Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 45 - Rencana Mami Mertua Berhasil


__ADS_3

Rey dan Risa pun sudah 2 hari menginap di hotel milik Keluarga Wijaya, 2 hari itu iya habiskan untuk membuka semua kado pernikahannya, setelah sholat ashar mereka pun lalu pulang ke rumahnya. Mereka sampai rumah pukul 15:58 wib. Risa dan Rey pun langsung masuk rumah. Mang Ujang dan Bi Ijah membawakan beberapa kado ke kamar Rey.


Risa pun sudah mandi, ia sedang mencari Rey dan melihat Bi Ijah di dapur sedang bikin teh jahe.


"Bibi lihat Rey gak?"


"Lagi di gazebo taman belakang Non, ini Bibi mau kesana nganterin teh jahe," ucapnya sambil mengudek minumannya.


"Biar Risa saja yang anterin ya bi," ucapnya sambil membawa nampan berisi secangkir teh jahe tersebut.


Risa pun berjalan pelan-pelan agar teh jahenya tidak tumpah. Saat Risa sudah sampai di gazebo Rey sedang melamun dan bergumam.


"Seandainya saja aku punya anak yang lucu-lucu pasti taman seluas ini akan ramai dengan canda tawanya dan tidak akan sesepi ini."


Risa pun mendengar semua ucapan Rey. Lalu menaruh nampannya di meja. Rey pun langsung menoleh ke arah suara tersebut.


"Sayang sejak kapan kamu disini?"


"Barusan saja."


"Mudah-mudahan Risa gak mendengar perkataanku."


Saat itu juga Reza datang, setelah berkenalan dengan Reza, Risa pun lalu pergi dari gazebo tersebut.



Reza pun mengunjungi rumah Rey karena mendapat tugas dari Mami Ana untuk mengintrogasi anaknya. Reza adalah sepupunya Rey, ia baru saja datang dari luar negeri.


"Bro, ini aku bawa hadiah pernikahan untukmu. Maaf, kemarin aku tidak bisa datang." ucap Reza. Reza pun memberikan hadiah pernikahannya baju tidur couple.


"Eh bro muka lu kusut amat!" ucapnya kembali.


"Ah iya aku bingung. Mami sama Papi pengen punya cucu, begitu juga dengan kedua mertuaku."


"Terus apa masalahnya? Kalian sudah menikah kan. Turuti saja apa keinginan mereka," ucap Reza santai.


"Tapi, Istriku belum mau punya anak."


"Hmm, jangan-jangan kamu belum melakukannya lagi selama ini?" ucap Reza mengintrogasi.


"Memang belum, aku juga bingung caranya gimana!"


"Pffttt..." Reza pun menahan tawanya.


"Hey kamu itu memang beneran polos atau bodoh sih? Pakai insting saja."


"Insting?" Rey pun mengernyitkan dahinya.


"Ya, ikuti saja alurnya. Ntar bisa sendiri!"


"Masa sih bisa begitu? Kamu tahu dari mana za? Kamu kan belum menikah."


"Hey kamu lupa pernah cerita kepadaku. Saat pelajaran biologi di sekolahmu. Bukankah Pak Guru bilang boleh mempraktekkannya kalau sudah nikah kan?" Reza pun teringat saat Rey cerita dengannya.


"Ah iya, aku malah lupa hehehe."

__ADS_1


"Ya sudah kamu praktekkan saja entar malam," ucapnya sambil menepuk bahu Rey.


Rey pun hanya diam mendengar perkataan Reza.


Malam pun telah tiba mereka sudah sholat isya berjamaah. Saat ini mereka pun sudah duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Mami Ana pun lalu memperhatikan setiap gerak-gerik menantunya.


"Sepertinya tidak ada perubahan dalam diri menantuku. Ah yang benar saja anakku ini belum sama sekali menyentuhnya? Apa dia memang mempunyai kelainan seperti apa yang dikatakan Yudha? Aku harus segera bertindak cepat," batin Mami Ana.


