudah akur, tidak seperti Tom and Jerry lagi." Batin Risa.