
Elena dan Keano tak terasa pernikahannya sudah berjalan sebulan dan belum ada tanda-tanda kehadiran sang buah hatinya. Keano berjalan mendekati istrinya dan lalu memeluk Elena dari belakang. Elena terkejut saat ini. Tadi dia sedang asyik melihat bintang yang bertaburan di langit dari dalam jendela dan lalu tiba-tiba suaminya mengagetkannya dengan memeluknya dari belakang, dagu Keano kini sudah nyaman berada pada pundak istrinya.
"Sayang, kamu kok belum hamil juga ya? Padahal kita sudah menikah sebulan," ucap Keano kemudian mengusap perut Elena yang masih rata.
Elena mengernyitkan dahinya dan sepertinya Keano sudah ingin punya anak darinya. Terlihat dari Keano yang tengah mengusap perutnya saat ini.
"Keano, kita baru menikah sebulan. Aku justru bahagia jadi kita masih bisa berpacaran setelah menikah."
"Tapi aku menginginkan anak darimu sayang. Aku ingin membuktikan janjiku kepada Kak Kezia bahwa kamu bisa hamil saat anak dalam kandungannya belum lahir. Sekarang lihatlah, kandungan Kak Kezia sudah berjalan 9 bulan lebih 3 hari," ucap Keano.
"Elena, jangan-jangan diam-diam kamu sengaja menunda kehamilanmu karena kamu tidak ingin hamil sebelum lulus S2?" ucap Keano kembali dan lalu melepas pelukannya.
Elena lalu membalikkan badannya dan memegang kedua pipi Keano.
"Sayang, aku berani bersumpah tidak menunda kehamilanku. Tapi mungkin Allah belum memberi kita kepercayaan saja Keano," ucap Elena berkata dengan jujur.
"Kamu tidak sedang berbohong kan?"
"Tidak sayang, mana mungkin aku membohongi kamu dan apa untungnya untukku?"
Keano lalu menimbang-nimbang perkataan istrinya dan Keano percaya dengan istrinya. Jarak mereka begitu dekat saat ini.
"Kalau begitu kita harus lebih rajin lagi agar anak kita segera hadir dalam perutmu," ucap Keano sambil memegang perut Elena.
Elena membolakan matanya saat Keano berbicara seperti itu. Kata lebih rajin membuat Elena bergerdik ngeri. Padahal hampir setiap malam Keano selalu meminta dirinya untuk melayaninya. Karena jarak mereka sudah begitu dekat Keano langsung mengecup bibir istrinya. Elena terbuai akan perlakuan suaminya. Keano berhasil membuat Elena terbuai lalu Keano menggiring Elena sehingga sampai ke ranjangnya. Keano lalu melakukan kewajibannya sebagai seorang suami dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi.
Elena telah tertidur pulas karena terlalu lelah akibat ulah suaminya. Keano mengusap perut Elena yang masih rata.
"Aku menunggu kehadiranmu nak," ucap Keano mengecup perut Elena.
Keano lalu menyelimuti dirinya dan juga Elena. Keano tidur dengan memeluk istri tercintanya.
...*****...
Lima hari telah berlalu. Seperti biasa Elena selalu membantu Mama Sonya untuk memasak sarapan pagi. Saat mengiris bawang Elena merasakan mual dan perutnya seperti diaduk-aduk. Aroma bawang putih menusuk hidungnya dan membuatnya merasa mual.
"Hoekk........." Elena menutup mulutnya dan berjalan ke wastafel dapur.
"Hoek...... Hoekk........." Elena memuntahkan semua isi perutnya dan hanya cairan bening yang keluar dari dalam mulutnya.
Keano yang baru menuruni anak tangga. Mendengar suara orang muntah Keano lalu bergegas menuju ke dapur. Keano melihat istrinya sedang muntah-muntah dan Mamanya membantu memijat tengkuknya.
__ADS_1
"Nak, pijat tengkuk leher istrimu dan Mama akan buatkan teh hangat untuknya," ucap Sonya.
"Baik Mama," jawab Keano.
"Sayang, kita ke rumah sakit ya? Kamu muntah terus, aku khawatir kamu keracunan makanan."
Elena lalu membersihkan mulutnya dan membalikkan tubuhnya sehingga menatap wajah suaminya. Sonya memberikan teh hangat yang baru saja dia buat. Elena lalu meminum teh hangat yang dibuatkan Mama Sonya.
"Nak, sepertinya Mama akan punya cucu. Mual dan muntah di pagi hari itu sudah menjadi hal yang biasa yang dialami oleh ibu hamil," ucap Sonya menjelaskan.
"Hamil??" tanya Keano yang matanya kini berbinar-binar.
"Iya sayang seperti aku memang hamil karena aku sudah terlambat datang bulan," ucap Elena tersenyum tipis.
