
Keano mengirimkan WhatsApp kepada Elena. Keano bilang besok pagi akan menjemputnya sekaligus memperkenalkannya pada kedua orangtuanya. Elena menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Elena tidak habis pikir besok akan bertemu dengan kedua orangtuanya Keano. Elena menatap langit-langit kamarnya.
"Ah, kok rasanya aku deg-degan gini ya pas Keano akan memperkenalkan aku dengan kedua orangtuanya."
Elena lalu kepikiran kalau dia belum berganti pakaian dan menggosok gigi. Elena beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke kamar mandi. Setelah itu Elena berganti dengan piyamanya.
"Besok pagi jam 10 Keano akan datang. Duh, pasti nanti Papa dan Mama memberikan pertanyaan yang aneh-aneh jika bertemu dengan Keano."
Elena berpikiran bahwa jika Keano besok akan bertemu dengan Papa dan Mamanya saat menjemputnya. Papa dan Mamanya pasti akan bertanya kapan akan melamarnya. Padahal mereka hanya pura-pura berpacaran agar Keano tidak dijodohkan.
...*****...
Di kamarnya Keano sedang menatap layar hpnya. Tadi diam-diam Keano memfoto Elena saat sedang makan. Keano tersenyum tipis saat melihat hasil jepretannya.
"Lucu juga jika kamu seperti ini," ucap Keano sambil terkekeh.
"Eh? Apa aku benar-benar menyukainya? Ah, tidak-tidak aku pasti akan diledekin sama Kakak jika pasanganku usianya lebih tua dariku."
Keano berpikiran bahwa saat ini dirinya terkena karma atas perkataannya sendiri. Saat itu dirinya meledek Revano yang mempunyai istri lebih tua usianya dari Revano yaitu Kakaknya sendiri Kezia. Sekarang ia juga terjebak dalam cinta beda usia.
"Tapi Elena memiliki pesona yang tidak biasa. Dia agak cuek sama aku, tidak seperti perempuan lainnya yang selalu mengejar aku saat di kampus."
"Dia sepertinya gadis yang menarik," ucap Keano sambil tersenyum tipis.
Keano lalu memilih untuk tidur. Besok pagi ia harus menjemput Elena dan memperkenalkannya pada kedua orangtuanya.
...*****...
Pagi hari mereka sudah selesai sarapan. Mereka seperti biasa berkumpul di ruang keluarga. Sonya dan Kenzo melihat anaknya berpakaian rapi saat ini. Tidak biasanya di hari minggu Keano sudah berpakaian dengan rapi sampai tercium bau parfumnya.
"Nak, kamu mau kemana?" tanya Sonya.
"Mau menjemput pacarku Mama."
"Ah, yang benar?" tanya Kenzo.
"Iya Papa, pacarku sangat cantik. Nanti Mama dan Papa pasti suka kalau sudah bertemu dengannya." Keano sambil mengecup punggung tangan Mama Sonya dan Papa Kenzo secara bergantian.
"Hmm, ya sudah kamu hati-hati ya nyetir mobilnya."
"Iya Papa."
"Jangan ngebut-ngebut ya sayang," ucap Mama Sonya.
"Ok Mama..." Keano menyatukan jari telunjuknya dengan jempolnya sehingga membentuk huruf ok.
Sekarang Keano sudah keluar dari rumahnya dan menuju ke mobilnya. Keano melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Di kamarnya Elena memakai dress di bawah lutut. Elena memilih dress berwarna biru muda tersebut. Elena sudah berdandan tipis agar terlihat lebih fresh.
"Wah, anak Mama cantik sekali. Mau kemana nak?" tanya Luna sambil mendekati anaknya.
"Eh? Mama... Ini aku akan bertemu dengan Keano."
"Oh jadi nama pacar kamu Keano nak."
Elena hanya menganggukkan kepalanya.
"Nama panjangnya siapa sayang?" tanya Luna penasaran.
Luna ingin tahu nama panjang pacar anaknya. Karena biasanya nama belakangnya adalah nama marga atau nama keluarganya. Jadi biar bisa cepat untuk menyelidiki siapa Keano itu sebenarnya.
"Waduh, aku gak tahu lagi nama panjangnya. Ya Tuhan kenapa Mama harus tanya nama panjangnya segala sih." Batin. Elena.
"Nama panjangnya adalah....." Belum meneruskan perkataannya sang Bibi masuk ke kamar Elena.
