Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Kebodohan Vino.


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Kandungan Viona semakin membesar. Kehamilannya sudah berjalan selama 6 bulan lebih seminggu. Viona bertekad untuk kembali lagi ke Indonesia dan meninggalkan Korea untuk selama-lamanya. Viona akan memulai hidup baru dengan anak dan suaminya di Indonesia.


"Selamat tinggal Korea. Di negara inilah aku mendapatkan pacar dan juga suami serta anak yang masih dalam kandunganku," ucap Viona lirih dan lalu tersenyum tipis melihat sekeliling apartemennya.


Viona lalu melihat ke arah perutnya yang semakin membesar.


"Nak, saatnya kita pulang untuk menemui Papamu. Mama sudah ingin bertemu dengannya dan apa reaksinya ya jika kita memberi kejutan kepulangan kita," ucap Viona sambil memegang perutnya dan mengusapnya perlahan. Viona tidak sabar ingin bertemu dengan Revano. Sebagai seorang istri wajar saja jika merindukan suaminya.


Julia sudah menunggu di luar pintu apartment. Saat Viona keluar dari pintunya Julia yang akan membawakan kopernya. Julia kasihan jika Viona sedang hamil dan membawa kopernya sendiri. Akhirnya Julia membantu membawakannya dan mengantarnya ke bandara.


"Aku pasti akan merindukan kamu Viona," ucap Julia sambil memeluk Viona.


"Aku juga pasti akan merindukan kamu Julia. Sering-seringlah telepon denganku ya," ucap Viona melepaskan pelukannya yang kemudian tersenyum.


"Iya pasti aku akan menghubungi kamu. Ya sudah ayo kita ke bandara."


Viona mengangguk pelan dan mereka akhirnya keluar dari gedung apartment dan masuk ke dalam mobil. Dari tadi mereka tidak sadar ada yang mengikutinya dari belakang. Mobil Vino mengikuti mobil Julia dari tadi. Vino ingin tahu dan memastikan bahwa apakah benar Viona akan pergi dari Korea dan tidak akan kembali lagi. Tak lama kemudian sekarang mereka sudah sampai di bandara. Julia melambaikan tangannya dan melihat kepergian Viona masuk ke dalam pesawat. Vino juga menyaksikan hal itu dan tak terasa air matanya menetes melihat Viona sudah masuk ke dalam pesawat. Vino langsung pergi sebelum ketahuan mengikuti Viona dan Julia. Saat Vino sudah sampai di mobilnya, Vino mengusap air matanya dan membanting stir mobilnya.


"Kenapa aku tadi tidak mencegahnya pergi."


"Bodoh! Kamu bodoh Vino!! Kamu melepaskan wanita yang sedang mengandung anakmu pergi menemui laki-laki lain," ucapnya kembali sambil mengacak-acak rambutnya.


Setelah mengusap, mengecup dan merasakan tendangan anaknya dari dalam perut Viona sebulan yang lalu Vino jadi merasakan hal yang aneh dalam hidupnya. Vino jadi ingin terus mengusap perut Viona, menyapa dan mengajak bicara bayi laki-laki yang sedang dikandung oleh mantan kekasihnya itu. Apalagi sekarang sudah semakin membesar perut Viona. Vino ingin mengusap-usapnya dan mengecup perut Viona lagi. Viona bahkan tidak tahu bahwa Vino merupakan ayah dari bayi yang sedang Viona kandung. Terlebih saat Viona sedang hamil muda dulu, Vino yang merasakan morning sickness setiap pagi hari selama 3 bulan.


"Apa yang telah aku lakukan? Bukankah ini kemauan ku untuk bisa menjauh darinya. Sekarang dia sudah pergi kenapa aku merasa kehilangan?"


Vino menyesal telah menjebak Revano dan Viona. Vino dulu berharap Revano tidak mau bertanggungjawab dan menikahi Viona. Jadi Vino bisa membuat berita bahwa model terkenal yang bernama Revano telah menodai seorang wanita dan tidak mau bertanggungjawab. Berita itu akan cepat tersebar luas. Namun kenyataannya Revano mau bertanggungjawab dan menikahi Viona.


Vino sebenarnya dendam sama Revano karena Revano lebih sukses menjadi model di Korea dibandingkan dirinya yang sudah lama berprofesi sebagai model. Bahkan Revano sudah terkenal dan masuk ke TV dan berita Korea.


"Apa yang telah aku lakukan Ya Tuhan? Rasa iri dan benciku terhadap Revano justru membuat aku pisah dari Viona dan juga anakku," ucapnya yang kini menyesal telah menjebak Revano dan Viona, terlebih Viona tahunya anak yang dia kandung adalah anaknya Revano bukan anaknya Vino.

