
Saat akan pulang ke apartment Revano melihat toko bunga di seberang jalan. Revano ingin bersikap romantis seperti layaknya suami lainnya. Dirinya lalu keluar dari mobil dan akan memilih bunga untuk istri yang dicintainya.
"Mbak, mau beli bunga."
"Bunga apa Mas?"
"Saya bingung mau beli bunga yang mana. Begini saja deh Mbak bunga yang biasa disukai wanita bunga apa saja?"
"Tergantung sih Mas. Tapi kebanyakan pada suka bunga mawar."
"Ya sudah saya mau beli bunga mawar saja Mbak. Yang banyak ya satu buketnya."
"Iya Mas. Mau bunga mawar yang mana?"
"Aduh saya bingung juga. Biasanya perempuan suka bunga mawar apa sih Mbak?"
"Mawar merah sama mawar merah muda. Tapi kadang ada yang suka dengan mawar putih juga sih. Silakan dipilih Mas mau bunga mawar yang mana?"
"Mawar merah saja deh Mbak. Biar seperti yang lainnya."
"Ok, saya rangkai dulu ya Mas."
Penjual bunga itu sedang merangkai bunganya. Karena kepo dia ingin tahu untuk siapa bunga mawar merah sebanyak ini.
"Kalau boleh tau mau dikasih ke pacarnya ya Mas? Atau buat nembak gebetannya Mas?"
"Bukan Mbak. Ini buat istri saya."
"Wah, Masnya ternyata romantis ya. Saya tidak menyangka loh kalau Masnya sudah punya istri. Habisnya masih terlihat muda."
"Hehe Mbaknya bisa saja."
"Saya bonus satu bunga ya Mas. Biar istrinya semakin cinta."
"Aku juga berharap seperti itu Mbak. Ini aku sedang berusaha untuk membuat istriku jatuh cinta kepadaku." Batin Revano.
"Terima kasih banyak Mbak. Jadi berapa total semuanya?"
"Seratus lima puluh ribu Mas."
Buket bunganya besar jadi mahal harganya.
"Ini Mbak." Menyerahkan uang yang pas.
"Terima kasih ya Mas. Saya doakan Mas dan istri Mas selalu bahagia bersama anak-anak Mas."
"Saya belum punya anak Mbak. Saya baru menikah 3 bulan."
"Oh gitu. Mudah-mudahan saja segera dikaruniai anak yang lucu-lucu seperti Masnya."
"Aamiin... Terima kasih ya Mbak atas doanya."
"Sama-sama Mas."
"Saya pamit pulang dulu."
"Iya Mas hati-hati. Semoga istrinya suka dengan bunganya."
Revano hanya tersenyum dan lalu meninggalkan toko bunga tersebut.
__ADS_1
Revano lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Semoga saja dia suka. Dan tidak akan membenci diriku lagi." Sambil menghirup aroma bunga mawar merah tersebut.
Revano lalu melihat ke arah jam tangan.
"Masih jam segini. Kezia berarti masih di butik. Aku samperin ke tokonya saja lah biar surprise."
Revano lalu melajukan mobilnya ke arah butik milik Kezia.
Di butik Kezia sedang marah-marah dengan karyawannya.
"Kalian ini gimana sih? Pengunjung kita jadi kabur kan?"
"Maaf Nona. Saya tadi tidak sengaja menabraknya sampai terjatuh."
Semua karyawan Kezia memanggilnya Nona. Sangat tidak sopan sekali jika memanggilnya Mbak atau hanya nama saja karena Kezia yang masih muda.
"Pokoknya saya tidak mau tahu. Gaji kamu saya potong 20%. Aku rugi pelanggan butik itu lalu menjelekkannya butikku ke teman-teman lainnya."
"Ampuni saya Nona. Saya tidak sengaja. Tolong jangan potong gaji saya. Suami saya sedang sakit, gaji saya buat berobat suami saya."
"Aku tidak peduli dengan suami kamu. Suamiku sendiri saja aku tidak peduli dengannya."
"Sayang................" Revano dari tadi mendengarkan pembicaraan Kezia dengan karyawannya.
Kezia menoleh melihat siapa yang datang dan ternyata suaminya. Meskipun hatinya sangat sakit tadi Kezia berbicara seperti itu, namun Revano tetap menampilkan senyuman manisnya seolah-olah tidak mendengar percakapan di antara mereka. Melihat suami dari pemilik butiknya datang. Pelayan tersebut lalu pergi untuk ke belakang. Menata baju dan gaun yang belum terpajang di depan.
"Mau apa kamu kemari?"
Revano masih menyembunyikan bunga mawarnya di belakang tubuhnya.
Revano lalu berjongkok dan memberikan sebuket bunga mawar merah yang besar tersebut.
Kezia melongo sikap Revano sangatlah romantis. Tapi yang Kezia inginkan seperti ini adalah Reno bukan Revano.
"Sayang, terimalah bunga ini sebagai tanda permintaan maafku."
Kezia menerima bunga tersebut. Revano lalu tersenyum saat melihat istrinya mau menerima sebuket bunga mawar merah tersebut. Tapi tak disangka ternyata Kezia lalu melemparkan sebuket bunga mawar tersebut ke lantai dan lalu menginjaknya hingga bunganya rusak.
