Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 110 - Rey Frustrasi


__ADS_3

Setelah Evan pergi ke kantornya, tinggal Risa dan Luna yang ada di rumah. Luna tadi sudah mandi, jadi sekarang sedang bersantai di sofa ruang keluarga bersama Risa. Mereka duduk dalam satu sofa dengan posisi Luna berada di kanan Risa.


"Luna kamu kan sebentar lagi lahiran, HPL kapan?"


"Seminggu lagi Risa."


"Kenapa Evan masih kerja? Bukannya seharusnya Evan sudah cuti, agar bisa menemanimu di rumah. Secara kan kandungan kamu sudah mulai turun, bisa saja sewaktu-waktu melahirkan."


"Aku yang menyuruhnya Risa agar Evan tidak terlalu lama cuti. Aku meminta Evan cutinya mulai 5 hari sebelum HPL," ucap Luna sambil mengelus perutnya yang sudah sangat besar.


Risa mengangguk mengerti. Kemudian Risa mulai menonaktifkan hpnya agar Rey tidak menghubunginya atau sahabatnya yang akan mencarinya. Karena Rey pasti bertanya dengan sahabat-sahabatnya tentang keberadaannya. Untung saja tadi Risa sudah berbicara dengan Evan dan Luna agar merahasiakan keberadaannya dari Rey.


...*****...


DI KAMAR REY


Rey mencari keberadaan istrinya dengan mata yang masih terpejam. Rey berusaha untuk meraba sebelah kanan ranjangnya dan Risa tidak ada. Rey membuka matanya, mencari Risa di kamar mandi maupun ruang ganti namun Risa benar-benar tidak ada di kamarnya. Rey berpikir mungkin Risa lagi jalan-jalan di taman belakang rumahnya atau berada di gazebo sedang minum teh. Karena kebiasaan Risa begitu kalau mulai bosan di kamarnya. Sekarang Chiko sudah kembali ke keranjangnya. Rey tadi tanya Bibi dan katanya Risa tidak ada di taman belakang. Rey berpikir Risa masih ada disekitar rumah karena Risa telah menyiapkan pakaianke kantor untuknya pagi ini. Rey belum menyadari kepergian Risa dan surat yang sudah Risa tulis di meja dekat lampu tidurnya belum Rey baca. Setelah Rey selesai mandi dan berpakaian, Rey melihat ada kertas di atas meja, kertas itu atasnya ada bolpoin. Rey penasaran dan lalu membuka kertas tersebut. Rey membacanya dengan tangan yang bergetar.


"KAMU TIDAK USAH MENCARIKU SEBELUM KAMU TAHU DIMANA LETAK KESALAHANMU. SELAMAT TINGGAL."


Isi pesan yang Risa tulis seperti itu.


"Kamu dimana sayang? Dan apa salahku yang membuatmu pergi dariku."


"Arrgghhhh......................." Rey berteriak dengan keras.


Rey mengacak-acak rambutnya saat ini. Rey frustasi, tidak tahu dimana letak kesalahannya dan Risa sudah pergi begitu saja.


"PRANK................" Rey memecahkan vas bunga yang berada di kamarnya.


Kamar Rey kebetulan terbuka dengan lebar. Mami Ana dan Papi Aldi yang berada di kamar sebelahnya mendengar Rey berteriak dan bunyi sesuatu yang pecah.


"Pi, itu Rey sama Risa kenapa?"


"Coba ayo kita lihat Mi. Papi takut mereka sedang bertengkar."


Mereka berdua lalu masuk ke dalam kamar anaknya. Mami Ana dan Papi Aldi terkejut melihat Rey penampilannya yang sudah acak-acakan di sampingnya ada vas bunga yang sudah pecah. Rey terlihat frustrasi saat ini.


"Rey, apa yang terjadi?" Tanya Papi Aldi.


"Risa Pi... Risa pergi dari rumah ini," ucap Rey dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


Mami Ana dan Papi Aldi terkejut atas kepergian menantunya dari rumahnya.


"Apa? Risa pergi dari rumah? Apa kalian bertengkar nak?" Tanya Mami Ana.


Rey menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu tidak bertengkar, kenapa Risa bisa pergi?"

__ADS_1


"Rey juga tidak tahu Pi. Risa tiba-tiba kasih ini," ucap Rey sambil memberikan kertasnya.


