
Kezia menyantap makanannya dengan lahap. Revano baru kali ini melihat Kezia makan dengan lahapnya. Revano jadi paham kalau ibu hamil yang lagi ngidam makannya banyak.
"Sayang sini aku suapin, buka mulutnya ya."
Kezia membuka mulutnya dan Revano tersenyum lalu menyuapi istrinya.
"Sayang, kamu seperti anak kecil saja, makannya sampai belepotan gitu." Revano mengelap sisa makanannya yang menempel di ujung bibir istrinya dengan tangannya.
Kezia tersenyum Revano bersikap manis kepadanya.
"Sayang, gantian aku yang menyuapi kamu. Masa dari tadi kamu yang menyuapi aku terus."
"Hmm iya sayang..." Revano pasrah kini istrinya juga menyuapinya.
"Makanan buatan kamu memang enak. Aku suka sekali sayang..."
"Hmm... Makanlah yang banyak suamiku kalau kamu suka," ucapnya dengan senyuman.
Sekarang Kezia bahagia hubungannya dengan Revano semakin harmonis.
"Selama hamil aku lebih sering memasak sayang. Bibi seperti biasa menemaniku disini sambil bersih-bersih apartment. Kadang Mama, Papa dan Keano datang."
"Kalau Mommy and Daddy?"
"Mereka jarang kesini sayang. Mungkin karena Reno dan Sandra sering ke rumah Daddy."
Seketika raut wajah Kezia murung saat membicarakan Reno dan Sandra.
"Sayang, kenapa kamu sedih? Jangan sedih seperti itu. Kalau kamu bersedih anak kita juga akan sedih sayang."
"Sejak kapan kamu tahu seperti itu?"
"Hehehe sejak Kak Sandra waktu itu hamil muda. Hmm... Sebenarnya kamu sedih kenapa sayang?"
"Aku hanya kecewa sama Reno dan Sandra saja. Mereka diam-diam menikah saat Reno kabur dari acara pernikahan kita. Harusnya Reno bilang terlebih dahulu kalau menyukai Sandra. Aku masih kesal sama mereka sampai sekarang."
"Sayang maafkanlah mereka yang tiba-tiba menikah begitu saja, jika Kak Reno waktu itu tidak kabur kita tidak akan menikah dan bersatu sampai sekarang. Lagian diundagan adalah nama kita. Mungkin memang kita sudah ditakdirkan untuk bersama." Revano menjelaskan panjang lebar.
"Iya sayang aku akan memaafkan mereka. Benar juga apa kata kamu sayang. Kalau Reno tidak kabur kita tidak akan menikah dan mempunyai anak." Sambil mengelus perutnya pelan.
"Apa kamu masih mencintai Kak Reno?" Tanyanya penasaran.
"Tidak! Aku sudah tidak mencintai Kakakmu. Dulu aku hanya terobsesi saja ingin memilikinya."
Revano tersenyum bahagia saat mendengarkan perkataan istrinya. Kezia takut Revano akan salah paham jika membicarakan Reno.
"Sekarang aku hanya mencintaimu Revano Putra Wijaya, ayah dari anakku yang hebat," ucapnya dengan senyuman sambil memegang pipi suaminya. Kezia mencubit dengan gemas dengan pipi Revano.
"Aku bahagia kamu sudah mencintaiku. Akhirnya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan." Revano memegang kedua tangan Kezia yang memegang pipinya dan lalu mengecupnya.
"Ah, Revano so sweet sekali. Sangat beruntung sekali aku bisa menjadi istrinya." Batin Kezia merasa bahagia saat ini.
Revano lalu meraih dagu Kezia dan langsung mengecup bibirnya. Kezia wajahnya langsung merah merona.
"Sayang, berjanjilah padaku kalau kamu tidak akan pernah pergi meninggalkan aku lagi." Kezia menggenggam tangan Revano dan menatap wajahnya.
"Aku tidak akan pernah pergi lagi darimu sayang. Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama." Sambil memegang perut Kezia yang sudah mulai membesar.
