
Waktu berjalan begitu cepat tak terasa kehamilan Elena sudah berjalan selama 4 bulan. Keano semakin gemas dengan pipi istrinya yang semakin terlihat chubby. Apalagi perut istrinya yang sudah mulai terlihat. Setiap hari Keano mengusap perut istrinya dan mengajak anaknya bicara. Sekarang Elena dan Keano sedang duduk di sofa kamarnya. Keano melihat perut istrinya yang semakin bertambahnya bulan semakin membesar dan ada rasa bahagia anaknya tumbuh dengan sehat dalam perut istrinya. Keano bahagia sebentar lagi akan mendapatkan gelar sebagai Papa Muda.
"Elena terimakasih ya kamu sudah mau menjadi istriku. Aku sangat bahagia sekali bisa menikah denganmu," ucap Keano sambil mengecup tangan Elena.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu sayang?" tanya Elena terheran-heran.
"Aku masih ingat saat aku akan dijodohkan dengan wanita pilihan kedua orangtuaku dan kamu menyelamatkan aku dengan menjadi pacar sementaraku dan akhirnya kita saling mengungkapkan perasaan antara satu sama lain dan menikah sampai sekarang," ucap Keano yang lalu menggenggam tangan istrinya.
Elena lalu tersenyum tipis saat mengingat semua itu. Permintaan konyol Keano waktu itu Elena turuti dan akhirnya mereka saling jatuh cinta.
"Aku kalau ingat waktu kamu meminta aku menjadi pacar pura-pura kamu awalnya aku ragu," ucap Elena sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
"Apa yang membuatmu ragu dan akhirnya kamu menerima?" tanya Keano dengan serius.
"Aku awalnya ragu karena jika aku terlalu dalam mendalami peran maka aku akan jatuh dalam pesonamu. Pada akhirnya aku benar-benar mencintai kamu Keano Leonardo," ucap Elena memegang kedua pipi suaminya.
"Sebenarnya saat pertama kali kita bertemu aku sudah memiliki perasaan sama kamu. Tapi waktu itu aku merasa tidak percaya diri karena aku merasa harus berjuang keras untuk mendapatkan wanita secantik kamu."
Memang benar Keano waktu itu mengira bahwa Elena sudah memiliki kekasih dan nyatanya belum. Betapa bahagianya waktu itu saat mengetahui Elena bahkan belum pernah berpacaran.
"Kamu juga sangat tampan suamiku. Aku sangat mencintaimu," ucap Elena tersenyum menatap wajah suaminya.
"Aku juga sangat mencintaimu."
Keano lalu mengecup kening istrinya. Keano dan Elena menyatukan kening mereka dan lalu saling berpelukan.
"Sayang, jangan terlalu erat memeluknya. Ingat ada anak kita," ucap Elena dan dengan cepat Keano lalu melepaskan pelukannya.
"Aku lupa sayang. Yang aku ingat selalu ingin bermesraan sama kamu," ucap Keano terkekeh.
"Huh, kamu ini sudah mau menjadi Papa juga masa lupa sama anak."
"Maafkan Papa ya nak. Papa jadi dimarahi sama Mamamu nih," ucap Keano lalu memegang perut Elena dan mengusapnya perlahan.
"Iya Papa," jawab Elena menirukan suara anak kecil.
Mereka lalu tertawa bersama.
"Sayang, tidak terasa ya kita menikah sudah berjalan hampir setengah tahun."
__ADS_1
"Iya ya sayang, waktu begitu cepat berlalu ya. Tak terasa sudah 5 bulan kita menikah," ucap Elena tersenyum manis dan sambil mengusap perutnya.
Elena tidak menyangka akan menjadi calon ibu secepat ini. Keano tersenyum Elena sangat menyayangi anak yang masih dalam kandungannya. Semenjak hamil Elena menjadi keibuan dan mungkin karena efek kehamilannya.
"Aku bersyukur punya istri sebaik dirimu dan kita akan segera punya anak sebentar lagi," ucap Keano sambil memegang perut istrinya.
"Aku tidak menyangka secepat ini aku akan menjadi seorang ibu sayang. Padahal dulu aku ingin menikah setelah lulus S2. Tapi nyatanya sekarang aku sudah punya suami dan sebentar lagi sudah akan punya anak."
"Kenapa? Apa kamu belum siap untuk menjadi seorang ibu?" tanya Keano sambil membenarkan anak rambut Elena.