Papi Aldi dan Mami Ana lalu membaca surat yang Risa tinggalkan. Mata Papi Aldi membulat sempurna membaca surat yang menantunya tulis.


"Pasti kamu telah melakukan kesalahan yang membuat hatinya kecewa nak. Kamu coba ingat apa yang telah kamu lakukan?"


Rey lalu mengingat kejadian habis subuh tadi. Biasanya setelah sholat subuh, Rey selalu membacakan sholawat untuk anaknya sambil mengelus perut Risa. Sesekali Rey mengajak bicara anaknya dan kadang memberikan perhatian lebih kepada Risa dan juga anaknya. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya setiap pagi. Namun pagi ini Rey melupakan hal penting tersebut dan memilih bermain bersama Chiko dan sampai ketiduran. Itu yang menjadikan Risa pergi dari rumah ini.


"Kamu itu sudah Papi bilang perhatikan istrimu. Karena kamu telah lalai, jadi Itu salah kamu sendiri Rey."


"Ibu hamil itu sensitif nak. Kamu kan sudah pernah Papi bisa kalau kamu harus selalu perhatian dengan istri dan anakmu. Kalau bisa 24 jam kamu harus bersamanya. Tapi apa nyatanya? Dia pergi karena kelalaianmu," ucap Papi Aldi kembali.


"Mami akan coba hubungi Jeng Angel dan Karin, rumah mereka kan berdekatan siapa tahu Risa kesana."


Beberapa menit kemudian setelah Mami Ana telepon namun tidak ada hasilnya juga. Risa tidak ada di rumah orang tuanya maupun di rumah Karin.


"Kamu kemana sayang? Kenapa kamu pergi meninggalkanku," ucap Rey lirih.


"Kamu coba hubungi sahabatnya Risa. Siapa tahu Risa ada di sana."


Rey lalu mencari nomor Kenzo dan Dean untuk bertanya apakah Risa ada di rumah mereka. Rey terkejut Risa tidak ada di sana. Rey menelepon Evan tapi tidak diangkat dan Rey melihat jam pastinya Evan sedang berangkat ke kantor. Rey lalu beralih menelepon Luna. Luna juga menjawab tidak tahu keberadaan Risa karena Luna sudah janji untuk tidak mengatakan kalau Risa di rumahnya. Melihat anaknya frustasi Papi Aldi juga sedih.


"Itu karena kesalahanmu sendiri nak. Kenapa kamu mengabaikan anak dan istrimu." Batin Papi Aldi.


Papi Aldi berharap Rey akan bisa segera menemukan Risa.


...*****...


"Aduhh duh.... Auwww......." Rintih Luna sambil memegang perutnya.


"Luna kamu kenapa? Jangan-jangan kamu mau melahirkan sekarang ya? Ayo kita ke rumah sakit."


"Tidak Risa, Baby EL hanya menendang-nendang terlalu kencang di dalam perutku. Jadi perutku terasa ngilu," ucap Luna sambil mengelus perutnya yang sudah begitu membesar.


"Ngilu?" Risa lalu terbengong mendengarnya.


Luna hanya mengangguk dan wajahnya masih terus sedikit meringis. Risa lalu mencoba memegang perut Luna dan mengusapnya dengan tangan kirinya karena Luna duduk di sebelah kanannya.


"Hallo Baby EL, Nanti kalau kamu sudah lahir temani Baby R bermain ya?" ucap Risa sambil mengelus perut Luna dan Baby EL masih menendang-nendang di dalam perut Luna.


"Siap temanku," ucap Luna menirukan suara anak kecil dan tersenyum.


"Benar kata kamu Luna, bayi kamu menendangnya sangat kencang."


"Iya mungkin karena sudah 9 bulan lebih 3 hari Risa. Hampir tiap 3 atau 4 jam sekali dia menendang-nendang di perutku padahal tidak sedang aku usap-usap. Kalau di usap-usap terus dia bakalan terus menendang-nendang di perutku."


"Sesering itukah Luna?"


"Iya kamu nanti juga akan merasakannya Risa. Apalagi bayi kamu laki-laki kan?"

__ADS_1


"Iya Baby R berjenis kelamin laki-laki."


"Nah, mungkin akan lebih kencang menendang-nendang di perutmu, soalnya biasanya bayi laki-laki lebih kuat dan bobot tubuh bayinya lebih besar dibandingkan bayi perempuan pada umumnya."


