
Kandungan Risa sudah berjalan 7 bulan. Anaknya sudah mulai aktif menendang-nendang dalam perutnya. Sedangkan kandungan Kezia baru 5 bulan 3 mingguan. Ngidam Risa sudah terwujud karena Risa juga sudah bisa merasakan pergerakan dalam perut Kezia. Kapanpun Risa mau mengusap perutnya Kezia selalu membiarkan mertuanya itu untuk mengusapnya karena dari dulu ngidamnya ingin merasakan tendangan kecil dari anaknya. Cucunya itu sudah bisa menendang-nendang meskipun belum seaktif anak dalam kandungannya. Wajar saja karena Risa duluan yang hamil. Saat ini Risa sedang merasakan pergerakan anaknya. Perutnya terlihat lebih menonjol ke kanan. Agak sedikit geli saat anaknya seperti ini.
"Sayang, kamu sedang apa nak?" ucap Risa sambil mengusap perutnya yang sudah membesar.
"Kamu sedang mencari kenyamanan ya? Auwww, geli sekali nak," ucapnya kembali.
Rey masuk ke dalam kamarnya dan tersenyum melihat istrinya sedang berbicara dengan anaknya. Rey berjalan pelan-pelan mendekati istrinya.
"Sayang......." Rey memeluk Risa dari belakang dan mengusap perutnya pelan. Rey tersenyum saat merasakan tendangan kecil dari anaknya.
"Rey....."
"Biarkan sejenak begini ya sayang. Aku ingin memelukmu dan juga memeluk anak kita."
"Tapi sayang kan sebentar lagi acaranya akan dimulai."
"Masih ada waktu lima belas menit dan biarkan aku memelukmu sejenak saja," pinta Rey.
Risa lalu membiarkan suaminya memeluknya dan mengusap perutnya. Rey merasakan anaknya begitu aktif saat ini.
"Sayang, apa dia lagi pindah posisi? Dari tadi bergerak terus."
"Hmm, mungkin Rey. Agak sedikit geli dan ngilu jika anak kita sedang seperti ini."
Tak lama kemudian Rey lalu melepaskan pelukannya.
"Sayang, kamu wanita yang hebat. Aku sangat bersyukur punya istri seperti kamu."
"Haha, aku masih ingat saat kita dulu dijodohkan sayang."
"Iya, aku tidak menyangka jodohku kakak kelasku sendiri," ucapnya terkekeh.
"Jadi kamu menyesal nih menikah denganku karena aku lebih tua darimu?" Risa menatap suaminya.
"Tidak sayang. Kan umur kita bedanya gak sampai setahun."
"Eh iya juga sih."
"Makasih ya sayang kamu memberikan aku tiga anak."
"Hmm iya Rey. Jangan bilang ingin anak lagi karena aku sudah tidak bisa memberikan kamu anak lagi."
"Tidak sayang, tiga anak sudah cukup buatku."
Rey melihat perut Risa masih menonjol ke kanan namun tidak seperti tadi. Rey menunduk dan mengecup perut istrinya.
__ADS_1
"Anak Daddy sudah tidak nyaman ya dalam perut Mommy?" Rey mengusap-usap perut Risa pelan.
"Kalau bicara sama anak jangan sembarangan," ucap Risa menjitak suaminya.
"Sayang, kenapa kamu menjitakku?"
"Sama anak jangan berbicara seperti itu."
"Iya, tidak akan lagi. Bumil jangan marah-marah, nanti cepat tua," jawab Rey sambil mengusap kepalanya.
"Jadi kamu bilang aku tua?"
"Duh, salah bicara lagi." Batin Rey.
"Tidak sayang, kamu mungkin salah mendengar."
"Tidak mungkin aku salah mendengar, telingaku masih bisa mendengarnya. Kamu ngaku saja!"
"Iya, aku ngaku salah," ucap Rey.
Tak lama kemudian pintu terbuka. Rey dan Risa menoleh siapa yang datang.
"Daddy, Mommy, acaranya akan segera dimulai. Tamu-tamu sudah datang," ucap Reno.
"Iya nak. Kita akan segera keluar dari kamar," ucap Risa.
"Bumil makin glowing saja," ucap Lova.
"Risa kan sering perawatan wajah bareng aku jadi kita terlihat awet muda," ucap Sonya.
"Ya ampun Jeng Risa ini makin cantik semenjak hamil. Jadi ingin hamil lagi deh," ucapnya tertawa cekikikan.