"Bukan begitu sayang. Hanya saja yang namanya jodoh kita tidak tahu kapan akan datang. Kemarin aku ingin kita menunda untuk punya anak agar aku bisa fokus ke tesis dan kamu lebih fokus pada skripsimu."
"Tapi kamu calon ibu yang hebat sayang. Bisa mengerjakan tesis saat sedang hamil," ucap Keano memuji istrinya.
"Ah ini semua gara-gara kamu! Nanti pas wisuda perutku pasti sudah terlihat membuncit," Elena mendengus kesal.
"Aku hanya ingin membuktikan sama Kak Kezia bahwa aku bisa membuktikan bahwa kamu juga bisa hamil saat Kak Kezia masih hamil Reva dulu."
"Tapi terlalu cepat untuk kita punya anak Keano," ucap Elena mengerucutkan bibirnya.
"Kamu sudah hamil sayang dan mau gimana lagi?"
Keano lalu mengecup bibir istrinya dengan lembut.
"Apa yang lupa sih?"
"Sebulan lagi waktu kita wisuda dan kita harus foto studio. Sampai sekarang kita belum booking tempat foto studionya sayang," ucap Keano sambil menepuk jidatnya.
"Oh kirain apaan," ucap Elena dengan santainya.
"Kamu kok santai banget sih? Apa kamu tidak ingin kita berfoto bersama?" ucap Keano.
"Coba kamu lihat perutku sayang. Apa kita masih tetap akan foto studio? Perutku sudah mulai membesar nih dan bahkan mungkin saja baju kabaya yang sudah dipesan tidak akan muat aku pakai."
"Lagian kita wisuda sebulan lagi dan kandunganku sudah 5 bulan nanti saat wisuda. Duh, mana muat kebayanya."
"Kita nanti beli lagi saja sayang."
"Tapi aku suka sekali dengan model kebaya yang kita pesan."
__ADS_1
"Tapi sudah tidak muat kan sayang jika kamu pakai saat nanti kehamilan kamu sudah berjalan 5 bulan. Perut kamu sudah pasti terlihat membuncit jika dipaksakan memakai kebaya yang sudah kita pesan."
"Hmm, terserah kamu saja lah. Yang penting kita wisuda aku pakai kebaya yang kuat untuk aku pakai."
"Iya besok kita cari kebayanya saja dan jangan pesan seperti kemarin. Jadi kita dadakan saja belinya"
Elena manggut-manggut pertanda mengerti.
"Aku tidak sabar menunggu bulan depan. Karena kita akan mengetahui jenis kelamin bayi kita sayang dan kata Dokter anak kita sudah bisa menendang dalam perutmu. Aku menantikan hal itu," ucap Keano tersenyum bahagia dan sambil mengusap perut Elena.
"Tapi tubuhku semakin menggendut padahal aku baru hamil 4 bulan," ucap Elena.
Keano terkekeh dan memang benar tubuh istrinya mulai menggendut.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Hehe karena kamu semakin chubby sayang. Ih, menggemaskan sekali istriku ini," ucap Keano sambil mencubit pipi istrinya.
"Bilang saja kalau aku gendut!" Elena menatap tajam suaminya.
"Tidak sayang, kamu hanya terlihat lebih chubby." Keano kembali mencubit pipi istrinya.
"Ah bohong! Ngaku saja kalau aku gendutan kan?"
"Hmm iya," jawab Keano pasrah.
"Tuh kan? Aku harus diet sepertinya," ucap Elena sambil memutar tubuhnya pada kaca di meja riasnya.
"Jangan diet sayang. Kamu kan sedang hamil. Biarkan saja kamu makan banyak yang penting kamu dan anak kita sehat."
"Cara diet yang aman dong sayang. Aku akan tetap makan malam tapi hanya makan buah saja. Lagian kan sehat juga makan buah."
"Hmm ya sudah sayang kamu boleh makan buah saja saat malam hari."
"Makasih sayangku," ucap Elena kegirangan dan mengecup pipi Keano.
"Yang kiri belum sayang," Keano sambil menepuk pipi kirinya dengan jari telunjuknya.
"Kamu ini maunya lengkap saja."
__ADS_1
"Harus dong sayang," ucap Keano terkekeh.
Elena lalu mengecup pipi kiri suaminya sesuai perintahnya.