
Dari tadi Reva hanya melihat Renata saja dan bingung ke mana anaknya yang satunya yang seharusnya Revano gandong saat ini.
"Jika ini Renata, lalu mana Revita Mama?" tanya Reva penasaran karena dari tadi dia tak melihat anaknya yang satunya.
Kezia dan Revano bingung mau menjawabnya. Sebab anaknya pasti akan terpukul saat tahu Revita telah tiada. Sedangkan Reva semakin bingung karena kedua orangtuanya tidak menjawab pertanyaannya.
"Revita mana Ma, Pa?" tanyanya sambil celingak-celinguk mencari keberadaan putrinya.
Reva baru sadar saat ada Rio di ruangan tersebut. Reva membolakan matanya saat Rio ada di ruang rawatnya.
"Kamu, kenapa ada di sini?"
"Reva, aku tadi kesini karena a-aku," jawabnya terbata-bata.
"Kamu pasti membawa anakku, iya kan? Pasti Revita ada di rumah kamu saat ini."
Rio menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Aku tidak membawanya pulang ke rumah."
"Lalu di mana dia sekarang? Berikan padaku!"
Rio bingung menjawabnya. Kemudian ia memberanikan dirinya untuk mendekati Reva.
"Revita sudah tenang di alam sana."
"Apa maksudmu?" tanya Reva tak percaya.
"Revita telah meninggal."
Akhirnya kata itu terucap dari bibir Rio, dengan kepalanya yang seketika menunduk karena tidak ingin kalau Reva tahu saat ini Rio matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Pa, Ma, ini tidak benar kan? Anakku tidak mungkin akan mendahului aku," lirihnya tak percaya bahwa anaknya telah tiada.
Kezia lalu menggendong cucunya. Jika saat bersedih seperti ini, hanyalah Revano yang bisa menenangkan putrinya. Revano lalu menggenggam tangan Reva.
"Nak kamu harus sabar. Memang sebemarnya Revita telah tiada."
"Papa pasti bohong sama aku, Revita tidak mungkin meninggal."
"Nak, kita harus ikhlas. Agar Revita tenang di alam sana."
Reva menangis dalam pelukan Revano. Kezia juga meneteskan air mata.
"Jadi tadi aku bertemu dengan Revita itu merupakan terakhir kalinya?"
"Eh? Apa yang kamu katakan nak?"
"Aku bermimpi Revita berlarian dan memakan permen. Aku tanya dari mana dia tak menjawab dan langsung pergi begitu saja meninggalkan aku dan Renata di taman," jawab Reva menjelaskan.
Revano lalu melonggarkan pelukannya.
"Aku tadi bermimpi bertemu menemani anak-anak bermain ke taman."
"Kamu tadi mengalami mati suri nak," jawab Kezia.
"Apa? Mati suri?" tanya Reva tak percaya.
Revano lalu mengangguk dengan cepat.
"Kami sempat kehilangan kamu. Lalu Rio bilang akan mengabulkan permintaan kamu apa saja termasuk perceraian yang kamu inginkan agar kamu bisa kembali. Akhirnya kamu bisa kembali lagi nak," tutur Revano menjelaskan.
"Aku memang ingin bercerai darinya Papa."
"Reva, maafkan aku. Saat itu aku telah keterlaluan bersikap seperti itu sama kamu. Tolong maafkan aku," ucapnya sambil menggenggam tangan Reva.
"Aku akan memaafkan kamu jika kita sudah bercerai nanti. Untuk saat ini aku tidak bisa memaafkan kamu begitu saja. Hatiku sudah terlanjur sakit hati menerima semua perlakuan kamu."
"Aku tahu, kamu sulit untuk memaafkan aku. Jika perceraian yang kamu inginkan, maka akan aku kabulkan. Sampai bertemu di pengadilan nanti," lirihnya yang lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Rio tak kuasa menahan tangisannya saat sudah keluar dari ruangan tersebut.
