
Tidak ada percakapan di dalam mobil. Evan sesekali melihat ke arah Luna. Terlihat wajahnya yang sedih dan menundukkan kepalanya sambil memegang perutnya. Evan melaju dengan cepat untuk segera sampai ke rumahnya.
"Sudah cukup kamu untuk bersedih selama ini. Sebentar lagi aku akan menggantikan rasa
sedihmu dengan kebahagiaan. Aku berjanji akan membahagiakanmu bersama dengan anak kita." batin Evan.
Evan sudah sampai di halaman rumahnya. Evan lalu menuntun Luna masuk ke dalam rumahnya. Papa Ferdinan kaget saat Luna datang dan membawa koper. Evan menyuruh Bibi untuk memasukkan koper Luna ke dalam kamarnya.
"Nak, akhirnya kamu berubah pikiran dan mau tinggal disini," ucap Papa Ferdinan.
"Nak, kenapa kamu diam saja?" tanyanya kembali.
"Luna di usir Papanya Pa. Tadi Luna sempat didorong Papanya. Untung saja tadi aku datang. Kalau tidak Luna bisa terjatuh."
Evan lalu menceritakan tentang semua pembicaraan Luna dengan Papanya dan sampai akhirnya Papa Alvin merestui hubungannya dengan Luna.
"Apa?? Jadi Papanya bicara seperti itu?"
"Iya Pa. Evan juga tidak habis pikir dengan Papanya Luna. Katanya kalau belum menikah tidak boleh kembali ke rumahnya."
"Yaudah Papa mau ke ruang kerja Papa sebentar ya. Ada berkas yang harus Papa cek sebelum. besok pagi Papa bawa ke kantor. Kamu ajak Luna untuk ke taman belakang kita yang udaranya sejuk dengan berbagai bunga sudah bermekaran," ucapnya lalu beranjak pergi.
"Iya Pa," ucapnya singkat.
"Luna kamu sudah makan?" tanya Evan dengan pelan.
Luna hanya menggelengkan kepala. Evan menggandeng Luna untuk menuju ruang makan.
...*****...
DI RUANG MAKAN
"Kamu mau makan apa?" tanyanya.
"Aku sedang ingin makan nasi goreng buatanmu. Seperti waktu itu Evan," ucapnya sambil menatap wajah Evan dengan penuh harap.
Evan tahu bahwa anaknya menginginkan nasi goreng buatannya.
"Baiklah. Aku akan membuatkan nasi goreng keinginan anak kita," ucapnya sambil mengelus perut Luna sebentar.
Luna tidak percaya bahwa Evan sekarang sifatnya sudah berubah dan jauh lebih baik.
"Kamu tungguin disini ya?" ucapnya sambil memundurkan kursi di ruang makan.
__ADS_1
Luna duduk di kursi makan sambil melihat dengan lincahnya tangan Evan memotong bahan-bahan yang akan menjadi pelengkap selain bumbu yang dihaluskan untuk nasi gorengnya. Aroma harum pun tercium di hidungnya. Luna sudah tidak sabar untuk memakan nasi goreng buatan Evan. Setelah matang Evan lalu meletakkannya di piring dan langsung diletakkan di meja makan.
"Makanlah Luna... Kamu sudah lapar dan juga anak kita menginginkan nasi goreng buatan Papanya," ucapnya sambil tersenyum.
"Enak." Luna lalu memakan nasi gorengnya dengan lahap.
Ada bekas sisa nasi goreng di bibirnya. Evan segera mengelapnya dengan tangannya.
Ferdinan baru saja dari ruang kerjanya saat mau minum ke ruang makan, ia terdiam sejenak saat melihat Evan memasukkan nasi goreng ke dalam piring untuk Luna dan tak sengaja ia melihat anaknya mengelap bekas nasi goreng di bibir Luna. Ferdinan senang ketika ada perubahan dari anaknya. Kata-kata yang pernah ia katakan dengan anaknya sudah terkabul karena Evan juga ingin menjadi ayah dan suami yang baik untuk keluarga kecilnya.
"Papa....." Evan kaget saat Papanya tiba-tiba muncul. Karena tadi Evan tahunya Papanya ke ruang kerjanya.
"Maaf Papa ganggu kalian ya? Papa cuma mau ambil minum saja kok. Papa senang kamu bisa berubah menjadi lebih baik Evan."
Luna malu saat Evan mengelap bibirnya diketahui oleh Papa Ferdinan.
