
Dean lalu melajukan mobilnya ke rumahnya. Sebelumnya ia sudah menelpon asistennya untuk menggantikan meeting pagi ini. Dean akan telat masuk kantor. Dean berlari menuju kamarnya takutnya Lova akan segera berangkat ke kampusnya. Saat melihat Lova sedang di meja riasnya Dean langsung memeluk Lova.
"Beb," ucapnya lirih.
Lova lalu menatap wajah Dean dari cerminnya yang nampak begitu gelisah.
"Ada apa beb?"
Dean lalu membalikkan tubuh Lova agar menghadap ke arahnya.
"Maafkan aku beb," ucapnya sambil bersimpuh di kakinya.
"Minta maaf untuk apa? Hey apa yang kamu lakukan? Jangan seperti ini." Lova kaget saat Dean bersimpuh di kakinya dan meminta maaf.
Dean lalu menceritakan semuanya yang terjadi di pagi ini. Lova membulatkan matanya saat tahu cerita dari Dean. Hati Lova terasa sakit saat mengetahui Dean menghabiskan malamnya dengan Sera. Namun di dalam hati kecilnya mengatakan bahwa Dean tidak bersalah.
"Aku percaya padamu. Berdirilah beb," ucap Lova.
Dean langsung memeluk istrinya. Dean bersyukur istrinya percaya dengannya.
"Kamu mau memaafkanku beb?" ucapnya sambil memegang kedua pipi Lova.
"Iya beb. Aku yakin kamu tidak bersalah dan kamu hanya dijebak oleh Sera." Lova berusaha hatinya untuk tegar dalam menghadapi lika-liku kehidupan rumah tangganya.
"Iya beb, semalam aku tidak ingat apa-apa setelah minum teh itu dan rasanya mengantuk sekali. Misalnya nanti Sera benar-benar hamil aku akan tes DNA agar kamu percaya bahwa bukan aku ayah dari bayi yang sedang dikandungnya. Aku akan cari bukti bahwa aku tidak bersalah beb karena dia hanya menjebakku."
"Iya aku percaya padamu beb. Tapi aku bingung lalu Sera melakukan itu dengan siapa?" tanyanya penasaran.
"Aku juga tidak tahu beb. Aku rasa Sera ingin aku nikahi karena dia pengen menghancurkan rumah tangga kita beb," ucap Dean.
"Aku harus segera menyelidikinya. Kamu tenang saja ya beb," ucapnya kembali.
"Semoga saja kamu segera menemukan bukti kebusukan Sera," ucap Lova.
"Iya beb. Kita harus bersabar, anggap saja ini ujian untuk rumah tangga kita."
Lova mengangguk pelan. Lova juga yakin bahwa suaminya hanya dijebak. Lova akan berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya ini juga demi masa depan anaknya yang harus tumbuh dengan keluarga yang lengkap. Benar yang dikatakan para sahabatnya harusnya pelakor yang pergi dari kehidupannya, bukan kita yang harus pergi karena pelakor akan merasa menang kalau kita pergi.
...*****...
DI RUMAH EVAN PRATAMA
Pagi hari Luna sudah bangun dari tidurnya. Luna berniat untuk memasak untuk sarapan pagi dan sebenarnya asisten rumah tangga di rumah Evan sudah melarangnya namun Luna tidak menghiraukan ucapannya. Setelah berkutat dengan alat dapur akhirnya menu sarapan pagi ini nasi goreng buatannya sudah jadi. Evan dan Papa Ferdinan sudah berada di ruang makan.
__ADS_1
"Wah calon menantu Papa seharusnya jangan terlalu capek-capek untuk memasak. Ingat kamu sedang hamil nak, kamu harus jaga kesehatan."
"Tidak apa-apa kok Pa kalau cuma untuk masak doang. Luna sudah 2 bulan ini terbiasa kalau pagi kadang pengen masak."
"Wah sepertinya anak kita nantinya perempuan sayang..." sambil tersenyum ke arah Luna.
Luna kaget saat Evan mengucapkan kata sayang. Karena ini baru pertama kalinya Evan mengucapkannya. Papa Ferdinan senang sekarang Evan lebih perhatian dengan Luna. Mereka lalu sarapan bersama.
"Enak masakannya sayang," ucap Evan.
Luna hanya tersenyum, hatinya sangat bahagia karena Evan akhirnya mau menerimanya dan juga anaknya.
"Kalian pagi ini ke butik ya buat feeting baju. Untuk undangannya sudah Papa sebar dan di meja masih ada yang belum di namai."
"Baik Pa," ucapnya bersamaan.
Luna sudah siap dan menunggu Evan dibawah. Papa Ferdinan sudah berangkat ke kantor.
"Ayo sayang kita pergi." sambil menggandeng tangan Luna.
