
Revano setelah sholat tahajud lanjut akan kembali tidur karena matanya masih ngantuk. Revano duduk disamping istrinya yang masih terlelap dalam mimpinya. Pandangan Revano beralih ke perut Kezia yang sudah terlihat semakin membesar karena istrinya sudah hamil 6 bulan. Revano mengusap perut Kezia perlahan agar istrinya tidak bangun dari tidurnya.
"Makasih ya nak. Karena kehadiran kamu Papa dan Mama bisa bersama kembali. Papa bahagia Mama kamu sudah baik dan seperti doa yang selalu Papa panjatkan setiap habis sholat," lirihnya dan lalu mengecup perut Kezia.
Revano lalu tidur disamping Kezia. Pagi hari setelah sholat subuh berjamaah Revano lanjut membaca Al-Qur'an. Kezia bersyukur punya suami yang sholeh seperti Revano.
"Aku bersyukur bisa menjadi istri kamu sayang. Kamu imam yang baik untuk keluarga kecil kita." Batin Kezia sambil tersenyum.
Kezia berjalan keluar dari kamarnya. Kezia perlahan-lahan turun dari tangga dan menuju ke dapur. Kezia ingin memasak pagi hari ini untuk suami dan juga keluarganya. Mungkin karena Kezia mengandung anak perempuan jadi ingin masak terus.
"Nak, temani Mama masak di rumah orangtua Mama hari ini ya nak," ucapnya sambil mengusap perutnya pelan dan anaknya merespon dengan tendangan kecilnya. Kezia tersenyum saat si kecil meresponnya.
"Aku masak apa ya? Hmm, yang mudah dan enak saja yang aku masak," ucap Kezia sambil mengambil celemek.
Kezia langsung membuka kulkas lalu mengambil udang dan ayam. Kezia akan memasak udang goreng tepung dan ayam teriyaki. Menurutnya kedua masakan itu sangat simpel, enak dan mudah juga untuk memasaknya. Kezia sekarang mulai mencuci ayam dan kemudian udangnya.
Revano mencari istrinya dan akhirnya menemukan Kezia sedang berada di dapur untuk memasak. Kezia terlihat sedang mengupas bawang saat ini. Revano tersenyum melihat istrinya terlihat lihai mengupas bawang. Tidak seperti dulu saat masih awal-awal mereka menikah. Bahkan menyuruh Bibi untuk mengupas bawang dan menaruhnya di kulkas agar bisa langsung dipakai untuk masak. Tapi sangat jarang sekali Kezia masak.
"Kamu memang telah berubah sayang, aku bahagia kepergian aku kemarin ke Korea bisa membuat kamu berubah seperti ini Kezia. Aku berharap kamu tidak akan pernah berubah seperti dulu lagi." Batin Revano dengan penuh harap.
Revano ingin sikap istrinya seperti ini terus. Bukan karena saat istrinya sedang hamil saja. Namun untuk seterusnya juga Revano ingin sikap Kezia seperti ini. Revano berjalan pelan-pelan mendekati istrinya. Revano berjalan mengendap-endap agar istrinya tidak tahu kalau dirinya datang. Perlahan Revano memeluk istrinya dari belakang dan meletakkan dagunya ke bahu istrinya. Kezia sangat terkejut saat ini karena suaminya tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? Kita sedang tidak berada di kamar. Jadi jangan memelukku seperti ini. Nanti malu kalau dilihat orang. Apalagi Keano, pasti adikku yang nyebelin itu akan meledek kita."
"Jadi maunya kita ke kamar sekarang nih?" goda Revano.
__ADS_1
"Bukan seperti itu sayang. Hanya saja kamu jangan seperti ini. Nanti kalau ada yang melihat kita bagaimana? Lagian aku sedang memasak untuk kita semua sarapan pagi ini."
"Biarkan saja jika mereka melihatnya kan kita sudah menikah. Biarkan begini saja sejenak saja sayang. Aku tidak akan mengganggu kamu," ucapnya sambil mengelus perut Kezia.
Revano bahagia Kezia tidak protes setelah Revano berbicara seperti itu.
"Aku sedang ingin memelukmu pagi ini sayang," ucapnya kembali.