"Bahkan Reva akan bisa memaafkan aku setelah kita bercerai nanti. Apa kesalahan yang aku perbuat sangat sulit untuk dimaafkan saat ini?" tanyanya sambil melihat cincin yang masih melingkar pada jari manisnya.
Rio lalu pergi meninggalkan rumah sakit. Ia melajukan mobilnya ke rumahnya. Dengan cepat ia masuk ke dalam kamarnya.
"Arghhh, ini semua salahku. Jika aku tidak gegabah dalam bertindak saat itu, maka Reva masih menjadi istriku sampai saat ini."
Rio merutuki dirinya sendiri saat ini. Ia mengaku bersalah dan memang sepantasnya Reva tidak begitu saja bisa memaafkan dirinya.
Sedangkan di rumah sakit, Reva sekarang menggendong Renata.
"Hanya kamu yang sangat berharga untuk Mama saat ini nak. Papa kamu sekarang sudah tidak ada lagi di dalam hati Mama," lirihnya sambil mengusap kepala anaknya.
Reva tersenyum tipis saat anaknya tertidur lelap digendongnya. Kezia lalu dengan pelan-pelan menggendong cucunya dan menidurkan ke tempat tidur bayi. Setelah nanti keluar dari rumah sakit, Reva ingin pergi ke makam anaknya, untuk berziarah.
...***...
Waktu begitu cepat berlalu. Reva dan Rio sudah resmi bercerai. Reva sudah memaafkan Rio. Bahkan Rio boleh kapan saja kalau akan menemui anaknya. Sekarang bagi mereka berdua yang terpenting fokus untuk membesarkan Renata sama-sama, meskipun harus dengan cara seperti ini. Rio tak masalah dan justru sangat berterima kasih kepada Reva yang masih mengizinkannya untuk menemui Renata.
Sebagai seorang ibu, Reva juga memiliki hati. Dia tak tega memisahkan antara bapak dan anak begitu saja. Kesalahan Rio pada masa lalu memang fatal, tapi Reva ingin perlahan-lahan melupakannya karena tidak ingin mengungkit masa lalu dan sekarang dia ingin fokus untuk membesarkan anaknya.
Hari ini Rio akan datang ke rumahnya. Reva sudah berdandan cantik saat ini. Dia akan pergi dengan temannya. Sudah saatnya Reva untuk mencoba membuka hatinya untuk pria lain.
"Mama, nanti jika Rio datang. Langsung suruh masuk saja ke kamar Renata."
"Iya nak, kamu mau pergi ke mana sayang?" tanya Kezia penasaran.
"Aku akan pergi sebentar Mama. Temanku baru seminggu pulang dari luar negeri. Ia mengajak aku untuk jalan-jalan," jawab Reva.
"Hati-hati ya nak."
"Iya Mama. Oh iya, kalau Papa di mana Mama?"
"Papa kamu ada di ruangan kerjanya nak," jawab Kezia.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya Mama. Itu temanku sudah menunggu di depan rumah."
"Iya nak, hati-hati."
Reva melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke depan rumah. Reva langsung masuk ke dalam mobil pria itu.
"Hai, apa kabar?" tanya Reva dengan senyuman manisnya.
"Kabarku baik. Oh iya sudah lama sekali kita tidak berjumpa."
"Iya, mungkin ada 3 tahun lamanya."
"Ah iya, aku akan membawa kamu ke suatu tempat," ucap sang pria itu.
"Ke suatu tempat?" tanya Reva bingung karena temannya itu tadi ingin mengajaknya jalan-jalan.
"Iya, kamu pasti suka. Sekarang aku pasang penutup mata dulu ya."
"Hmm, baiklah."
Mobil itu lalu berjalan menuju ke sebuah restoran. Pria itu menggandeng tangan Reva dan menuntunnya untuk duduk. Pria yang statusnya teman Reva saat masih SMP itu akhirnya melepaskan ikatan pada penutup mata yang tadi ia pasang.
