
Risa sedang membaca buku di perpustakaan, kebetulan jam kedua kosong. Seketika perasaannya tidak enak. Risa langsung kepikiran dengan suaminya.
"Kenapa aku tiba-tiba pengen ke kantor ya? Untung saja jam kedua kosong, aku akan ke kantor Rey saja mengajaknya makan siang. Lebih baik aku datang tidak mengabarinya jadi biar surprise," ucapnya pelan lalu menutup bukunya dan pergi ke kantor Rey.
...*****...
DI KANTOR REY
"Nak, untung Papi sudah pasang kamera cctv wireless tersembunyi di ruangan kamu disini. Jadi Papi bisa tahu apa saja yang kamu bicarakan sama Luna. Nanti Papi pantau dari hp, siapa tahu Luna kesini menjebakmu."
Rey hanya menjawab anggukan. Rey bingung mendengar ucapan Papinya, kata-kata Luna yang menjebaknya pun terngiang-ngiang di kepalanya.
"Nak nanti kalau Luna berbuat macam-macam kamu langsung telpon Papi ya nak," ucap Papi Aldi.
"Baik Pi."
"Kalian semua ikut ke ruangan saya," ucap Papi Aldi bicara dengan Sandy dan Ferdi.
Beberapa menit kemudian Luna mengetuk pintu ruangan Rey.
"Silahkan masuk," ucap Rey sambil membolak-balikan kertas dihadapannya.
Rey terkejut saat Luna datang. Luna memang sedang hamil perutnya sudah kelihatan agak membesar.
"Kak Luna ada perlu apa ya kak datang ke kantorku?"
Luna belum menjawab masih terdiam mendekati sofa yang ada di dekat meja Rey dan duduk.
Seketika Risa masuk ke gedung perkantoran milik ayah mertuanya. Sang resepsionis pun terkejut melihat Istri Rey datang, sedangkan Rey lagi menerima tamu.
"Bapak Rey apakah ada jadwal meeting?"
"Tidak Bu, Bapak Rey lagi ada di ruangannya. Ia lagi ada tamu teman masa kecilnya."
"Mana saya minta kartu aksesnya cepat," ucap Risa yang ingin tahu siapa yang lagi bersama Rey di kantor.
Resepsionis lalu memberikannya.
Setelah Risa masuk dan akan naik lift. Sang resepsionis telepon memberi tahu bahwa Istri Rey datang. Sandy yang menerima telepon lalu loud speaker.
"Hallo Pak Sandy, Istri Pak Rey datang."
"Cegah dia di lobby, jangan sampai naik lift," ucap Papi Aldi yang menjawab teleponnya.
"Maaf Pak, Istri Pak Rey sudah naik lift baru saja."
Papi Aldi lalu menutup teleponnya. Raut mukanya sudah gelisah saat Risa akan bertemu dengan Luna.
"Kak Luna sedang hamil berapa bulan? Kok kakak gak mengundang aku sih pas kakak nikah?" tanya Rey.
__ADS_1
"Justru karena aku sedang hamil aku kesini Rey." sambil menatap ke arah Rey dan memegang perut buncitnya.
"Maksudnya bagaimana kak? Rey tidak mengerti."
Saat ini Risa sudah sampai di depan ruang kerja suaminya. Pintunya terbuka sedikit, saat ia akan masuk ia mendengar suara perempuan. Lalu Risa berdiri di depan pintu untuk menguping pembicaraan. Disaat itu juga Risa mendapatkan pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal yang berisi foto Rey dengan Luna. Risa matanya langsung terbelalak melihat foto itu. Risa menatap tajam foto itu editan atau asli. Namun ia yakin itu asli, tangan kanannya sudah mulai mengepal.
"Aku sedang mengandung anakmu Rey." sambil menyerahkan test pack dan foto dirinya bersama Rey malam itu.
Rey membolakan matanya. Saat melihat fotonya dengan Luna yang begitu intim.
"Maksudnya apa ini kak? Gak mungkin aku tidur dengan kakak kan? Ini pasti foto editan ya kan? Kakak jangan mencoba untuk membohongiku," ucapnya yang sudah mulai berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Luna.
"Apa kamu tidak ingat Rey, saat kita makan malam bersama di rumahku sama Papa. Malam itu kamu yang memaksaku untuk kita melakukannya dan kita bahkan berfoto bersama untuk mengabadikan moment tersebut."
"Tidak mungkin. Aku tidak percaya kalau anak yang kakak kandung adalah anakku."
"Kamu mau bukti apa lagi Rey? Jelas-jelas saat ini aku sedang hamil anak kamu," ucap Luna sambil memegang tangan Rey untuk mengelus perutnya.
Risa sudah tidak tahan lagi untuk menguping pembicaraan Rey dan Luna.
"BRAKKK....." Pintu terbuka dengan lebar.
Luna dan Rey pun menoleh dari arah pintu. Rey terkejut melihat Risa datang ke kantornya. Risa membolakan matanya saat tangan Rey masih berada di perut Luna. Risa lalu berjalan menghampiri mereka berdua.
"Sayang, kenapa kamu kesini tidak bilang-bilang?"
"PLAKKK....." Risa menampar pipi kanan Rey sampai memerah.
"Sayang, aku bisa jelasin semuanya."
"Tidak perlu kamu menjelaskannya. Sudah jelas, aku sudah melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri. Aku sedang hamil anak kamu saat ini. Tapi tega-teganya kamu bermain api dibelakangku Rey." tangan kirinya sambil memegang perutnya yang sudah mulai terasa kram.
"Sayang, kamu salah paham."
"PLAKKK....." Risa menampar pipi Rey kembali.