Bibi tergopoh-gopoh masuk ke kamar Elena. "Nyonya, Nona ada tamu," ucap Bibi.
"Siapa tamunya Bi?" tanya Luna.
"Katanya pacarnya Non Elena."
"Untung saja ada Bibi. Hampir saja aku bilang kalau aku tidak tahu nama pacarku sendiri." Batin Elena merasa lega.
"Eh? Iya ayo Mama." Elena lalu meraih tasnya.
Elena berjalan turun dari lantai dua kamarnya bersama Mamanya. Keano seketika terpesona dengan penampilan Elena yang terlihat begitu anggun memakai dress berwarna biru muda tersebut. Keano lalu meletakkan cangkir teh yang baru saja ia minum.
"Mama, kenalkan ini pacarku Keano."
Keano beranjak dari tempat duduknya dan tersenyum.
"Keano Tante," sambil mengecup punggung tangan Luna.
"Anak yang sopan santun dan ganteng sekali pacar anakku ini." Batin Luna merasa senang seperti ekspektasinya kalau pacar Elena itu anak yang baik.
Evan tiba-tiba datang. Keano langsung mengecup punggung tangan Evan.
"Kamu beneran pacar anakku?"
"Eh, iya Om," ucap Keano sedikit gugup.
"Nama panjangmu siapa nak?" tanya Evan penasaran.
"Keano Leonardo," jawabnya.
__ADS_1
"Aku harus segera menyelidikinya. Ternyata Keano dari keluarga Leonardo. Sepertinya aku pernah mendengar Keluarga Leonardo, tapi siapa ya?" Batin Evan yang seketika bingung.
"Santai saja nak, jangan gugup seperti itu."
"Duduklah nak," ucap Luna.
Keano lalu duduk, Evan akan mengintrogasi Keano.
"Jadi sejak kapan kalian mulai berpacaran?" Evan akan mengetes kejujuran Elena dengan bertanya dengan Keano.
"Baru jadian semalam Om."
"Berarti Elena tidak berbohong akan perkataannya. Keano juga anak yang jujur dan sopan santun. Tinggal aku harus mencari tahu latar belakang keluarganya." Batin Evan.
"Kamu pernah pacaran berapa kali nak?"
"Saya belum pernah berpacaran Tante," jawab Keano berkata jujur.
"Tuh kan, Mama dan Papa pasti ingin tahu dengan detail mengenai Keano." Batin Elena yang sekarang merasa tidak enak dengan Keano.
"Yang benar saja nak? Wajahmu sangat tampan, aku tidak percaya kalau kamu belum pernah berpacaran."
"Saya merasa dikejar-kejar oleh teman-teman kampus Om. Saya merasa risih dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak mau berpacaran."
"Tetapi kenapa sekarang kamu berpacaran dengan anakku?"
Elena terkejut saat Papanya bertanya seperti itu.
"Karena Elena wanita yang berbeda Om. Elena wanita yang menarik menurut saya. Elena bersikap cuek dengan saya dan tidak seperti perempuan lainnya yang mengejar-ngejar saya," jawab Keano yang diakhiri dengan senyuman manisnya.
"Ternyata kamu hanya tertarik saja dengan anakku. Aku tidak tahu kalau kamu benar-benar mencintai Elena atau tidak."
"Kami saling mencintai," jawab Keano dan Elena bersamaan.
"Ternyata mereka saling mencintai. Itu hal yang bagus. Mudah-mudahan saja Keano akan segera melamar Elena." Batin Luna.
Elena dan Keano saling melirik dan lalu tersenyum. Sedangkan Evan dan Luna lega dengan jawaban Elena dan juga Keano.
"Aktingnya bagus juga. Bisa meyakinkan Papa dan Mama." Batin Elena.
"Jika kalian saling mencintai. Lalu kapan kamu akan melamar anakku?" Tanya Evan.
"Ini saya baru mau memperkenalkan Elena dengan kedua orangtua saya Om," jawab Keano.
"Bagus nak. Setelah itu kamu harus berbicara dengan kedua orangtuamu kapan melamar Elena."
"Eh... Iya Om. Kalau begitu saya izin untuk memperkenalkan Elena dengan kedua orangtua saya."
__ADS_1
Evan mengangguk pelan. Elena dan Keano lalu beranjak dari tempat duduknya dan mengecup punggung tangan Evan dan Luna bergantian.