Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Rio Jullian


__ADS_3

Viona sedang ingin makan brownies bikinannya sendiri. Untung saja masa ngidam anaknya tidak selalu merepotkannya. Viona akan memasak hari ini. Viona Ingin memakan brownies panggang rasa coklat keju.


"Sabar ya nak. Sebentar lagi Mama akan buatkan kamu brownies," ucap Viona sambil mengusap perut.


Viona merasakan tendangan anaknya dari dalam perutnya.


"Wah, anak Mama sudah pintar bisa merespon ucapan Mama," ucapnya sambil tersenyum.


Viona lalu beranjak dari tempat duduknya dan pelan-pelan turun dari kamarnya menuju ke dapur. Viona langsung memakai celemek dan membuat brownies panggang yang sedang dia idam-idamkan dan segera ingin mendarat ke mulutnya. Sejam lebih berkutat dengan alat masak akhirnya brownies panggangnya sudah jadi. Seketika Viona ingin makan brownies ditemani oleh mantan kekasihnya. Viona lalu melepaskan celemeknya dan berjalan menuju kamarnya.


"Nak, kenapa kamu minta Papa kamu untuk datang sih?"


"Auwww....." Viona merasakan tendangan dari anaknya lagi.


"Iya sayang, Mama turutin keinginan kamu nak," ucapnya mendengus kesal dan lalu menghubungi Vino.


Vino sedang duduk di sofa dan memikirkan bagaimana caranya agar bisa kembali lagi bersama Viona. Seketika hpnya berbunyi. Mata Vino terbelalak saat melihat siapa yang meneleponnya.


"Ah, mungkin aku salah lihat." Vino lalu meletakkan hpnya kembali.


Namun seketika hpnya berbunyi lagi dan Vino langsung meraihnya. Betapa terkejutnya saat Viona yang menelepon lagi. Dengan cepat Vino menggeser tombol hijau untuk mengangkat teleponnya.


"Hallo sayang," ucap Vino.


"Vino, bisakah kamu ke rumahku?"


"Apa aku tidak salah dengar?"


"Tidak, cepatlah kemari. Aku sedang ingin makan brownies sama kamu."


"Baiklah. Aku akan segera ke rumahmu sayang. Tunggu aku sayang dan tunggu Papa ya nak."


Viona lalu menutup sambungan teleponnya.


"Sayang? Papa? Vino pikir aku mau kembali lagi bersamanya. Ini hanya karena aku sedang ngidam saja dan mungkin ini ngidamku yang terakhir," ucap Viona sambil mengusap perutnya.


Kandungan Viona sudah berjalan 9 bulan lebih 6 hari dan tinggal 4 hari lagi akan melahirkan jika menurut HPL. Sekarang Viona sedang menunggu kedatangan Vino di ruang tamu. Tak lama kemudian Vino datang dengan wajah berseri-seri.


"Hallo sayang aku datang."


"Ayo kita langsung saja ke ruang keluarga," ucap Viona dan lalu berjalan menuju ruang keluarga.

__ADS_1


"Jadi kamu sudah menganggap aku sebagai bagian dari keluarga kamu nih?" ucap Vino terkekeh.


"Vino jangan banyak protes. Aku mengajakmu kemari karena jika nanti ada tamu yang datang gimana. Apalagi kita makan brownies di ruang tamu."


"Wah, ternyata anak kita ingin Papa dan Mamanya saling bersama," ucap Vino.


Perkataan Vino memang benar jika sang anaknya dari tadi ingin Papanya datang. Sekarang Vino dan Viona sudah duduk di sofa ruang keluarga mereka menikmati brownies itu bersama-sama. Viona lega ngidamnya bisa terpenuhi.


"Viona brownies buatan kamu memang enak. Aku senang bisa merasakan brownies buatan kamu."


"Kok kamu bisa tahu kalau aku yang membuat browniesnya?"


"Tahu dong. Itu ada coklat yang masih menempel di pipimu," ucap Vino.


"Masa sih?"


"Sini aku bersihkan," ucap Vino sambil mengelap pipi Viona menggunakan tisu.


Pandangan mereka saling bertemu. Sebenarnya Vino ingin mengecup pipi Viona tapi Vino urungkan niatnya karena nanti Viona pasti akan marah. Dengan segera Viona memalingkan wajahnya ke arah lain. Saat akan beranjak dari tempat duduknya Viona merasakan ada sesuatu yang mengalir dikakinya. Viona membolakan matanya saat air ketubannya sudah pecah dan tak lama kemudian perutnya mulai terasa sakit.


"Auwww... Arghhh perutku......" Viona lalu duduk kembali di sofa tersebut sambil memegang perut buncitnya.


Vino lalu mendekati Viona.


"Aku mau melahirkan Vino! Lihatlah air ketubannya sudah pecah."


"Apa? Melahirkan?" Vino panik saat ini.


