Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Kepergian Vino


__ADS_3

Vino sudah memantapkan hatinya untuk pergi jauh dari kehidupan Viona. Sebenarnya Vino tidak ingin jauh-jauh dari anaknya tapi mau gimana lagi jika Viona ingin dirinya pergi dari hidupnya. Tak terasa sudah 5 hari Vino tidak menemui Viona dan hari ini Vino akan pergi ke Amerika.


"Viona jika kita berjodoh maka kita akan dipertemukan lagi dan hidup bersama," ucap Vino sambil menatap langit yang begitu cerah dari kamarnya.


Vino segera menarik kopernya dan keluar dari kamarnya. Mama Vera melihat anaknya turun dari tangga.


"Nak, bisakah kamu tidak pergi lagi meninggalkan Mama sendirian di rumah?" ucapnya sendu.


"Mama aku mungkin cuma beberapa tahun saja di Amerika. Vino akan selalu menghubungi Mama jika ada waktu luang."


"Nak, setelah kamu pulang nanti gantikan memimpin perusahaan almarhum Papa kamu ya? Mama sudah tua nak."


"Iya Mama. Vino janji akan memimpin perusahaan Papa setelah nanti pulang dari Amerika nanti."


"Mama juga berharap kamu setelah pulang nanti langsung menikah. Mama Ingin melihat kamu menikah sayang. Mama sudah ingin menggendong cucu darimu."


"Mama sudah memiliki cucu." Batin Vino.


"Doakan saja ya Mama, Vino akan segera menikah dengan perempuan pilihan Vino."


"Jika kamu nanti saat pulang dari Amerika dan tidak kunjung juga menikah maka Mama akan menjodohkan kamu dengan anak teman Mama."


"Ma, Vino ingin wanita pilihan Vino yang menjadi istri Vino."


"Ya pokoknya itu tadi. Jika kamu tidak bisa menikahinya saat kamu pulang dari Amerika nanti maka Mama akan menjodohkan kamu dengan wanita pilihan Mama."


"Tidak Mama. Vino ingin menikah dengan wanita pilihan Vino."


"Nah, maka dari itu buktikan nak. Bahwa kamu punya wanita pilihanmu sendiri."


"Iya Mama. Kalau begitu Vino pamit dulu berangkat."


"Hati-hati ya nak. Mama pasti akan merindukan kamu sayang," ucap Mama Vera sambil memeluk anaknya.


"Iya Mama. Vino pasti juga akan merindukan Mama. Vino akan sering nanti videocall Mama."


"Janji ya nak?"


Vino mengangguk pelan dan tersenyum. Mama Vera lalu mengantarkan Vino sampai ke depan rumahnya. Vino melambaikan tangannya saat akan masuk ke dalam mobil. Mamanya juga melambaikan tangannya melihat anaknya akan pergi. Vino lalu masuk dan mobil melaju ke arah bandara. Tak lama kemudian Vino sudah sampai di bandara. Vino keluar mobil sambil menarik kopernya.


"Membuka lembaran baru di negara baru," lirihnya.


Sekarang Vino sudah berada di dalam pesawat. Vino menatap ke arah jendela pesawat. Vino memegang kaca jendela pesawat tersebut.


"Tunggu Papa pulang nak. Mungkin kamu sudah besar nanti saat Papa pulang dari Amerika." Batin Vino tersenyum dan lalu memejamkan matanya sejenak.

__ADS_1


...*****...


Di kamarnya Viona merasakan perasaan tidak enak. Apalagi sudah 5 hari ini Vino tidak muncul batang hidungnya. Dalam hatinya, Viona bertanya-tanya apakah Vino benar-benar akan pergi dalam hidupnya. Saat akan mengambil minum tak sengaja gelasnya pecah.


"Astagfirullah, apa yang terjadi? Mudah-mudahan Vino baik-baik saja."


"Oek....... Oek..........." Baby Rio terus-menerus menangis.


Viona menggendong putranya dan Baby Rio terus saja menangis. Viona lalu teringat dengan perkataan Vino yang akan pergi ke luar negeri dan dengan segera Viona menyetel TV yang ada di ruang keluarga. Viona matanya membola dengan sempurna saat melihat berita jatuhnya pesawat dan nama Vino masuk ke dalam daftar korban jatuhnya kecelakaan pesawat tersebut.


"Astagfirullah, Vino..." Viona lalu menangis saat mengetahui Vino menjadi salah satu korban jatuhnya pesawat.


Viona dengan segera menuju ke kamarnya dan mengambil tasnya. Tadi diberita korban jatuhnya pesawat dirawat di rumah sakit yang telah diberitakan.