Reva terkejut saat mengetahui bahwa dirinya diberikan kejutan. Di meja sudah ada kue, sedangkan dia saat ini sudah memakai mahkota. Padahal ulang tahunnya sudah lewat sejak lama. Tapi temannya itu memberikan kejutan manis saat ini.
"Ini untuk kamu, selamat ulang tahun Reva" ucapnya yang lalu memberikan sebuket bunga.
"Makasih ya Devan. Padahal ulang tahun aku sudah lama sebelum anakku lahir."
"Tapi aku belum merayakan bersama kamu," lirihnya dengan senyuman.
Pria itu lalu memfoto Reva.
"Sangat cantik."
__ADS_1
"Apa tadi kamu bilang?" tanya Reva tak percaya bahwa temannya sedang memuji dirinya.
"Kamu sangat cantik Reva."
"Mana, aku mau melihat hasil fotonya," ujarnya penasaran.
Pria bernama Devan itu lalu memberikan ponselnya dan Reva tersenyum saat melihat hasil foto tersebut.
***
Semakin berjalannya waktu dan saat ini anak mereka semakin tumbuh dewasa. Renata sudah berusia 5 tahun dan Reva kembali membuka hatinya untuk Rio. Cinta mereka begitu besar dan tak bisa dipisahkan, terlebih sudah punya anak. Mereka sudah rujuk tiga bulan yang lalu.
"Makasih Sayang, kamu sudah mau menerima aku lagi. Aku tak menyangka loh jika kita bisa kembali bersama," ucap Rio.
"Sama-sama suamiku. Aku harap ini pernikahan kita untuk terakhir kalinya," ucapnya pelan.
"Iya Sayang dan aku tak akan mengulang kesalahan yang sama seperti dulu lagi."
Reva tersenyum tipis dan saat Rio mau mengecup bibirnya dan Reva merasakan mual.
Hoek!
Reva berlari menuju ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya ke wastafel.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Rio cemas.
Reva tak menjawabnya dan masih merasa perutnya diaduk-aduk.
"Jangan mendekat! Aku mual saat dekat denganmu," ucapnya yang membuat Rio bingung.
"Sayang, kenapa kamu aneh?"
Rio lalu memikirkan sesuatu dan mengingat saat ini tanggal berapa. Matanya langsung berbinar-binar.
"Sayang, jangan-jangan kamu hamil?"
Reva lalu menutup mulutnya saat tahu saat ini sudah tanggal berapa.
"Astaga, aku sudah terlambat datang bulan selama 2 minggu."
"Sayang, aku bahagia kita akan punya anak lagi," ucapnya yang lalu memeluk istrinya.
"Kok aneh tadi aku mual saat kamu dekati dan sekarang rasanya tidak," ucapnya terheran-heran.
"Hehe, bukankah sudah biasa ibu hamil seperti itu?"
"Yuk, sekarang kita saatnya beritahu Renata dan semuanya."
"Ayo Sayang," jawab Rio.
RIo dan Reva pergi ke kamar anaknya.
"Nak, yuk kita kumpul dulu ke ruang keluarga," ajak Rio.
Renata lalu digendong Rio saat ini. Sekarang semuanya sudah kumpul di ruang keluarga.
"Papa, Mama, Reva hamil."
"Ah senangnya kita akan punya cucu lagi, Sayang," ucap Kezia yang lalu membuat Revano memeluk istrinya.
"Horee, Renata mau punya adik," ucapnya kegirangan.
"Jangan lompat gitu Sayang. Nanti kamu jatuh, Nak."
"Anak kita karena saking bahagianya mau punya adik," jawab Rio.
Mereka saling melemparkan senyuman dan bahagia dengan pernikahannya yang begitu harmonis.
...TAMAT...
__ADS_1