"Sayang temani mami ke kamar yuk, ada yang mau mami tunjukkan sesuatu ke kamu," ucapnya sambil mengelus bahu menantunya.


"Ayo mi," ucapnya lalu berdiri mengikuti Mami Ana ke kamarnya.


Tinggallah Papi Aldi dan Rey di ruang keluarga. Reza pun sudah pulang ke rumahnya.


"Mami kira-kira mau nunjukin apa ya Pi sama Risa?" tanyanya heran gak biasanya maminya mengajak istrinya ke kamarnya.


"Mana papi tahu nak, mungkin itu hanya urusan perempuan," ucapnya sambil menyeruput teh nya, padahal ia tahu rencana istrinya.


Mami Ana pun membuka pintu kamarnya. Lalu ia duduk di sofa dan diikuti oleh Risa.


Bi Ijah pun lalu masuk membawakan teh jahe untuk Risa dan Nyonya Besar.


"Sayang ayo diminum ini teh jahe, bagus untuk kesehatan. Mami juga sering minum," ucapnya sambil menyeruput teh jahenya.


Lalu Risa pun meminumnya hingga habis.


"Sayang jawablah dengan jujur, kamu belum pernah melakukannya tugas kamu sebagai istri kan?" ucapnya dengan nada yang melas.


"Iya belum mi," ucapnya singkat sambil menunduk.


"Kelainan?" Risa pun mendongakkan kepalanya dan mengernyitkan dahinya.


"Iya mungkin saja Rey seorang Gay, itu hanya dugaan mami sementara sayang. Biasanya laki-laki normal yang sudah menikah akan melakukan hal itu kepada istrinya. Tapi Rey dan kamu sudah nikah bahkan sudah berbulan-bulan dan sampai saat ini Rey belum melakukannya hal itu kan sama kamu?" ucapnya yang masih dengan wajah yang meyakinkan perkataannya.


"Ah iya mi." ucapnya yang mulai cemas.


"Kamu mau gak bantu mami untuk mengetes Rey? Mami hanya ingin memastikan dia benar-benar punya kelainan atau tidak. Nanti kamu coba merayunya," ucapnya.


"Caranya gimana mi?" ucapnya pelan.


"Bagus sepertinya Risa percaya dengan dramaku." batin.


"Bantulah mami untuk mengetes Rey dia laki-laki normal atau tidak ya sayang dan hanya kamu yang bisa mengetesnya. Soalnya dari dulu dia tidak pernah pacaran dan dengan cara kamu memakai pakaian ini kamu bisa mengetesnya, nanti sebelum tidur kamu pakai ya?" ucapnya sambil mengambilkan pakaian tidur di dalam paper bag.


"Mi, bukankah ini sedikit terlihat transparan?" ucap Risa saat membuka paper bag.


"Nah maka dari itu kamu bisa mengetes Rey merupakan laki-laki normal atau tidak. Kamu bukannya tadi bilang mau bantu mami untuk mengetes Rey? Lagian kamu juga sudah sah secara resmi dimata agama dan hukum menjadi istrinya Rey. Apa lagi yang kamu takutkan?" ucapnya meyakinkan, padahal ia tahu anaknya normal dan tidak memiliki kelainan.


"Risa hanya takut hamil saja mi. Risa belum siap untuk menjadi mama muda di usia Risa yang baru 19 tahun dan masih berstatus mahasiswi di semester awal," ucapnya.


"Kalau kamu melakukan hal itu sama Rey juga belum tentu langsung hamil kok sayang, buktinya mami dulu sama papi dulu nikah satu tahun baru dikaruniai anak," ucapnya meyakinkan agar menantunya mau melakukannya.


"Padahal sebenarnya mami sama papi dulu juga dijodohkan dan kami mulai hubungan kami dengan pacaran terlebih dahulu setelah menikah. Baru memutuskan untuk punya anak saat kami mulai mencintai satu sama lain. Maafkan mami mu ini ya nak atas keinginan mami yang menggebu-gebu untuk mendapatkan cucu." batin.


