
Risa maupun Kezia tidak ingin tahu jenis kelamin bayinya. Agar surprise saja nanti saat melahirkan anaknya.
"Rey, aku tidak mau acara tujuh bulanannya saat aku maupun Kezia nanti diadakan tradisi adat Jawa."
"Loh, emangnya kenapa sayang? Kan biasanya seperti itu. Kenapa kamu tidak mau?" tanya Rey penasaran.
"Rey, aku malu. Aku sudah tua dan sekarang aku hamil lagi," ucap Risa sambil menunjuk perutnya yang semakin bertambahnya bulan semakin membesar.
Rey mengerti apa yang dirasakan oleh istrinya.
"Coba kamu bayangkan saja jika kita memakai tradisi adat Jawa lagi yang ada aku akan malu sekali karena aku duluan yang akan ikut acara tujuh bulanan dan sebulan kemudian baru Kezia. Aku tidak mau Rey, aku malu..."
"Baiklah sayang, tapi kita tetap akan mengadakan pengajian dan tasyakuran kecil-kecilan ya di rumah?"
"Iya boleh, hanya saja kali ini aku tidak mau jika pakai adat Jawa acara tujuh bulanannya ada. Ku mohon kamu mengerti akan kondisiku saat ini."
"Iya sayang, aku mengerti kok."
"Berlaku juga untuk Kezia loh ya. Karena aku malu jika kandungan Kezia nanti sudah 7 bulan dan kandunganku otomatis sudah menginjak 8 bulan lebih 1 mingguan. Aku malu Rey perutku lebih besar daripada perut menantuku," ucap Risa sambil beranjak dari tempat duduknya.
Rey menghembuskan napas panjang dan lalu menatap wajah istrinya.
"Sayang apapun yang kamu inginkan pasti akan aku turuti jadi nanti tidak akan ada adat Jawa saat tujuh bulan kehamilan kamu maupun Kezia dan diganti acara pengajian dan syukuran kecil-kecilan saja."
"Makasih ya sayang," ucap Risa lalu memeluk suaminya.
Sekarang Risa kesusahan untuk memeluk suaminya karena kehamilannya sudah memasuki usia 5 bulan lebih 1 minggu.
"Sayang maaf. Aku tidak bisa memeluk kamu lebih erat lagi karena ada anak kita," ucap Risa sambil melepaskan pelukannya dan tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa sayang, kan aku bisa memelukmu dengan erat seperti ini," ucap Rey yang memeluk istrinya dari belakang.
Rey memeluk Risa sambil mengusap perut istrinya. Rey lalu merasakan tendangan kecil dari dalam perut Risa. Mereka lalu tertawa bersama-sama mengingat akan punya anak lagi.
"Sayang, kamu ingin anak laki-laki atau perempuan dariku?" tanya Risa penasaran.
"Laki-laki dan perempuan sama saja sayang. Apapun nanti harus kita syukuri."
"Jawaban kamu selalu bisa membuat aku tenang. Makasih ya suamiku," ucap Risa lalu melepaskan pelukan Rey dan mengecup bibir suaminya sejenak.
__ADS_1
"Jangan bibir saja dong sayang. Sini belum," ucap Rey sambil menunjuk kedua pipinya.
"Haha, makin manja ya kamu Rey," ucap Risa terkekeh dan lalu mengecup kedua pipi suaminya.
"Sayang, aku jadi ingin dimanja kamu," ucap Rey sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Sebentar saja dan jangan protes. Mengerti?" ucap Risa yang jari telunjuknya sudah berada pada bibir suaminya.
Rey hanya menjawab dengan anggukan saja pertanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh istrinya dan sesuai dengan janjinya yang hanya sebentar saja.
...*****...
Revano dan Kezia sedang duduk di karpet. Reva sudah berumur 14 bulanan sekarang. Anaknya itu semakin pintar dan lucu. Reva sudah bisa berjalan meskipun baru beberapa langkah saja. Revano betapa bahagianya bisa melihat anaknya bisa berjalan.
"Anak Papa sini sayang," ucap Revano.
Reva lalu berjalan langkah demi langkah dan mendekati Papanya.
"Wah, pintarnya anak Papa sudah bisa berjalan," ucap Revano sambil mengecup pipi anaknya.
"Sayang, sekarang ayo jalan ke sini nak," ucap Kezia sambil merentangkan tangannya dan menyambut anaknya akan berjalan kearah dirinya.
