
Risa sudah dibawa ke rumah sakit oleh Papi mertuanya dan sekarang sudah berada di ruang IGD.
"Dok, tolong selamatkan menantu dan cucu saya."
"Baik Pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin melakukan yang terbaik buat menantu dan cucu Bapak," ucapnya lalu masuk ke ruang IGD.
Papi Aldi mondar-mandir cemas. Ia langsung menghubungi istrinya.
📞 Papi Aldi : "Mami cepat datang ke Rumah Sakit Kasih Ibu. Risa pendarahan Mi."
📞 Mami Ana : "Apa Pendarahan?"
📞 Papi Aldi :"Iya Mi, Tolong jangan hubungi keluarga Risa dulu ya Mi. Papi akan jelaskan dulu ke Mami kalau udah sampai. Nanti kita hubungin keluarga Risa kalau Papi sudah jelaskan semua ke Mami."
📞 Mami Ana : "Iya Pi. Mami akan segera kesana."
Setelah 21 menit kemudian Mami Ana datang menghampiri Papi Aldi yang sedang duduk di kursi.
"Pi, Rey mana? Kok gak sama Papi disaat seperti ini?"
"Rey belum tahu Mi. Papi akan jelaskan semua ke Mami terlebih dahulu." sambil menghembuskan nafasnya kasar.
"Jadi begini Mi, tadi Papi pantau lewat cctv wireless. Luna datang menemui Rey dan mengaku kalau dia sedang hamil anaknya Rey, usia kandungannya kalau Papi lihat sekitar 5 bulanan. Disana Risa mendengar semua pembicaraan Rey dan Luna. Risa marah-marah dan ingin berpisah dari Rey."
"Apa pisah? Jadi Risa menjadi banyak pikiran dan pendarahan gara-gara pelakor itu?"
"Iya Mi, Rey sedang ke tempat Yudha sekarang mencari bukti kalau dirinya tidak bersalah. Papi sudah susun rencana agar Luna mau mengakui kalau dia menjebak Rey. Papi sudah menyuruh Yudha untuk menyiapkan kamera untuk merekam percakapan mereka. Soalnya kalau tidak ada bukti kalau Rey tidak bersalah, Risa akan menggugat cerai Rey saat anaknya lahir."
"Cerai? Kurang ajar Luna! Mami akan labrak dia sekarang juga Pi. Mami pamit dulu ya Pi mau ke tempat Yudha." tangan Mami Ana sudah mengepal.
"Tunggu Mi, kita hubungin dulu keluarga Risa. Nanti kalau Keluarga Risa sudah datang Mami boleh kesana."
Mami Ana lalu menghubungi Mama Angel lewat telepon. Mami Ana mengshare lokasinya saat ini. Mama Angel terkejut mendengar anaknya pendarahan. Kebetulan jalan menuju Rumah Sakit searah dengan kantor suaminya. Ia mampir dulu ke kantor suaminya dan mengajaknya bersama-sama ke Rumah Sakit.
Sampai di Rumah Sakit Mama Angel berlari menuju ruang IGD. Papa Kevin berjalan dibelakangnya.
"Bagaimana keadaan Risa jeng?"
"Belum tahu jeng, Dokter belum keluar dari tadi."
Beberapa menit kemudian Dokter keluar bersama suster.
"Dengan keluarga pasien?" ucapnya.
"Iya. Saya ibunya dok," ucap Mama Angel.
"Begini Bu, Pasien saat ini sedang kritis. Ia kehilangan banyak darah. Persediaan kami hanya ada 1 kantong saja, itu pun sudah mau habis. Apa keluarga pasien ada golongan darahnya yang sama?"
"Kritis?" ucap Mami Ana.
__ADS_1
"Saya dok, ambil saja darah saya. Saya ingin anak saya selamat dok," ucap Mama Angel.
Mama Angel lalu berjalan ke ruangan bersama suster untuk mendonorkan darahnya.
"Bagaimana dengan kandungannya dok? Soalnya terakhir periksa kandungannya sehat dan kuat," ucap Mami Ana.
"Kandungannya saat ini lemah akibat pasien banyak kehilangan darah. Untung saja riwayat medis sebelumnya kandungan pasien kuat. Kalau misalkan saja riwayat medisnya kandungannya lemah bisa dipastikan saat ini pasien sudah mengalami keguguran."
Mendengar kata keguguran Papi Aldi tangannya mengepal, amarah di wajahnya sudah terlihat. Gara-gara Luna ia hampir saja kehilangan cucunya.
"Lakukan yang terbaik dok, berapapun biayanya pastikan anak saya selamat," ucap Papa Kevin.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin Pak."
...*****...
DI KANTOR REY
Rey wajahnya sudah terlihat gusar. Kata-kata Risa ingin berpisah darinya masih terngiang-ngiang di pikirannya.
"Aku gak mau pisah denganmu sayang." lirihnya sambil duduk kakinya menyatu, kedua tangannya sudah di atas lutut dan kepanaya menunduk.
Luna yang melihat Rey seperti itu pun langsung mendekatinya.
"Rey, aku tidak ada maksud untuk menghancurkan rumah tanggamu. Aku hanya memberi tahu kalau aku hamil anakmu, hanya itu saja," ucapnya tangan kanannya memegang pundak Rey, sedangkan tangan kirinya memegang perutnya.
"Pandai sekali dia bersandiwara. Aku ikuti saja permainan kamu Luna. Aku harus bersandiwara juga supaya Luna mau ku bawa pergi ke rumah sakit." batin Rey.
"Anakku," ucap Rey yang mulai bersandiwara dan mencoba memegang perut Luna.
