Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Pacar Sementara


__ADS_3

Keano lalu menceritakan semuanya agar Elena mau membantunya. Keano bercerita bahwa dirinya akan dijodohkan dengan teman Kakak iparnya yang bernama Aulia. Keano lalu meminta Elena untuk berpura-pura menjadi pacarnya karena Keano tidak mau dijodohkan. Keano juga bercerita bahwa Kakaknya sebentar lagi kehamilannya akan memasuki usia 7 bulan jadi dirinya harus sudah memperkenalkan pacarnya atau kalau tidak mau atau tidak mau Keano akan dijodohkan dengan anaknya Pak Ustadz yang bernama Aulia.


"Bagaimana? Apa Kak Elena mau membantuku?"


Elena masih bingung mau jawab bagaimana.


"Maaf....." Keano lalu melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Elena.


"Apa aku kabur saja dari rumah ya? Biar beres urusannya dan Papa dan Mama tidak akan memaksa aku untuk mau dijodohkan dengan wanita pilihan mereka." Batin Keano.


"Kakak aku harus pulang dulu. Aku akan berkemas-kemas dan malam ini aku akan kabur dari rumah," ucap Keano lalu meraih kunci mobilnya di meja. Keano berpikir bahwa kabur adalah salah satunya jalan agar terbebas dari perjodohan itu.


"Makasih ya untuk traktirannya malam ini. Semoga kita bisa bertemu kembali," ucap Keano sambil tersenyum tipis.


Elena tidak tahu jalan pikiran Keano kemana. Harusnya masalah ini bisa dibicarakan dengan baik-baik dengan kedua orangtuanya. Saat Keano baru melangkahkan kakinya dua langkah dan akan pergi dari cafe tersebut dengan cepat Elena beranjak dari tempat duduknya menyusul Keano dan meraih tangan Keano.


"Keano jangan pergi dan jangan pernah lakukan hal itu. Baiklah, Kakak akan membantu kamu."


Seketika matanya terbelalak saat Elena berbicara seperti itu.


"Serius? Kakak mau jadi pacarku?" Tanyanya tidak percaya dengan begitu saja karena tadi Elena masih bilang mau memikirkannya terlebih dahulu.


"Iya aku serius, kita hanya pura-pura berpacaran saja kan?" Tanyanya untuk meyakinkan.


"Aku ingin kamu menjadi pacarku yang sesungguhnya. Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi. Aku bukan laki-laki tipe kamu. Karena saat kamu melihatku, sikap kamu hanya biasa saja. Tidak seperti gadis lain yang tertarik denganku. Bahkan di kampusku selalu saja ada mengejar-ngejar aku dan ingin menjadi pacarku." Batin Keano yang berpikiran bahwa Elena tidak tertarik dengannya.


Keano lalu menganggukkan kepala pelan.


"Lagian aku juga merasa bersalah padamu. Aku ingin menebus kesalahanku sama kamu. Apakah kamu akan memaafkan aku jika aku membantumu?"


"Tentu saja." Jawabnya dengan cepat.


"Berarti mulai besok Kakak akan aku kenalkan dengan kedua orangtuaku."


"Eh, kenapa secepat itu?"


"Karena Kakakku akan mengadakan acara 7 bulanan nanti 2 mingguan lagi. Kedua orangtuaku ingin aku sudah memperkenalkan pacarku kepada mereka. Jika tidak," Keano sambil menghela napas panjang.


"Jika tidak aku akan dijodohkan dengan wanita pilihan mereka."


Elena tersenyum tipis. Sekarang mereka sudah selesai makan. Seperti dengan janjinya Elena yang mentraktir makan Keano.


"Kakak akan membantu kamu agar kamu tidak dijodohkan. Kamu berhak memilih pasangan hidupmu sendiri. Sebagai orangtua seharusnya mereka bisa menghargai keputusanmu."


"Ini yang aku suka darimu, berpemikiran dewasa." Batin Keano.

__ADS_1


"Sudah malam, sebaiknya kamu pulang."


"Kakak bawa mobil sendiri?" tanya Keano.


"Kakak akan menghubungi sopir di rumah untuk menjemputku." Elena sambil mencari hp di dalam tasnya.


"Tidak perlu Kak. Aku akan mengantarmu."


"Apa tidak merepotkanmu?" jawab Elena.


"Tidak, karena Kakak juga mau untuk membantuku. Anggaplah ini sebagai ucapan terimakasih dariku."


"Baiklah..."


"Yes... Akhirnya aku akan tahu rumahnya." Batin Keano merasa bahagia.


Mereka lalu keluar dari cafe tersebut. Keano membukakan pintu mobil untuk Elena. Di mobil tidak ada percakapan lainnya selain Elena menunjukkan arah ke rumahnya. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah orangtua Elena. Rumah yang cukup besar menurut Keano dan hampir sama seperti rumahnya.


