
Sore hari Sandra merasakan perutnya semakin sakit. Sandra memegang perut buncitnya dan mengusapnya perlahan.
"Kenapa nak? Papa kamu sedang tidur sayang. Mama kasihan jika harus membangunkan Papa kamu, sepertinya Papamu lelah seharian bekerja untuk kita," ucap Sandra yang masih mengusap perutnya dan berharap rasa sakitnya akan segera hilang.
Biasanya rasa sakitnya akan hilang jika perutnya diusap oleh Reno. Sandra berpikir bahwa ikatan sang anak dan ayahnya kuat. Sandra ingin membangunkan suaminya yang masih terlelap dalam tidurnya tapi disisi lain Sandra juga merasa kasihan sepertinya suaminya lelah sekali. Tapi beberapa saat kemudian Sandra merasakan sakitnya yang sangat luar biasa.
"Auwww... Hubby, bangunlah..." Sandra tangan kirinya menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Sedangkan tangan kanannya memegang perutnya.
"Arghhh, sakit sekali......." Teriak Sandra yang sudah tidak bisa menahan rasa sakit pada perutnya yang sudah membesar itu.
Reno lalu mulai mengerjapkan matanya saat mendengar teriakkan istrinya.
"Honey kenapa?"
"Perutku sakit lagi hubby. Arghhh sakit sekali," teriak Sandra yang merasakan perutnya semakin mulas dan terlebih anaknya juga aktif terus bergerak dalam perutnya.
Reno pun mencoba untuk mengusap perut istrinya dan mengecupnya. Sandra juga sudah biasa merasakan seperti ini dan Reno yang bisa meredakan rasa sakitnya. Sandra sering mengalami kontraksi palsu. Sandra pun lalu merasakan sesuatu yang keluar dan mengalir
"Hubby aku akan segera melahirkan. Air ketubannya sudah pecah," ucap Sandra kembali.
"Apa? Bukannya harusnya besok?"
"Hubby jangan banyak bicara. Aku akan melahirkan sekarang. Bawa aku ke rumah sakit. Arghhh, kenapa rasanya sakit sekali," ucap Sandra.
Reno panik karena istrinya mau melahirkan anaknya. Reno lalu menggendong Sandra dan keluar dari kamarnya. Reno berpapasan dengan Revano dan juga Kezia.
"Revano, tolong bantu aku untuk membawa Sandra ke rumah sakit. Sandra mau melahirkan."
Reno lalu berjalan menuju ke mobilnya. Revano dan Kezia segera menyusul Reno dan Sandra. Mereka kini sudah ada dalam satu mobil dan Revano yang menyetir mobilnya. Revano melajukan mobilnya dengan cepat karena Kakak iparnya mau melahirkan keponakannya. Sepanjang perjalanan Sandra menangis dan berteriak kesakitan pada perutnya.
"Hubby, aku sudah tidak kuat lagi. Ini rasanya sakit sekali hubby."
"Arghhh... Auwww, Astaghfirullah......." Sandra mengeluh merasakan kesakitan. Reno membaca doa agar nanti istrinya lancar saat persalinan.
Kezia yang mendengarnya merasa merinding.
"Sesakit itulah? Padahal bayinya belum lahir. Gimana nanti rasanya saat melahirkan? Kok aku jadi takut begini," ucap Kezia yang kini merasa cemas.
__ADS_1
"Honey, bertahanlah sayang. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit."
Kezia baru teringat bahwa melahirkan anak itu taruhannya nyawa. Kezia jadi takut saat ini, Kezia lalu mengusap perutnya. Revano yang melihat gelagat aneh istrinya lalu tangan kirinya menggenggam tangan Kezia. Sontak Kezia terkejut saat ini. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Sandra dan Reno sudah masuk dalam ruangan. Ternyata Sandra tadi masih bukaan ke 9. Di luar Revano menghubungi orangtuanya dan orangtua Sandra. Setengah jam lebih telah berlalu namun Sandra belum kunjung melahirkan anaknya.
"Sayang, aku jadi takut. Sandra yang mau melahirkan anaknya saja sudah hampir satu jam belum ada tanda-tanda anaknya mau lahir. Tangisan bayinya belum terdengar sampai saat ini."
"Kamu jangan cemas sayang. Kak Sandra pasti akan bisa berjuang untuk melahirkan anaknya."
"Aku jadi takut saat melahirkan nanti," ucap Kezia menunduk sambil mengusap perutnya.
