Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 66 - Kedatangan Luna Hernandez


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu-minggu pun berganti bulan. Sekarang Rey sudah bekerja di kantor Papinya, Ia menjadi manager di kantor Papinya. Sebenarnya Papinya ingin Rey langsung memimpin perusahaannya dengan dibimbing oleh asistennya. Namun Rey tidak mau, ia ingin berjuang sendiri dari bawah. Tapi Papinya tidak mau Rey menjadi Staff biasa. Lalu ia menjadikan Rey sebagai manager dan memberikan asisten juga untuknya agar anaknya tidak kewalahan dalam bekerja karena setelah bekerja anaknya harus kuliah online.


Rey menjadi mahasiswa baru sekampus dengan Risa. Ia baru beberapa minggu yang lalu melakukan MOS. Rey mengambil kelas karyawan secara online. Karena dari pagi sampai sore Rey bekerja di kantor Papinya. Rey mengambil kelas online karena ia tidak ingin tidak ada waktu untuk istrinya, apalagi istrinya lagi hamil. Karena dari pagi sampai malam ia habiskan untuk kerja dan kuliah. Jadi dari pagi sampai sore Rey di kantor dan sore sampai malam Rey di rumah kuliah online dan menemani istrinya yang terkadang ngidam meminta sesuatu secara mendadak.


Sedangkan Risa masih kuliah baru semester 3, seperti biasa bersama Sonya dan Lova sahabatnya. Sebenarnya Rey tidak mengizinkan Risa kuliah, Rey ingin Risa cuti karena sedang mengandung. Tapi Risa tidak mau kalau ia harus cuti, kecuali kalau nanti kandungannya sudah mulai membesar, Risa lebih memilih pindah kelas online seperti Rey. Risa nanti akan pindah kelas online nanti pas semester 4 dimana kandungannya akan membesar. Mau tak mau Rey pun menyetujuinya. Sekarang kandungan Risa sudah mulai terlihat, usia kehamilannya menginjak 13 minggu (3 bulan 1 minggu). Sedangkan sahabatnya Lova kehamilannya menginjak usia 19 minggu (4 bulan 3 minggu). Lova belum cerita kepada sahabatnya kalau Dean sudah menikah lagi.


Karin sekarang mulai bersekolah kembali. Semenjak malam itu ia tidak pernah bertemu dengan Dion lagi. Dion juga sibuk dengan kegiatan kuliah di kampusnya. Dion satu kampus dengan Rey. Namun semenjak habis MOS mereka tidak pernah bertemu lagi karena Rey mengambil kelas karyawan online, sedangkan Dion mengambil kelas reguler di pagi hari.


...*****...


DI TEMPAT LAIN


"BRAKKK....." Suara pintu terbuka lebar.


Alvin masuk kedalam rumah dengan aura kemarahannya. Luna yang sedang makan pun tersedak mendengar pintu terbuka dengan kasar dan kaget papanya yang datang.


"Pa.. Papa..." ucapnya takut karena ia belum berhasil menghasut untuk menyakinkan Rey bahwa anak yang ia kandung adalah anaknya.


"Apa kamu tidak takut dengan ancaman Papa hah?"


"Pa maaf Luna belum menjalankan rencana kita karena Rey sudah menikah Pa bahkan istrinya sedang hamil, lalu bagaimana Luna bisa merebut Rey?"


"Pokoknya Papa tidak mau tahu, caranya gimana agar Rey bisa menjadi suamimu."


"Tapi Pa..."


"Nih kamu minum obatnya sekarang. Agar hidup kamu bisa bebas dan Papa tidak akan memaksa Rey bertanggung jawab atas kehamilan kamu karena Rey baik sama kamu. Itu kan yang kamu inginkan?" ucap Alvin sambil menyerahkan obat itu.


"Lu... Luna tidak mau meminum obat penggugur kandungan itu Pa, Luna tidak ingin bayi Luna kenapa-kenapa." ucapnya sambil memegang perutnya yang sudah membuncit.


"Papa gak mau kamu hamil di luar nikah, pacar kamu tidak mau bertanggung jawab dan satu-satunya cara kamu harus menggugurkan kandungan kamu, cepat buka mulut kamu," ucap Alvin yang sudah memegang dagu Luna.

__ADS_1


Luna sudah menangis dan menggeleng berkali-kali, ia menolak papanya akan memasukkan obat penggugur kandungan itu ke dalam mulutnya. Seketika bibinya menghampiri mencegah Tuannya menyakiti kandungan Nona mudanya.


"Tuan, maaf kalau saya lancang. Bayi yang dikandung Nona tidak bersalah. Yang bersalah adalah Nona. Saya mohon Tuan menghentikan memaksa Nona meminum obat itu. Bagaimanapun juga Nona sedang mengandung cucu Tuan."


"Aku tidak peduli, dia anakku. Terserah aku melakukan apa kepadanya. Cepat kamu urusin saja urusan dapur."


"Baik, Tuan." lalu pergi.


Saat mereka sedang berbicara. Luna memiliki kesempatan untuk menghindar dari Papanya. Luna menginjak kaki papanya dan langsung berjalan setengah berlari keluar rumah. Alvin berlari mengejar Luna dan langsung menarik tangannya untuk masuk lagi ke ruang tamu. Alvin menghempaskan tubuh Luna ke sofa, untung kandungannya sekarang sudah tidak lemah lagi karena ia sering minum obat penguat kandungan dari dokter. Luna memegang perutnya ia sudah takut kalau Papanya akan berbuat nekat menyakiti bayinya. Seketika Luna bersimpuh di kaki Papanya.