"Sudah terbukti bersalah masih mau mengelak lagi iya? Masih belum mau mengaku juga?" ucapnya yang sudah mulai dengan amarah.
Luna yang melihat adanya kesalahpahaman lalu tersenyum senang. Ia berhasil meyakinkan Rey bahwa anak yang ada dalam kandungannya adalah anaknya dan Risa pun juga percaya. Luna terpaksa melakukan ini karena ia tidak mau Papanya memaksanya lagi untuk menggugurkan kandungannya.
"Sayang kamu percayalah padaku. Aku tidak mungkin melakukannya dengan Kak Luna. Kamu tahu sendiri kan sayang betapa aku mencintaimu."
Rey menggenggam tangan Risa berusaha meyakinkan dan Risa lalu melepaskan tangan Rey.
"Cinta?? Apa kamu bisa mengatakannya sekali lagi saat melihat foto ini?" Risa memperlihatkan foto WhatsApp yang baru saja ia terima 5 menit yang lalu.
Rey terbelalak melihat hp Risa yang ada foto dirinya dengan Luna. Seperti foto yang Luna tadi berikan.
"Sayang ini hanya salah paham. Aku tidak melakukannya sungguh," ucapnya yang sudah mulai berkaca-kaca dan berjongkok di depannya dan memeluk kedua kaki Risa.
Papi Aldi beserta Sandy dan Ferdi pun lalu menyusul ke ruangan Rey. Ia takut terjadi apa-apa dengan kandungan menantunya. Seketika ia teringat apa kata Yudha bahwa ibu hamil tidak boleh banyak pikiran ataupun stress, karena bisa saja menyebabkan keguguran.
"Hapuslah air mata buayamu, aku sudah muak dengan wajahmu. Aku benci kamu Reynaldi Wijaya! Lepaskan aku!" ucapnya sambil menunjuk jari telunjuknya ke depan wajah suaminya.
__ADS_1
Rey lalu berdiri. Risa menatap Luna dengan tajam.
"PLAKKK..... PLAKKK...." Risa menampar wajah Luna dua kali.
"Hei, dasar kamu wanita pelakor tidak tahu diri. Bisanya hanya merebut suami orang. Aku jijik melihat wajahmu!"
Luna yang ditampar dua kali tidak terima. Ia membalas tamparan Risa.
"PLAKKK...." Luna pun menampar balik ke Risa.
"Kamu beraninya nampar saya? Kamu pikir kamu siapa hah? Dasar Pelakor! Wanita penggoda!"
"PLAKKK...." Risa pun kembali menampar Luna dan lalu berjalan akan keluar dari ruangan Rey.
"Sayang jangan pergi, aku mohon," Rey mencegah Risa keluar dari ruangannya.
"Aku ingin berpisah darimu setelah anak kita lahir. Lepaskan tanganku!"
"Sayang jangan katakan hal itu, aku tidak ingin bercerai denganmu."
"Kamu cari bukti yang kuat, agar aku bisa percaya kalau kamu tidak bersalah," ucapnya kembali.
Risa lalu berjalan keluar dari ruangan Rey sambil memegang perutnya yang sudah mulai terasa sakit. Matanya sudah berkaca-kaca.
Rey seketika mendapatkan pesan WhatsApp dari dokter Yudha. Dokter Yudha bilang kalau Rey harus segera ke rumah sakit, ia akan membantu Rey untuk menyelesaikan masalahnya. Ia akan menguak kebusukan Luna. Dokter Yudha juga memberikan saran agar Luna mau diajak ke rumah sakit.
Risa saat akan menuju lift perutnya rasanya begitu sakit. Risa merintih kesakitan. Risa duduk dilantai samping lift sambil menunggu lift terbuka. Risa membolakan matanya saat melihat darah segar mengalir di kakinya.
"Auwww perutku sakit sekali." Ia merintih kesakitan di depan lift sambil memegangi perutnya.
"Ting..." Pintu lift terbuka.
Papi Aldi terkejut melihat menantunya duduk dilantai dan matanya langsung terbelalak saat melihat menantunya merintih kesakitan dan keluar darah dari kakinya.
"Papi to..tolong... Perut Risa sakit sekali... Ri.. Risa sudah tidak kuat Pi.. Arghhh..." ucapnya lalu pingsan dan masih memegang perutnya.
Papi Aldi lalu menggendong Risa. Ia takut terjadi apa-apa dengan menantunya dan juga cucunya.
"Sandy kamu antar saya kerumah sakit dan Ferdi kamu jangan bilang ke Rey dulu mengenai kondisi istrinya. Ia sedang mencari bukti kalau dirinya tidak bersalah. Gantikan aku meeting hari ini," ucapnya lalu masuk lagi ke dalam lift bersama Sandy asisten Rey.
"Nak, bertahanlah." Papi Aldi matanya sudah mulai berkaca-kaca ia sangat khawatir dengan keadaan menantunya.
Papi Aldi berjalan menuju parkiran.
"Sandy ayo cepatlah. Kita ke rumah sakit yang terdekat di daerah sini."
"Nak bangunlah sayang, jangan bikin Papi khawatir dan bertahanlah..." Papi Aldi cemas melihat wajah menantunya sudah pucat karena kehilangan banyak darah.
"Huft kenapa harus macet segala sih? Jarak kesini ke rumah sakit masih berapa kilometer?"
"Ini belok kiri sudah sampai rumah sakitnya tuan. Jaraknya masih 80 meteran."
Tak mau menunggu waktu lama Papi Aldi langsung membuka pintu mobilnya dan berjalan dengan cepat menuju rumah sakit.
__ADS_1