
Setelah Risa sudah di jemput Rey. Sonya mengantarkan Lova ke rumah Dean. Papa mertuanya belum pulang. Namun sudah ada mobil Dean di rumah. Ternyata Dean pulang lebih awal. Mereka memang ke kantor menggunakan mobil masing-masing. Papanya diantar sopirnya. Lova langsung masuk ke kamarnya.
"Beb, aku rindu padamu," ucap Dean ditelinga Lova.
"Hmm..." Lova hanya berdehem saja, soalnya nanti malam suaminya tidak bersamanya melainkan bersama istri keduanya.
"Kamu marah ya sayang kalau nanti malam aku ke rumah Sera? Aku janji tidak akan melakukan apapun dengannya dan aku ingin melakukannya denganmu sekarang beb," ucapnya pelan lalu berjalan mendekati istrinya.
"Stop....." ucap Lova dan tangannya mencegah tubuh Dean yang berusaha untuk mendekatinya.
"Kamu tidak ingat kalau aku sedang hamil anak kamu? Kandunganku sudah berjalan 4 bulan lebih. Bagaimana bisa kita melakukan hal itu?" tanyanya sambil mengernyitkan dahinya.
"Apa kamu tidak ingat beb saat terakhir kali kita cek kandungan kamu dan konsultasi dengan dokter. Dokternya mengatakan bahwa kita boleh melakukannya saat usia kandungannya lebih dari 16 minggu karena janinnya sudah kuat dan usia kehamilan kamu sekarang sudah 19 minggu. Jadi gak ada masalah kan kalau kita melakukannya sekarang?"
"Tapi kan..." Lova ragu untuk melakukan hal itu terlebih saat dirinya sedang hamil.
Belum meneruskan perkataannya Dean sudah mendaratkan ciuman dibibir Lova. Ciuman itu menuntut untuk melakukan hal yang lebih.
"Dean kamu jangan nekat!" ucap Lova sambil mendorong Dean.
Saat Lova berjalan menuju kamar mandi Dean menarik tubuhnya dan sekarang Lova sudah dipeluk Dean dari belakang.
"Aku mau mandi beb. Sepulang dari kampus aku belum mandi. Tolong lepaskan pelukannya!"
"Tidak akan. Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja," ucapnya di telinga Lova.
"Aku tidak mau melakukannya Dean!" Lova tak habis pikir bahwa Dean sangatlah menginginkannya saat ini.
"Dokter kandungan saja mengizinkan beb. Apa salahnya kalau kita tidak mencobanya? Kalau kamu tidak mau aku akan melakukannya dengan Sera, dia juga istriku kan?" ancam Dean agar Lova mau.
"Hahhh Apa??" Mendengar nama Sera istri keduanya. Lova tidak ingin Dean menghabiskan malamnya dengan istri barunya saat nanti malam.
Dengan cara itu Dean berhasil merayunya. Padahal nama Sera hanya sebagai ancaman saja. Dean juga tidak ingin menyentuh istri keduanya dari pernikahan bisnisnya. Karena Dean hanya mencintai Lova terlebih sudah ada buah hatinya yang sebentar lagi akan hadir sebagai pelengkap kehidupan rumah tangganya. Akhirnya Lova pun luluh hatinya dan mereka melakukan hal itu di sore hari sebelum Papanya datang.
"Terima kasih beb," ucapnya lalu mengecup kening Lova.
Lova tidak menjawabnya karena sudah terlelap. Dean langsung mengecup perut Lova setelah mengecup keningnya.
"Sehat-sehat ya nak diperut Mama. Papa sayang kamu." sambil mengelusnya dan anaknya merespon.
Lova terbangun ketika merasakan tendangan anaknya yang begitu kuat.
"Aduh..." ucapnya.
"Kamu kenapa beb?" ucapnya khawatir.
"Huh anak kamu ini nendangnya kenceng banget, aku sampai terbangun dari tidurku." sambil memukul lengan suaminya.
"Hahaha mungkin dia senang beb karena barusan aku berbicara dengannya sambil mengecup dan mengelusnya. Sekarang bagaimana apakah masih menendang-nendang?" tanya Dean.
"Sudah tidak lagi beb. Aku mau mandi dulu," ucapnya lalu akan beranjak dari tempat tidur.
"Boleh ikut beb?"