"Papa, Luna mohon jangan paksa Luna untuk meminum obat penggugur kandungan itu. Luna akan melakukan apapun yang Papa mau, asalkan jangan meminum obat itu. Kandungan Luna sudah 5 bulan Pa, cucu Papa sudah mulai bisa menendang-nendang. Coba sini mana tangan Papa, Papa akan bisa merasakan kehadirannya," ucapnya lalu berdiri dan menarik tangan Papanya untuk merasakan gerakan tendangan anaknya di dalam perutnya.


Seketika Alvin terdiam sejenak, cucunya begitu aktif menendang-nendang di dalam perut Luna.


"Apa Papa tega mau membunuh cucu Papa sendiri? Apa Papa tidak kasihan dengan cucu Papa yang sebentar lagi akan lahir ke dunia ini?" Luna pun berbicara dengan mata yang berkaca-kaca, air matanya sudah tumpah dari tadi.


Alvin melepaskan tangannya dari perut Luna. Ia tidak ingin terlalu merasa bersalah karena mau menggugurkan kandungan anaknya.


"Me.. Mengerti Pa," ucap Luna sambil menundukkan kepalanya.


"Bagus, Papa mau tidak gagal lagi rencana kita. Kamu harus bisa menjadikan Rey suamimu."


"Iya Pa," ucapnya.


Luna bersyukur bisa mempertahankan bayinya. Luna memegang perutnya yang sudah membuncit sambil berjalan hati-hati naik ke lantai atas kamarnya, akhirnya Papanya tidak memaksanya lagi untuk minum obat penggugur kandungan. Seketika bayinya menendang, ia tahu kalau ibunya lagi bersedih.


"Anak Mama harus lahir ke dunia ini dengan selamat ya sayang. 4 bulanan lagi kita akan ketemu sayang. Meskipun mungkin Papa dan Kakekmu tidak menginginkanmu. Tapi Mama akan berjuang untuk terus mempertahankanmu." batin Luna sambil mengelus perutnya, ia meratapi nasibnya saat sedang hamil dan tidak ada seorang suami disampingnya dan dia harus berjuang sendirian.


Luna sedang mengamati hasil USG. Luna sekarang senang berinteraksi dengan bayinya, ia terus mengelus perutnya setiap hari dan setiap saat berinteraksi dengan bayinya. Tendangan-tendangan dari anaknya pun membuat Luna tersenyum senang, ada rasa bahagia ketika anaknya merespon Mamanya. Kandungannya kini sudah memasuki usia 5 bulan. Seketika ia teringat dengan Papa sang bayi. Sudah lama Evan tidak muncul dihadapan Luna. Evan sedang ada tugas di luar kota jadi ia tidak pernah bertemu Luna maupun menghubunginya.


__ADS_1


"Evan apakah kamu tahu, bayi kita sekarang sudah bisa menendang-nendang. Sebenarnya aku ingin sekali kamu mengelus perutku. Entah kenapa mungkin aku sedang ngidam atau anak kita yang kangen dengan Papanya," ucap Luna pelan sambil memegang perutnya dan seketika air matanya pun menetes mengingat Evan yang beberapa bulan yang lalu perhatian kepadanya.


...*****...


Pagi ini Luna akan ke kantor Rey membawa test pack dan fotonya bersama Rey di malam itu. Luna berpakaian yang sedikit longgar agar tidak terlalu terlihat begitu buncit perutnya, agar Rey percaya kalau anak yang ia kandung adalah anaknya. Sekitar 35 menit perjalanan menuju kantor Rey. Ia menemui resepsionis untuk bertemu dengan Rey.


"Maaf Bu, ada yang bisa saya bantu?" ucap resepsionis.


"Saya mau bertemu dengan Bapak Reynaldi Wijaya."


"Sudah ada janjikah dengan beliau?"


"Belum, bilang saja saya Luna Hernandez teman masa kecilnya."


"Baiklah ibu mohon tunggu sebentar ya, saya akan menghubungi asistennya. Ibu silahkan duduk terlebih dahulu di sebelah sana. Nanti saya panggil."


"Baik," ucapnya lalu berjalan untuk duduk.


"Aduh gimana ini aku jadi deg-degan. Kalau Rey ga percaya denganku bagaimana? Aku tidak rela bayiku digugurkan." batin Luna sambil mengusap-usap perutnya.


Sang resepsionis menelpon ke asistennya Rey. Kebetulan asisten Rey sedang meeting dengan Rey dan Papa Aldi sama asistennya di ruangannya.


"Angkat saja dan loud speaker. Kita ingin dengar, siapa tahu penting," ucap Papi Aldi.


Asisten Rey pun loud speaker hpnya.


"Hallo Pak Sandy, ini ada seorang Ibu hamil namanya Luna Hernandez yang ingin bertemu dengan Bapak Reynaldi Wijaya, katanya beliau teman kecilnya. Apa Bapak Rey sedang ada meeting atau tidak ya Pak?"


Papi Aldi pun mengkode anggukan. Rey pun mengernyitkan dahinya mendengar nama Luna.


"Kenapa Kak Luna datang ke kantorku dan mencari ku ya? Dan apa tadi resepsionis bilang, dia sedang hamil?" batin Rey, ia pun bingung kenapa Luna mencarinya.

__ADS_1


"Tidak ada meeting, Boleh izikan saja Ibu Luna masuk. Pak Rey berada di ruangannya."


__ADS_2