"Tolong bantu bawa aku ke rumah sakit."


Vino lalu menggendong Viona keluar dari rumahnya. Melihat majikannya akan melahirkan lalu Pak Agus membantunya. Pak Agus yang menyetir mobilnya.


"Arghhh sakit....." Keluh Viona.


"Viona sabar ya, kita akan segera sampai di rumah sakit."


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Vino menemani Viona di ruang bersalin. Vino melihat Viona dari tadi tengah mengeluh, menjerit karena mengalami kesakitan saat mau melahirkan anaknya. Vino berdoa agar Viona dilancarkan dalam melahirkan putranya.


"Pak, semangatin istrinya," ucap sang Suster.


"Sayang, semangat. Aku ada di sini bersamamu," ucap Vino sambil mengecup kening Viona.

__ADS_1


Vino menatap wajah wanita yang dicintainya yang saat ini tengah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anaknya.


"Arghhh sakit Dokter....." Teriak Viona.


"Ayo Bu sedikit lagi dan jangan berteriak nanti akan kehabisan tenaga."


Viona menuruti aba-aba sang Dokter. Viona mencengkram erat lengan Vino sampai memerah. Vino tidak masalah karena sakit yang dialaminya tidak sebanding dengan sakit yang dialami oleh Viona. Keringat dingin sudah bercucuran. Viona berusaha untuk melahirkan sang buah hatinya. Tapi Viona tidak bisa kalau tidak berteriak.


"Vinooooo.........." Teriak Viona sambil berusaha untuk melahirkan anaknya.


Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi dan Viona lega telah melahirkan putranya. Viona hanya sekilas melihat anaknya dan lalu dibawa oleh Suster untuk dibersihkan. Vino air matanya menetes saat melihat anaknya lahir. Tak bisa dibayangkan jika Vino ikut menemani Viona melahirkan. Sekarang Vino sudah menjadi Papa Muda.


"Sayang alhamdulilah, anak kita sudah lahir. Aku melihat anak kita sangat tampan sekali. Makasih ya sayang," ucap Vino sambil mengecup pipi Viona.


Viona hanya diam saja dan Vino paham jika Viona masih belum bisa menerimanya. Tapi Vino akan berusaha untuk bisa membuat Viona jatuh ke dalam pelukannya dan sepertinya anaknya yang bisa membantunya untuk kembali lagi bersama dengan Viona.


Sekarang Viona sudah dipindahkan ke ruang perawatan rawat inap kelas VIP. Viona masih terpengaruh obat bius saat melakukan penanganan tadi. Vino perlahan-lahan menggendong putranya. Vino bahagia karena jika dilihat-lihat anaknya mirip dengannya.


"Wajahmu seperti Papa waktu masih bayi nak. Itu menandakan bahwa memang kamu adalah anakku," ucap Vino sambil mengecup kening putranya dan ada rasa bahagia saat anaknya tersenyum.


"Kamu menggemaskan sekali sih nak," ucapnya kembali sambil mengecup pipinya.


Tak lama kemudian Viona tersadar. Vino lalu mendekati Viona.


"Vino, aku ingin menggendongnya," ucap Viona.


Vino lalu memberikan bayi tampan tersebut. Viona mengecup kening dan pipi putranya. Suster masuk dan ingin bertanya bayi yang barusan dilahirkan akan diberi nama siapa.


"Pak, Bu anaknya mau diberi nama siapa?" tanya sang Suster yang akan mengisi data tersebut karena hanya kurang nama sang bayi saja yang belum diisi.


Vino lalu memandang Viona karena Viona yang berhak memberikan nama untuk anaknya.


"Rio Jullian."


Sesudah Viona memberikan nama anaknya Baby Rio menangis. Viona lalu memberikan asinya untuk anaknya. Vino bahagia nama belakangnya dipakai pada nama anaknya. Suster lalu menulisnya dan menempelkan pada box bayi tersebut dan setelah itu Suster meninggalkan ruangan tersebut.


"Aku bahagia ada namaku dinama anak kita," ucap Vino tersenyum bahagia.


"Memang kamu Papanya kan? Bagaimanapun juga Rio adalah anak kamu," ucap Viona sambil memberikan asi kepada anaknya.


"Kalau aku boleh tahu kenapa kamu menamakan anak kita dengan nama Rio?"

__ADS_1


"Rio adalah nama singkatan dari namaku dan nama Revano. Bagaimanapun juga Revano pernah ada dalam kehidupanku dan ia yang menafkahi aku selama ini," jawab Viona.


Vino tersenyum kecut saat mendengar nama anaknya adalah nama singkatan dari nama Revano dan juga Viona. Namun tidak ada salahnya jika Viona menamakan anaknya dengan singkat dari nama mantan suaminya itu karena Revano sudah baik selama ini dengan Viona.


__ADS_2