"Pak Agus tolong antarkan saya ke rumah sakit sekarang."


"Baik Nyonya."


Viona lalu memberitahu kepada sopirnya arah ke rumah sakit. Hampir dua jam perjalanan ditempuh dan akhirnya Viona sampai di rumah sakit tersebut. Viona lalu mencari informasi tentang korban jatuhnya pesawat.


"Mbak, korban jatuhnya pesawat atas nama Vino Jullian dirawat di ruang berapa ya?"


"Sebentar ya saya cek dulu."


"Pak Vino di rawat di ruang kelas VIP kamar mawar nomor 21."


"Vino," ucap Viona lirih dan tak terasa air matanya menetes saat melihat kondisi Vino yang banyak alat yang menempel pada tubuhnya.


Mendengar nama anaknya dipanggil Mama Vera langsung melihat siapa wanita yang datang. Mama Vera mengernyitkan dahinya saat melihat wanita muda yang sedang menggendong bayi.


"Kamu siapa nak? Apa kamu temannya Vino?"


"Iya Bu. Saya temannya. Bagaimana keadaan Vino?" ucap Viona.


"Vino kritis nak." Mama Vera lalu kembali menangis.


Viona lalu mendekati Mama Vera.


"Tante jangan menangis. Saya tahu Tante sedih dan saya juga sedih atas apa yang menimpa Vino."


Tak lama kemudian Baby Rio menangis.


"Nak, jangan menangis sayang. Kita sudah bertemu dengan Papamu," ucap Viona yang tengah keceplosan.


"Maksudnya apa nak?" tanya Mama Vera yang langsung menatap wajah Viona.

__ADS_1


Viona panik saat ini dan bingung menjawabnya.


"Maaf Tante saya tidak berbicara apapun dan saya tadi hanya ingin menenangkan anak saya saja. Kalau begitu saya permisi pulang dulu ya Tante. Semoga Vino lekas sembuh."


"Wanita ini jelas-jelas tadi menyebut Vino sebagai Papa. Apa jangan-jangan bayi itu adalah cucuku?" Batin Mama Vera.


Saat Viona mau membuka gagang pintu Mama Vera memegang tangan Viona.


"Tunggu nak."


Viona lalu menoleh dan takut jika semuanya akan terbongkar. Karena akan semakin ribet urusannya. Viona takut jika anaknya akan diambil paksa oleh Mamanya Vino. Sekarang Baby Rio sudah tidak menangis lagi.


"Ada apa ya Tante?"


"Bolehkah aku menggendong anakmu?"


Viona terlihat bingung saat ini.


"Sebentar saja nak. Izinkan aku untuk menggendongnya," pinta Mama Vera.


Karena tidak tega maka dengan terpaksa Viona memberikan anaknya. Saat Mama Vera melihat wajah Baby Rio. Mama Vera teringat sesuatu. Baby Rio seperti Vino waktu masih bayi dulu. Mama Vera mengusap dengan lembut kepala cucunya.


"Cucuku," ucap Mama Vera yang membuat Viona terkejut.


"Maaf Tante. Sepertinya saya harus pulang. Berikan anak saya Tante."


"Nak, bayi ini cucuku kan?"


"Eh? Kenapa Tante berbicara seperti itu?"


"Nak, kamu tidak usah berbohong. Anak kamu itu sama persis waktu Vino saat bayi dulu."


Viona menghela napas panjang.


"Memang benar Tante. Rio adalah anaknya Vino," ucap Viona berkata jujur.


Mama Vera berbinar-binar dan baru saja tadi berbicara ingin punya cucu dari Vino dan sekarang langsung terkabulkan. Mama Vera akan meminta penjelasan kepada Vino saat nanti sudah sadar. Kenapa anaknya itu menikah diam-diam dan tanpa sepengetahuannya. Sekarang yang dia tahu hanya Vino sudah menikah dan memiliki bayi yang lucu.


"Hallo cucu Oma. Rio, kamu sangat ganteng sekali nak. Bahkan wajahmu mirip dengan Papamu sayang."


"Tan......"


"Nak, kamu jangan pergi dan saat-saat seperti ini Vino membutuhkan kamu."


"Tapi Tante. Saya masih ada urusan lainnya."

__ADS_1


"Kamu jangan panggil saya Tante. Kamu panggil saya Mama karena kamu adalah menantu Mama."


Viona menghela napas panjang dan masalahnya sekarang bertambah rumit karena Mamanya Vino mengira Viona adalah istrinya.


__ADS_2