Revano melihat kecemasan istrinya dan lalu ikut mengusap perut sang istri.
"Sayang, aku akan menemanimu nanti saat kamu melahirkan."
"Iya aku berharap bisa melahirkan secara normal dan aku tidak mau melahirkan secara caesar."
"Iya sayang."
Di dalam ruangan Sandra sedang berjuang untuk melahirkan sang buah hatinya. Reno menyemangati istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya. Reno mengecup kening sang istri dan terus membacakan doa agar persalinannya berjalan dengan lancar.
"Ayo Bu dorong terus."
"Honey, semangat." Reno mengecup kening istrinya kembali.
"Aaaaaaa............" Teriakan Sandra sampai terdengar di luar ruangan.
Kezia semakin takut karena dari tadi Sandra berteriak terus tapi anaknya tak kunjung keluar. Revano lalu menggenggam tangan Kezia. Revano tahu saat ini istrinya pasti sedang cemas karena sebentar lagi Kezia akan merasakannya juga dua bulanan lagi.
Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi yang menangis dengan kencang. Sandra tersenyum tipis saat melihat sang putranya sekilas terlihat wajahnya yang tampan. Sandra tersenyum sambil menahan rasa sakitnya. Perjuangannya melahirkan sang putranya sangatlah luar biasa.
"Makasih honey, akhirnya putra kita lahir."
Sandra menganggukkan kepalanya pelan. Sandra tidak bisa berkata apa-apa lagi karena Sandra juga merasakan sakit setelah melahirkan. Dokter lalu melakukan penanganan selanjutnya kepada Sandra. Putranya kini sudah dibersihkan dan Reno sudah mengadzani putranya. Reno mengecup buah hatinya. Wajahnya sangat tampan sekali perpaduan antara wajahnya dan wajah Sandra.
"Kamu ganteng sekali nak." .
Anaknya menggeliat dan Reno melihat anaknya tersenyum kepadanya. Reno bahagia sekali saat anaknya tersenyum kepadanya. Reno sudah memberi nama untuk anaknya. Beberapa jam kemudian sekarang Sandra sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Kedua orangtuanya dan orangtua Sandra sudah datang. Sandra mulai mengerjapkan matanya. Sandra mendengar bayinya menangis.
__ADS_1
"Hubby bawa ke sini, anak kita sepertinya haus,* ucap Sandra.
Reno lalu memberikan putranya kepada istrinya dan benar saja kalau sang putranya tengah kehausan. Sandra tersenyum saat melihat anaknya wajahnya begitu tampan.
"Hubby, nama anak kita siapa? Kamu sudah memberikan nama untuknya belum?"
"Sudah, nama anak kita Rendra Wijaya. Rendra nama singkatan dari Reno dan Sandra," ucap Reno tersenyum.
"Rendra anakku," Sandra sambil mengecup kening sang putranya.
"Nama yang bagus nak," ucap Dean.
"Sekarang kita resmi menjadi Kakek dan Nenek," ucap Lova.
"Iya Lova, kita sekarang sudah menjadi Nenek." Risa tersenyum tipis.
Rey bahagia cucunya sudah lahir dan sekilas lebih mirip ke Reno wajah cucunya.
"Sebentar lagi cucu kedua kita akan lahir sayang," ucap Rey.
"Iya sayang, kita akan memiliki cucu laki-laki dari Reno dan Sandra. Cucu perempuan dari Revano dan Kezia. Sudah lengkap bukan?" ucap Risa.
Sekarang Rendra sudah kenyang karena Sandra sudah memberikan asi untuk anaknya. Risa berjalan mendekati menantunya.
"Nak, aku ingin menggendongnya," ucap Risa.
"Ini Mommy." Sandra langsung menyerahkan anaknya kepada mertuanya.
Risa perlahan menggendong cucunya. Risa melihat wajah cucunya dan tersenyum.
"Wah, tampan sekali cucuku ini." Risa lalu mengecup pipi cucu pertamanya.
"Iya wajahnya mirip Reno," ucap Rey.
"Ya iyalah Rey, masa mirip orang lain. Kan Reno memang ayahnya," ucap Dean yang seketika mendapatkan hadiah cubitan dari sang istri.
"Memalukan! Kalau bicara jangan bercanda," ucap Lova.
__ADS_1
Dean hanya terkekeh. Kini Rendra gantian Lova yang menggendongnya. Lova mengusap kepala cucunya dengan perlahan dan lalu mengecup kening cucunya. Dean menoel pipi cucunya yang menurutnya gemas.