
Please berikan jempol 👍 kalian terlebih dahulu untuk mendukung karya author 🤗
Reva kembali bertemu dengan Rio di perpustakaan. Saat Reva akan mengambil bukunya yang tinggi di rak tapi tak sampai. Akhirnya Reva mengambil kursi untuk mengambil buku yang dia inginkan. Saat sudah selesai mendapatkan bukunya Reva kehilangan keseimbangan dan akhirnya akan terjatuh.
Greb
Rio menangkap tubuh Reva yang hendak terjatuh. Tak sengaja bibir mereka tadi saling bersentuhan karena Reva yang tiba-tiba akan jatuh. Dengan segera Reva menjauhkan diri dari Rio.
"Dasar laki-laki kurang ajar! Kamu telah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Itu tadi merupakan First Kiss aku tahu! Tega-teganya kamu mengambilnya dariku."
"Tadi kan tidak sengaja dan kamu seharusnya bilang berterimakasih kepadaku. Kalau tidak kamu akan terjatuh ke lantai. Dan harus kamu ingat itu tadi juga yang pertama untukku."
Reva mengambil bukunya yang terjatuh di lantai. Rio melihat kalung yang Reva kenakan.
"Kelinci imutku, aku sudah menemukanmu." Batin Rio bahagia telah menemukan sahabat kecilnya dihadapannya.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" ucap Reva ketus.
"Kita harus bicara setelah ini..."
Mereka lalu pergi dari perpustakaan. Rio menggandeng Reva ke tempat yang agak sepi dan bisa membicarakan tentang masa lalu mereka.
"Kenapa kamu membawaku ke tempat ini? Apa kamu mau melakukan hal yang tidak-tidak?" tuduh Reva menatap tajam Rio.
"Aku membawamu ke tempat ini karena aku ingin kamu menjelaskan dari mana kamu mendapatkan kalung itu?"
"Ini kalung pemberian dari sahabat kecilku. Kamu kenapa menanyakan hal ini?" ucap Reva sambil memegang kalungnya.
"Tadi aku hanya ingin memastikan saja. Ternyata benar kamu adalah sahabat kecilku, kelinci imutku yang selama ini aku cari," ucap Rio tersenyum manis.
Mendengar perkataan Rio sekarang Reva yakin kalau Rio yang ada dihadapannya itu adalah sahabat kecilnya.
"Benarkah kamu adalah beruangku?" ucap Reva diakhiri dengan tersenyum.
"Ah, senyumannya manis sekali. Bikin meleleh." Batin Rio.
"Iya kamu masih ingat tidak kalau kita sering ke kebun binatang saat masih kecil? Kamu suka memberi makan kelinci."
Reva menggangguk pelan dan sangat senang yang ada di hadapannya itu adalah sahabat kecilnya.
"Aku sangat merindukan kamu Reva..."
Rio lalu memeluk Reva. Kerinduannya dengan sahabat kecilnya. Reva membalas pelukan Rio. Sudah belasan tahun mereka tidak bertemu rasa rindu yang selama ini mereka rasakan akhirnya bisa terobati.
"Aku juga merindukan kamu Rio. Akhirnya kamu menepati janji kamu untuk kembali menemui aku."
"Aku memang berjanji untuk kembali menemui kamu dan Allah telah mempertemukan kita kembali secara tidak sengaja."
Reva melepaskan pelukannya dan sekarang dia sangat malu kepada Rio. Terlebih Reva yang belum memaafkan Rio. Padahal akhir-akhir ini mereka seringkali bertemu. Rio sudah seringkali meminta maaf tapi Reva menghiraukannya dan bahkan membencinya. Rio menatap gadis cantik yang ada di depannya.
"Kamu cantik sekali Reva," ucap Rio tersenyum tipis.
__ADS_1
"Emang dari kecil aku sudah cantik kan?" sambil mengibaskan rambutnya.
"Iya, tak sadar kita dulu pernah menjalin cinta monyet."
"Iya, kamu monyetnya," ucap Reva tertawa terbahak-bahak.
Rio terkekeh geli mendengarnya. Reva tidak berubah seperti dulu dan hal ini yang selalu Rio rindukan.
"Apa kamu masih marah sama aku dan tidak mau memaafkan aku?"
"Aku sudah memaafkan kamu. Maaf aku tidak tahu kalau kamu itu Rio sahabat kecilku. Aku selalu saja sial kemarin saat bertemu denganmu. Jadi aku sangat kesal sekali saat melihat wajahmu."
"Itu tandanya kamu adalah jodohku. Kita selalu saja dipertemukan."
"Tapi aku sial terus saat bertemu sama kamu."
"Tapi tadi tidak sial kan?"
"Sial juga karena kamu mencuri First Kiss aku!"
