Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Reyhan Putra Wijaya


__ADS_3

Kedua orangtuanya Risa maupun Rey belum datang. Mereka akan datang besok pagi karena harus gantian untuk menjenguk Risa. Sedangkan Lova dan Dean masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. Semua orang yang mendengar suara tangisan bayi bahagia dan mengucapkan syukur. Reno dan Revano bahagia kini adiknya telah lahir ke dunia. Kedua Kakak beradik tersebut saling melempar senyuman.


"Kak, alhamdulilah adik kita lahir juga."


"Iya adikku. Aku sekarang jadi punya dua adik."


Kemudian Reno menghela napas panjang.


"Mudah-mudahan saja adikku yang satu ini tidak menyebalkan seperti kamu," ucap Reno terkekeh.


"Kakak, aku ini tidak menyebalkan. Saat aku ke Korea saja kata Kezia Kakak sangat merindukan aku. Kakak selalu tanya kepada istriku kabarku bagaimana di luar negeri."


"Iya, itu karena aku merindukan bertengkar denganmu."


Sandra dan Kezia hanya geleng-geleng kepala melihat suaminya itu berdebat dan meskipun itu hanya bercanda. Mereka kalau sudah bersama pasti ada saja yang dibicarakan. Kadang Kezia juga merasa kesal dengan jahilnya Revano. Semoga saja tidak menurun ke anak keduanya. Sebab Reva sepertinya menurun sifat dari Papanya.


Tak lama kemudian semua orang melongo saat Rey keluar dari ruangan tersebut dengan wajah ditekuk dan air matanya masih mengalir deras membasahi pipinya. Semua orang terkejut saat melihat keadaan Rey yang sepertinya tidak baik-baik saja. Seharusnya Rey bahagia karena anaknya telah lahir. Ini justru sebaliknya Rey kelihatan bersedih dan tidak ada semangat lagi dalam hidupnya. Sebagai seorang suami bagaimana tidak sedih saat melihat istrinya yang wajahnya sudah pucat. Apalagi kata-kata yang Risa ucapkan tadi membuat Rey sakit. Rey belum sanggup jika istrinya meninggalkannya untuk selama-lamanya bahkan Papi dan Mami Rey saja masih hidup.


Reno lalu mendekati Daddy Rey. Reno ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi selama di ruangan.


"Daddy kenapa bersedih? Bukankah Daddy harusnya bahagia karena Mommy Risa sudah melahirkan."


"Mommy kamu nak. Mommy kamu," ucap Rey yang seketika kakinya lemas dan akhirnya terduduk di lantai.


"Mommy kenapa Daddy?" tanya Reno dan Revano bersamaan.


Mereka semua cemas saat Rey mengeluh yang sepertinya keadaan Risa tidak baik-baik saja. Revano lalu memberikan putrinya kepada Sonya. Perlahan Revano mendekati Reno dan Daddy Rey. Reno memegang pundak Daddy Rey.


"Daddy tidak sanggup hidup jika Mommy kamu tiada."


Perkataan Rey membuat semua orang tercengang termasuk Sonya dan Kenzo.


"Rey, Risa kenapa?" tanya Sonya yang seketika cemas.


"Apa terjadi sesuatu dengan Risa?" tanya Kenzo.

__ADS_1


"Dokter masih menanganinya saat ini. Tapi tadi Risa wajahnya pucat sekali dan aku berusaha untuk membangunkannya tapi dia tidak juga terbangun."


"Apa??" tanya Lova yang seketika datang bersama Dean.


Sandra sedang menenangkan Rendra yang seketika menangis. Tidak biasanya Rendra menjadi cengeng seperti ini. Mungkin Rendra tahu jika Neneknya sedang tidak baik-baik saja. Sandra menjauh dari depan ruangan tersebut dan mencari udara segar. Sandra berpikir bahwa anaknya tidak betah area di rumah sakit. Namun tetap saja Rendra menangis. Sandra jadi kewalahan menenangkan anaknya.


Di rumah sakit semua orang butuh penjelasan dari Rey. tentang apa yang sebenarnya terjadi terhadap Risa.


"Jelaskan padaku tentang semuanya Rey," ucap Dean.


