
Viona merasakan perutnya semakin sakit dan apalagi sang anaknya yang terus saja bergerak dalam perutnya. Sejak tadi bilang membenci Vino langsung saja perutnya terasa sakit. Mungkin sang anak tidak terima jika ayahnya dibenci oleh ibunya.
"Arghhh, perutku rasanya sakit sekali....." Viona memejamkan matanya sambil memegang perutnya.
Viona merasakan sesuatu ada yang mengalir dikakinya. Viona matanya terbelalak saat melihat darah segar mengalir dikakinya.
"Anakku......." Matanya kini sudah mulai berkaca-kaca.
Viona merasakan perutnya semakin sakit.
"Bertahanlah nak. Maafkan Mama yang tadi berbicara seperti itu. Mama mohon bertahanlah untuk Mama nak," lirihnya dan kini air matanya sudah mulai menetes.
Viona terlalu kebanyakan pikiran hari ini. Viona tidak ingin kehilangan bayinya. Viona sudah kehilangan kedua orangtuanya, kekasihnya dan sebentar lagi suaminya. Tinggal harapan satu-satunya adalah anaknya yang masih dia punya dan Viona tidak ingin kehilangan bayinya. Viona akan meminta bantuan kepada asisten rumah tangganya dan juga sopirnya.
"Bibi........ Bi, tolong Bi........" Teriak Viona.
Sang Bibi yang mendengar suara teriakan majikannya lalu dengan segera pergi ke kamar Viona. Saat Bibi membuka pintu Bibi terkejut saat Viona mengalami pendarahan.
"Astagfirullah, Non Viona pendarahan." Tunjuk sang Bibi pada kaki Viona.
"Bibi tolong panggilkan Pak Agus untuk membawaku ke rumah sakit."
"Baik Non."
Bibi lalu keluar dari kamar Viona dan mencari Pak Agus. Bibi baru ingat sopirnya itu kini sedang izin keluar untuk sholat jum'at.
"Haduh bagaimana ini." Bibi mondar-mandir memikirkan majikannya yang tengah kesakitan.
Seketika ada bel berbunyi pertanda akan ada orang yang ingin bertamu. Bibi berjalan mendekati pintunya dan ingin meminta tolong dengan orang yang sedang bertamu. Saat Bibi sudah membukakan pintunya. Bibi langsung meminta tolong kepada laki-laki itu.
"Viona ada Bi?" tanya Vino.
"Nak, tolong bantu majikan saya. Dia mengalami pendarahan," Bibi panik dan sampai tidak menjawab pertanyaan Vino.
Ternyata firasat yang dirasakan Vino benar dan anaknya sedang dalam bahaya karena Viona sedang mengalami pendarahan saat ini.
"Apa? Viona pendarahan?"
"Iya nak. Ayo tolongin Non Viona dan antar dia ke rumah sakit."
Bibi menarik tangan Vino untuk segera mengikutinya ke kamar Viona.
__ADS_1
"Bibi, kok lama banget sih. Arghhh, perutku sakit sekali."
Pintu kamar tadi hanya terbuka setelah. Saat Vino datang Bibi lalu membuka pintu kamar Viona dengan lebar. Vino membolakan matanya saat melihat darah mengalir dikaki orang yang dicintainya.
"Vi-Vino ngapain kamu kesini?" tanya Viona terbata-bata.
"Non Viona, ini tamu yang akan membantu mengantarkan Non Viona ke rumah sakit. Karena Pak Agus sedang izin keluar untuk sholat jum'at."
"Suruh Vino pergi Bibi. Aku bisa menyetir mobil sendiri untuk ke rumah sakit," ucap Viona sambil berusaha untuk berdiri.
"Viona kamu jangan keras kepala, bisa bahaya jika kamu menyetir mobil sendiri dan dalam keadaan kamu sedang seperti ini. Saat ini yang terpenting adalah keselamatan anak kita."
"Iya Non benar yang dikatakan oleh Den Vino."
Vino berjalan mendekati Viona.
"Vino, jangan mendekat."
"Kamu jangan menolak ajakan aku kali ini. Ini demi keselamatan putra kita."
Dengan cepat Vino menggendong Viona. Bibi membantu membuka pintu mobilnya. Vino yang menyetir mobilnya dan Bibi yang menemani Viona duduk di kursi belakang.
"Auwww Bi, sakit sekali perutku," ucap Viona mengeluh perutnya merasakan kesakitan.
Vino dengan cepat mempercepat laju mobilnya. Vino tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Vino langsung menggendong Viona berjalan sedikit berlari.
"Sus, tolong istri saya," ucap Vino yang mengakui Viona sebagai istrinya. Karena Vino bingung mau berbicara apa. Masa iya mau mengakui Viona sebagai mantan kekasihnya sedangkan Viona saat ini sedang hamil besar.
