
Sandra tadi sudah mengirimkan pesan WhatsApp ke sopirnya kalau dirinya sudah bareng temannya untuk pulang. Di tengah perjalanan tidak ada percakapan antara mereka berdua. Ricko lalu membuka pembicaraan duluan.
"Sandra, kita makan dulu yuk ke restoran untuk merayakan hari kelulusan kita. Aku yang traktir deh mau ya?"
"Ehm..... Aku tidak lapar Ricko."
Tak lama kemudian terdengar bunyi suara dari perut Sandra.
Kruyuk....... kruyuk........
"Sudahlah Sandra kamu tidak bisa bohong lagi kepadaku," ucapnya terkekeh.
Kini Sandra hanya bisa menahan malu karena perutnya tidak bisa untuk di ajak kompromi kompromi. Ricko lalu mengarahkan mobilnya ke sebuah restoran. Mobilnya terparkir rapi di depan restoran tersebut.
"Sandra, ayo kita masuk nanti keburu sore. Ntar takutnya kamu terkena marah sama orang tua kamu kalau pulangnya terlambat."
"Iya Ricko, apa yang kamu katakan ada benarnya juga."
Mereka lalu duduk di tempat yang kira-kira nyaman untuk bersantai dan menikmati pemandangan indah dari luar di restoran tersebut. Setelah memesan makanan mereka akhirnya menikmati makanannya yang tersaji didepan mata.
Kebetulan Revano adik Reno hari ini pulang ke rumah. Jadi tadi Mommy Risa titip untuk dibelikan makanan kesukaan adiknya di restoran favoritnya. Reno melajukan motornya ke arah restoran tersebut. Saat sedang memesan makanannya mata Reno membulat sempurna saat melihat gadis yang dikenalnya sedang bersama laki-laki yang lumayan familiar di sekolahnya yang bernama Ricko. Mereka saling kenal karena sama-sama tergabung dalam OSIS waktu sekolah. Kecuali Kezia, gadis cantik itu tidak mau terlalu pusing dalam hidupnya.
"Ternyata Sandra lagi bersama dengan Ricko. Makanya dari tadi aku hubungi tidak mengangkat teleponnya."
"Apa mereka berpacaran ya?" ucapnya kembali.
Setelah makanan pesanannya sudah Reno bayar, akhirnya Reno berniat akan menghampiri Sandra yang sedang makan bersama dengan Ricko. Sesekali tadi Reno melihat Sandra tersenyum dengan Ricko. Ketua OSIS bernama Ricko tersebut memang suka bercanda jadi wajar saja siapapun yang sedang diajaknya bicara pasti bisa tersenyum dan tertawa. Reno melihat Sandra sepertinya bahagia dekat dengan Ricko. Reno lalu berjalan mendekati sahabatnya itu.
"Huh, ternyata seperti ini kamu kelakuannya di belakangku dan juga Kezia? Sahabat macam apa kamu itu Sandra? Ditelepon gak di angkat dan di WhatsApp gak di balas."
"Maaf Reno, hpnya aku silent jadi aku tidak mendengarnya." Sandra langsung menunduk.
"Hmm alasan saja kamu Sandra! Kamu telah mengkhianati persahabatan kita Sandra."
Sandra langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Reno tunggu. Aku tidak mengkhianati persahabatan kita. Percayalah padaku." Sandra menggenggam tangan Reno.
__ADS_1
Gadis cantik itu memperlihatkan puppy eyes.
"Lalu apa ini? Kalau kalian sedang tidak berpacaran. Kalian sedang berkencan dan makan bersama kan? Mau bukti apalagi Sandra?"
"Kita hanya merayakan hari kelulusan saja. Kita merayakannya dengan makan-makan bukan seperti kalian yang konvoi dengan baju seragam sekolah yang sudah kalian cat dengan pilox."
"Iya benar yang dikatakan Ricko. Sungguh Reno, aku dan Ricko tidak berpacaran. Kami hanya sahabatan saja."
Reno hanya diam saja. Entah kenapa melihat sahabatnya dekat dengan laki-laki lain Reno merasa tidak suka. Begitu juga saat dekat dengan Kezia. Sandra dan Kezia sahabat yang penting untuk dirinya karena mereka sudah bersahabat sejak kecil dan selalu satu sekolah yang sama, hanya kadang mereka tidak satu sekelas saja.
"Reno, kamu sungguh berlebihan. Sikap seorang sahabat tidak seharusnya seperti itu. Jujur aku memang menyukai bahkan aku mencintai Sandra tapi sampai sekarang dia belum membalas cintaku dan kami sekarang lebih memilih untuk sahabatan saja."
