
Elena dan Keano saat ini akan menghadiri acara wisuda. Mereka memakai pakaian yang senada. Elena dan Keano membeli baju dadakan karena baju yang mereka pesan sudah tidak muat Elena gunakan karena kandungannya semakin membesar.
"Sayang, perutku terlihat membuncit jika aku pakai kebaya seperti ini," ucap Elena melihat ke arah perutnya.
"Haha, jadi terlihat menggemaskan sayang," Keano terkekeh melihat Elena.
"Eh, iya toganya belum kita pakai."
Mereka lalu memakai toganya masingmasing. Setelah itu Elena lalu mendekati suaminya.
"Keano, aku tidak menyangka akan wisuda ditemani kamu dan sudah ada anak kita. Dulu bahkan aku berpikir bahwa saat wisuda aku belum menemukan jodohku. Tapi sekarang aku bahagia sudah ada kamu dan bonus adanya anak kita yang akan menemani aku wisuda."
"Aku juga bahagia sayang. Saat aku wisuda ada istri dan juga anakku," Keano memegang perut istrinya.
"Ayo kita pergi sekarang juga."
Elena dan Keano lalu pergi ke acara wisuda. Kedua orangtuanya juga ikut menghadiri wisuda. Elena dan Keano duduk terpisah sesuai dengan tempat duduk yang telah disiapkan. Setelah acara wisuda selesai mereka lalu pergi ke tempat foto studio. Mereka lalu foto berdua dan juga foto bersama keluarga. Elena dan Keano bahagia bisa wisuda bareng dengan gelar yang berbeda. Elena dengan gelar magister sedangkan Keano strata satu.
...*****...
Kandungan Viona sudah berjalan 9 bulan dan tinggal menunggu waktunya untuk melahirkan beberapa hari lagi. Viona lalu mengusap perutnya yang sudah membuncit. Semenjak Viona bilang tidak mau menemui Vino dua bulan yang lalu dan Vino sekarang sudah tidak menemuinya. Viona sedikit lega tidak diganggu oleh Vino lagi. Viona tidak tahu bahwa Vino sebenarnya memantaunya dari jauh. Vino setiap hari ingin melihat ibu yang mengandung anaknya itu. Vino bahagia melihat perut Viona yang semakin membesar. Ingin rasanya Vino menghampiri Viona dan memeluknya. Namun jika Vino menemui Viona yang ada Vino pasti diusir lagi oleh Viona. Vino tidak mau Viona semakin membencinya dan Vino lebih memilih untuk melihat Viona setiap hari dari jauh. Tadi pagi Vino melihat Viona berjalan-jalan disekitar perumahan. Semenjak kandungan membesar Viona sering jalan-jalan pagi. Kata Bibi sering jalan pagi agar saat lahiran secara normal bisa lancar dan sudah sebulanan ini Viona jalan-jalan pagi.
Viona sekarang sudah ada di kamarnya. Viona merasakan tendangan dari anaknya. Viona meringis karena merasakan ngilu pada perutnya.
"Auwww nak. Kamu sudah tidak sabar ya untuk bertemu Mama. Sebentar lagi kita akan bertemu sayang," ucap Viona sambil mengusap perutnya.
Viona lalu teringat dengan Vino.
"Papamu sudah hampir dua bulan ini tidak menemui Mama nak. Mama lega Papamu tidak mengganggu Mama lagi. Mama akan membesarkan kamu sendiri nak. Mudah-mudahan saat kamu sudah besar nanti kamu tahu alasan Mama tidak ingin bersama Papamu."
Setiap kali menyebutkan nama Vino anaknya langsung aktif menendang-nendang dalam perutnya.
"Arghhh... Nak, kamu mengagetkan Mama saja. Kenapa setiap Mama menyebutkan nama Papamu kamu langsung aktif begini nak," ucap Viona sambil memegang perutnya.
Viona merasakan sedikit ngilu karena anaknya menendang begitu kuat. Viona lalu teringat dengan Revano. Bagaimanapun juga Revano masih sah menjadi suaminya.
__ADS_1
"Apa aku ke rumahnya saja ya?"
"Ah iya aku harus menemuinya. Aku tidak mau dikata sebagai pelakor," ucap Viona dan lalu beranjak dari tempat duduknya.
Viona tahunya rumah Kenzo adalah rumah kedua orangtuanya Revano dan Viona akan segera menemui Revano. Viona berjalan pelan-pelan sambil memegang pinggangnya. Akhir-akhir ini pinggangnya terasa sakit. Viona sering meminta pijat dengan Bibi.
