
Please berikan like dulu sebelum membaca 🤗
Perlahan Kezia mengusap puncak kepala anaknya. Reva terbangun saat merasakan ada yang memegang kepalanya.
"Mama dan Papa kenapa menangis? Reva tidak apa-apa kok. Reva sudah baik-baik saja."
"Tadi kamu pendarahan nak."
"Yang penting sekarang Reva sudah tidak kenapa-kenapa Mama."
"Nak, tapi tadi Dokter bilang bahwa," perkataannya menggantung.
"Revano, stop! Jangan membuat anak kita terbebani pikirannya saat ini."
"Tapi Mama, Reva berhak tahu dengan kondisi yang sebenarnya."
"Ada apa Mama, Papa? Tolong kalian jangan sembunyikan hal sekecil apapun dariku."
"Nak, ada masalah dalam kesehatan kamu. Dokter menyarankan bahwa kamu harus segera mengugurkan kandungan kamu saat ini."
Revano tidak tega jika bilang kemungkinan nanti Reva bisa hamil lagi hanya 38% saja.
"Apa? Aku tidak mau Papa. Aku tidak mau kehilangan kedua putriku," jawab Reva yang air matanya sudah mulai menetes.
Reva memegang perutnya yang sudah membesar itu dan tidak mau kehilangan kedua bayinya. Reva akan tetap mempertahankan kandungannya apapun yang akan terjadi nantinya dia tidak peduli.
"Reva, kita gak mau kehilangan kamu sayang."
"Nak, Papa mohon kamu nurut ya kali ini apa saran Dokter. Nanti kamu bisa hamil lagi kok," bujuk Revano.
"Tidak Papa, anak-anakku harus tetap lahir. Aku rela mengorbankan nyawaku sendiri demi kedua putriku."
"Nak tapi kita gak mau kehilangan kamu," ucap Revano memeluk Reva saat ini.
Kehilangan anak kesayangannya itu hal yang tidak ingin Revano alami.
"Papa, aku ini seorang ibu dan aku tidak mau menghilangkan kedua nyawa anakku begitu saja demi kepentingan pribadi."
"Nak, tapi bahaya jika kamu tetap mempertahankan kandungan kamu. Papa dan Mama tidak sanggup untuk kehilangan kamu nak."
"Aku lebih tidak sanggup lagi jika kedua anakku tiada dan sedangkan aku masih menikmati indahnya hidup di dunia."
"Lebih baik aku mati demi anak-anakku bisa bertahan hidup. Dibandingkan aku yang hidup tapi kedua anakku tiada. Aku juga sudah tidak ada gunanya lagi Papa, suamiku telah menduakan aku disaat aku sedang hamil kedua anaknya. Rumah tanggaku sudah hancur dengan adanya orang ketiga. Hidupku sudah tidak ada artinya lagi saat ini," ucapnya kembali.
Reva hatinya hancur berkeping-keping saat ini. Cinta suaminya telah hilang semenjak dua bulan yang lalu. Dan Reva baru tahu fakta menyakitkan saat suaminya punya selingkuhan.
"Tapi nak," ucap Revano.
"Papa ini keputusanku dan aku akan tetap mempertahankan kandungan ini sampai kedua anakku lahir. Aku rela bertaruh nyawa demi mereka."
__ADS_1
Kezia tak kuasa menahan air matanya saat ini. Revano dan Kezia lalu memeluk putrinya.
"Mama, Papa, aku titip mereka misalnya aku telah tiada nanti. Sayangi mereka seperti Papa dan Mama menyayangi aku selama ini," ucapnya sambil memegang perutnya.
Reva tersenyum tipis saat merasakan tendangan kecil dari kedua anaknya. Reva semakin tidak tega jika harus menghilangkan nyawa kedua anaknya begitu saja. Reva lalu mengarahkan tangan Revano dan Kezia untuk menyentuh perutnya. Kedua anaknya begitu aktif menyapa calon kakek dan neneknya itu.
"Papa dan Mama apa tega menyuruh aku lagi untuk menghilangkan nyawa mereka? Mereka berhak untuk hidup dan mendapatkan kasih sayang meskipun nanti aku tidak bisa memberikan kasih sayang untuk mereka."
"Ini pilihan sulit bagi kami nak. Sebenarnya kami juga tidak ingin hal ini terjadi. Kami tidak ingin kehilangan kalian semua."
"Doakan Reva agar sehat selalu. Hanya keajaiban Tuhan yang kita tidak tahu nantinya yang akan terjadi Pa, Ma."
"Aku mohon tolong support Reva agar aku tidak terlalu banyak pikiran. Aku akan berusaha bertahan hidup demi kedua anakku. Aku ingin melihat mereka berdua lahir ke dunia. Aku ingin memeluknya meskipun hanya sebentar saja," ucapnya kembali.
"Kamu seorang ibu yang hebat nak. Mama saja tidak bisa seperti kamu."
"Coba Mama bayangkan, siapapun pasti akan mempertaruhkan nyawanya demi anak-anaknya dan aku juga seperti itu Mama. Apalagi aku sudah setengah tahun lamanya menunggu mereka hadir. Masa iya sekarang mereka sudah ada lalu aku menghilangkannya begitu saja. Aku seorang ibu yang mempunyai perasaan."
"Sudah sayang kamu jangan menangis lagi. Putri Mama yang cantik ini tidak boleh sedih," ucap Kezia sambil menghapus air mata Reva.