"Baik mi," ucapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Beneran ya sayang. Usahakan nanti setelah makan malam kamu gak usah nunggu Rey sama-sama masuk ke kamar. Kamu duluan saja ya sayang. Dan jangan lupa pakai pakaian yang mami kasih," ucapnya sambil tersenyum.


Risa pun hanya menjawab anggukan.


"Yes rencana pertama berhasil, tinggal menjalankan rencana kedua. Aku akan kasih Yudha hadiah kalau sampai benar-benar cara ini berhasil untuk segera mendapatkan cucu." batin.


Risa pun lalu kembali ke kamarnya. Risa pun menggantung baju itu di gagang pintu lemarinya.


"Apa yang harus aku lakukan. Masa iya sih Rey seorang Gay? Ah iya benar kata mami aku harus membuktikannya sendiri. Apakah memang Rey seorang Gay atau tidak. Lagian aku juga tidak mau menanggung dosa yang lebih lama lagi karena belum memberikan hak kepada suamiku. Eh iya tadi kata mami di setahun pernikahannya baru dikaruniai anak. Bukankah gen orang tua juga mengalir pada tubuh Rey? Berarti ada kemungkinan satu tahun lagi aku akan punya anak." batin.


Risa pun lalu berjalan keluar kamarnya. Ia pun lalu menuju ruang keluarga, berkumpul dengan suaminya dan mertuanya. Seketika suara Bi Ijah memecahkan keheningan.


"Nyonya sudah siap makanannya," ucapnya pelan.


"Baiklah, ayo kita makan malam dulu yuk," ucapnya lalu berjalan menuju ruang makan.


Saat mereka semua sudah makan malam. Risa pun lalu pamit duluan ke kamar.


"Loh kok Risa jalan duluan sih ke kamar gak nungguin Rey," ucapnya manja sambil mendengus kesal dan memanyunkan bibirnya.


"Mungkin istri kamu kelelahan atau sudah ngantuk sayang."


Mami Ana pun lalu mengkode Bi Ijah. Bibi pun lalu membawa minuman untuk Rey.


"Sayang minumlah dulu nak, ini jamu untuk kesehatan. Tadi Risa dan mami juga sudah meminumnya di kamar mami. Habiskan ya sayang," ucapnya dengan lembut agar anaknya nurut untuk menghabiskan minumannya.


Padahal ia tadi sama Risa hanya minum teh jahe biasa, berbeda dengan yang dikasihkan ke Rey pun jamu racikan yang di beli Bi Ijah di tukang jamu. Rey pun tanpa curiga lalu menghabiskan jamu yang dibawakan Bi Ijah.


"Yes rencana kedua berhasil."


"Nak jangan lupa aktifkan mode kedap suara di kamarmu!" ucap Papi Aldi.


Rey pun hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian ia pun mulai merasakan keanehan setelah meminum jamu tersebut.


"Sepertinya ramuannya mulai bereaksi," batin Mami Ana senang.


"Rey ke kamar dulu ya Mi, Pi," ucapnya lalu berlari ke kamarnya.


"Pi semoga aja rencana kita berhasil ya kali ini."


"Iya mi, mudah-mudahan saja setelah ini bulan depan ada kabar bahagia," ucapnya sambil terkekeh.


"Ya sudah yuk mi kita ke kamar."


Rey pun sudah sampai kamarnya. Tak lupa Rey sudah mengaktifkan mode kedap suara dan mengunci pintunya. Rey pun lalu berbaring ke ranjangnya.


"Ceklek."


Risa pun keluar dari kamar mandi habis menggosok giginya. Risa pun lalu berjalan menuju ranjangnya.


Rey pun langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi. Ia pun melihat Risa berpakaian sedikit transparan pun langsung melongo dan menatapnya tajam.


"Kenapa Rey menatapku seperti itu?" batin.


"Sayang malam ini kamu terlihat seksi saat memakai pakaian itu."

__ADS_1


Risa pun langsung terbengong saat Rey mengatakan hal itu padanya.


__ADS_2