Rey lalu menceritakan semuanya yang terjadi selama di ruangan. Risa berkata tidak kuat lagi dan meminta maaf kepadanya. Risa juga bilang jika sudah tiada maka Rey harus bisamenjaga anak-anaknya. Rey berbicara dengan terbata-bata saat menjelaskannya. Semua orang seketika wajahnya berubah bersedih dan takut terjadi apa-apa dengan Risa.


"Mommy Risa," ucap Revano yang seketika menggelengkan kepalanya.


Revano tidak percaya jika Mommy Risa akan tiada. Tak sanggup jika kehilangan wanita yang paling berharga dari hidupnya. Meskipun Kezia istrinya tapi Mommy Risa adalah segala-galanya untuknya. Mommy Risa yang telah mengandung dan membesarkannya selama ini. Mommy Risa sudah seperti separuh nyawanya dan separuhnya lagi milik Kezia. Dua wanita itu sangat berarti untuknya. Tak terasa air mata Revano jatuh membasahi pipinya. Kezia sebagai seorang istri ingin menenangkan hati suaminya yang sedang bersedih.


"Revano, kemarilah," ucap Kezia sendu dan merentangkan kedua tangannya.


Kezia juga matanya sudah berkaca-kaca. Revano lalu mendekati istrinya, Kezia beranjak dari tempat duduknya dan langsung memeluk suaminya. Saat ini suaminya butuh ketenangan.


"Sayang, aku tidak sanggup untuk kehilangan Mommy."


"Tapi sayang gimana kalau terjadi sesuatu sama Mommy?"


Kezia lalu melepaskan pelukannya.


"Ssstttttt..... Jangan berpikiran macam-macam. Kita berdoa saja semoga Mommy tidak kenapa-kenapa."


Kezia lalu menghapus air mata suaminya. Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka. Rey lalu berdiri dan mendekati Dokter.


"Keluarga pasien."


"Iya Dok. Gimana keadaan istri saya?"


"Istri Anda sudah bisa melewati masa kritisnya dan tinggal menunggu pasien sadar."

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap mereka bersamaan.


Rey sedikit lega istrinya sudah melewati masa kritisnya.


"Apa saya bisa melihatnya sekarang Dok?" tanya Rey.


"Nanti ya setelah kami pindahkan ke ruang rawat."


"Baik Dok."


"Suster Cantika tolong antarkan Pak Rey ke ruang bayi," ucap Dokter muda tersebut.


"Baik Dok."


Suster lalu mengarahkan Rey untuk masuk ke ruang bayi. Rey bergegas mengikuti Suster tersebut masuk ke ruang bayi. Sementara itu Risa dipindahkan ke ruang rawat inap.


Rey melihat anaknya menggeliat. Rey tersenyum putranya sangatlah tampan.


"Anakku sayang, ini Daddy nak," ucap Rey sambil mengecup pipi dan kening putranya secara bergantian.


Rey lalu mengadzani putranya. Suster tersebut lalu bertanya informasi mengenai sang bayi. Tinggal namanya saja yang belum didata karena mengenai berat badan, panjang bayi dan waktu lahir sudah tercantum bersama data nama Risa. Setelah Rey selesai mengadzani putranya Suster lalu mengambil mengambil bolpoin dari sakunya.


"Putranya mau diberi nama siapa Pak?"


"Reyhan Putra Wijaya."


"Nama yang bagus Pak."


"Iya Sus makasih," ucap Rey tersenyum tipis.


Rey sekarang sudah pergi ke ruang rawat inap kelas VIP, tempat di mana istrinya dipindahkan. Rey duduk dan menggenggam tangan Risa.


"Sayang bangunlah, anak kita telah lahir. Putra kita lebih mirip wajahnya sama kamu sayang. Kamu pasti bahagia saat melihatnya."


Istrinya itu belum sadar sampai sekarang. Rey akan menunggunya sampai Risa sadar. Sekarang anaknya sudah ada disampingnya. Suster tadi yang mengantarkan Baby Reyhan. Rey melihat anaknya tertidur dan masih dalam boks bayi tersebut.

__ADS_1


"Sayang, anak kita sudah ada disampingmu. Bangunlah sayang, kamu pasti ingin melihatnya kan?" ucap Rey sambil membelai rambut istrinya.


Semua orang tinggal menunggu Risa sadar. Belum ada sedikitpun tanda-tanda Risa sadar. Rey akan terus berusaha untuk membuat istrinya tersadar dengan terus mengajaknya berbicara.


__ADS_2