"Itu hal yang tidak sengaja terjadi. Itu juga First Kiss aku."
"Tetap saja kamu membuat aku kesal!" ucap Reva yang meninggalkan Rio yang masih mematung.
"Reva maaf, aku telah membuatmu kesal," ucap Rio sambil memeluk Reva dari belakang.
"Lepaskan, kamu tidak berhak memelukku."
Rio melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Reva.
"Apa kamu sudah gila? Kita memang bersahabat waktu kecil. Tapi urusan menikah bukan hal yang main-main. Apalagi menikah tanpa cinta dan itu akan membuat kita menderita."
"Sejak pertama kali bertemu denganmu aku sudah jatuh cinta padamu Reva."
Reva terkejut saat ini. Yang Reva rasakan juga hal yang sama jantungnya berdetak kencang saat bertemu Rio. Meskipun Reva tadinya membencinya namun setelah tahu Rio adalah sahabat kecilnya perlahan rasa kesalnya itu hilang dan berubah menjadi bahagia.
"Jantungku berdetak kencang tak beraturan saat bertemu denganmu. Apakah kamu merasakan hal yang sama? Jika iya, maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Hidup bersama denganku sampai akhir hayatku," ucap Rio yang tiba-tiba sudah berlutut di depannya.
"Apa ini sungguh mimpi? Rio tiba-tiba mengatakan hal seperti itu sama aku? Secara tidak langsung Rio melamar aku kan?" Batin Reva.
Reva mengangguk pelan dan tersenyum. Rio lalu mengecup punggung tangan Reva.
"Makasih kekasih hatiku."
Rio melihat semburat merah pada pipi Reva. Mereka lalu berpelukan dengan erat.
"Akhirnya kita jadian. Setelah lulus kuliah, aku akan segera menikahi kamu sayang."
Rio lalu melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua tangan Reva.
"Kamu mau kan menikah denganku?"
"Iya, aku mau Rio."
__ADS_1
Sekilas Reva masih ingin meyakinkan bahwa yang ada dihadapannya ini adalah sahabat kecilnya.
"Tunggu dulu, jika kamu adalah sahabat kecilku pasti kamu punya foto saat kita masih kecil."
Rio lalu meraih hp dari kantong sakunya, mencari foto masa kecilnya.
"Ini foto kita sebelum aku dan keluargaku pindah ke Surabaya."
Reva tersenyum tipis dan memang benar bahwa dia ada di dalam foto itu.
"Sekarang kamu percaya kan?"
"Hmm iya, aku percaya..."
"Nanti sepulang kuliah kita makan yuk. Untuk merayakan hari jadian kita."
"Ok, nanti aku pilih restoran yang makanannya enak..."
"Iya terserah kamu sayang. Kamu bawa mobil gak?" tanya Rio.
"Aku bawa motor sport."
"Astaga... Kamu bisa bawa motor sport?" tanya Rio yang tak percaya.
"Kenapa? Kamu merendahkan aku gitu? Meskipun aku perempuan tapi aku juga bisa bawa motor sport."
"Tapi kamu gak ikut balapan kan?" ucap Rio cemas.
"Aku hanya ikut club motor saja. Tidak ikut balapan dan hanya menjadi penonton saja jika ada balapan. Ya, hanya ikut meramaikan sajalah, mendukung teman yang balapan."
"Kamu kenapa jadi bar-bar sekali setelah kita tidak bertemu belasan tahun?"
"Haha, aku bukan bar-bar tapi aku wanita yang kuat."
Reva seperti Mama Kezia yang bisa naik motor sport. Justru adiknya yang laki-laki itu takut naik motor. Alasannya panaslah dan kalau hujan bisa kehujanan. Pokoknya si Reza hanya mau naik mobil saja selama ini.
"Kelas jam kedua akan dimulai nih. Dosennya killer. Aku duluan ya Rio."
"Iya sayang, hati-hati ya. Kalau aku tidak ada kelas, Dosennya sedang sakit. Aku akan menunggumu di kantin sampai kamu selesai kelas."
Reva lalu menunjukkan tangannya membentuk huruf ok. Rio melambaikan tangannya dan melihat kepergian sang pujaan hatinya. Reva tumbuh menjadi gadis cantik dan tidak meninggalkan wajah imutnya. Pantas saja jika Rio melihatnya pertama kali dan langsung jatuh cinta.
Maaf belum bisa feedback, insya'allah akan segera feedback meskipun telat 🙏
Readers kesayangan jangan lupa tinggalkan like 👍
Berikan dukungan kepada author dengan meninggalkan komentar dan gift agar author lebih semangat berkarya 🤗
Berikan dukungan vote gratis (tidak mengurangi poin kalian) makasih ❤️
__ADS_1