Luna pikir tadi Evan memanggilnya sayang saat didepan Papanya saja dan ternyata tidak. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di butik.
"Sayang kedua gaun pilihanku ternyata tidak bisa menutupi kehamilanku."
"Maafkan aku sayang. Seharusnya aku menikahimu saat usia kehamilan kamu masih belum terlihat. Aku baru sadar bahwa kehadirannya sangat ku inginkan saat bayi kita sudah bisa menendang-nendang di perutmu," ucapnya sambil menunduk.
"Tidak apa-apa. Kita bisa cair gaun yang lainnya."
Lalu Luna menemukan gaun pengantin yang kira-kira tidak begitu memperlihatkan kehamilannya.
"Saya mau gaun yang serupa dengan ini, tapi ada gak yang lengannya lebih pendek?"
"Ada, ini di coba saja Nona."
Luna akhirnya menemukan gaun yang pas untuknya.
"Bagus kan sayang tidak terlalu kelihatan perutku," ucap Luna.
Evan hanya mengangguk dan tersenyum lebar.
"Saya ambil yang ini saja." sambil menyerahkan gaun dan jas serta Credit Card nya.
"Baik Tuan."
__ADS_1
Evan lalu membayarnya di kasir. Evan membawa paper bag ditangan kirinya sedangkan tangan kanannya untuk menggandeng tangan Luna. Sebenarnya Luna ingin membawa barang belanjaannya. Tapi Evan tidak mengizinkannya alasannya nanti Luna kecapekan. Luna dan Evan sudah berada di mobil. Evan lalu mengemudikan mobilnya ke arah Rumah Sakit namun tidak memberitahu Luna terlebih dahulu karena biar surprise.
"Loh sayang seharusnya kita belok kiri untuk pulang ke rumah. Kenapa jadi lurus?"
"Aku ingin memeriksakan kandungan kamu sayang. Aku ingin mengetahui jenis kelamin bayi kita," ucapnya dengan senyuman.
Mereka sudah sampai di Rumah Sakit. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit akhirnya nama Luna dipanggil untuk masuk ke ruang dokter kandungan. Dokter Yudha tersenyum saat melihat Luna dan Evan datang. Luna lalu diperiksa oleh Dokter Yudha. Evan bahagia saat mendengar detak jantung anaknya.
"Bayi anda sangat sehat dan begitu aktif Nona. Usia kehamilan anda saat ini sudah memasuki 22 minggu."
"Iya, dia kadang menendang-nendang di perut saya dok dan terkadang terasa geli rasanya."
"Iya saya tahu. Nanti akan begitu aktif lagi menendangnya saat usia kandungan anda sudah 30 minggu ke atas akan sering menendang-nendang dan terasa ngilu."
"Kalau untuk jenis kelamin bayinya dok?" tanya Evan.
"Sebentar saya cek terlebih dahulu," ucapnya sambil menggerakkan alat yang berada ditangannya di perut Luna.
"Selamat jenis kelamin bayinya perempuan."
"Benarkan sayang apa kataku. Kalau anak kita perempuan."
Luna hanya mengangguk dan tersenyum. Suster lalu membersihkan cairan gel yang tadi di perut Luna. Evan membantu Luna untuk turun dari ranjang dan lalu duduk di kursi.
"Ini hasil pemeriksaannya dan USG bayinya. Usahakan banyak makan buah agar selalu sehat. Saya senang anda dapat menemani Nona Luna saat pemeriksaan. Saya harap setiap pemeriksaan anda selalu menemaninya," ucapnya dengan senyuman.
"Iya dok. Saya senang menemaninya periksa. Saya jadi bisa mendengar suara detak jantung anak saya. Oh iya terima kasih berkat saran dokter juga saya akan segera menikahinya besok hari minggu," ucap Evan.
"Dokter Yudha saya berharap dokter bisa datang ke pernikahan saya," ucap Luna lalu menyerahkan undangan pernikahannya.
"Insyaallah saya akan datang dengan calon istri saya."
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya dok, permisi."
"Iya, hati-hati di jalan."
"Terima kasih dok."
Luna dan Evan lalu pergi meninggalkan ruang Dokter Yudha. Dokter Yudha senang saat melihat Evan dan Luna akan menikah. Evan menurut saran yang pernah ia katakan untuk menjadi suami dan ayah yang baik. Karena bagaimanapun anaknya butuh ayahnya. Yudha lalu melihat undangan Evan dan Luna.
"Kapan ya ada namaku dengan Karin ada di undangan seperti ini," ucapnya sambil tersenyum.
Dokter Yudha sedang membayangkan saat dirinya menikah dengan Karin. Pasti ia merasa beruntung menjadi laki-laki yang bisa mendapatkan cintanya Karin.
__ADS_1