"Lihat nak, Kakak kamu Reva bahkan tidak mau sama Mama. Dia sukanya sama Papa terus. Mudah-mudahan saja kamu saat lahir nanti bisa dekat dengan Mama," ucap Kezia sambil mengelus perutnya.
"Nak, ayo jalan ke sana," tunjuk Revano kepada istrinya.
"Revalina sayang sini nak," ucap Kezia tersenyum.
Entah mengapa anaknya begitu nurut kalau dengan Papanya. Kezia merasa iri saat anaknya jauh lebih dekat dengan Revano daripada dengan dirinya, ibu yang telah mengandung dan melahirkannya. Tapi Kezia bahagia dengan kehamilan keduanya saat ini Kezia berharap anaknya kelak bisa dekat dengannya. Reva lalu berjalan perlahan-lahan mendekati Mamanya. Dengan senang hati Kezia menyambut anaknya. Kezia lalu memegang anaknya agar tidak terjatuh karena baru saja bisa berjalan.
"Anak Mama pintar sekali kamu nak," ucap Kezia mengecup kedua pipi Reva.
Reva terdiam sejenak dan terus melihat ke perut Kezia.
"Kenapa nak? Apa yang kamu lihat?"
Kezia lalu tahu anaknya dari tadi melihat kearah perutnya. Kezia lalu mendudukkan anaknya di depannya. Reva lalu menarik-narik kaos yang dikenakan Kezia.
"Sayang, ada adik kamu di sini nak," ucap Kezia sambil memperlihatkan perutnya.
__ADS_1
"Sayang, dia sudah mengerti apa yang kamu katakan."
"Iya sayang, aku bahagia Reva senang akan punya adik."
Reva melihat perut Mamanya dan lalu tertawa seperti mengerti apa yang dikatakan oleh Papa dan Mamanya. Kezia lalu membiarkan Reva memegang perutnya.
"Wah Reva sudah tidak sabar ya ingin menjadi Kakak?" tanya Kezia mengusap rambut anaknya dengan hangat.
Reva tertawa kecil mendengar perkataan Mamanya.
"Sayangnya Mama, kamu menggemaskan sekali sih nak. Aku berharap adik kamu akan imut seperti kamu."
Revano tersenyum melihat istrinya berbicara dengan anaknya.
"Sayang, aku berharap anak kita kali ini berjenis kelamin laki-laki. Jadi kita akan pas memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan."
Kezia menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan.
"Kalau anak kita lahir perempuan lagi bagaimana?" tanya Kezia penasaran.
"Ya nanti kita akan program hamil lagi biar dapat anak laki-laki."
"Apa? Kamu ingin aku hamil lagi? Revano, apa kamu tidak bisa melihat bahwa saat ini aku juga sedang hamil anak kamu. Bahkan kehamilanku baru berjalan 4 bulan," ucap Kezia sambil mengusap perutnya perlahan.
"Iya sayang, tapi aku ingin anak laki-laki darimu dan jika anak kedua kita lahir berjenis kelamin perempuan maka setahun lagi kita akan program lagi agar kamu bisa mengandung bayi laki-laki."
"Astaga Revano, kemarin saja belum setahun aku sudah hamil lagi. Kamu ingat kan kemarin Revalina masih berusia 11 bulan dan aku sudah hamil lagi. Dan tahun depan kamu ingin aku hamil lagi?" ucap Kezia sambil geleng-geleng kepala.
"Iya sayang, jika anak kedua kita berjenis kelamin perempuan dan tahun depan kita program lagi sampai kamu mengandung bayi laki-laki."
"Revano, aku bukan pabrik pembuat anak yang setahun sekali bisa memberikan kamu anak."
"Sayang, aku janji jika anak kedua kita berjenis kelamin laki-laki dan kita cukup punya anak dua saja. Pada intinya kalau belum punya anak laki-laki dan kamu harus memberikan aku anak laki-laki."
"Jadi sebelum punya anak laki-laki kamu ingin aku hamil lagi setiap tahun?"
"Hmm iya sayang, itu sudah menjadi kewajiban seorang istri memberikan suaminya seorang anak dan aku menginginkan anak laki-laki darimu."
Kezia menggelengkan kepalanya dan tidak habis pikir suaminya berbicara seperti itu. Kezia berharap anak yang sedang dikandungnya berjenis kelamin laki-laki agar cukup dua anak saja yang dia lahirkan untuk suaminya. Kezia mengusap perutnya pelan dan berdoa dalam hati agar program kehamilannya kali ini berhasil mendapatkan anak laki-laki.
__ADS_1