
Luna berada di ruang VVIP. Evan dan Risa malam ini memutuskan untuk tidur di ruang rumah sakit menunggu Luna sampai nanti boleh waktunya pulang. Evan tertidur sambil duduk di kursi, kepalanya diletakkan dekat dengan ranjang istrinya. Luna tersenyum melihat suaminya tertidur di sampingnya. Sedangkan Risa tertidur di sofa. Luna bahagia bisa berteman dengan Risa. Luna teringat kenangan masa lalunya yang ingin merebut Rey darinya, bukan tanpa alasan karena Papanya saat itu mengancam kalau tidak mendekati Rey maka nyawa bayinya taruhannya. Luna melakukan itu dengan terpaksa sampai saat itu Risa datang ke kantor Rey dan menampar Luna 2 kali. Luna pun sempat menampar pipi Risa waktu itu. Luna telah menyesali perbuatannya, waktu itu Risa sempat mengalami pendarahan dan kritis di rumah sakit. Bahkan Risa sampai akan kehilangan bayinya. Risa saat itu percaya bahwa Rey dan Luna memiliki hubungan. Namun Rey dengan cepat memberikan bukti bahwa Rey tidaklah bersalah. Rey akhirnya membantu Luna dan Evan agar bisa bersatu dengan solusi pernikahan. Akhirnya Evan dan Luna sekarang bahagia atas pernikahannya. Apalagi putrinya yang sudah lahir sebagai pelengkap di dalam keluarga kecilnya.
Luna meneteskan air mata saat mengingat kejadian masa lalu yang dilaluinya. Suara adzan subuh terdengar di telinga Risa. Risa mulai mengerjapkan matanya. Saat Risa telah bangun Risa melihat Luna yang sedang menangis namun menahan tangisannya agar tidak bersuara. Risa berjalan mendekati Luna dan ingin bertanya apa yang telah terjadi.
"Luna kamu kenapa menangis?" Tanya Risa penasaran.
"Risa bolehkah aku memelukmu?"
"Tentu saja Luna." Risa lalu mendekati ranjang Luna. Dengan cepat Luna langsung memeluk Risa.
"Hiks... Hiks..... Hiks.........."
Tangis Luna pecah saat memeluk Risa. Evan sebenarnya sudah bangun tapi ia berusaha untuk mendengarkan percakapan antara Risa dan Luna.
"Sudah Luna kamu jangan menangis. Ingat kamu baru saja melahirkan. Kamu butuh tenaga untuk segera pulih."
"Risa terima kasih atas semuanya. Maafkan kesalahanku di masa lalu. Aku tadi teringat masa lalu, bahkan aku terlalu jahat padamu sehingga kamu hampir saja kehilangan bayimu."
"Sudahlah Luna, aku sudah lama memaafkanmu. Yang penting sekarang bayiku baik-baik saja. Bahkan semalam aku sempat mengajaknya balapan hehehe," ucap Risa terkekeh sambil mengelus perutnya yang sudah membesar.
Luna pun setelah menangis jadi ikut tertawa mendengar ucapan Risa. Luna lalu ikut mengelus perut Risa dan mengajak bicara Baby R.
"Hallo Baby R. Kemauan kamu naik motor sport sungguh membuatku jantungan semalam. Aku takut terjadi apa-apa denganmu dan juga Mamamu. Kamu kalau sudah besar nanti mungkin ingin menjadi pembalap ya nak?" ucap Luna saat mengelus perut Risa dan Baby R meresponnya.
"Bayimu sepertinya benar-benar ingin menjadi pembalap Risa. Bahkan Baby R merespon dengan tendangannya."
"Iya Luna, tapi pasti Rey tidak akan mengizinkannya."
"Risa kamu wanita yang sungguh luar biasa baiknya. Beruntungnya Rey mendapatkan wanita sepertimu."