"Nambah lagi Jeng mumpung masih bisa hamil," jawab Risa.
"Ah tidak Jeng. Nanti yang ada suamiku gak mau diajak kompromi untuk ngurus anak. Kan beda sama suami Jeng Risa yang telaten ngurus anak. Itu cucunya saja anteng digendong Pak Reynaldi."
"Iya, cucu saya memang lulut sama Kakeknya."
"Sama Kakek dan Papanya sangat dekat justru sama Mamanya malah tidak Bu," ucap Kezia.
"Sudah biasa seperti itu nak. Kita yang mengandung dan melahirkannya, eh setelah lahir dekatnya sama siapa," ucapnya terkekeh.
"Iya benar Bu. Saya sampai heran loh," ucap Kezia.
Teman-temannya Risa lalu ada yang pamit pulang. Kezia ikut menyalami para tamu.
__ADS_1
"Makasih ya Jeng sudah datang. Sebulanan datang lagi ya Jeng ke acara tujuh bulanan menantu saya," ucap Risa dengan ramah.
"Iya pasti Jeng. Semoga lancar-lancar ya sampai melahirkan," ucapnya sambil tersenyum dan mengusap perut Risa.
"Aamiin....."
"Wah, perutnya balapan sama menantunya ya Jeng," ucapnya terkekeh melihat perut Risa dan Kezia yang hampir sama karena mereka hanya berbeda lima minggu saja.
"Iya cuman beda 5 mingguan Jeng. Saya yang menyuruh menantuku untuk hamil lagi karena saya ngidam ingin mengusap perutnya dan merasakan tendangan kecil dari perutnya. Lagian agar menantuku bisa menemaniku saat hamil," ucap Risa menjelaskan.
"Wah, seru sekali ya Jeng hamil bareng menantu."
"Iya Jeng. Alhamdulillah bisa hamil bareng ternyata menyenangkan," ucap Risa.
"Yang puyeng suami-suaminya mereka yang harus mengikuti kemauan ngidamnya secara bersamaan," ucap teman yang satunya lagi.
Mereka lalu tertawa bersama. Beberapa warga yang masih ada di rumah Rey sedang berbisik-bisik, ada yang bilang tidak sadar umur karena hamil lagi. Ada juga yang bilang bahwa seharusnya menantunya saja yang hamil dan Risa pantasnya menggendong cucu tidak menggendong anak lagi. Yang lebih menyakitkan ada yang bilang Risa merupakan mertua yang kebangetan, menyuruh menantunya hamil lagi untuk menemaninya.
"Kalau tadinya gak mau hamil ya enggak usah melakukannya," ucap salah satu ibu-ibu.
"Iya, kasihan menantunya. Padahal anaknya baru setahunan udah mau punya adik saja."
"Iya jarak anaknya begitu dekat ya."
"Menantunya gak bisa melawan perkataan mertuanya apa? Masa iya mau-mau saja disuruh menemaninya hamil."
"Menantunya terlalu baik bu ibu, itu sudah terlihat dari nada bicaranya sangat sopan santun dari tadi."
Para ibu-ibu pada membicarakan Kezia dan juga Risa. Kezia tidak habis pikir para ibu-ibu itu seperti kurang perkejaan saja dan menggosipkan orangnya di depannya langsung. Kezia menggenggam tangan Risa. Mertuanya itu harus tetap tegar dan tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh warga.
"Mommy..."
"Mommy tidak apa-apa nak. Sudah kebal kuping Mommy mendengar ucapan mereka."
Risa tahu ibu-ibu sekitar perumahannya sering membicarakannya karena kadang asisten rumah tangganya sering beli sayuran yang lewat depan rumah. Sonya tidak terima mendengar perkataan ibu-ibu itu. Karena nama anaknya juga terbawa-bawa.
"Hei... Bu ibu pada syirik aja. Mungkin kalian iri kan sama besan saya yang masih bisa hamil?" ucap Sonya membela sahabat sekaligus besannya.
"Bu ibu mulutnya perlu disekolahkan ya," jawab teman arisannya Risa.
Segerombolan ibu-ibu tadi memilih untuk pergi begitu saja.
"Hu..... Bisanya cuma ngomongin orang doang," ucap Lova.
"Sudahlah Mami tahan emosi," ucap Dean.
__ADS_1
"Kesal aku Papi, besan kita dibicarakan seperti itu."
Risa bersyukur orang-orang terdekatnya membelanya.