"Evan ambilkan minumnya ya Pa sekalian Evan mau ambilin untuk Luna juga."
Papa Ferdinan mengangguk dan langsung minum air putih yang diberikan oleh Evan.
"Luna, habis ini kamu bisa ke taman belakang rumah. Banyak bunga bermekaran disana, udaranya juga sejuk. Bagus untuk wanita hamil sepertimu."
"Iya Om."
"Eh, Ehm Iya Pa."
Setelah meminum air putihnya. Evan meletakkan piring dan gelasnya di dapur.
Evan menggandeng Luna menuju taman belakang rumahnya. Udara yang begitu sejuk dan bunga yang bermekaran. Menikmati sore hari mereka berdua duduk di kursi taman. Mereka menikmati indahnya matahari terbenam bersama-sama.
"Yuk masuk. Sudah Adzan Magrib."
Luna pun mengikuti ajakan calon suaminya. Mereka untuk pertama kalinya melakukan sholat berjamaah bersama Papa Ferdinan di ruang khusus untuk sholat yang sudah tersedia di rumah. Setelah itu Papa Ferdinan mengajak Luna dan Evan ke ruang keluarga. Mereka akan membicarakan kelanjutan pernikahan mereka.
...*****...
DI RUANG KELUARGA
"Kalian ingin konsep pernikahannya outdoor atau indoor? tanya Ferdinan kepada Luna dan Evan.
"Saya sih terserah Evan saja Papa."
"Pa, aku punya usul. Bagaimana kalau pernikahanku digelar dengan resepsi yang sederhana saja? Uangnya bisa untuk membantu Papanya Luna yang perusahaannya saat ini terancam bangkrut."
__ADS_1
Luna terkejut mendengar ucapan Evan yang mengetahui perusahaan Papanya yang terancam bangkrut.
"Baiklah kalau begitu kita akan bantu Papanya Luna agar bisa melanjutkan pembangunan hotelnya."
"Luna apakah kamu setuju dengan ide Evan dan Papa?"
"Luna setuju Pa. Evan apakah kamu merasa keberatan atau tidak kalau aku jual apartment yang pernah kamu tinggali?"
"Tidak, kamu berhak menjualnya. Karena itu milikmu. Besok aku akan menyuruh seseorang untuk membereskan beberapa barang-barangku yang ada disana."
""Yaudah kita kembali ke pokok pembahasan tentang pernikahan. Besok kalian mulai fitting baju pengantin ya?" ucap Papa Ferdinan.
"Iya Pa," ucap Evan.
"Pa, Luna maunya gaun pengantinnya yang agak sedikit mengembang agar bisa menutupi kehamilan Luna. Aku takut bikin Papa malu kalau para tamu undangan tahu kalau Luna sedang hamil."
"Luna maafkan aku, kamu jadi seperti ini karena ulahku. Kita juga tidak bisa bikin resepsi yang mewah untuk pernikahan kita."
"Tidak apa-apa Evan, justru aku senang dengan adanya kehadiran anak kita. Hubungan kita jadi semakin dekat," ucapnya sambil mengelus perutnya.
"Harusnya aku yang berterima kasih kepada kamu dan Papa yang akan membantu investasi ke perusahaan Papaku," ucapnya kembali.
"Untuk resepsinya akan diselenggarakan dimana?"
"Kita adakan di gedung saja Pa," ucap Evan.
"Baiklah."
"Tuan, makanannya sudah siap," ucap pelayan yang masuk ke ruang tamu.
"Yaudah kalau begitu ayo kita makan malam bersama," ucap Papa Ferdinan.
Mereka makan malam bersama dengan suasana hening, hanya terdengar suara garpu dan sendok makan saja. Setelah selesai makan baru mereka berbincang-bincang.
"Sebentar, aku buatkan susu untukmu," ucapnya sambil membelai rambut panjang Luna.
Evan lalu berjalan ke dapur membuatkan susu hamil untuk Luna. Papa Ferdinan tersenyum Evan begitu perhatian dengan Luna. Setelah Luna menghabiskan susunya Papa Ferdinan berbicara dengannya.
"Luna, kamu tidur di kamar Evan ya? Evan kamu cepat antar Luna ke kamar. Ibu hamil tidak boleh tidur terlalu malam."
"Iya Pa." ucapnya bersamaan.
Evan lalu menuntun Luna pelan untuk memasuki kamarnya.
__ADS_1