Sonya yang baru saja mau turun dari tangga dan terkejut sekaligus bahagia melihat pemandangan yang ada di depan mata. Sonya matanya berbinar-binar saat melihat menantunya memeluk Kezia. Sonya berjalan pelan-pelan melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya kembali. Sonya membuka pintu kamarnya dan langsung mencari suaminya.
"Pa.... Papa....." Teriak Sonya memanggil suaminya.
"Apaan sih Ma? Jangan teriak-teriak kan Papa masih bisa mendengar. Lagian juga masih normal juga telinga Papa." Kenzo baru saja keluar dari kamar mandi.
Untung saja kamar mereka kedap suara jadi orang lain yang berada di luar tidak akan mendengarnya.
"Pemandangan pagi hari apa Mama? Apa bunga mawar di taman sedang bermekaran?" Karena Sonya juga ekspresinya sering seperti ini saat bunga-bunganya bermekaran di taman.
Sonya sangat menyukai bunga mawar jadi Kenzo menanam berbagai bunga mawar di taman belakang. Karena kebahagiaan istrinya merupakan kebahagiaannya juga.
"Tidak Papa. Ikut Mama sekarang saja biar Papa bisa langsung melihatnya."
Sonya menarik tangan suaminya. Kenzo menurut saja apa yang istrinya lakukan. Saat ini Kenzo juga kepo terhadap pemandangan yang dikatakan oleh istrinya. Sonya dan Kenzo perlahan berjalan turun dari tangga, Sonya mengkode dengan jari telunjuknya yang sudah di bibirnya pertanda bahwa Kenzo harus diam. Kenzo membolakan matanya saat melihat Revano masih memeluk Kezia. Mereka bercanda di dapur. Seketika sudut bibir Kenzo melengkung ke atas membentuk seperti bulan sabit. Kenzo bahagia melihat kemesraan anak dan menantunya di dapur pagi ini.
"Jadi ingat waktu kita masih muda dulu sayang. Kita dulu juga seperti itu. Jadi ingin muda lagi," bisik Kenzo di telinga Sonya.
__ADS_1
Sonya hanya menjawab anggukan pelan dan agar tidak ketahuan sedang mengintip anak dan menantunya yang sedang asyik berduaan di dapur.
"Sepertinya mereka akan memasak bersama." Batin Sonya.
Sonya dan Kenzo lalu berjalan pelan-pelan dan kembali ke kamarnya. Kenzo membuka kamarnya dan lalu menutup pintunya. Kenzo lalu duduk di sofa dan Sonya juga menyusul suaminya untuk duduk di sofa yang berada di kamarnya.
"Alhamdulillah ya Mama. Mereka tadi terlihat begitu mesra dan semakin romantis." Kenzo bahagia kehidupan rumah tangga anaknya baik-baik saja dan bahkan terlihat lebih harmonis.
"Iya Papa. Aku berharap Keano juga akan segera punya istri. Jadi kita akan punya dua cucu dari kedua anak kita." Sonya berharap anaknya segera punya pasangan dan menikah. Sonya juga ingin punya cucu dari Keano sang putra bungsunya.
"Iya sayang, aku juga berharap seperti itu. Kalau Keano tidak segera memperkenalkan kita wanita pilihannya, kita akan jadi menjodohkan Keano sama Aulia anak Pak Rahman itu."
"Aku setuju sama kamu sayang."
"Kamu memang istriku yang selalu mendukung setiap keputusanku. Terima kasih sayang telah menjadi istri yang baik untukku dan ibu yang baik untuk anak-anak kita." Kenzo mengecup kening Sonya dan lalu memeluk Sonya dan mengusap kepalanya.
"Sama-sama suamiku." Sonya membalas pelukannya.
Kenzo dan Sonya meskipun sudah berkepala empat namun mereka masih terlihat begitu mesra. Kenzo juga romantis meskipun usianya tidak muda lagi. Tapi Kenzo selalu memberikan bunga dan hadiah setiap ulang tahun pernikahannya maupun saat ulang tahun Sonya.
Berikan dukungan like juga ke karya baru author 💙
Jangan lupa tinggalkan jempolnya ya readers 👍 dan komentar serta saran dari kalian sangat berarti untuk author mempertimbangkan untuk membuat cerita selanjutnya. Yuk berikan gift biar author semakin semangat 🆙 Terima kasih 💙
__ADS_1