
"Eh bro lu beruntung banget sih bisa dapatin bidadari sekolah kita. Makin cantik aja ka Risa setelah lulus SMA dan katanya ka Risa sekarang jadi model ya?" ucap Rendy sambil tersenyum.
"Eh iya," Risa pun hanya menjawab dengan anggukan. Dia bingung harus menjawab bagaimana. Kalau Risa tanggapin pasti Rey akan marah seperti kemarin aja hanya foto buat cover majalah sama cowok lain aja ngambek.
Mendengar perkataan itu Rey geram sifat Rendy yang sok kenal sok dekat (SKSD) terhadap Risa.
Pacar Rendy pun langsung mencubit perut Rendy.
"Auwww sakit beb, kenapa kamu tega sih cubit perut aku," ucapnya sambil mengusap perutnya yang dicubit.
"Habis kamu genit. Udah tau ada pacarnya malah memuji calon istri temannya sendiri," kata pacarnya Rendy sambil manyun.
"Emang dia nya aja yang playboy. Semua wanita di bilang cantik. Kamu baru tahu ya kalau sifat Rendy seperti itu," ucap Dion dengan penuh penekanan.
Mendengar perkataan Dion, Rendy pun langsung menatap tajam ke arah Dion. Dion yang ditatap Rendy pun mengerti, akhirnya buka suara.
"Hehe bercanda bro!," ucapnya sambil tersenyum dan menepuk pundak Rendy.
"Maaf beb, tapi emang kenyataannya begitu. Kamu jangan marah ya beb sama aku. Nanti habis ini kita shopping yuk," ucap Rendy yang merayu pacarnya.
"Baiklah beneran ya, habis ini kita shopping," ucapnya dengan nada yang lembut dan wajahnya sudah ceria kembali. Pacar Rendy memang suka berbelanja.
"Iya beb," ucapnya kembali.
Rey pun hanya geleng-geleng kepala. Sikap temannya yang playboy itu benar-benar bisa meluluhkan hati pacarnya saat itu juga. Berbeda dengan Rey yang bingung harus cari cara dulu sampai berhari-hari untuk meluluhkan hatinya Risa.
Akhirnya setelah itu mereka berfoto bersama secara bergantian. Rey berfoto dengan keluarganya, lalu berfoto juga dengan sahabatnya.
"Eh bro, gue duluan ya. Gue mau ke mall sama cewek gue," ucap Rendy kepada Dion dan Rey.
"Iya kamu hati-hati ya Ren," ucap Rey.
"Yoi bro!" ucapnya singkat.
__ADS_1
"Ya sudah sana kalau mau pergi ya pergi aja gak usah pamer kalau mau ngedate," ucap Dion kesal.
"Eh bro makanya cepat cari pacar. Semangat dong! Tuh Rey aja udah mau nikah, gue juga udah punya pacar. Tinggal lu doang dari kita yang belum dapat pasangan," ucapnya sambil tersenyum dan merangkul Dion.
"Ya doain gue ajalah, biar cepat ketemu sama jodoh gue," ucapnya sambil tersenyum.
"Ya mudah-mudahan lu cepat ketemu dengan jodoh lu, gue jalan dulu ya bye-bye, Om dan Tante saya duluan ya," ucapnya sambil melambaikan tangannya dan lalu menggandeng pacarnya. Kedua orang tua Rendy lagi ada bisnis di luar negeri jadi hanya pacarnya saja yang datang di wisudanya.
Orang tua Risa dan Rey pun juga melambaikan tangannya ke arah Rendy.
"Saya permisi dulu ya Om dan Tante," ucapnya berpamitan. Lalu Dion mencari orang tuanya yang sedang duduk di sebelah tempat parkir yang menunggunya.
"Iya hati-hati nak," ucap Papi Aldi.
Dion pun hanya mengangguk.
Setelah itu mereka akhirnya memutuskan untuk makan bersama di restoran milik Keluarga Wijaya.
"Gimana Al, semuanya sudah siap?" tanya Kevin.
"Bagus deh kalau semuanya sudah dipersiapkan," ucap Kevin. Tapi ia masih terasa cemas kalau nanti Luna dan Alvin akan datang mengacaukan acara resepsinya.
"Say malam ini kita tidur di rumah Mama dan Papa ya," ucapnya dengan penuh harap.
"Iya sayang, kita akan tidur di rumah Mama Angel dan Papa Kevin," ucapnya sambil tersenyum.
Risa pun senang tidak ada penolakan dari Rey. Ia pun bersyukur punya suami yang pengertian seperti Rey.
*****
DI TEMPAT LAIN
"Bagus Luna pertahanan posisi seperti itu ya," ucap sang fotografer yang sedang memotret Luna.