"Kecuali........" Revano menggantung perkataannya.
"Kecuali apa?" Tanya Kezia penasaran.
__ADS_1
"Kecuali kalau kamu yang memintaku untuk pergi maka aku akan pergi dari hidupmu dan mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi karena aku tidak akan pernah kembali ke Indonesia."
"Mana mungkin aku akan menyuruhmu pergi lagi dari hidupku. Lalu siapa yang akan menjadi ayah dari anak kita. Kepergianmu setengah tahun saja sudah membuatku rindu," ucapnya cemberut.
"Hahaha, kalau kamu cemberut seperti ini tambah menggemaskan sayang."
Kezia langsung mencubit perut Revano.
"Sayang kok kamu cubit sih?" Protes Revano terhadap Kezia.
"Habis kamu rese banget sih!" Diakhiri dengan mengerucutkan bibirnya.
"Jangan ngambek dong sayang. Kamu kalau seperti itu seperti bebek sayang. Lucu hahaha..." Revano tertawa terbahak-bahak.
"Huft... Revano kamu kemana saja selama ini?"
"Aku ke Korea sayang."
"Kenapa kamu tidak pernah menghubungi aku? Bahkan pesan instagram aku tidak kamu balas dan hanya kamu baca."
"Karena aku takut kamu kepikiran dan menyusulku ke Korea. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita sayang." Revano memegang perut Kezia.
"Ternyata Revano mengkhawatirkan aku dan anakku." Batin Kezia.
"Kamu tidak marah kan sama aku?" Tanyanya memastikan.
"Tidak sayang, aku tidak marah kok sama kamu. Justru aku bersyukur kamu telah kembali."
"Sayang kehamilan kamu sudah berjalan berapa bulan? Dia sudah sangat aktif sekali menendang-nendang dalam perutmu." Sambil mengusap perut istrinya yang sudah membesar.
"Sudah jalan 6 bulanan sayang."
"Oh iya sayang, anak kita berjenis kelamin apa?"
"Loh kok belum tahu sayang? Seharusnya kan sudah bisa dilihat."
"Kemarin saat periksa waktu kandunganku saat 5 bulan anak kita tidak memperlihatkan jenis kelaminnya."
"Kamu bulan ini sudah periksa belum sayang?"
"Belum sayang. Seharusnya kemarin aku jadwalnya periksa kandungan, tapi aku belum periksa."
"Hari ini aku antar kamu periksa kandungan ya sayang? Kamu mau kan aku temani kamu ke rumah sakitnya?"
"Iya sayang aku mau. Dokter bahkan sering menanyakan kamu sayang. Kemarin Keano sampai dikira suamiku."
"Maafkan aku sayang yang selama ini tidak bisa menemanimu periksa kandungan Maafkan aku yang baru bisa pulang sekarang. Aku di Korea kuliah dan jika setelah kuliah aku bekerja sebagai model. Aku baru pulang sekarang karenakalau kontrakku belum selesai akan dikenakan denda."
"Aku janji setelah ini aku akan selalu menemani kamu periksa kandungan setiap saat. Aku juga ingin melihat anak kita bersama-sama," ucapnya kembali.
"Tidak apa-apa sayang. Yang penting kamu sekarang sudah ada bersamaku. Itu sudah cukup."
Revano menarik kopernya ke dalam kamar. Mereka kini sudah di kamar.
"Sayang sini aku pijat, kamu pasti capek kan habis perjalanan jauh."
"Iya sayang. Perjalanan hampir delapan jam lamanya di pesawat terasa bosan."
Kezia mulai memijat suaminya. Kezia ingin menjadi istri yang baik untuk suaminya. Kezia ingin menebus dosa yang selama ini dirinya sudah bersikap buruk pada suaminya.
"Sudah saja sayang. Nanti kamu capek, kan kamu sedang hamil."
__ADS_1
"Baiklah... Sayang kamu mandi dulu ya? Pakaiannya biar aku yang siapkan."