Mendengar kata Rey wajah Risa murung. Risa kemarin sehabis subuh meninggalkan rumah Rey. Risa saat ini begitu merindukan suaminya karena biasanya Rey begitu perhatian terhadap Risa setelah sholat subuh biasanya mereka menghabiskan waktu bersama dan bercanda dengan calon bayinya. Namun sudah 2 hari ini mereka tidak melakukannya. Risa sangat rindu dengan perhatian Rey. Risa kemudian ingat dirinya belum sholat subuh.
"Luna, aku tinggal ke mushola sebentar ya. Aku mau sholat subuh."
"Iya Risa."
Risa langsung keluar dari kamar Luna. Evan seketika mengerjapkan matanya.
"Sayang kamu sudah bangun?" Tanya Evan pura-pura tadi tertidur. Padahal mendengar semua percakapan Risa dan Luna.
"Iya sayang sudah dari tadi."
Seketika Elena menangis. Evan lalu ke arah box bayi. Evan lalu menenangkan Elena.
"Anak Papa yang cantik. Ini Papa, kamu kenapa menangis nak. Cup... cup... cup.... Sayangnya Papa jangan menangis ya," ucap Evan sambil menggendong anaknya dan berusaha untuk membuat Elena agar tidak menangis.
"Sayang, sepertinya dia haus. Berikan padaku, aku akan memberikannya asi."
Evan lalu memberikan Elena pada Luna. Evan lalu berjalan menuju mushola. Evan juga ingin menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Mushola antara laki-laki dan perempuan hanya ada pembatas gorden saja. Kebetulan musholanya sedang sepi. Jadi Evan bisa mendengarkan doa-doa yang sedang Risa dipanjatkan..
"Ya Allah aku sangat merindukan suamiku. Tapi sikapnya yang membuatku begitu muak untuk bertemu dengannya. Aku harus bagaimana Ya Allah. Saat ini aku sedang bingung, tolong tunjukkan jalanmu. Aamiin..."
__ADS_1
"Aku akan membantumu bertemu dengan Rey Risa." Batin Evan dengan senyumannya.
Risa sudah keluar dari mushola dan kembali menuju kamar dimana Luna dirawat. Saat masuk ke kamar Luna betapa terkejutnya Risa melihat Alvin sudah ada di sana.
"Om Alvin..."
"Nak Risa, maafkan kesalahan saya dimasa lalu yang memaksa Luna untuk merebut Rey darimu."
"Tidak apa-apa Om. Aku sudah melupakan semua masa laluku."
"Oh iya kamu yang membantu putriku saat ke rumah sakit bersama Evan?"
"Iya Om."
"Terima kasih nak kamu sangat baik."
Risa hanya mengangguk. Tak lama kemudian Evan masuk ke ruangan tersebut.
...*****...
Sesuai dengan janjinya. Jerry mengirimkan motor Risa tak sampai sore hari sudah datang ke rumah Rey. Tepat pukul 07:20 wib motor sport berwarna hitam keluaran terbaru tersebut sudah berada dihalaman rumahnya. Sang dealer ingin meminta tanda tangan bukti telah diterima motornya kepada orang yang dituju. Bi Ijah memanggil Rey ke ruang makan.
"Den, ada orang dealer yang mencari den Rey."
"Orang dealer?" Rey pun kaget dirinya perasaan tidak membeli motor.
"Iya den, orang dealer mengantarkan motor," ucap Bibi lalu pergi ke dapur.
"Tidak Pi. Mungkin orang itu salah alamat. Biar Rey temuin dulu ya Pi."
Papi Aldi hanya menjawab anggukan dan kembali memakan makanannya. Rey kemudian berjalan menemui orang dealer tersebut.
"Dengan mas Rey?"
"Ya saya sendiri. Tapi maaf Pak saya tidak beli motor. Mungkin Anda salah alamat. Mungkin yang Anda maksud adalah Rey yang lainnya."
"Saya tidak mungkin salah alamat mas. Ini saya hanya disuruh mengantarkan motornya ke alamat ini. Coba mas lihat ini." Sambil memberikan kertas berisikan nama dan alamat penerima motor sport tersebut.
