Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Menikahlah Denganku..


__ADS_3

Baby Rio masih saja terus menangis. Viona kewalahan memenangkan putranya. Tadi sudah diberi asi dan sekarang masih saja menangis.


"Cup... Cup... Nak sebentar lagi Papamu akan datang," Viona menggendong putranya dan berusaha untuk menenangkannya.


Baby Rio masih saja terus menangis.


"Nyonya maaf jika saya lancang. Tapi Tuan Muda kecil menangis terus jika tidak dekat dengan Papanya. Apa sebaiknya Nyonya menerima Tuan Vino," ucap Bibi memberikan saran kepada Viona.


"Vino boleh saja bertemu dengan Rio kapanpun ia mau karena Vino Papanya Bi. Tapi kalau untuk balikan lagi sama Vino sepertinya saya masih belum bisa Bibi. Entah saya juga masih merasa sakit hati sama Vino."


"Maaf ya Nyonya kalau saya tadi lancang. Ampun Nyonya, jangan potong gaji saya bulan ini," ucap Bibi.


"Hmm siapa juga yang mau memotong gaji Bibi," ucap Viona.


"Makasih Nyonya."


Tak lama kemudian Vino sudah sampai di halaman depan rumah Viona. Dari luar terdengar suara tangisan anaknya.


"Anakku," ucap Vino lalu berlari menuju ke rumah Viona.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikum Salam..."


"Vino, akhirnya kamu datang juga," ucap Viona.


"Kalau begitu saya permisi ke belakang dulu Nyonya," ucap Bibi dan langsung pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Vino.


"Iya Bi," jawabnya singkat.


Baby Rio masih saja terus menangis. Viona lalu menyerahkan Baby Rio ke Vino.


"Nak ini Papa sayang," ucap Vino yang lalu mencoba menenangkan Baby Rio dengan menepuk-nepuk pelan.


Tahu Papanya yang menggendongnya tak lama kemudian Baby Rio berhenti menangis.


"Anak yang pintar. Papa menyayangi kamu nak," ucap Vino sambil mengecup pipi anaknya.


"Sayang, lihatlah anak kita sangat butuh Papanya. Rio butuh kasih sayang dari ayah kandungnya. Menikahlah denganku Viona," pinta Vino.


Viona masih terdiam saja.


"Viona, kamu jangan egois. Rio butuh aku dan kamu jangan menyiksanya dan juga menyiksaku."

__ADS_1


"Vino aku tidak bisa kembali lagi bersamamu. Tapi kamu boleh menemui Rio kapanpun kamu mau karena Rio adalah anakmu."


"Sampai kapan kamu akan seperti ini Viona?" ucap Vino yang matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Jangan tanyakan hal itu lagi Vino. Aku sudah terlanjur kecewa dan sakit hati sama kamu."


Baby Rio lalu menangis lagi setelah mendengar percakapan antara Vino dan Viona.


"Nak, cup... Cup, sayang jangan menangis lagi ya. Papa masih di sini bersamamu nak," ucap Vino sambil mengusap kepala anaknya dan mengecup keningnya.


Baby Rio lalu tersenyum saat digendong oleh Vino. Viona melihat ayah dan anak itu hubungannya begitu dekat.


"Viona aku tanya sekali lagi sama kamu. Apa kamu benar-benar tidak mau menerima aku lagi? Apa kamu tidak bisa memberikan kesempatan kedua untukku?"


Viona menggelengkan kepalanya lemah.


"Aku sudah berjanji jika anak kita sudah lahir dan kamu tidak menerimaku lagi aku akan pergi Viona. Mungkin minggu ini aku akan pergi keluar negeri."


"Terserah kamu Vino dan aku tidak peduli."


"Papa menyayangi kamu nak," ucap Vino lalu mengecup pipi Baby Rio.


"Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu dan Papa akan pergi. Mamamu juga berhak bahagia dan kebahagiaannya bukan dengan Papa. Mungkin kamu akan punya Papa baru sebentar lagi nak." Batin Vino.


"Aku pulang dulu Viona dan mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu," ucap Vino yang berusaha tersenyum meskipun hatinya berat untuk berpisah dari anaknya dan wanita yang dicintainya.


Viona terkejut saat Vino berbicara seperti itu.


"Semoga kamu bahagia dan jaga anak kita. Aku pasti akan merindukan kalian," ucap Vino yang lalu pergi meninggalkan Viona.