"Ah benarkah? Yes, akhirnya akan menjadi Papa muda," ucap Keano sambil memeluk Elena.
"Wah kamu hebat nak, bisa seperti Papa yang membuat Mamamu hamil setelah sebulan menikah," ucap Kenzo terkekeh.
"Hamil? Elena hamil?" tanya Kezia yang baru saja datang bersama Revano.
"Sepertinya begitu Kezia, soalnya aku sudah terlambat datang bulan dan tadi aku juga mual."
"Sayang, tolong ambilkan testpack yang ada di laci meja riasku Elena harus mengetesnya pagi ini."
Tak lama kemudian Keano kembali membaca alat tes kehamilan tersebut. Elena menerimanya dan lalu menggunakannya. Keano kini resah jika hasilnya akan negatif karena tak sesuai harapannya. Elena keluar dari kamar mandi dan membawa alat tes kehamilan tersebut. Raut wajah Elena seperti biasa saja. Elena ingin tahu apa reaksi suaminya saat nanti melihat hasilnya.
"Sayang, bagaimana hasilnya?" tanya Keano ingin segera tahu apakah hasilnya positif atau negatif.
Elena lalu memperlihatkan hasilnya kepada suaminya. Keano matanya terbelalak saat melihat dua garis terpampang jelas. Keano bahagia saat ini istrinya tengah mengandung anaknya, Keano akan menjadi Papa.
"Mama, lihat ini. Aku akan menjadi Papa," ucap Keano yang matanya mulai berkaca-kaca.
Sonya bahagia akan memiliki cucu.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu hamil nak," ucap Sonya.
"Kita akan punya cucu lagi," ucap Kenzo bahagia.
Keano langsung memeluk Elena. Keano bahagia istrinya hamil saat ini. Elena membalas pelukan suaminya. Elena juga bahagia akhirnya akan punya anak dari laki-laki yang dicintainya.
"Wah, kamu benar menepati janjimu padaku Keano. Elena hamil saat usia kandunganku sudah sembilan bulan," ucap Kezia sambil mengusap perutnya yang sudah membesar.
__ADS_1
Keano lalu melepaskan pelukannya.
"Iya Kak, aku kan sudah bilang istriku juga akan hamil juga saat Kakak belum waktunya melahirkan."
"Iya, dua hari lagi anakku akan brojol," ucapnya terkekeh.
Kehamilan Kezia sudah memasuki usia 9 bulan 8 hari. Tinggal menunggu waktu dua hari lagi untuk melahirkan. Perutnya sudah terlihat sedikit turun. Kezia juga sekarang sudah mulai susah tidur karena anaknya selalu bergerak aktif di malam hari. Kezia juga sudah mengalami kontraksi palsu.
"Selamat ya adik ipar, akhirnya aku akan punya keponakan," ucap Revano.
"Iya makasih, aku bahagia istriku akhirnya hamil juga," jawab Keano sambil tersenyum bahagia.
"Hahaha, aku kalah gercep sama kamu nak. Dulu aku dan Mamamu sempat bulan madu, nah kalian belum berbulan madu saja Elena sudah hamil. Wah-wah kamu memang hebat," ucap Kenzo terkekeh.
"Hehe iya Papa."
"Sayang, ini berkat kita rajin membuatnya," ucap Keano kembali yang langsung mendapat tatapan tajam dari Elena.
"Rajin?" ucap Kezia mengernyitkan dahinya.
"Keano hampir setiap hari memintaku. Bagaimana aku tidak cepat hamil?"
"Wah-wah kamu ternyata membuat menantuku lelah hampir setiap hari nak."
"Tidak apa-apa Papa yang penting Papa akan segera punya cucu dan sekarang terbukti bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil."
"Benar juga apa katamu nak."
"Sayang, kamu ingin makan apa sekarang?" tanya Keano kepada Elena karena ibu hamil biasanya ingin memakan sesuatu.
"Aku tidak ingin apa-apa saat ini. Tidak tahu kalau nanti."
"Keano, kamu harus turuti apa kemauan istrimu. Biar nanti anakmu tidak ileran," ucap Kezia.
"Kakak pasti bohong! Itu hanya mitos."
"Ya kamu coba buktikan saja, apakah mitosnya itu beneran atau tidak."
"Jangan nak, turuti saja apa kemauan istrimu. Papa saja dulu menuruti semua keinginan Mamamu," ucap Kenzo.
"Iya Papa, lagian aku tidak tega jika kemauan istriku tidak aku turuti karena istriku sudah susah payah mengandung anakku," ucap Keano sambil memegang perut Elena yang masih rata. Keano teringat saat tadi Elena muntah-muntah.
__ADS_1
Elena bahagia suaminya berbicara seperti itu. Elena bersyukur mempunyai suami seperti Keano.