Reno lega bahwa Sandra tidak mengkhianati persahabatannya. Namun ada aura panas saat mendengar Ricko tadi bilang mencintai Sandra. Mereka bertiga Reno, Sandra dan Kezia sudah bersahabatan dengan janji tidak akan ada yang pacaran terlebih dahulu sebelum mereka masuk ke universitas. Bagi yang mengkhianatinya akan putus hubungan persahabatannya.
"Maaf Sandra, aku telah salah paham padamu. Sekarang lanjutkan makan soremu bersama sahabat barumu itu." Reno berbicara dengan tegas dan lalu meninggalkan Sandra dan Ricko yang masih terdiam.
Reno lalu melangkahkan kakinya keluar dari restoran tersebut. Manik mata Sandra melihat kepergian Reno. Kata-katanya barusan seperti menusuk hatinya saat bilang sahabat baru. Reno jadi merasa tersingkir sebagai sahabat lamanya.
"Ren..... Reno..........." Sandra berusaha untuk mengejar Reno namun motornya sudah melaju kencang meninggalkan restoran.
"Reno pasti salah paham. Karena selama ini kita hanya sahabatan bertiga saja dan itu sudah dari kecil. Namun apa salahnya kalau aku punya sahabat baru lagi."
"Hmm iya Ricko. Ayo kita kembali masuk ke restoran."
Mereka lalu kembali masuk ke restoran. Sandra mengambil tasnya dan Ricko sedang membayar makanannya. Kemudian Ricko mengantarkan Sandra pulang sampai rumahnya.
"Assalamualaikum......"
"Wa'alaikum Salam, Eh anak Mami yang cantik sudah pulang sayang."
"Iya Mami." Sandra sambil mengecup punggung tangan Lova.
Ricko masih terlihat berdiri di depan pintu. Lova heran baru kali ini anaknya Sandra diantar pulang sampai rumah dengan seorang laki-laki.
"Nak, kamu sama siapa?"
"Kenalin Mami ini teman Sandra di sekolah namanya Ricko Mahendra."
__ADS_1
"Ricko Tante," berjabat tangan lalu mengecup punggung tangan Mami Lova.
"Anak yang sopan santun. Sepertinya nak Ricko ini suka dengan putriku." Batin Lova dengan dengan bibirnya yang dibiarkan melengkung ke atas membentuk seperti bulan sabit.
"Ayo nak silakan masuk."
"Tante ini sudah sore saya langsung pamit pulang saja. Nanti saya dicariin Mama hehehe."
"Oh kalau begitu hati-hati di jalan ya. Terima kasih telah mengantarkan Sandra pulang sampai rumah."
"Sama-sama Tante."
Setelah Ricko mobilnya sudah meninggalkan halaman rumahnya Lova akan mengintrogasi anaknya. Lova masuk ke dalam kamar putri satu-satunya itu. Lova dan Dean memang sepakat untuk memiliki satu anak saja.
"Sayang, tadi teman kamu sepertinya suka sama kamu nak," ucapnya sambil membelai rambut panjang Sandra.
"Mami apa-apaan sih? Sandra hanya berteman saja dengan Ricko dan tidak ada hubungan khusus antara Sandra dengan Ricko Mami."
"Nak, sepertinya Ricko anak yang baik dan perilakunya juga sopan santun."
"Iya Mami, Ricko memang baik. Ricko juga pernah menyatakan perasaannya kepada Sandra," ucapnya keceplosan lalu dengan segera Sandra menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Tidak ada salahnya kamu membuka hati untuknya nak. Sekarang kamu sudah lulus SMA."
"Eh? Tapi Mami aku sukanya sama..." Kata-katanya berhenti, hampir saja Sandra keceplosan berbicara tentang laki-laki yang selama ini singgah di hatinya.
"Aku sukanya sama laki-laki yang terlihat lebih dewasa Mami," ucapnya dengan cepat agar Mami Lova tidak curiga karena tadi dirinya hampir saja keceplosan menyebutkan nama laki-laki yang Sandra suka.
"Hmm... Apapun pilihan kamu pasti Mami setuju nak. Sekarang kamu mandi dulu gih dan habis itu makan."
"Iya Mami. Tapi tadi Sandra sudah makan kok sama Ricko."
"Ya sudah, Mami keluar kamar kamu ya. Jangan lupa pikirkan perkataan Mami tadi ya nak."
Sandra menganggukkan kepala tanda setuju. Sekarang Lova sudah keluar dari kamarnya.
"Huft, hampir saja tadi aku keceplosan berbicara seperti itu."
__ADS_1
Sandra lalu memilih mandi karena badannya sudah terasa lengket.