
Malam telah tiba resepsi pernikahan Evan dan Luna selesai pukul 20:30 wib karena mereka tak banyak mengundang tamu undangan. Hanya di batasi sampai 800 orang saja. Yang datang keluarga, kerabat terdekat, teman Luna, teman kantor Evan, teman kolega Papa Ferdinan dan teman kolega Papa Alvin. Sesudah acara selesai Luna dan Evan masuk ke mobil mereka dan pulang ke rumah. Di kamar Evan sudah dihias sedemikian rupa. Evan menyuruh seseorang untuk merubah tampilan kamarnya menjadi nuansa yang romantis dengan beberapa lilin aroma terapi yang sudah tersedia disana. Luna tidak tahu mengenai hal ini.
"Sayang jangan ngebut-ngebut nyetir mobilnya."
"Aku sudah tidak sabar untuk sampai di rumah sayang."
"Iya, aku juga udah capek sekali hampir seharian menyalami tamu undangan dan aku ingin segera mandi kalau sampai rumah. Rasanya badanku sudah lengket semuanya sayang."
"Bukan itu sayang yang aku maksud."
"Aku tidak akan melepaskanmu malam ini sayang. Aku akan mengganti kenangan masa lalu kita yang kelam menjadi kenangan indah malam ini." batin Evan.
"Hah?? Memangnya kamu gak merasa badan kamu lengket gitu?" Luna pun bingung dengan perkataan Evan.
"Iya sih. Hmm ya udah nanti kita mandi dulu aja deh sebelum tidur."
Mereka sudah sampai di rumah setelah perjalanan kurang lebih setengah jam. Evan lalu menggandeng Luna masuk ke rumahnya.
"Sayang aku mandi di kamar dan kamu mandi di kamar tamu ya? Biar kita selesainya barengan. Bibi juga udah siapin baju tidur kamu disana. Nanti aku akan menyusulmu dan tunggu aku di kamar tamu ya sayang," ucap Evan.
"Baiklah sayang, aku mau mandi dulu."
"Ok sayang," Evan lalu mendaratkan kecupannya di pipi Luna.
"Bagus Luna tidak curiga. Tunggu kejutan dariku malam ini sayang," batin Evan.
Luna tersenyum dan tidak curiga dengan Evan. Luna lalu berjalan ke kamar tamu untuk mandi, Luna langsung menuju kamar mandi ia tidak melihat pakaian tidur seperti apa yang akan digunakan untuk pakaian gantinya.
"Evan sepertinya bosan tidur di kamarnya makanya menyuruhku untuk ke kamar tamu dan Evan nanti akan menyusulku." batin Luna.
Evan lalu berjalan menuju kamarnya dan mengunci pintunya agar Luna tidak masuk kamar karena Evan yang akan menjemput Luna di kamar tamu nanti menuju ke kamarnya.
Sedangkan di kamar Evan sudah tertata rapi bunga mawar yang sudah tersebar di seluruh ranjang dengan di temani adanya beberapa lilin aroma terapi yang menambah kesan menjadi sangat romantis.
Luna sudah selesai mandi dan Luna langsung menuju ke ranjang yang sudah ada baju gantinya disana. Luna membolakan matanya saat melihat baju tidurnya.
"Baju apa ini?? Yang ada nanti aku masuk angin kalau pakai ini," ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Luna berinisiatif untuk membuka lemari di kamar tamu tersebut. Namun tidak ada baju satupun yang ada di sana. Hanya ada selimut tambahan, handuk dan seprei yang ada di lemari tersebut.
"Ah iya ini kan kamar tamu. Isinya cuma selimut tambahan, handuk dan seprei," ucapnya sambil menutup pintu lemari.
Luna mau tidak mau memakai pakaian yang sudah disediakan oleh asisten rumah tangga di rumah Evan.
"Ah, lucu sekali aku pakai baju ini saat aku sedang hamil perutku terlihat lebih besar. Kalau saja aku sedang tidak hamil pasti akan terlihat lebih menarik didepan Evan hehehe," ucapnya terkekeh sambil melihat ke arah perutnya yang sudah membuncit.
"Siapa bilang saat hamil kamu tidak menarik sayang? Justru saat sedang hamil tubuhmu lebih indah karena sekarang kamu lebih berisi sayang," ucap Evan yang sudah memeluk Luna dari belakang dan tangannya sudah berada di perutnya mengusapnya pelan.
"Eh, sayang sejak kapan kamu masuk ke kamar dan kamu mendengar semua perkataanku?"
"Iya aku mendengar semuanya sayang."
Luna jadi malu saat ini.
"Kenapa kamu malu begitu sayang ayo kita ke kamarku."
"Bukankah kita mau tidur disini malam ini sayang?"
"Hahaha ini kamar untuk tamu sayang. Mana mungkin kita tidur disini. Aku tadi menyuruhmu mandi disini agar selesainya bareng hanya itu saja," ucap Evan.