"Terima kasih, kamu memang istriku yang baik." Mengecup pipi Kezia.
Revano berjalan menuju ke kamar mandi. Kezia tersenyum melihat suaminya. Sekarang Kezia sudah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
"Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu dan ibu yang baik juga buat anak kita Revano. Aku sekarang telah berubah, aku bahagia kita bisa berkumpul kembali dan akan membesarkan anak kita bersama-sama." Lirihnya sambil mengusap perutnya pelan.
Kezia bersyukur dengan kehadiran sang buah hatinya kini menjadikan dirinya menjadi lebih baik dan membuat Revano bisa kembali bersamanya.
"Kita akan selalu bersama-sama sayang. Mama janji tidak akan pernah menyia-nyiakan Papamu lagi nak. Mama akan menyayanginya seperti Mama menyayangi kamu." Seketika anaknya merespon dengan tendangannya pelan.
"Kamu bahagia ya nak. Mama sama Papa bisa bersama lagi. Kita akan memiliki keluarga yang utuh. Mama sudah tidak sabar menantikan kamu lahir ke dunia nak. Mama ingin melihat kamu."
Kezia masih mengusap-usap perutnya. Sampai tidak sadar bahwa Revano telah selesai mandinya dan menggunakan pakaian yang Kezia siapkan tadi. Revano tersenyum melihat istrinya begitu menyayangi anaknya yang masih ada dalam kandungannya.
"Kamu memang sudah banyak berubah sayang. Aku bahagia sifat kamu sekarang menjadi lebih lembut dan keibuan. Apa ini karena faktor kehamilan kamu saja? Tapi aku berharap kamu akan bisa seperti ini terus. Aku menyukai sikap kamu yang sekarang." Batin Revano.
Revano berjalan mendekati Kezia yang sedang duduk di tepi ranjang. Revano membelai rambut panjang istrinya dengan perlahan. Kezia menoleh dan tersenyum.
"Sayang kamu sudah selesai mandinya?"
"Iya sayang..."
"Kalau begitu aku mau mandi juga. Kan habis ini kamu akan menemaniku periksa kandungan."
"Iya sayang. Aku juga ingin tahu jenis kelamin anak kita."
"Kamu ingin jenis kelamin anak kita apa sayang?" Tanyanya penasaran.
"Apa saja sayang yang penting dia sehat. Kalau bisa sih yang menggemaskan seperti kamu."
"Gombal deh! Pulang dari Korea sudah bisa menggombal ya sekarang?"
Revano hanya terkekeh.
"Aku berusaha menjadi suami yang kamu inginkan sayang. Lihatlah tubuhku sekarang juga jauh lebih macho bukan daripada dulu? Aku sering olahraga di Korea."
"Iya tubuhmu lebih bagus sekarang."
Revano tersenyum senang. Seketika Revano menggendong Kezia dan berjalan menuju ke kamar mandi.
"Sayang, lepaskan aku!" Perintah Kezia.
"Aku akan mengantarmu sampai ke kamar mandi sayang. Ibu hamil tidak boleh terlalu capek."
"Ya ampun sayang, jarak kamar kita sampai kamar mandi hanya beberapa meter saja."
Revano menurunkan Kezia perlahan-lahan.
"Sayang mandilah! Aku akan menunggumu di luar."
"Baiklah......"
Kezia lalu mandi. Kezia bahagia perilaku suaminya sangatlah manis dan Kezia menyukainya. Kezia berharap Revano akan terus bisa seperti ini. Bukan karena sekarang dirinya sedang hamil anaknya. Namun Kezia berharap Revano bisa bersikap manis terhadapnya seterusnya.
Jangan lupa tinggalkan jempolnya ya readers 👍 dan komentar serta saran dari kalian sangat berarti untuk author mempertimbangkan untuk membuat cerita selanjutnya. Yuk berikan gift biar author semakin semangat 🆙 Terima kasih 💙
Berikan dukungan like juga ke karya baru author 💙
__ADS_1