Mendengar perkataan Vino tak terasa air matanya menetes. Dengan cepat Viona mengusap air matanya. Bibi datang dan membawa minuman untuk Vino.


"Loh Nyonya, Tuan mana?" tanyanya bingung karena Vino sudah tidak terlihat.


"Sudah pergi Bi dan Vino tidak akan pernah kembali lagi," ucap Viona sambil menaiki anak tangga dan menuju ke kamarnya.


"Kasihan Den Rio. Papa dan Mamanya masih saling mencintai tapi Nyonya tidak mau kembali lagi ke Tuan," ucap Bibi dan lalu membawa minumannya kembali ke dapur.


Vino saat keluar dari rumah Viona air matanya tidak bisa dibendung lagi. Vino menangis di dalam mobilnya.


"Aku bahkan tidak sanggup untuk melupakan mereka," ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


Vino menangis tersedu-sedu. Vino menyesal sekarang benar-benar kehilangan Viona dan juga akan jauh dari anaknya. Vino lalu menatap rumah Viona.

__ADS_1


"Aku pasti akan merindukan kalian. Rio maafkan Papa ya nak. Papa tidak bisa selalu dekat denganmu. Semoga kamu bahagia bersama Mama Viona."


Vino lalu melajukan mobilnya keluar dari rumah Viona. Vino pergi menuju ke arah rumahnya. Vino ingin membereskan semua pakaiannya ke dalam koper. Setelah sampai rumahnya Vino masuk saja dan tidak mengucapkan salam.


"Nak, dari mana? Kok wajahnya di tekuk," ucap Vera, Mamanya Vino.


Vino melangkahkan kakinya ke kamarnya.


"Anak itu seperti almarhum Papanya. Selalu saja kalau ada masalah main pergi saja," ucap Mama Vera.


Mama Vera tidak tahu hubungan Vino dan juga Viona. Mama Vera tahunya anaknya memiliki pacar di Korea. Karena Vino waktu itu hanya cerita sama Mamanya kalau punya pacar saat masih bekerja dan tinggal di Korea.


Mama Vera lalu naik ke tangga dan menuju ke kamar anaknya. Mama Vera terkejut saat anaknya berkemas-kemas memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


"Loh nak kamu mau kemana lagi? Katanya sudah ingin menetap saja di Indonesia?" tanya Mama Vera kini bingung.


"Vino ingin pergi Ma. Makanya Vino menyicil beres-beres beberapa pakaian," ucap Vino tersenyum.


Vino selalu menyembunyikan kesedihannya kepada sang Mama karena Mamanya dulu sangat terpukul saat kehilangan suaminya.


"Nak, kamu mau pergi ke Korea lagi? Kamu mau meninggalkan Mama lagi sayang?"


"Vino mau pergi ke Amerika Mama. Ada teman yang nawarin kerja di sana."


"Nak, jauh sekali. Kenapa kamu selalu saja mementingkan pekerjaan kamu? Kapan kamu akan mengurus perusahaan Papamu? Mama sudah sering sakit-sakitan dan kamu harus menggantikan Mama memimpin di perusahaan Papamu."


"Nanti kalau sudah waktunya Mama. Vino masih ingin berkerja ke luar negeri."


"Nak, kamu jangan seperti ini terus. Mama Ingin melihat kamu menikah. Mama ingin punya cucu darimu."


"Mama sudah punya cucu. Rio bahkan sangat mirip denganku. Sepertinya nanti kalau ada waktu aku akan membawa Rio untuk bertemu dengan Mama." Batin Vino.


"Jangan bicara tentang pernikahan Mama. Vino sedang mengejar cinta perempuan yang Vino cintai."


"Tapi nak jangan lama-lama. Mama sudah ingin punya cucu dari kamu."


"Iya Ma. Nanti kalau sudah saatnya. Vino akan kenalkan sama Mama."


"Benar ya nak. Mama tunggu, Mama penasaran sama gadis pilihan kamu."


Vino tersenyum tipis saat Mamanya bilang seperti itu. Mungkin dengan cara Vino menjauh dari Viona dan lama kelamaan Viona akan membuka hatinya dan merasa kehilangan dirinya. Ini satu-satunya cara Vino yang terakhir untuk mendapatkan Viona kembali. Vino yakin Viona akan mencarinya setelah ini.


Alhamdulillah masuk rekomendasi lagi 😍

__ADS_1



__ADS_2