"Enggak!" ucapnya dengan nada tinggi lalu Lova langsung berlari menuju kamar mandi.
Dean terkekeh melihat tingkah laku istrinya itu. Dean tadi hanya menggodanya istrinya saja.
__ADS_1
"Aku takut Sera berbuat nekat malam ini dan rasanya aku tidak sanggup jika harus berpisah denganmu beb." lirihnya.
...*****...
Sehabis Sholat Isya berjamaah dengan Lova kamar Dean ada yang mengetuk pintunya.
"Tok... Tok.... Tok....."
Dean lalu membuka pintunya. Betapa terkejutnya Dean melihat Papanya sudah ada di depan pintu kamarnya.
"Kenapa belum ke rumah Sera?"
"Baru saja selesai Sholat Isya Pa." Dean masih menggunakan peci dan sarungnya.
Lova dengan cepat langsung melipat mukena dan sajadahnya. Lova akan menghampiri Dean dan mertuanya.
"Cepat sekarang kamu ke rumahnya."
"Tapi Pa. Kenapa tidak besok saja?"
"Tadi pagi kamu sudah janji dengannya kan?"
"Dean tidak janji. Papa kan yang mengatakannya kalau Dean akan kesana dan Dean tidak mau kesana Pa. Anak dan istri Dean lebih penting dari pada Sera."
"PLAKKK......" Satu tamparan keras mendarat di pipi Dean.
"Cukup Pa...." Lova berteriak agar Papa mertuanya tidak menampar Dean lagi.
"Kamu sebagai istri harusnya mengerti kalau Dean juga harus bisa bersikap adil terhadap istri-istrinya."
Lova menelan ludahnya dengan kasar. Kata 'adil' yang membuat hatinya mendadak terasa sesak.
"Haruskan aku kesana? Kenapa hidupku jadi rumit seperti ini," ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya dan duduk sambil menundukkan kepalanya.
"Beb..." lirihnya lalu memegang bahunya.
"Kamu boleh kesana, biarlah aku malam ini sendirian. Ancaman Papanya Sera tidak main-main. Kamu harus kesana sekarang ya." ucapnya sambil membenarkan rambut suaminya yang tadi diacak-acak sendiri.
"Tidak. Aku tidak ingin meninggalkanmu. Kamu kalau malam kan suka lapar dan aku ingin menemanimu makan saja."
"Bagaimanapun juga Sera juga istri sah mu. Aku ikhlas jika kamu tidur dengannya." sambil menghela nafas panjang.
"Tapi aku tidak mau kamu sampai berbuat macam-macam dengannya karena artinya kamu sudah menghianati kepercayaanku," ucapnya kembali.
"Pasti beb. Aku tidak akan mengecewakanmu. Yaudah aku mau siap-siap untuk kesana," ucap Dean.
Lova hanya mengangguk pelan. Lova percaya dengan suaminya karena selama ini Dean tidak pernah ingkar janji.
...*****...
Beberapa puluh menit kemudian Dean sudah sampai di rumah Sera, mertuanya sudah tidur karena terlalu lelah sepulang dari kantor. Sera tersenyum senang saat mobil Dean datang ke rumah. Rencananya malam ini akan berhasil untuk menjebak Dean. Asisten rumah tangganya sudah membuatkan teh yang sudah dicampur dengan obat tidur.
"Minumlah selagi hangat," ucap Sera.
Dean tidak curiga karena yang membuatnya adalah asisten rumah tangganya. Dean akan curiga kalau Sera yang membuatkannya langsung. Dean hanya meminum setengah cangkir saja. Setelah 5 menit kemudian Dean merasakan kantuk yang sangat berat dan tidak bisa menahannya lagi.
"Hoamm..." sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
__ADS_1
"Kamu sudah ngantuk?" tanya Sera.
Dean hanya mengangguk.
"Ayo kita ke kamar," ucap Sera dengan senyum manisnya.
Sera mengkode asisten rumah tangganya untuk membawakan tas Dean. Sera membantu merebahkan tubuh Dean di tempat tidur ukuran king size. Sera melambaikan tangannya di depan muka Dean.
"Dean.. Apakah kamu sudah tidur." tanyanya mengeceknya apakah sudah bereaksi atau belum obat tidurnya.
