Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Menunggu Kedatangan Si Kembar


__ADS_3

Please berikan jempol 👍 kalian terlebih dahulu untuk mendukung karya author 🤗



Rio memperhatikan wajah cantik Reva saat sedang tertidur. Tak menyangka kepindahannya kuliah ke Jakarta akan bertemu dengan sahabat kecilnya.


"Kelinci imutku akhirnya kamu menjadi milikku," ucap Rio tersenyum.


Karena istrinya sudah terlelap dalam tidurnya maka Rio juga ikut berbaring. Sebenarnya Rio ingin memeluk istrinya namun Rio takut jika Reva justru terbangun. Akhirnya Rio mengurungkan niatnya karena Rio tak tega melihat wajah istrinya yang tampak kelelahan seharian resepsi.


"Sayang, malam ini boleh gagal. Tapi tidak untuk besok dan seterusnya." Batin Rio.


Harusnya malam ini menjadi malam terindah bagi keduanya. Namun Reva terlihat kelelahan karena seharian menggunakan high hills di acara resepsi pernikahannya. Akhirnya Rio tidak tega jika harus membangunkan istrinya.


...*****...


Waktu berjalan begitu cepat berlalu. Tak terasa sudah dua bulan saja mereka menikah. Belum ada tanda-tanda kehadiran si kecil di tengah-tengah keluarga mereka. Mereka sudah berkonsultasi dengan Dokter lagi namun Tuhan belum memberikan mereka kepercayaan untuk memiliki seorang anak. Reva dan Rio sekarang sudah mandiri dan tinggal di rumah mereka. Rumah dari Papa Vino yaitu hadiah untuk pernikahannya.


Saat ini Reva tengah menunggu suaminya pulang dari kantor. Seperti biasanya saat mendengar mobil masuk ke dalam garasi Reva langsung bergegas untuk membawa secangkir teh untuk suaminya. Reva menaruhnya di ruang keluarga dan lalu menyambut suaminya datang.


"Assalamualaikum sayang......"


"Wa'alaikum Salam sayang......"


Satu kecupan mendarat pada kening Reva, seperti biasanya setelah mengecup tangan suaminya Reva lalu membawakan tas kerjanya. Mereka lalu berjalan menuju ke ruang keluarga.


"Sayang, kok tumben pulang cepat?" tanya Reva penasaran.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka kalau aku pulang cepat?" ucap Rio yang lalu menoel pipi istrinya.


"Eh bukan maksudku seperti itu sayang. Hanya saja kamu tidak memberitahu aku dulu. Kan aku belum mandi sore hari."


"Haha belum mandi tapi tetap wangi kok sayang."


Rio lalu menggelitiki Reva.


"Eh apa-apaan kamu ini? Geli Rio, sudah hentikan!"


Rio lalu menghentikan tingkah jahilnya.


"Sayang, ini minum dulu tehnya nanti keburu dingin."

__ADS_1


"Hmm, iya sayang..."


Rio lalu menyeruput teh tersebut. Rio lalu ingin mencurahkan isi hatinya kepada wanita yang ia cintai.


"Sayang, kenapa kamu belum hamil juga ya? Padahal kita sudah melakukan apa yang Dokter katakan."


"Sabar, mungkin Allah belum memberikan kepercayaan untuk kita punya anak."


"Sayang sepertinya kita perlu konsultasi lagi. Besok kita ke rumah sakit ya?"


Reva mengangguk pelan pertanda setuju. Padahal Reva sebenarnya tadi pagi sudah konsultasi dengan Dokter kandungan yang lain dan tidak ada masalah pada dirinya dan sekarang justru cemas akan kondisi suaminya. Karena Dokter tadi mengatakan bahwa Reva tidak memiliki masalah dan seharusnya sudah bisa mengandung saat ini.


"Sayang, kenapa kamu sedikit berbeda hari ini?"


"Berbeda kenapa? Aku tidak apa-apa kok."


"Kamu tidak usah masak saja ya untuk besok. Biar Bibi saja yang kamu. Lihatlah kamu hari ini terlihat kelelahan," ucap Rio sambil mengelap dahi istrinya dengan tisu.


Reva tersenyum tipis dan suaminya itu memang selalu perhatian dengannya.


"Oh iya besok kita ke rumah sakit yang lainnya saja ya. Aku ingin dengar dari Dokter lainnya kenapa sampai saat ini kamu belum kunjung hamil juga."


"Ehm iya sayang..."


Seketika air mata Reva lolos membasahi pipinya. Karena keinginan suaminya itu untuk mempunyai anak belum terwujud juga sampai saat ini.


"Sayang, kok kamu menangis? Maaf, aku telah membuat kamu bersedih," ucap Rio yang langsung mengusap air mata istrinya.