"Iya ini anakmu Rey," ucapnya dengan senyuman meyakinkan Rey bahwa bayi yang ia kandung adalah anaknya.
"Yes, Rey percaya bahwa ini adalah anaknya." batin Luna.
Seketika anaknya menendang-nendang di dalam perut Luna.
"Dia bergerak?"
"Iya, Auwww sepertinya dia tahu kalau Papanya yang menyentuh. Jadi dia bergerak dengan cepat," ucapnya.
Luna berbohong padahal perutnya habis anaknya menendang-nendang sekarang terasa kram, seperti waktu itu ia hanya menyebutkan nama Rey saja perutnya terasa kram dan saat itu ada Evan yang mengelus perutnya dan menjadi tidak kram.
"Sepertinya kamu tahu ya nak kalau bukan Papa Evan yang memegang perut Mama." batin Luna.
"Kamu kenapa?" ucap Rey.
"Perutku terasa kram Rey Auwww." rintihnya.
"Ya sudah ayo kita ke Rumah Sakit. Aku tidak ingin anakku kenapa-kenapa," ucapnya yang masih bersandiwara dan berjalan keluar ruangannya.
__ADS_1
"Iya ayo Rey." sambil memegang perutnya dan berjalan di belakang Rey.
"Bagus, Luna akhirnya mau aku bawa ke rumah sakit. Risa, tunggu bukti bahwa aku tidak bersalah sayang dan kita tidak akan berpisah." batin Rey.
Di perjalanan ke Rumah Sakit Luna duduk di samping Rey, tidak ada percakapan di dalam mobil. Luna terus mengusap-usap perutnya yang sudah membesar sambil menyebut nama Evan didalam hatinya. Lama-lama rasa kram diperutnya mulai menghilang. Sepertinya bayinya merindukan Papanya.
...*****...
DI RUANG DOKTER YUDHA
Mereka sudah sampai di ruang Dokter Yudha. Luna pun terbengong melihat siapa dokter yang akan memeriksanya dan dulu pernah memeriksanya juga.
"Tolong dok cek kandungannya. Tadi dia kram perutnya katanya," ucap Rey.
Yudha pun mengecek kandungan Luna dan mengeprint hasil USG nya. Sekarang kramnya sudah hilang.
"Berapa saat ini usia kandungannya dok?" tanya Rey dengan penasaran.
"Saat ini usia kandungannya sudah berjalan 21 minggu."
"Itu artinya dia hamil 5 bulan 1 minggu-kan dok? Bukankah dokter pernah bilang kepada saya, kalau terakhir datang bulan sudah terhitung masa kehamilan."
"Iya benar sekali," ucap Dokter Yudha.
"Luna, aku bertemu denganmu sekitar 3 bulan yang lalu. Seharusnya kalau dia memang benar-benar anakku, sekarang usia kandungan kamu 4 bulan jika dihitung dari terakhir kamu datang bulan ya kan? Jadi itu anak siapa?" sambil menatap Luna tajam.
Luna terdiam. Ia bingung menjawab pertanyaan Rey.
"Cepat Jawab Luna!" Rey mulai membentak Luna.
"Iya Rey, ini sebenarnya bukan anak kamu. Ini anakku dengan pacarku," ucapnya sambil menunduk.
"Lalu kamu punya motif apa untuk menjebakku? Kamu ingin aku yang menikahimu? Aku yang bertanggung jawab atas semua yang pacar kamu lakukan? Jawab Luna!"
"Iya Rey karena pacarku tidak mau bertanggung jawab. Saat tahu kalau aku mengandung anaknya dia tidak mau menikahiku. Papaku tahu aku hamil, dia mengancamku untuk minum obat penggugur kandungan kalau aku tidak bisa meyakinkan kamu bahwa anak yang aku kandung adalah anakmu."
"Maaf Rey terpaksa aku melakukan ini karena aku tidak ingin kehilangan bayiku. Aku takut Papaku akan benar-benar nekat melenyapkan bayiku. Aku melakukan ini karena terpaksa. Aku sungguh tidak ada motif ingin merebut kamu dari Risa, aku tidak berfikiran seperti itu," ucapnya air matanya sudah mulai menetes dan ia menangkupkan kedua tangannya memohon maaf.
"Katakan siapa nama ayah bayi yang sedang kamu kandung! Kalau kamu mengatakannya aku akan berusaha untuk membantumu agar dia mau bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat terhadapmu."
"Evan Pratama," ucapnya lirih.
"Apa? Katakan yang lebih keras aku tidak dengar." Padahal Rey hanya ingin memastikan apakah ia tidak salah dengar dengan nama itu.
"EVAN PRATAMA," ucapnya dengan lantang.
"Apa?? Jadi benar namanya Evan?"
"Apakah kamu mengenalnya Rey?" tanya Luna.
__ADS_1
"Iya, tentu saja aku mengenalnya. Dia dulu adalah ketua OSIS di sekolahku. Dia menyukai Risa sejak lama dan dia terobsesi ingin memiliki Risa."
Luna membolakan matanya saat Rey bilang Evan menyukai Risa. Luna tak percaya mantan kekasihnya itu menyukai istri Rey sejak lama. Berarti selama ini dirinya berpacaran dengan Evan hanya sebagai pelampiasan saja. Pantesan selama pacaran Evan hanya berani menggandeng tangannya saja. Terkecuali saat melakukan hal itu dengan Luna, Evan dalam keadaan setengah sadar, ia sedang mabuk saat mendengar kabar Risa sudah bertunangan dengan Rey.