Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 44 - Lova Ayesha


__ADS_3

Seorang perempuan dan laki-laki terbangun dari tidurnya. Ini untuk kedua kalinya mereka tidur bersama. Setelah semalam mereka menghadiri acara resepsi pernikahan Rey dan Risa.


"Pagi beb," ucapnya sambil mengecup pipi mulus kekasihnya.


"Pagi," ucapnya singkat.


Lalu ia pun turun dari ranjangnya dan langsung menuju ke kamar mandi saat perutnya terasa tidak enak. Ia pun mual dan memuntahkan semua isi didalam perutnya yang ia isi semalam. Tubuhnya seketika terasa lemas dan kepalanya pusing.


"Beb, kamu kenapa?" ucap seorang laki-laki yang menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan perasaan khawatir.


"Ceklek," suara pintu kamar mandi pun langsung terbuka.


Laki-laki tersebut lalu memegang kedua pipinya. Ia melihat sang kekasihnya pun sudah mulai pucat wajahnya.


"Beb, kamu kenapa? Apa yang kamu rasakan?" ucapnya khawatir.


"Aku tadi mual, tubuhku terasa lemas dan kepalaku sedikit pusing," ucapnya pelan.


"Jangan-jangan kamu hamil beb? Kapan terakhir kamu datang bulan?" ucapnya dengan matanya yang berbinar, ia pun menantikan sang buah hatinya tumbuh dirahim kekasihnya, lalu sambil mengelus perut kekasihnya yang masih rata.


"Aku baru seminggu telat datang bulan," ucapnya pelan.


"Aku akan segera menikahimu beb. Maafkan aku telah melakukan hal itu padamu karena aku sangat mencintaimu. Aku melakukannya karena aku tidak ingin dijodohkan dengan kedua orang tua ku dan ini satu-satunya alasan agar kita tak terpisahkan. Minggu depan aku akan bawa kamu ke rumah orang tuaku. Bulan depan kita menikah ya, kamu mau kan beb?" ucapnya sambil memeluk kekasihnya dan mengelus rambut panjangnya.


Hanya anggukan saja yang dijawab oleh sang kekasih.


"Ya sudah aku buatkan kamu minuman hangat, biar kamu lebih enakan badannya," ucapnya.


Laki-laki tersebut pun langsung menuju dapur. Ia pun langsung membuat teh jahe untuk kekasihnya. Kekasihnya pun sekarang sudah duduk di kursi lalu meminum teh jahenya selagi hangat.


"Beb, gimana rasanya masih terasa pusing? Aku beli test pack dulu ya buat kamu. Kamu disini saja," ucapnya mengelus pucuk rambut kekasihnya dan lalu menyambar jaketnya.


"Masih sedikit pusing sih, Kamu tidak malu beli test pack untukku?" pertanyaan itu lolos dari mulut sang kekasihnya.


"Tidak beb, kenapa harus malu? Bahkan aku sudah tidak sabar untuk menunggu hasilnya, aku harap kamu hamil beb. Ada buah cinta kita didalam rahim kamu. Ya sudah aku pergi dulu ya beb," ucapnya sambil mengambil kunci mobilnya. Kekasihnya itu hanya menganggukkan kepala.


Kedua pasangan muda tersebut adalah Dean dan Lova.


Dean pun sudah dari apotik langsung mencari makanan cepat saji untuk sarapan bersama sang kekasihnya. Saat ia sudah mendapatkan semuanya. Ia pun segera melajukan mobilnya menuju ke apartment Lova.


"Beb, ini coba kamu tes dulu," ucapnya sambil menyerahkan plastik kresek dari apotik.


"Eh, nanti saja. Aku sudah lapar," ucapnya sambil mengambil piring dan sendok di dapur.


Saat baru makan sesuap saja Lova pun lalu mual kembali. Ia pun lalu menuju wastafel di dapur.

__ADS_1


"Hoekkk.. Hoekkk..."


Dean yang melihat Lova kembali mual pun langsung menghampirinya. Dean langsung memijit tengkuk Lova.