"Tidak apa-apa kok. Aku hanya merasa belum bisa menjadi wanita yang sempurna untuk kamu. Aku belum bisa memberikan apa yang kamu minta. Maafkan aku ya sayang."


"Sayang, sudah kamu jangan bersedih ya? Kamu juga tidak perlu untuk meminta maaf karena memang bukan salah kamu kok. Kita yakin saja sama Allah kalau nanti Allah akan memberikan kita kepercayaan. Sebagai manusia kita harus tetap berusaha dan berdoa."


"Iya sayang. Yuk kita makan dulu. Kamu pasti sudah lapar kan?"


"Iya ayo sayang, aku sudah ingin makan masakan kamu..."


Mereka lalu memutuskan untuk makan bersama.


"Beruntungnya aku punya istri seperti kamu. Sudah cantik, baik dan jago masak," puji Rio.


"Ah, kamu terlalu berlebihan deh."

__ADS_1


"Aku serius sayang..."


Setelah makan bersama mereka lalu memutuskan untuk ke kamar. Reva sudah menyiapkan air hangat dan pakaian ganti untuk suaminya. Rio merasa hidupnya sempurna mempunyai istri yang serba bisa seperti Reva. Hanya saja belum ada tanda-tanda kehadiran sang buah hati sampai saat ini. Mereka masih menunggu kehadiran si kecil yang akan melengkapi keluarga mereka.


...*****...


Pagi hari Reva dan Rio ke rumah sakit. Reva cemas jika suaminya nanti akan berkecil hati setelah berkonsultasi dengan Dokter. Apa yang Reva takutkan kini terjadi. Reva juga terkejut saat Dokter mengatakan hal itu. Mereka memutuskan untuk pulang setelah menebus obatnya. Kini Reva yang mengendarai mobil karena suaminya itu seperti tidak punya semangat hidup. Saat sampai rumah Rio langsung nyelonong masuk ke kamarnya. Tidak biasanya suaminya seperti ini. Mungkin suaminya kecewa karena ucapan sang Dokter tadi di rumah sakit.


Reva lalu memutuskan untuk membuatkan kopi untuk suaminya agar lebih tenang. Saat berjalan ke kamarnya terdengar suara vas bunga di kamarnya yang Rio hancurkan. Dengan segera Reva melangkahkan kakinya ke kamarnya. Reva perlahan meletakkan secangkir kopi itu di meja.


"Astagfirullah Rio....."


Seketika kamarnya seperti gudang yang berantakan, kamar tidur yang acak-acakan. Bahkan bantal dan guling sampai terjatuh ke lantai. Reva lalu mendekati suaminya yang tengah frustrasi saat ini.


"Aku laki-laki yang tidak berguna!" ucap Rio sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Astaga, sayang apa yang kamu katakan itu semua tidaklah benar."


"Memang kenyataannya seperti itu Reva. Aku laki-laki yang tidak berguna. Bukan kamu yang bermasalah selama ini, tapi aku!" ucap Rio yang lalu mengacak-acak rambutnya.


Perlahan Reva memeluk suaminya dan berusaha menenangkannya. Reva tahu suaminya kini sedang bersedih dan berkecil hati. Bahkan Rio tadi menangis, baru kali ini Reva melihat suaminya itu menangis.


"Kita masih bisa punya anak kok sayang. Kamu harus rutin minum obatnya ya jangan patah semangat."


"Aku malu sama diriku sendiri Reva. Bahkan Nenek pikir kamu yang mandul. Tapi kini kenyataannya aku yang bermasalah."


"Sayang, kita akan buktikan kalau kita bisa punya anak. Kamu jangan kebanyakan pikiran dan harus rutin minum obatnya."


"Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil sayang. Kita harus bersabar dan berjuang bersama-sama," ucapnya kembali sambil menghapus air mata suaminya.


"Makasih istriku... Aku bahagia kamu bisa menerima kekuranganku. Aku sangat mencintaimu sayang..."


"Aku juga mencintaimu suamiku..."


Mereka akhirnya berpelukan lagi. Reva lega bisa menenangkan suaminya. Reva berharap suaminya itu bisa cepat sembuh agar keinginannya untuk punya anak bisa terwujud. Apalagi suaminya itu ingin punya anak kembar. Menunggu kedatangan si kembar adalah hal yang selalu dinantikan oleh Rio. Karena ia ingin punya anak kembar yang lucu-lucu.


Dukung author dengan memberikan vote gratis (tanpa mengurangi poin)



Readers kesayangan jangan lupa tinggalkan like 👍

__ADS_1


Yuk dukung author dengan meninggalkan komentar dan gift agar author lebih semangat berkarya 🤗



__ADS_2