
Jangan lupa tinggalkan like sebelum membaca ❤️
Rio mengelap bibir Reva yang terkena saus. Rio sangat perhatian sekali dengan calon istrinya itu. Bahkan orang lain yang ada di restoran tersebut merasa iri jika melihat mereka, apalagi sikap Rio yang ditunjukkan sangatlah manis terhadap Reva. Bagaimana yang lain tidak iri jika Rio juga sesekali menyuapi Reva. Saat ini mereka sudah selesai makan. Rio akan bertanya keinginan calon istrinya itu apa.
"Sayang," ucap Rio lirih.
"Hmm," Reva hanya menjawab deheman saja karena sedang minum jusnya.
"Kamu ingin apa?"
"Ingin apa?" tanya Reva balik bertanya dan terlihat alisnya yang satu sudah naik.
"Kamu kok ditanya malah balik nanya."
"Aku gak ingin apa-apa. Kan kita sudah makan."
"Ehm maksud aku, kamu ingin dibawakan apa saja saat nanti lamaran?"
"Rumah, tapi kalau kamu sanggup untuk membawanya ke rumahku."
"Sayang jangan bercanda."
"Terserah kamu saja Rio," sambil meneguk lagi minumannya.
"Kok terserah aku sih?"
"Ya terserah kamu akan membawa apa untukku."
"Baiklah, nanti biar Mama yang memilih untuk kamu."
"Iya, pasti Mama kamu juga tahu apa yang aku inginkan. Karena kita sama-sama perempuan."
Reva lalu tersenyum tipis.
...*****...
Waktu begitu cepat berlalu, Reva sudah dilamar secara resmi malam ini. Sebelumnya waktu itu Viona video call dengan calon menantunya. Viona sedang di toko perhiasan dan Reva suruh memilihnya sendiri ada beberapa model satu set perhiasan. Menurut Viona sangatlah cocok untuk Reva dan akhirnya Reva memilih salah satu pilihan Viona.
Sekarang tinggal menunggu waktu sebulan lagi mereka akan menikah. Reva dan Rio juga sudah foto prewedding. Viona maupun Kezia tak menyangka akan berbesanan. Mereka sepakat merahasiakan tentang masa lalu mereka dan hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia. Melupakan masa lalu dan membuka lembaran baru.
__ADS_1
Menjelang hari pernikahannya, Rio dan Reva juga berkonsultasi ke Dokter kandungan. Akhirnya Reva luluh juga dengan ajakan Rio yang ingin memiliki anak kembar. Mereka bertanya-tanya terlebih dahulu mengenai program bayi kembar. Jadi ketika sudah menikah nanti bisa langsung program. Reva dan Rio keluar dari ruangan tersebut. Mereka tak sengaja bertemu dengan teman kuliahnya. Safa bersama suaminya yang bernama Nofal. Safa dan Nofal dulu adalah teman Rio saat di kampus. Hanya saja mereka berbeda jurusan dan masih satu fakultas.
"Reva, kamu baru saja cek kandungan ya? Upss, Reva aku juga tidak menyangka kalau kamu juga hamil duluan," ucap Safa yang lalu memegang mulutnya dengan tangan kiri.
Nofal juga terkejut saat melihat Rio dan Reva saat keluar dari ruangan tersebut.
"Eh, tapi kan sebentar lagi mereka akan menikah. Haha, ternyata kamu tidak sabaran juga ya Rio. Selamat ya bro, kamu akan menjadi seorang ayah juga sebentar lagi..."
Dari tadi tangan Rio sudah mengepal dan ingin menonjok orang yang berbicara sembarangan. Tapi Reva mencegahnya karena mereka sedang berada di rumah sakit.
"Hei, jaga bicara kalian itu," ucap Rio yang sudah emosi.
"Apa yang harus dijaga? Bukannya benar kan seperti itu. Oh iya, sudah jalan berapa minggu kehamilan kamu Reva?" ucap Safa terkekeh.
"Kamu tidak sadar apa yang kamu ucapkan itu? Kamu sendiri kan yang hamil duluan? Lihatlah diri kamu sendiri yang sedang hamil 7 bulan, padahal pernikahan kalian baru 5 bulan yang lalu," ucap Reva menatap tajam Safa sambil menunjuk perutnya.
Sedangkan Safa hanya terdiam saja. Saat wisuda kemarin juga tidak bisa menutupi perutnya yang terlihat sudah membuncit.
"Asal kalian tahu ya, kita ke Dokter kandungan juga karena ingin program bayi kembar. Lagian rumah sakit ini masih miliknya saudara Papaku," ucap Reva tersenyum sinis.
"Bayi kembar? Hah, kalian bermimpi saja punya anak kembar. Paling juga programnya gagal."
"Sudahlah sayang, kita pergi saja. Aku ingin segera melihat anak kita," ucap Nofal sambil mengusap lembut perut sang istri.