Rey terbelalak matanya saat melihat kertas itu dengan nama orang penerimanya adalah namanya sendiri dan beserta nota penjualannya. Rey masih bingung siapa yang membeli motor sport tersebut.
"Maaf mas kalau boleh saya bertanya, siapa yang beli motor ini?"
"Tuan Jerry."
"Siapa Tuan Jerry?"
"Tuan Jerry temannya istri mas. Kata Tuan Jerry istri mas semalam menang balapan. Maka dari itu Tuan Jerry menghadiahkan motor sport untuknya."
"Apa? Menang balapan motor? Bapak semakin mengada-ada saja. Mana mungkin istri saya balapan motor, sedangkan dirinya sedang hamil 7 bulan," ucap Rey yang tidak percaya dengan omongan orang dealer suruhannya Jerry.
"Namun faktanya begitu mas. Tolong surat terimanya di tanda tangani dulu mas. Saya juga harus bekerja mas dan kembali ke dealer."
__ADS_1
Rey langsung menandatangani surat penerimanya. Orang dealer suruhan Jerry langsung pergi setelah mendapatkan tanda tangan Rey. Rey langsung mencari Bi Ijah.
"Bi Ijah... Bi...... Bibi........"
"Iya den ada apa?"
"Tolong periksa ke garasi. Motor sport Risa ada di sana atau tidak."
"Baik den."
Setelah 5 menit kemudian Bi Ijah kembali menemui Rey.
"Tidak ada den."
Rahang Rey semakin mengeras saat mengetahui bahwa Risa membawa pergi motornya dan bahkan ikut balapan motor.
"Dasar keras kepala sekali Risa ini. Arghhh..........."
Rey kembali mengacak rambutnya. Rey frustasi bagaimana bisa istrinya ikut balapan motor sport saat sedang hamil.
"Ada apa nak?" Tanya Papi Aldi.
"Risa ikut balapan motor Pi dan tadi orang dealer mengantarkan motor hadiah karena Risa menang balapan."
"Apa??" Mami Ana terkejut saat mengetahui ikut balapan motor.
"Kamu yang serius nak?" Tanya Papi Aldi.
"Iya Pi Mi. Rey serius bahkan motor Risa tidak ada di garasi."
"Kamu harus cepat mencari Risa nak. Papi takut kalau terjadi apa-apa dengannya."
"Iya Pi habis ini Rey akan mencari Risa. Tapi Rey akan menjenguk Kak Luna dulu Pi. Kak Luna sudah melahirkan. Baru aja suaminya memberi tahuku."
"Untuk apa lagi kamu berurusan dengan Keluarga Hernandez nak? Kamu tidak ingat bahwa istrimu hampir saja kehilangan bayinya karena dia."
"Pi, itu sudah masa lalu Pi. Kak Luna sebenarnya baik orangnya. Saat itu dia hanya diancam Papanya."
"Terserah kamu saja nak. Yang penting hari ini Risa harus ketemu. Menantuku hari ini harus kembali ke rumah."
"Iya Papi. Rey akan berusaha mencari dan membawa Risa pulang ke rumah."
"Kamu cepat temukan menantu kesayangan Mami ya nak. Mami rindu dengannya."
"Iya Mami siap."
Rey dengan semangat hari ini untuk mencari keberadaan istrinya. Rey yakin istrinya hari ini akan ketemu. Rey juga sudah rindu dengan istrinya dan juga anaknya.
"Kamu adalah semangat hidupku sayang. Hari ini aku yakin, aku akan bisa menemukanmu." Batin Rey dengan senyuman terukir di wajah tampannya.
Rey sudah berubah dan Rey sudah berjanji tidak akan mengabaikan istrinya lagi. Rey benar-benar tidak ingin kehilangan Risa dari hidupnya. Risa segala-galanya baginya. Risa adalah semangat hidupnya.
__ADS_1