Sera tersenyum saat Dean tidak menjawabnya pertanda bahwa Dean sudah benar-benar tertidur pulas.
"Saatnya menjalankan rencana. Aku akan membuat Lova benci padamu dan sebentar lagi anakku akan mewarisi semua hartamu."
Sera pada saat itu tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Dean dengan Lova di kamarnya. Sera jadi tahu kalau dirinya sampai hamil Lova akan pergi dari rumah Dean dan menceraikannya saat anaknya sudah lahir. Sera tersenyum puas karena dirinya saat ini memang sedang mengandung. Saat itu Dean lupa mengaktifkan mode kedap suaranya. Jadi Sera mendengar semua pembicaraannya.
Sera merebahkan tubuhnya di samping Dean. Sinar matahari pagi sudah masuk ke kamar Sera. Dean mulai mengerjapkan matanya.
"Astagfirullah aku telah melewatkan waktu subuh. Eh... Kenapa sepertinya ini bukan kamarku?" gumamnya.
Dean lalu menatap siapa wanita yang tengah tidur didada bidangnya. Alangkah terkejutnya melihat Sera yang ada disampingnya. Dean pelan-pelan memindahkan kepala Sera. Lalu menyibakkan selimutnya dan Dean melotot saat dirinya sadar tidak menggunakan pakaian.
Dean lalu mengambil handuknya di tas lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Apa yang telah aku lakukan? Ini tidak mungkin terjadi. Semalam aku tidak ingat apa-apa lagi sial!" umpatnya.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan dengan Lova. Bagaimana kalau Sera sampai hamil? Aku tidak sanggup kalau Lova pergi dari hidupku. Tapi perasaanku mengatakan semalam aku tidak melakukan apapun. Ya aku yakin, aku hanya dijebak." batin Dean sambil meninju tembok keramik tersebut sampai retak.
Saat Dean sudah selesai mandi Sera ternyata sudah bangun.
"Bersihkan dirimu dan nanti aku ingin penjelasan darimu." Dean langsung menuju walk in closet untuk memakai baju kantornya yang baru saja sampai dari asistennya.
Dean sedang duduk di sofa dan memainkan hpnya. Dean menyuruh seseorang untuk menyelidiki gerak-gerik Sera mulai sekarang. Sera sudah berpakaian rapi dan menghampiri Dean.
"Jelaskan padaku apa yang terjadi semalam?"
"Kita telah melakukanya sayang," ucap Sera sambil bergelayut manja di lengan Dean.
"Aku tidak percaya padamu. Aku tidak ingat apapun semalam," ucapnya sambil melepaskan tangan Sera yang bergelayut manja di lengannya.
"Percayalah padaku sayang. Sebentar lagi anak kita akan hadir disini," ucapnya sambil menarik tangan Dean untuk memegang perutnya.
Dean pikirannya sudah berkecamuk tidak tenang. Dean benar-benar takut kalau Sera sampai hamil. Padahal ia tidak melakukan apa-apa.
"Sepulang dari kantor aku akan pulang ke rumah. Kalau kamu masih ingin disini terserah," ucapnya beranjak pergi dan mengambil tasnya.
"Aku akan pulang ke rumahmu sayang. Nanti aku akan menyambutmu sepulang kerja di rumahmu," ucapnya dengan senyuman manis.
"Aku akan pulang habis ini agar aku bisa menjelaskan duluan ke Lova. Dari pada Sera nanti bicara yang tidak-tidak tentangku dengan Lova. Aku harus meyakinkan Lova bahwa memang aku tidak melakukannya." Batin Dean.
Dean tidak menghiraukan ucapan Sera dan langsung keluar dari kamarnya.
"Sarapan dulu nak," ucap Sonny.
"Maaf Pa. Dean ada meeting pagi ini. Jadi tidak mau telat."
Sera lalu berakting berjalan pelan menuju ruang makan. Papanya yang melihat anaknya jalannya pelan lalu tersenyum. Semalam Erick membantu Sera menjebak Dean.
__ADS_1
Sonny tidak tahu bahwa semalam Erick datang mengendap-endap ke rumahnya untuk menemui putrinya dan bayi yang sedang dikandung Sera. Sonny senang sebentar lagi ia akan mempunyai cucu yang akan menjadi penerus Herlambang Corp terlebih perusahaannya sedang bekerja sama dengan Halim Group.