"Beb, aku gak tega kamu mual terus begini. Kita langsung ke dokter saja ya? Aku pengen tahu kamu hamil atau magh kamu yang kambuh," ucapnya khawatir.


"Aku udah gak apa-apa kok," ucap Lova.


"Please beb, kali ini aja kamu nurutin perkataan ku," ucapnya kembali.


Lova pun lalu mengiyakan ajakan kekasihnya itu ke dokter. Lalu Dean menggandeng Lova keluar apartment. Sekarang Dean dan Lova sudah sampai di rumah sakit. Ia pun sedang antri menunggu antriannya dipanggil. Dean pun memilih untuk Lova agar di periksa oleh dokter umum. Ia ingin tahu apakah kekasihnya itu maghnya kambuh atau hamil. Setelah hampir satu jam mengantri. Kini saatnya nomor urut Lova pun dipanggil.


"Ibu Lova Ayesha, silakan menuju ke ruang Dokter Rio," ucap seorang suster.


"Rio?" Lova pun membulatkan matanya ketika nama itu terdengar di telinganya


Lova pun berjalan menuju ke ruang dokter tersebut. Diikuti oleh Dean. Lova pun terkejut saat melihat dokter yang ada didepannya. Terpajang nama di mejanya Arserio Halim mantannya yang putus 2 tahun yang lalu. Dean pun juga terkejut siapa dokter umum tersebut ia pun juga mengenalnya, hanya saja jarang ketemu. Dean tidak tahu kalau Rio mantannya Lova.


"Silakan duduk, apa keluhannya?" ucap Rio dengan santai sang dokter muda tersebut pun langsung tersenyum.


"Eh bro lu ternyata praktik disini? Kita dah lama ya bro gak ketemu? Kamu sibuk terus sih!" ucap Dean.


"Beb, kamu kenal sama dokternya?" tanya Lova.


Eh iya sampai lupa tadi pacar gue mual, pusing, tidak enak badan dan sudah terlambat datang bulan satu minggu. Aku bingung ia pun juga sering telat datang bulan makannya aku kesini hanya untuk memastikan apakah dia hamil atau maghnya yang kambuh. Karena tadi saat ia hendak sarapan pun mual lagi, udah 2 kali ia mual hari ini," ucap Dean menjelaskan kepada sepupunya.


Rio pun mengernyitkan dahinya saat mendengar perkataan Dean. "Lova sepertinya hamil," batin Rio.


"Baiklah silakan berbaring terlebih dahulu saya akan periksa," ucapnya sambil berjalan menuju brankar.


"Gimana bro?" tanyanya penasaran.


"Benar, pacar kamu hamil. Untuk lebih jelasnya kamu bisa langsung ke ruang Dokter Yudha untuk mengetahui lebih tepatnya berapa minggu usia kehamilannya, nanti terlihat saat di USG," ucapnya.


"Baiklah," ucap Dean.


"Beb, kamu hamil. Aku senang banget. Kita bulan depan akan menikah," ucapnya sambil mengelus dan mencium perut Lova dan lalu memeluknya.


"Iya beb," ucapnya singkat.


Lova pun merasa malu saat ini, dirinya hamil diluar nikah dan diketahui oleh mantannya. Apalagi mantannya adalah sepupu Dean sang kekasihnya.


Rio pun hanya mengernyitkan dahinya. Ia tahu bahwa Dean sudah dijodohkan oleh papanya. Apakah ia tetap akan menikahi Lova, sedangkan papa Dean itu sangat tidak suka kalau perintahnya dibantah. Bagaimana nasib Lova kalau orang tua Dean tidak merestui hubungan mereka. Itulah sekarang yang ada dipikiran Rio.


Lova dan Rio dulu putus karena orang tua Rio tidak setuju mempunyai menantu yang berprofesi sebagai model. Sebenarnya Rio masih menyimpan rasa untuk Lova. Karena saat putus darinya ia belum pernah berpacaran kembali. Meskipun kadang ada dokter muda yang ingin menjadi kekasihnya, berbagai cara ia lakukan untuk mendapatkan hati Rio, akan tetapi Rio pun tidak menanggapinya. Setelah putus dengan Lova hatinya masih tertutup untuk wanita lain.