__ADS_1
Luna sedang sibuk dengan kegiatan pemotretannya. Ia pun sejenak melupakan ancaman perkataan Pak Aldi papanya Rey. Luna pun senang kehamilannya belum diketahui oleh pihak agency nya karena perut Luna belum terlalu kelihatan menonjol, kehamilannya sekarang sudah memasuki usia 2 bulan dan juga Luna sengaja berpakaian yang sedikit longgar agar menutupi kehamilannya. Pihak agency tidak memperbolehkan modelnya untuk menikah apalagi hamil. Terkadang Luna juga mual di tempat pemotretan. Dia beralasan punya penyakit magh untuk menutupi kehamilannya.
Luna sangat pintar untuk menutupi kehamilannya, sehingga pihak agency belum mengetahui keadaan Luna yang sebenarnya. Luna pun sudah memutuskan kalau perutnya sudah mulai terlihat membuncit ia akan segera resign dari dunia permodelannya. Luna akan meminta Rey untuk bertanggungjawab atas kehamilannya dengan foto bersama Rey yang akan ia jadikan sebagai senjatanya. Meskipun Rey bukan ayah dari bayi yang ia kandung, tapi Luna tetap akan menjadikan Rey sebagai suaminya. Itu juga atas perintah ayahnya karena ingin menjadikan Rey menantunya. Luna pun juga menginginkan Rey karena Luna sudah menaruh hatinya untuk Rey dengan sifatnya yang lembut dan penuh perhatian.
*****
Semenjak Evan mengetahui Luna hamil anaknya dia memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai fotografer, karena tidak ingin bertemu dengan Luna di lokasi pemotretan. Tadinya Evan adalah seorang fotografer di tempat agency Luna. Awal bertemunya mereka disitu, mereka saling berkenalan dan merasa nyaman akhirnya mereka memutuskan untuk berpacaran dan sudah berjalan 1 tahun belakangan ini.
Evan sebenarnya tidak ingin meninggalkan Luna begitu saja kalau dia mau menggugurkan kandungannya. Tapi karena sifat keras Luna yang ingin tetap mempertahankan kandungannya membuat Evan tidak mau lagi menjalin hubungan dengan Luna. Orang tua Evan pun tidak tahu kalau Evan sebenarnya sudah menghamili anak orang, karena Evan tinggal di apartment yang dibelikan Luna. Sekarang Evan sudah bekerja di salah satu perkantoran di dekat kampusnya.
Ketika malam Evan ingin sekali memakan martabak manis. Evan pun tidak tahu kenapa dirinya ingin sekali memakan martabak manis tersebut. Lalu Evan pun keluar dari apartment dan mencari penjual martabak yang masih buka. Meskipun malam ini sudah menunjukkan pukul 22:38 tapi Evan tetap pergi mencari martabak yang ia inginkan. Setelah mencari orang yang jual martabak yang masih buka Evan pun lalu memesan 2 menu martabak.
"Bang saya pesan martabak manisnya 2 ya, rasa coklat kacang sama coklat keju," ucapnya seraya menunggu di kursi yang telah disediakan.
"Iya mas, wah sebenarnya saya sudah mau tutup loh mas. Mas pengunjung terakhir saya," ucap sang penjual martabak.
"Saya bingung mas mau cari kemana lagi martabaknya. Saya lagi ingin sekali makan martabak manis. Semuanya sudah tutup tinggal mas yang buka," ucapnya menjelaskan.
"Wah mas sepertinya lagi ngidam ya. Istri mas sudah hamil berapa bulan?" ucap sang penjual martabak sambil memasak martabak pesanannya.
Seketika Evan pun terbengong saat penjual martabak bilang dia nyidam. Ia kembali teringat dengan Luna yang tetap mempertahankan kandungannya.
"Loh mas kok malah bengong. Istri mas hamilnya sudah berapa bulan?" tanyanya lagi.
"2 bulan mas," ucap Evan ia tadi bengong sambil menghitung berapa bulan Luna mengandung. Dan terakhir bertemu Luna usia kandungannya 5 minggu dan sudah 1 bulan ia tidak bertemu Luna.
"Oh, mas harus selalu ada disampingnya. Saat-saat begini istri mas sering mual dan pusing di pagi hari, belum lagi kalau istri mas ngidam harus dituruti ya mas, biar anaknya gak ileran," ucap sang penjual martabak.
Evan pun hanya terdiam. Setelah membayar martabak Evan pun langsung kembali ke apartment nya. Ia pun langsung menyantap martabaknya. Evan pun terheran padahal ia tak begitu menyukai martabak. Namun saat ini ia makan 2 bungkus martabak manis yang ada didepannya pun sudah ludes habis tak tersisa.
"Mungkin yang dikatakan penjual martabak itu benar, aku lagi ngidam."
Lalu ia mencari tahu lewat beberapa artikel dari internet dan benar saja jika suami bisa mengalami nyidam juga dari artikel yang ia baca.
__ADS_1
"Luna gimana keadaannya sekarang ya, apa dia mengalami ngidam juga," ucapnya lalu ia teringat dengan dokter muda yang pernah bicara dengannya kalau ia harus bertanggungjawab menikahi Luna dan menjadi ayah yang baik.