Luna mengangguk paham dan lalu menutup matanya. Evan lalu menggendongnya ala bridal style.
"Sayang, kenapa kamu menggendongku? Bukankah aku lebih berat saat hamil?" ucap Luna yang masih memejamkan matanya.
"Karena kamu istriku. Jadi aku harus memperhatikan kamu dan bayiku agar kamu tidak terlalu kecapekan." Evan berjalan menuju kamarnya.
Kamarnya sudah ia buka dari tadi jadi Evan bisa masuk ke kamarnya saat ini. Namun Evan menurunkan Luna di depan pintu kamarnya dan Luna masih memejamkan matanya. Evan lalu menuntun Luna masuk ke kamarnya.
"Sayang sekarang kamu boleh buka matamu."
Luna perlahan membuka matanya. Luna takjub dengan kamar Evan yang berubah 180° tampilan yang sekarang menjadi lebih romantis dengan bunga mawar merah yang bertaburan di ranjang di temani beberapa lilin aroma terapi yang berada di lantai.
"Gimana sayang apa kamu suka dengan kejutanku?"
Luna menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Luna terkejut sekaligus bahagia dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
"Iya aku suka sekali sayang. Aku tidak menyangka kamu bisa berubah menjadi romantis seperti ini," ucap Luna sambil memeluk Evan.
Luna berusaha untuk memeluk Evan lebih erat lagi tapi terhalang oleh perutnya yang sudah membesar.
"Eh, maaf sayang ada anak kita jadi aku tidak bisa memelukmu lebih erat," ucapnya sambil melepaskan pelukannya dan mengelus perutnya pelan.
"Ayo kita kesana dan biarkan aku yang memelukmu lebih erat." Evan lalu menggandeng Luna untuk ke ranjangnya.
Evan duduk di tepi ranjang dan langsung mendudukkan Luna di pangkuannya. Evan memeluknya dengan erat.
"Sayang aku mencintaimu," ucapnya di telinga Luna.
"Aku juga mencintaimu ayah dari bayiku," ucap Luna.
Luna tidak menyangka Evan bisa seromantis ini.
"Sayang malam ini aku akan menggantikan malam yang pernah kita lewati bersama waktu itu. Tapi malam ini aku sepenuhnya sadar dan juga aku sudah mencintaimu, berbeda di waktu itu aku yang setengah sadar saat melakukannya denganmu."
"Terima kasih dulu kamu telah menjaga kehormatanmu dan hanya memberikannya untukku. Malam ini aku akan menggantikan kenangan kelam waktu itu menjadi kenangan indah malam ini. Kamu mau kan sayang kita melewatinya bersama-sama dengan anak kita?" ucapnya dengan serius dan Evan masih memeluk Luna.
Luna hatinya sangat tersentuh mendengar ucapan Evan. Luna sangat bahagia sekarang. Kehamilannya merupakan anugerah baginya untuk bisa bersama dengan Evan.
"Iya sayang aku mau."
Evan lalu melepas pelukannya dan mulai membalikkan tubuh Luna untuk menghadap ke arahnya.
"Bolehkah aku melakukannya sekarang sayang?" tanyanya izin terlebih dahulu dengan Luna.
Luna mengangguk pertanda mengiyakan.
"Sayang, Papa akan membahagiakan Mamamu malam ini," ucapnya didepan perut Luna sambil mengelus perutnya.
Evan langsung memulainya dengan mengecup keningnya lalu turun ke bibirnya dan sampai saatnya mereka benar-benar tidak memakai sehelai benang-pun. Luna menundukkan kepalanya karena Luna sangat malu saat ini. Evan memegang kedua pipi Luna dan mendongakkan wajahnya agar menatap wajah Evan. Luna mengiyakan setiap perkataan Evan karena sekarang mereka sudah sah menjadi suami istri. Mereka akan mendapatkan pahala bila melakukannya.
Dan terjadilah malam pertama mereka yang lebih tepatnya malam kedua mereka dengan suasana yang lebih romantis. Malam ini adalah malam yang indah bagi pasangan pengantin baru tersebut. Mereka telah memadu kasih di bawah terangnya cahaya rembulan dan di temani wanginya taburan bunga mawar serta lilin aroma terapi yang kesannya terlihat menjadi lebih romantis.
"Terima kasih sayang," ucap Evan sambil mengecup keningnya.
__ADS_1
"Sama-sama sayang." Luna tersenyum manis.
Evan lalu meletakkan kepala Luna di dadanya. Evan ingin membuat Luna senyaman mungkin untuk tidur bersamanya. Mereka bahagia dan menyadari indahnya menjalankan kehidupan rumah tangga setelah menikah bersama dengan anaknya yang masih didalam kandungan. Evan berharap akan bisa terus seperti ini bersama Luna wanita yang baik baginya.