"Ah iya benar kata kamu Luna. Kadang aku juga kaget saat tiba-tiba Baby R menendang-nendang padahal aku lagi enggak mengelus perutku."


"Iya kalau kandungan kamu sudah 8-9 bulan, dia akan sering bergerak berpindah posisi Risa. Waktu itu perutku agak menonjol ke kanan pas di USG dan ternyata Baby EL posisinya sedang seperti orang yang sedang bersujud."


"Ah benarkah? Subhanallah, moment paling indah kalau saat-saat seperti itu."


"Iya Risa ini fotonya. Setiap habis USG aku juga memfoto kembali di hp. Jika foto USG nya hilang kan masih ada di hp."


Risa lalu melihat foto USG Baby EL.


"Wah lucunya. Kayaknya anak kamu nanti lahirnya 3 kg lebih deh Luna. Itu perut kamu soalnya besar banget."


"Iya sepertinya begitu Risa."


"Oh iya Luna kamu ingin lahiran normal atau caesar?"


"Tergantung kondisiku Risa. Kalau aku kuat normal aku akan lahiran secara normal. Tapi kita kan gak tahu bagaimana posisi bayinya di dalam bisa lahir secara normal atau caesar. Itu nanti kita tanya dokter terlebih dahulu."


"Kalau aku pengennya normal saja Luna. Rasanya kayaknya luar biasa kalau kita bisa melahirkan secara normal," ucap Risa sambil mengelus perutnya, berharap bisa lahiran normal.


"Iya Risa aku juga pikirnya seperti itu. Oh iya aku harus masak Risa. Aku akan membawakan Evan makan siang nanti."


"Hah? Kamu sering ke kantornya Evan?"


"Baru 2 bulanan ini sih aku mengantar makan siang untuk Evan. Sekalian cek juga Risa."


"Cek apa Luna?" tanya Risa yang bingung.


"Ya siapa tahu aja suamiku digoda pelakor. Memang kamu gak pernah ke kantor Rey gitu bawain makan siang untuknya?"


Risa menggelengkan kepalanya. Karena cuma kadang saat ada jam kosong kuliahnya Risa ke kantor Rey dan mengajaknya makan bersama.


"Risa kamu itu gimana sih? Nanti Rey kalau di goda pelakor gimana?"


Risa tersenyum kecut mendengarnya. Karena Luna juga pernah ke kantornya Rey saat itu saat Luna masih terpengaruh dengan perkataan ayahnya. Namun setelah itu Luna sudah berubah total. Dia kembali menjadi orang yang baik setelah menikah dengan Evan.


"Aku kan kuliah Luna dan aku jarang ke kantornya Rey. Pernah sih waktu aku ada mata kuliah kosong aku ke kantornya untuk mengajaknya makan siang cuma baru 4 atau 5 kali saja selama ini."


"Kamu harus sering ke kantornya Rey Risa. Aku sih yakin Rey bakal setia sama kamu. Tapi kita kan tidak tahu jika suatu saat nanti Rey bisa tergoda. Kamu jangan terlalu galak sama Rey. Rey pernah cerita sama Evan kalau kamu selama hamil jadi galak banget."


"Apa Rey sampai curhat ke Evan?"


"Iya Risa. Makanya kamu jangan galak-galak ya sama Rey. Nanti malah merugikan diri kamu sendiri."


"Baiklah Luna aku akan berusaha untuk tidak terlalu galak dengan Rey."

__ADS_1


Luna lalu tersenyum ke arah Risa. Luna lalu menuju dapur untuk memasak makan siang untuk suaminya tak lupa Risa membantunya masak. Luna dan Risa tidak menyangka akan bisa seakrab ini. Mereka dulu bahkan bermusuhan karena Luna di ancam dan Luna di minta Papanya agar bisa merebut Rey. Sampai akhirnya Risa kritis dan pendarahan. Waktu itu hampir saja dulu Risa kehilangan bayinya. Risa sudah memaafkan Luna atas kesalahan di masa lalunya. Semua ini berkat Rey juga yang akhirnya bisa membuka hati Evan untuk menikahi Luna dan sekarang Evan dan Luna bahagia menjalankan kehidupan rumah tangganya. Luna sangat berterima kasih dengan Rey yang akhirnya bisa membantunya bersama Evan.


__ADS_2