__ADS_1


"Aku sudah menghubungi dokter Yudha," ucap Rio.


"Kita permisi dulu ya, aku akan ke ruang Dokter Yudha untuk memastikan berapa minggu usia kandungannya, makasih ya bro!" ucapnya dengan mata yang berbinar dan menepuk pundak Rio.


"Iya. Kalian gak usah antri, Aku udah mendaftarkan kalian," ucap Rio kembali.


"Ok, makasih bro. Kau memang sepupuku yang paling baik. Tapi entah kenapa kamu masih jomblo saja, memang belum ada yang bisa menggantikan mantan kamu? Udah 2 tahun yang lalu bro, kamu harusnya move on. Mungkin mantan kamu saja sudah punya kekasih atau bahkan sudah menikah dan punya anak," ucap Dean sambil tertawa.


"Kamu tidak tahu saja bahwa mantanku itu adalah Lova. Orang yang kamu hamili," batin Rio.


"Kalau kesini cuma ngeledekin gue, udah pergi sana!" ucapnya sambil mendengus kesal.


"Pak Dokter jangan galak-galak dong nanti gak ada yang mau loh sama kamu," ucapnya tertawa sambil menggandeng Lova keluar ruangan.


"Kenapa secepat itu kamu melupakanku Lova? Kamu tidak tahu tadi gimana rasanya betapa sakitnya hatiku, saat melihatmu sedang mengandung anak dari sepupuku sendiri," batin Rio sambil memijat keningnya, tak terasa air matanya pun menetes membasahi pipinya.


Lova dan Dean pun sudah berada di ruangan Dokter Yudha. Yudha pun kaget saat melihat perempuan yang mau cek kandungannya adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Rio pernah memperlihatkan foto Lova sedang bersama Rio. Yudha pun tidak menyangka bahwa mantannya Rio sekarang menjadi pacar sepupunya. Rio pasti hatinya hancur berkeping-keping saat ini.


"Dok kok malah melamun?" ucap Lova.


"Ah, iya maaf saya tadi sedang banyak pikiran," Lova tidak tahu bahwa Yudha mengenal Rio.


Yudha pun lalu memeriksa Lova. Cairan gel pun sudah dioleskan ke perutnya.


"Saat ini usia kandungannya berjalan 5 minggu, kandungannya cukup sehat dan kuat," ucap Yudha sambil menggerakkan alat ke perut Lova.


Dean pun melihat anaknya dari layar monitor pun senang, bulir bening pun langsung menetes membasahi pipinya. Ia tak menyangka akan menjadi seorang ayah sebentar lagi.


"Ini print foto hasil USG nya. Dan ini sudah saya resepkan vitamin, obat anti mual dan pusingnya. Nanti mohon untuk ditebus ya pak di depan," ucapnya sambil menyerahkannya ke Dean.


"Baik dok, terima kasih," ucapnya kembali lalu keluar menggandeng Lova.


Saat jam makan siang Yudha pun langsung ke ruang sahabatnya itu. Saat membuka pintu ia melihat sahabatnya sedang menundukkan kepalanya di mejanya.


"Bro," ucap Yudha pelan.


Rio pun langsung mendongakkan kepalanya. Matanya memerah masih menangis.


"Bro aku tahu saat ini hati kamu hancur berkeping-keping, tapi kamu harus mengikhlaskannya. Dia sudah bahagia dengan sepupumu sendiri," ucap Yudha menasihati Rio.


"Aku belum bisa melupakannya. Berkali-kali aku membuka hati untuk wanita lainnya. Namun tetap saja tidak ada yang bisa menggantikannya di hatiku," ucapnya sambil mengusap air matanya.


"Aku yakin suatu saat nanti kamu bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik darinya," ucap Yudha menyemangati sahabatnya.


"Terima kasih Yudha, kamu memang sahabat yang bisa mengerti keadaanku, tapi sepertinya sulit bagiku untuk melupakannya," ucapnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2