"Makasih ya sudah mengantar Kakak."


"Aku gak disuruh mampir dulu nih Kak?"


"Sudah malam Keano."


"Hati-hati di jalan ya," ucap Elena sambil melambaikan tangannya.


Keano menganggukkan kepalanya.


"Mimpi yang indah sayang," jawab Keano sambil melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah.


"Apa tadi aku tidak salah dengar? Keano memanggilku dengan sebutan sayang," lirihnya.


"Ah iya mungkin Keano sedang ingin mendalami aktingnya sebagai pacarku. Jangan baper Elena. Jangan sampai kamu baper dengan laki-laki itu. Ingat Keano hanya menjadikan kamu sebagai pacar pura-pura karena tidak mau dijodohkan dengan kedua orangtuanya. Aku hanya akan menjadi pacar sementara saja." Batin Elena.


Elena melangkahkan kakinya ke teras rumahnya. Betapa terkejutnya saat Papanya Evan ada di depan pintu rumahnya.


"Siapa laki-laki yang tadi mengantar kamu nak?"


"Masuk ke dalam rumah dulu Papa nanti Elena jelaskan."


Mereka lalu masuk ke rumah. Sekarang mereka ada di ruang keluarga. Elena dan Evan duduk di sofa.


"Jadi siapa laki-laki tadi nak?"


"Laki-laki itu pacarku Papa." Terpaksa Elena harus mengakui Keano sebagai pacarnya.

__ADS_1


"Pacar? Wah, putriku ternyata sudah dewasa," jawab Luna yang seketika muncul dan duduk disamping Evan.


Elena hanya tersenyum tipis.


"Kenalkan sama Papa dan Mama nak. Papa nanti akan bertanya kapan pacarmu itu akan melamar kamu," ucap Evan yang seketika membuat Elena terkejut.


"Baru tadi jadian Papa. Masa secepat itu mau lamaran?"


"Iya tidak apa-apa nak. Kalau sudah cocok harus ke jenjang yang lebih serius."


Elena menyesal mengakui Keano sebagai pacarnya. Karena Papanya meminta untuk dikenalkan sama Keano dan bertanya kapan Keano akan melamarnya.


"Lebih cepat lebih baik nak. Kamu sudah dewasa. Kamu ternyata pintar memilih pacar. Bahkan lebih ganteng dari Papa waktu masih muda dulu," ucapnya terkekeh.


Tadi sekilas Evan melihat Keano dari balik jendela rumahnya. Evan diam-diam tadi melihat putrinya diantar pulang. Betapa terkejutnya saat Evan melihat Keano. Wajahnya yang ganteng dan sepertinya anak baik. Evan langsung suka dengan Keano. Evan setuju jika Keano yang akan menjadi menantunya.


"Keano memang ganteng sih. Tapi Keano hanya pacar sementaraku. Keano hanya menjadikan aku sebagai pacar pura-puranya saja." Batin Elena yang merasa miris dengan kisah cintanya.


Elena dulu pernah menyukai seseorang yaitu teman sekampusnya waktu menempuh pendidikan S1. Orang itu ternyata sudah punya tunangan. Jadi Elena lebih baik mundur dan mengubur cintanya dalam-dalam. Hingga sampai saat ini Elena tidak ingin berpacaran.


"Papa, Mama, Elena mau ke kamar dulu."


Elena tidak mau membahas tentang Keano lagi. Elena melangkahkan kakinya menuju tangga.


"Jangan lupa segera kenalkan laki-laki itu sama Papa dan Mama nak."


"Iya Papa..."


Elena sekarang sudah berjalan jauh menuju ke kamarnya. Sekarang tinggal Evan dan Luna yang ada di ruang keluarga.


"Sayang, emangnya pacar Elena seperti apa? Tadi kamu melihatnya kan?"


"Ganteng banget sayang pacar anak kita. Kayaknya blesteran deh, terlihat dari wajah bulenya. Kalau kamu masih muda paling kamu bisa terpikat dengannya."


"Aku bertanya dengan serius." Sambil mencubit perut Evan.


"Aku juga jawabnya serius sayang dan sepertinya pacar anak kita itu laki-laki yang baik."


"Mudah-mudahan saja pacarnya serius dengan anak kita. Aku hanya takut kalau Elena hanya dipermainkan saja."


"Aku akan selidiki siapa laki-laki itu nanti setelah berkenalan dengannya. Kamu tenang saja sayang. Yang akan menjadi menantu kita harus laki-laki yang baik."


"Iya aku percayakan semua padamu."


Evan tersenyum tipis. Evan yakin jika Keano laki-laki yang baik.

__ADS_1


__ADS_2