"Beberapa kali kamu mau meminta maaf sama aku. Tapi aku tidak akan pernah memaafkan kamu. Semuanya sudah terlambat. Kejadian kemarin masih terngiang-ngiang dalam pikiranku. Aku tidak bisa melupakan semuanya. Kamu tidak bisa mengembalikan keadaanku seperti semula."
"Maafkan aku sayang. Aku memang salah. Aku minta maaf." Revano kini sudah bersimpuh di kakinya.
Para karyawan lainnya melihatnya kasihan dengan Revano.
"Pergi kamu dari sini... Aku tidak mau melihatmu lagi. Bila perlu kamu pergi menjauh dari hidupku. Pergilah untuk selama-lamanya!" ucapnya lalu berjalan menuju ke ruangan pribadinya.
"Baiklah, jika itu maumu aku akan pergi dari hidupmu." Revano sambil berdiri kembali dan melihat istrinya yang sudah menjauh.
"Apa kalian lihat-lihat? Apa kalian ingin aku pecat?"
"Tidak Nona. Maafkan kami." Beberapa pegawai toko tersebut takut dengan bos-nya.
"BRAKKK............" Kezia membanting pintunya.
Beberapa pegawainya lalu mendekati Tuan Mudanya.
"Tuan Muda, Nona sedang marah besar karena ada teman kami yang melakukan kesalahan."
__ADS_1
"Saya tahu saya mendengarkan semua pembicaraannya tadi. Lalu berapa gaji teman kalian yang di potong?"
Pegawai tersebut lalu menyebutkan berapa rupiah yang gaji temannya dipotong.
"Ini kartu namaku. Nanti suruh teman kamu itu untuk WhatsApp saya. Nanti saya akan mengganti uang yang istri saya potong gajinya."
"Baik Tuan, teman saya pasti akan sangat berterima kasih kepada Tuan Muda."
"Tuan yang sabar ya menghadapi Nona."
"Sudah biasa dia seperti itu. Baiklah saya pergi dulu."
"Iya Tuan hati-hati."
Revano mengangguk dan pergi dari butik istrinya. Pegawai tersebut lalu membersihkan bunga yang sudah rusak.
"Masih ada bunga yang bagus. Lebih baik buat penghias butik ini saja."
Lalu pegawai toko tersebut memilih bunga yang masih bagus dan segar untuk diletakkan disebelah kasir. Karyawan tersebut mengganti vas bunga plastik menjadi bunga asli dari Revano yang masih bagus. Para pengunjung lebih suka dengan bunga mawar yang segar.
"Wah, bunganya diganti dengan yang asli ya Mbak?"
"Iya Bu. Itu tadi Tuan Muda yang membawanya."
"Wah romantis sekali ya. Saya jadi akan sering beli disini."
Pegawai toko butik tersebut bahagia. Bunga mawar merah tadi yang dibuang sia-sia ternyata membawa berkah untuk butiknya.
Temannya tadi lalu memberikan kartu nama Revano.
"Apa? Tuan Muda akan mengganti uang gajiku yang di potong?"
"Iya, kamu bicaranya jangan keras-keras. Nanti Nona mendengar. Sebaiknya kamu segera menghubungi nomor Tuan Muda yang ada di kartu nama tersebut."
Pegawai tersebut lalu mengetik nomor telepon Revano.
"Ternyata Tuan Muda seorang model terkenal itu." Saat melihat kartu nama Revano.
"Iya, aku juga tidak menyangka. Tapi mengapa Nona muda membencinya. Bahkan dia tadi menginjak buket bunga mawar pemberian Tuan Muda."
"Keterlaluan sekali Nona Kezia. Padahal sepertinya Tuan Muda sangat tulus mencintainya."
"Iya mudah-mudahan Tuan Muda bahagia dengan perempuan lain."
"Maksud kamu apa?" Masih belum paham perkataan temannya.
"Nona Kezia tidak mau memaafkannya. Nona tidak mau bertemu Tuan Muda untuk selama-lamanya. Aku yakin setelah ini Tuan Muda akan pergi dari hidup Nona Kezia."
"Iya aku juga setuju. Tuan Muda sangat baik. Tidak cocok dirinya dengan Nona Kezia."
"Sudah-sudah kita berkerja lagi. Nanti kalau Nona Kezia tahu kita membicarakannya. Bisa-bisa kita dipecat hari ini juga."
"Iya benar juga. Ayo kita kembali bekerja."
Karyawan tadi yang akan dipotong gajinya merasa bersyukur karena Revano akan mengembalikan uangnya. Jadi gajinya tidak akan terpotong bulan ini.
Revano masih termenung di dalam mobilnya.
"Aku tidak boleh menyerah. Aku akan mencoba untuk bertahan sampai ujian akhir semester ini. Jika dia tidak berubah juga dan tidak mau memaafkan diriku, aku akan pergi ke Korea."
__ADS_1
Revano sudah membulatkan niatnya. Jika Kezia masih saja terus seperti ini, Revano akan pindah kuliah ke Korea dan memulai kembali hidupnya yang baru. Karena istrinya sudah tidak menginginkannya lagi. Jadi untuk apa dirinya masih bertahan. Jika ujung-ujungnya akan sakit hati juga karena perpisahannya sudah ada di depan mata. Revano lalu melajukan mobilnya ke arah apartment.