"Reva, kamu harus tetap kuat ya nak menghadapi cobaan ini."
Reva mengangguk pelan dan seketika dia ingin terbebas dan tidak ingin main kucing-kucingan sama Rio dengan bersembunyi dibalik ruang rahasia yang ada di ruang kerja Papanya.
"Aku akan menikmati hari-hari terakhirku bersama anak-anak dengan hidup yang bahagia. Papa dan Mama tolong bawa aku pergi dari Jakarta. Aku tidak ingin bertemu dengan suamiku. Yang ada hanya menyisakan luka yang cukup mendalam jika aku bertemu dengannya."
"Iya nak. Kamu ingin pergi ke mana? Kita akan selalu ada untukmu."
"Baik nak. Papa akan selalu ada untukmu sayang," ucapnya sambil mengusap kepala anaknya dengan lembut.
"Iya nak, kita akan selalu bersama kamu."
Seharusnya dalam masa sulit seperti ini Revalina butuh support dari suaminya. Jika pernikahannya baik-baik saja maka Reva akan bahagia jika pada masa sulit seperti ini ada Rio yang selalu menemaninya.
"Pa, aku ingin bercerai. Tolong bantu Reva menggugat cerai Rio. Aku ada bukti foto saat Rio berselingkuh dengan sekretarisnya."
Kezia dan Revano terkejut saat mendengarkan perkataan anaknya.
"Nak, apa kamu yakin ingin berpisah dari suami kamu?"
"Revano, ini keputusan anak kita. Kamu jangan mempengaruhi pikiran Reva."
"100% aku ingin berpisah. Nanti hak asuh anakku otomatis akan jatuh kepadaku. Nanti biar Papa dan Mama bisa merawat anak-anakku setelah aku tiada."
"Jangan berbicara seperti itu nak."
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada masa depan Mama. Aku juga ingin hidup dengan kedua putriku.Tapi apalah dayaku jika Dokter bilang hanya salah satu yang bisa terselamatkan. Aku lebih baik mengorbankan nyawaku sendiri demi anak-anak."
"Tapi kamu sekarang sedang hamil nak. Tidak bisa menggugat cerai Rio."
__ADS_1
"Kalau begitu saat aku melahirkan nanti, Papa segera urus perceraiannya. Aku tidak mau anakku jatuh dalam hak asuh keluarganya Rio jika aku telah tiada. Bisa saja nanti aku mati penasaran karena aku tidak rela anakku dibesarkan oleh Papanya yang kejam itu."
"Pa, Ma. Aku ingin nama anakku Renata dan Revita."
"Renata Surya Wijaya dan Revita Surya Wijaya, bagus tidak namanya untuk mereka?"
"Bagus sekali nak," ucap Kezia sambil menghapus air matanya.
Revano hanya menganggukkan kepalanya dan ia tidak bisa berkata apa-apa lagi karena sedih saat ini. Reva melihat perutnya yang bergerak sendiri, lalu seulas senyuman manis terlihat dari wajahnya.
"Wah kalian suka ya nak dengan nama yang Mama berikan. Sehat-sehat ya sayangnya Mama. Kalian harus lahir dengan selamat. Biarkan Mama pergi jika itu harus terjadi," ucapnya sambil mengusap perutnya.
Reva meneteskan air matanya.
"Maafkan Mama yang tidak bisa merawat dan membesarkan kalian nantinya. Tapi kalian tenang saja masih ada kakek dan nenek yang sangat baik hati dan bisa menjaga kalian."
"Aku akan bahagia nanti di alam sana jika Mama dan Papa yang merawat mereka sampai besar nanti," ucapnya kembali.
"Nak," lirihnya saat Revano tak kuasa menahan tangisannya.
"Kami akan menyayangi mereka seperti menyayangi kamu sayang," ucap Kezia.
"Makasih Papa dan Mama."
"Sama-sama sayang, sekarang saatnya kamu makan dan setelah itu minum obatnya ya," ucap Kezia sambil membenarkan anak rambut yang menutupi wajah cantik putrinya.
"Aku mau disuapin Mama."
"Baiklah sayang. Mama akan menyuapi kamu."
Setelah makan dan minum obatnya, Reva akhirnya tertidur. Kezia beranjak dari tempat duduknya dan duduk disamping suaminya. Revano tengah melamun saat ini.
"Papa," lirihnya sambil menggenggam tangan suaminya.
Kezia memberikan suaminya kekuatan untuk tetap tegar.
"Mama, apakah aku egois kalau aku tidak ingin kehilangan Reva?"
"Mama juga ingin seperti itu Papa. Tapi kita harus pilih salah satu dan Reva memutuskan untuk mempertahankan kandungannya. Mama juga sedih akan hal ini Papa."
"Kita hanya bisa berharap semoga Allah memberikan jalan yang terbaik nantinya. Aku belum sanggup jika harus kehilangan Reva, Ma."
"Mama juga tidak sanggup Papa. Kedua cucu kita nantinya tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Mamanya."
"Maafkan aku ya Mama. Gara-gara aku yang merestui hubungan antara Reva dan Rio akhirnya jadi seperti ini."
"Papa sudah jangan dibahas lagi. Mungkin memang sudah menjadi jalan takdirnya. Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Nasi sudah menjadi bubur dan tidak ada yang bisa dikembalikan seperti semula."
Kezia dan Revano saling berpelukan, menguatkan hati mereka yang tengah rapuh saat ini.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian untuk novel recehku ini ya readers love you ❤️