Viona lalu mandi dan duduk di sofa sambil menata bunga. Viona malas untuk mencari Bibi dan akhirnya Viona menelpon Bibi dan menyuruh Pak Agus untuk menyiapkan mobilnya karena Viona ingin pergi. Tak lama kemudian Bibi masuk ke kamarnya.
"Non Viona, Pak Agus masih mencuci mobilnya. Sebentar lagi mobilnya akan siap Non."
"Iya Bi. Tapi aku mau ke bawah sekarang juga sambil melihat bunga-bunga yang bermekaran di luar rumah," ucap Viona yang lalu beranjak dari duduknya.
"Baik Non, kalau begitu Bibi permisi."
Viona lalu berjalan turun dari kamarnya. Viona melihat bunga-bunga bermekaran di tamannya. Beberapa saat kemudian mobilnya sudah siap. Viona diantar Pak Agus untuk menemui Revano. Viona sekarang sudah sampai di rumahnya Kenzo. Viona menekan bel rumah.
"Assalamualaikum..."
Sang Bibi yang membukakan pintu.
"Saya mencari Revano Bi. Apa Revanonya ada?"
"Den Revanonya ada. Silakan masuk dan akan saya panggilkan."
Viona langsung masuk.
"Silakan duduk Non," ucap Bibi.
"Iya Bi. Makasih."
Viona menatap ruang tamu tersebut dan ada foto keluarga. Dalam foto tersebut ada Kenzo, Sonya, Revano, Kezia, Baby Reva, Keano dan juga Elena.
"Mereka keluarga bahagia dan aku tidak ingin merusak hubungan keluarga ini." Batin Viona.
__ADS_1
Bibi mengetuk pintu kamar. Seperti biasa Baby Reva lebih suka bermain dengan Papanya. Anaknya itu justru lebih dekat dengan ayahnya daripada dengan ibu yang telah melahirkannya. Kezia juga heran kenapa bisa seperti itu. Kezia yang membukakan pintu kamarnya.
"Ada apa Bi?"
"Ada yang mencari Den Revano, Non."
"Siapa Bi?" tanya Revano sambil menggendong putri kesayangannya.
"Aduh Bibi lupa menanyakan siapa namanya. Itu tamunya ibu hamil Den."
"Ibu hamil?" Revano mengernyitkan dahinya.
"Jangan-jangan pelakor itu yang datang. Berani sekali dia datang ke rumah," ucap Kezia.
Kezia lalu berjalan menuruni anak tangga. Kezia yakin yang datang pasti Viona. Dengan cepat Revano menyusul istrinya. Revano tidak ingin Kezia ribut dengan Viona apalagi di rumah ada Papa Kenzo dan Mama Sonya. Kezia membolakan matanya saat benar apa yang dia duga. Viona yang datang berkunjung ke rumahnya.
"Untuk apa kamu datang ke rumah?" tanya Kezia.
"Aku kemari karena ingin bertemu dengan Revano."
"Mau apalagi kamu menemui suamiku? Sudah aku katakan suamiku tidak akan pernah bisa membagi cintanya karena cintanya hanya untukku," ucap Kezia.
Viona hanya tersenyum tipis saat mendengar perkataan Kezia. Tak lama kemudian Revano datang membawa putrinya. Viona semakin tidak tega saat melihat anak dari suaminya. Bayi cantik itu terlihat sangat dekat dengan sang ayahnya. Viona tidak ingin memaksakan Revano tetap menjadi suaminya karena Viona juga memiliki perasaan. Wanita mana yang mau dimadu. Keputusan Viona untuk meminta maaf pun sudah bulat.
"Viona ada apa kamu mencari aku?" tanya Revano.
"Kedatanganku kemari untuk mencari kamu Revano. Aku ingin meminta maaf sama kamu Revano."
"Minta maaf?" tanya Kezia tidak percaya.
"Iya, aku minta maaf ya Revano dan Kezia."
"Apa karena kamu akan melahirkan jadi sekarang kamu mau minta maaf sama kami?" tanya Kezia sambil melihat ke arah perut Viona yang membuncit. Kezia tahu bahwa sekarang Viona sedang hamil 9 bulan.
"Bukan seperti itu maksudku Kezia. Aku benar-benar ingin minta maaf."
__ADS_1
"Aku tidak percaya sama kamu!"
Kezia tidak percaya dengan perkataan Viona begitu saja karena sebelumnya bahkan Viona memohon kepadanya untuk mohon pengertiannya. Viona juga meminta kepada Revano saat itu untuk memperhatikannya juga karena Viona juga istrinya. Viona juga butuh kasih sayang dan perhatian dari suaminya. Maka dari itu Kezia tidak percaya dengan perkataan Viona yang tiba-tiba meminta maaf.