Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 31 - Panggilan Sayang


__ADS_3

Rey sudah sampai di tempat pemotretan Risa.


"Loh Rey kamu udah nunggu lama?" ucapnya.


"Tidak, barusan saja kok sayang" ucapnya dengan senyum.


Risa pun wajahnya langsung merah merona saat Rey memanggilnya dengan sebutan sayang.


FLASHBACK ON


"Rey kata Papa sama Mama kita harus mengubah nama panggilan kita," ucapnya seraya bingung memikirkan nama panggilan untuk Rey.


"Aku punya usulan beberapa nama panggilan. Mau bebeb, honey atau ayah, bunda?" ucapnya.


"Enggak mau itu, apalagi ayah bunda kita kan belum punya baby" ucapnya.


Rey pun hanya tersenyum.


"Eh iya juga ya. Bagaimana kalau sayang?" ucapnya kembali.


"Boleh, kita sepakat panggilnya sayang. Aku gak mau dimarahi Papi sama Mami kamu nanti. Kamu ingat kan kemarin Papa sama Mama memarahi kita, saat kita masih menyebut panggilan dengan nama saja," ucap Risa menjelaskan.


"Iya sayang" ucap Rey.


Risa pun lalu membolakan matanya menatap Rey.


"Hehehe belajar dulu dari sekarang kak biar gak keceplosan nanti saat bertemu Papi sama Mami," ucapnya.


"Eh Rey kepanjangan kayaknya deh kalau panggilnya sayang. Gimana kalau aku panggil kamu say dan kamu panggil aku yang?" ucap Risa.


"Iya terserah kamu saja yang," ucapnya sambil tersenyum menatap Risa.


"Ok say, aku masih canggung kalau panggilnya sayang soalnya hehehe," sambil cengengesan.


Rey pun lalu mencubit pipi Risa.


"Auwww sudah mulai nakal kamu say!" ucapnya sambil membalas cubitan ke Rey.


"Maaf, habis kamu gemesin yang hehehe," ucapnya sambil nyengir.


FLASHBACK OFF


"Say, kita ke mall dulu yuk. Aku mau beli baju tidur," ucapnya sambil naik motor.


"Ya udah yuk, tapi kita makan dulu ya yang," ucapnya sambil menengok ke belakang,"


"Ok say," sambil tersenyum.

__ADS_1


Lalu mereka pun sudah sampai di restoran.


"Yang kamu mau makan apa?"


"Aku mau makan chicken katsu aja say,"


"Mba, saya pesan chicken katsu dan steak. Sama minumnya 2 orange juice" kata Rey.


Pelayan itu pun melihat Rey dari atas sampai bawah. Lalu kemudian mencatat pesanannya dan pergi ke belakang.


"Yang kamu tadi lihat tidak pelayan ngeliatin aku terus dari atas sampai bawah?" ucapnya.


"Iya aku melihatnya kenapa emangnya say?" sambil meletakkan hp nya dan menatap Rey.


"Dia kayaknya meragukan kita bisa bayar atau tidak deh! Kamu gak malu punya suami hanya sebagai ojol yang?" ucapnya bertanya sambil melepaskan jaketnya dan iya pun penasaran akan jawaban Risa.


"Enggak, ngapain aku harus malu say. Pekerjaan kamu kan yang penting halal. Lagian kan kamu sebenarnya anak direktur pemilik hotel bintang lima. Kamu menjadi ojol kan karena kamu pengen mandiri. Gak mau tergantung sama fasilitas yang Papi berikan. Aku salut sama kamu say. Sekarang kamu sudah belajar untuk menjadi dewasa," ucapnya sambil tersenyum.


"Dan lagian, ini juga salah satu restoran pertama punya Papaku sama Papimu" ucap Risa kembali.


Pelayan yang tadi pun mendengar ucapan Risa dan Rey saat membawakan semua pesanannya.


"Ini tuan pesanannya. Maafkan tadi atas sikap saya. Saya masih mau bekerja di sini tuan. Saya mohon jangan pecat saya" ucapnya sambil meletakkan gelas dengan tangan gemetar dan dengan wajah yang menunduk.


"Tidak apa-apa, lain kali jangan lihat orang berdasarkan penampilannya saja ya mbak. Karena kita juga tidak tahu nasib kita saat kita sedang berhadapan dengan siapa" kali ini Risa yang bicara panjang lebar.


Pelayan tersebut lalu nyalinya menciut. Ia pun langsung pergi.


"Aku tidak terima say kamu di rendahkan seperti itu. Kamu itu kan suamiku" ucapnya lalu sambil meneguk jus jeruknya.


"Jadi sekarang aku udah di akuin nih sebagai suami?" ucapnya menggoda.


"Udah makan sekarang nanti keburu dingin," ucap Risa sambil mengalihkan pembicaraan.