__ADS_1


Saat di dalam pesawat tiba-tiba saja Viona dikejutkan dengan tendangan anaknya dari dalam perutnya.


"Kenapa kamu nak? Dari tadi kamu bergerak terus dalam perut Mama? Apa kamu merindukan Papa Revano?" ucapnya lirih dan sambil memegang perutnya.


"Sepertinya anakku ingin segera bertemu dengan Revano. Putraku merindukan Papanya. Bukankah ikatan anak dan ayahnya kuat?" Batin Viona sambil menunduk dan mengelus perutnya.


Jika bayi dalam kandungannya bisa berbicara maka anak itu ingin selalu bersama dengan Papa kandungnya.


...*****...


Di kamar, Baby Reva sedang menangis kencang. Kalau Baby Reva sudah menangis solusinya hanya ada dua kalau tidak haus ya ingin digendong oleh Papanya. Kezia tadi sudah memberikan asi dan Baby Reva masih saja terus menangis. Tak lama kemudian Revano masuk ke dalam kamarnya.


"Assalamualaikum.........."


"Wa'alaikum Salam........." Kezia meraih tangan suaminya dan mengecupnya.


"Sayang, Reva ingin kamu gendong. Tadi sudah aku beri asi dan terdiam lalu menangis lagi dan aku beri asi lagi tidak mau. Seperti biasa Reva ingin kamu gendong."


Sudah sebulan ini Reva ingin selalu dekat dengan Papanya dan jika merasa haus saja baru mencari Mamanya.


Kezia tersenyum anaknya sekarang tidak menangis lagi tapi berbicara khas bayi saat Revano gendong.


"Putri kita manja banget kalau sama kamu."


"Anakku kenapa kamu manjanya sama Papa? Kalau sama Mama kamu kan bukannya lebih enak nak?" ucap Revano terkekeh dan sambil menggoda istrinya.


"Karena Papanya yang manja sama Mamanya," ucap Kezia meledek.


Revano mengecup bayi mungil tersebut. Baby Reva tersenyum dan melihat siapa yang sedang menggendongnya.


"Kenapa melihat Papa seperti itu nak?"


"Dia memperhatikan siapa yang sedang menggendongnya sayang."

__ADS_1


"Iya kamu benar sayang. Putri kita cantik banget seperti kamu."


"Iya, tapi imut dan menggemaskannya seperti kamu Revano."


"Sayang, makasih ya sudah sebulan ini kamu selalu saja membantuku saat Reva menangis tengah malam," ucapnya kembali.


Revano membantu mengganti popoknya setiap malam. Mereka bagi tugas, kalau Kezia yang mandiin Reva lalu Revano yang harus menggantikan popoknya. Kezia bersyukur punya suami seperti Revano yang mau membantunya dan menjaga anaknya di malam hari.


"Tidak usah berterimakasih begitu sayang. Sudah sewajarnya kita saling membantu dan menjaga anak kita. Sayang coba lihat, ketika Reva tersenyum dia seperti kamu wajahnya sangat manis sekali."


"Ah iya sayang. Anak Mama manjanya ingin digendong Papa terus ya nak?" ucap Kezia sambil mengecup pipi anaknya.


"Haha dia merespon kamu sayang," ucap Revano yang mendengar anaknya berbicara khas bayi.


"Anak Mama cepat tumbuh besar ya nak. Mama tidak sabar ingin mengantar kamu sekolah."


"Hmm masih lama sayang. Empat tahun lagi anak kita baru TK."


"Iya aku ingin dia cepat dewasa sayang."


"Anak kita masih bayi saja sudah menggemaskan seperti ini sayang, apalagi kalau sudah dewasa ya? Pasti banyak laki-laki yang suka dengan putri kita."


"Iya sayang. Aku berharap dia mendapatkan laki-laki yang baik sepertimu saat dewasa nanti," ucap Kezia dengan senyuman manisnya.


"Kalau aku sudah cerita yang sebenarnya kamu pasti tidak akan bilang seperti itu kepada Reva sayang." Batin Revano.


Saat Revano ingin mengecup bibir Kezia, Baby Reva menangis.


"Anak kita tidak mau melihat kemesraan kita sayang. Belum cukup umur," ucap Revano terkekeh.


"Hahaha......" Revano dan Kezia tertawa bersama.


"Kebahagiaan seperti inilah yang aku inginkan Revano. Tetaplah bersamaku selamanya."

__ADS_1


"Aku berjanji akan membahagiakanmu dan anak kita."


Kezia tersenyum bahagia saat ini.


__ADS_2