"Ya sudah sana kalian pergi saja. Bikin badmood aja!" kesal Reva dan sampai meninggalkan Rio yang masih terdiam.
"Sayang, tunggu aku," ucap Rio yang lalu mengejar Reva.
Sepanjang jalan Reva menggerutu terus. Rio berusaha menenangkan calon istrinya. Akhirnya mereka sudah masuk ke dalam mobil.
"Sayang sudah jangan kamu pikirkan apa perkataan mereka tadi ya. Kita fokus saja sama pernikahan kita."
"Aku kesal Rio! Apalagi dengan si Safa itu. Dia mendoakan kalau programnya gagal. Aku tidak mau hal itu terjadi. Pokoknya harus berhasil nanti program hamilnya. Setelah menikah aku ingin segera hamil."
"Haha, kemarin kamu menolak untuk kita berkonsultasi program. Sekarang justru kamu yang menggebu-gebu sekali ingin segera punya anak setelah menikah."
Rio masih ingat bahwa kemarin Reva sempat bilang takut untuk hamil. Akhirnya setelah Rio memberikan pengertian dan penjelasannya, Reva yakin calon suaminya itu tidak seperti suami temannya.
"Ah sudahlah. Kita pulang saja."
"Hmm oke sayang..."
__ADS_1
Rio lalu melajukan mobilnya. Calon istrinya itu sudah sangat badmood. Mungkin karena lagi kedatangan tamu bulanannya dan juga ditambah terpancing emosi Safa dan Nofal saat di rumah sakit.
...*****...
Sebulan telah berlalu kini Reva sudah memakai kebaya yang warnanya senada dengan jas yang Rio kenakan. Setelah kata sah terucap akhirnya Reva datang dengan diapit oleh Kezia dan Sandra.
Senyum terukir indah dari wajah keduanya. Pernikahan impian mereka akhirnya terwujud. Baik Rio maupun Reva terlihat begitu bahagia. Viona dan juga Revano saling melempar senyuman. Kini kebahagiaan anak-anaknya adalah hal yang terpenting. Meskipun mereka tak mengira akan menjadi besan. Seperti sebuah pepatah saja mantan jadi besan.
Reva lalu duduk disamping suaminya. Reva dan Rio sekarang sudah menandatangani surat nikah. Reva meraih tangan suaminya dan mengecupnya. Begitu juga dengan Rio yang mendaratkan kecupannya pada kening istrinya.
Acara berlangsung di hotel milik Keluarga Wijaya yaitu dari pihak mempelai wanita. Jadi tidak perlu untuk menyewa gedung untuk pernikahannya. Hanya saja keluarga dari mempelai laki-laki yang mencari Wedding Organizer untuk dekorasi dan catering.
Setelah acara akad nikah dan langsung lanjut ke acara resepsi. Mereka menyingkat waktu untuk hal ini. Jadi acaranya sudah selesai saat jam 8 malam. Rio dan Reva saat ini sudah tiba di kamar hotel. Reva kagum, ternyata Kakeknya itu memberikan kamar VIP untuknya sebagai hadiah pernikahannya. Mereka akan menginap di hotel selama seminggu. Sekarang saatnya untuk beristirahat karena sudah capek dari pagi sampai malam melayani tamu undangan yang datang. Rio dan Reva tadi juga sudah mandi san juga sudah menjalankan sholat isya berjamaah pertama kalinya. Setelah selesai sholat mereka lalu berbincang-bincang sambil duduk di sofa.
"Papa memberikan hadiah rumah baru untuk kita sayang," ucap Rio senang.
"Iya, jadi kita bisa lebih mandiri."
"Apa kamu tidak senang? Kenapa ekspresi kamu seperti itu?"
"Senang dong. Kita jadi bisa lebih fokus dengan keluarga kecil saja."
"Ah iya, aku sudah menginginkan si kecil yang akan segera hadir di sini," ucap Rio memegang perut Reva.
Sedangkan Reva hanya tersipu malu. Rio terus bercerita tentang keinginannya untuk ingin segera punya anak kembar.
"Sayang malam ini adalah malam pengantin kita," ucap Rio lirih.
Saat menoleh istrinya ternyata Reva sudah terlelap dalam mimpi saat mereka sedang duduk di sofa. Rio jadi tidak tega membangunkan istrinya. Perlahan Rio menggendong Reva dan membaringkannya di ranjang. Rio juga naik ke ranjangnya.
"Selamat tidur istriku," ucap Rio yang lalu mengecup kening Reva.
Rio memandang wajah cantik istrinya yang terlihat sendu. Rio tak menyangka teman kecilnya itu akan menjadi pendamping hidupnya.
Readers kesayangan jangan lupa tinggalkan like 👍
Yuk dukung author dengan meninggalkan komentar dan gift agar author lebih semangat berkarya 🤗
Berikan dukungan vote gratis setiap seminggu sekali (tanpa mengurangi poin kalian) makasih ❤️
__ADS_1