*****


DI TEMPAT LAIN


Sinar matahari pun mulai naik memancarkan sinarnya. Suara mobil pun datang masuk ke halaman rumah.


"Papa pulang," ucap Alvin yang baru masuk rumah.


"Papa.., Luna kangen banget sama papa. Kenapa papa di luar kota lama sekali" Luna langsung memeluk papanya.


"Papa ada proyek pembangunan hotel baru bersama rekan bisnis papa sayang. Papa niat ingin menjodohkan kamu dengan anaknya. Ya meskipun anaknya sudah memiliki tunangan" ucapnya sambil mengelus pucuk rambut anaknya.


"Apa? Papa mau menjodohkan aku yang sedangkan orangnya sudah memiliki tunangan. Luna gak mau pa menjadi perusak hubungan orang lain," ucapnya sambil melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Kamu dengerin dulu penjelasan papa, pasti kamu tidak akan menolak dengan yang akan papa jodohkan sama kamu. Dia teman masa kecil kamu nak," ucapnya sambil membujuk Luna.


"Siapa pa?" Luna pun bingung dengan ucapan papanya itu.


"Reynaldi Wijaya. Putra tunggal Aldi Wijaya," ucapnya.


"Apa Rey pa? Risa gak mau pa apalagi Rey kan teman baik Luna" ucapnya kembali.


"Sayang ini demi kelancaran bisnis kita, biar semakin berkembang pesat. Kamu harus mau nak," ucapnya sambil tersenyum.


"Tapi pa," dengan nada pelan.


"Tidak ada tapi-tapian. Ini demi masa depan kamu nak," ucapnya.


"Tuan dan Nona masakannya sudah siap. Silakan dinikmati sarapan paginya," ucapnya.


Setelah sarapan Risa yang hendak minum susu.


"Tumben kamu minum susu nak?" ucap Alvin seraya menatap anaknya.


"Iya pa lagi pengen aja," ucapnya. Seketika ia pun lupa bilang ke bibi untuk menyembunyikan susu ibu hamilnya yang masih tersimpan di dapur.


Saat mau minum Luna pun merasakan mual. Setiap pagi hari Luna memang mual-mual dan lemas. Iya pun sudah tidak tahan lagi untuk menahannya. Akhirnya Luna berlari menuju wastafel di dapur dan memuntahkan semua isi dalam perutnya. Alvin pun melihat setiap gerak-gerik anaknya. Lalu ia menyusul Luna ke dapur.


Alvin pun lalu memijit leher anaknya agar keluar semua muntahannya sambil bertanya. "Luna apakah kamu hamil?"


Luna pun hanya terdiam dan tidak berani menjawab pertanyaan papanya. "Kenapa kamu tidak jawab? Apa ternyata benar kamu bentaran hamil?" ucapnya kembali. Lalu ia melihat sekotak susu ibu hamil di meja dapur. Alvin pun mengerti apa yang terjadi dengan anaknya.


"Kamu tidak bisa mengelak lagi Luna sama papa," ucapnya sambil mengambil susu ibu hamil tersebut dan melemparkannya ke meja.


"Kamu sekarang jawab papa. Siapa yang menghamilimu?" ucap Alvin dengan amarah yang sudah mulai memuncak.


"Ev... Evan Pratama, pacar Luna," ucapnya sambil terbata-bata.


"Kurang ajar. Plakkk.......," Alvin menampar Luna hingga akan terjatuh.


"Maafin Luna pa, Luna tahu Luna salah. Papa tolong maafin Luna," ucapnya sambil terduduk memeluk kaki papanya. Akhirnya rahasia terbesar yang ia berusaha untuk menutupinya pun akhirnya terbongkar juga.


"Kamu tahu kan cita-cita papa hanya akan menjadikan Rey sebagai menantu papa. Tapi apa yang kamu perbuat? Kamu sudah menggagalkan semua rencana yang telah papa susun sejak lama!" ucapnya yang sudah dengan nada tinggi.


"Maaf pa. Maafin Luna. Luna dipaksa pa," ucapnya yang masih nangis tersedu-sedu.


"Suruh laki-laki yang menghamilimu kesini. Dia harus tanggungjawab atas perbuatannya," ucapnya.


"Evan sudah kesini pa, Dia gak mau tanggungjawab. Dia bahkan menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku," ucapnya pelan dan sambil menunduk.


"Apa? Kurang ajar!" umpatnya.

__ADS_1


"Baiklah aku punya ide. Jalan satu-satunya kamu harus menjebak Rey dan bilang bayi yang dalam kandungan kamu itu adalah anaknya!" ucap Papa Alvin dengan senyum liciknya.


"Apa? Aku gak setuju pa. Rey gak salah. Kasihan Rey pa. Rey gak tahu apa-apa dalam masalah ini," ucapnya kembali.


__ADS_2