Viona langsung dibawa masuk ke ruangan IGD. Vino berjalan mondar-mandir saat ini. Bibi tahunya Vino adalah suami majikannya.
"Den Vino, Tuan Muda kecil pasti akan selamat. Anak laki-laki biasanya kuat," ucap Bibi.
"Aamiin, mudah-mudahan saja anakku tidak apa-apa Bi."
"Den Vino, kalau begitu Bibi permisi pulang dulu. Ada beberapa pekerjaan yang tadi belum selesai."
"Iya Bi."
Bibi lalu kembali ke rumah Viona dengan menaiki taksi. Satu jam kemudian Dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Dokter bagaimana dengan keadaan istri saya?" tanya Vino cemas.
__ADS_1
"Pasien tadi mengalami pendarahan dan banyak kehilangan darah. Untung saja stok kantong darah di rumah sakit masih ada."
"Sekarang bagaimana kondisinya?"
"Pasien baik-baik saja. Hanya saja..." Perkataan Dokter membuat Vino semakin cemas.
"Hanya saja apa Dokter? Bayinya selamat kan? Anak saya tidak kenapa-kenapa kan Dok?" tanya Vino dengan pertanyaan yang memberondong.
"Bayinya selamat, hanya saja kandungan kini menjadi lemah dan pasien harus dirawat mungkin beberapa hari untuk menstabilkan dan memulihkan kondisinya."
"Iya Dok. Apa saya bisa menemuinya sekarang?"
"Nanti setelah dipindahkan ke ruang rawat inap baru bisa untuk dijenguk. Kita akan segera memindahkan pasien."
"Baik Dok."
Sekarang Viona sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Viona masih belum sadar saat ini. Vino melihat kondisi wanita yang dicintainya terbaring lemah ada rasa sedih dalam hatinya. Jika saja waktu bisa diputar kembali Vino tidak akan melakukan hal yang konyol itu dan pastinya saat ini sudah bahagia menikah dengan Viona dan menantikan kelahiran sang buah hatinya. Vino terus menggenggam tangan Viona dan sesekali mengecupnya.
"Maafkan aku Viona. Aku memang salah dan aku sudah membuatmu menderita seperti ini." Vino sudah tidak tahan untuk membendung air matanya. Kini air matanya sudah tumpah membasahi pipinya.
Tangan kanannya masih terus menggenggam tangan Viona dan lalu tangan kirinya memegang perut Viona. Vino mengecup perut Viona sebentar.
"Maafkan Papa nak. Papa telah membuat Mama kamu menderita. Papa janji akan membahagiakan kalian setelah ini," ucap Vino mengusap-usap perut Viona.
"Viona bangunlah dan jangan membuatku khawatir," ucap Vino yang semakin terisak dan masih menggenggam tangan Viona.
Vino lebih baik dimarahi oleh Viona daripada didiamkan seperti ini. Tadi saat melakukan penanganan Viona dibius dan sekarang tinggal menunggu waktunya untuk sadar saja.
Karena semalaman Vino tidak tidur karena memikirkan Viona dan akhirnya Vino tertidur di rumah sakit. Tangannya masih menggenggam tangan Viona. Dua puluh menit kemudian Viona mulai mengerjapkan matanya. Viona terkejut saat melihat siapa laki-laki yang menggenggam tangannya dan tak hanya itu tangan kiri Vino juga berada diatas perutnya.
Viona berpikir bahwa seandainya saja Vino suaminya pasti akan sangat bahagia jika Vino seperti ini. Perlahan Viona melepaskan tangan Vino dari atas perutnya. Vino merasakan tidurnya terusik dan perlahan membuka matanya.
"Viona akhirnya kamu sudah sadar," ucap Vino bahagia.
"Anak kita tidak apa-apa sayang," ucap Vino kembali.
Viona lega bayinya masih bisa diselamatkan. Viona lalu menarik tangannya yang Vino genggam. Viona masih terdiam membisu saat ini. Viona masih kecewa sama Vino. Viona harus makan dan meminum obatnya.
"Sayang, aku suapin ya?" ucap Vino yang lalu mengambil mangkok yang berisi bubur tersebut.
"Aku bisa makan sendiri dan kamu pergilah," ucap Viona ketus dan lalu merebut mangkok tersebut.
__ADS_1
"Aku akan pergi setelah kamu makan dan meminum obatnya. Aku hanya ingin memastikan ibu dari anakku baik-baik saja," ucap Vino tersenyum tipis.
Viona tidak menghiraukan perkataan Vino dan fokus dengan memakan buburnya. Viona hanya ingin segera pulih dan pulang ke rumahnya.